Sebuah Laporan Human Right Watch tentang Penganiayaan di Uzbekistan
Presiden Karimov sedang mencoba untuk ikut kembali dalam pemilu untuk keempat kalinya. Kelompok hak asasi manusia telah meminta pada PBB untuk memberikan sanksi secara publik pada Karimov dan mengakhiri penggunaan penyiksaan di Uzbekistan.
Kelompok hak asasi, Human Rights Watch (HRW) mengatakan bahwa penyiksaan di penjara-penjara Uzbek selalu terdapat pada tempat tertentu yang bersifat endemis bagi sistem pengadilan kriminal. Kelompok ini memberikan secara detil gambaran sistematis penyiksaan di negeri tersebut.
HRW menyebutkan dalam laporan terbarunya, sebuah gelombang baru tindakan represif dari Karimov. Laporan tersebut dikemukakan sebelum pemilu pada Desember mendatang, yang mana Presiden Karimov akan kembali dipilih.
Laporan yang berisi 90 halaman ini, berjudul "Nowhere to Turn - Torture and Ill Treatment in Uzbekistan" telah dipublikasikan sebelum pertemuan di Jenewa pada Komite Perlawanan Penganiayaan PBB.
Termasuk di dalamnya audio rekaman para korban menggambarkan sebuah siklus penyiksaan yang dimuali dengan penawanan mereka hingga dibawa ke dalam penjara.
Penyiksaan Secara Psikologi
Laporan ini juga mengatakan bahwa pukulan dengan botol yang berisi air, disetrum dengan listirk, penghinaan seksual, dan ancaman berbahaya bagi fisik merupakan bentuk-bentuk penyiksaaan pada penjara-penjara Uzbek.
Pada beberapa waktu lalu di sana juga ditemukan bukti-bukti, paling tidak seorang tawanan direbus hingga tewas di penjara Uzbek.
Baru-baru ini, lebih banyak lagi laporan penyiksaan psikologi terutama ketika yang dibawa ke penjara tersebut adalah yang dituduh sebagai 'ektrimis' Islam. Seorang tawanan yang dituduh terlibat pada gerakan Hizbut Tahrir beberapa hari lalu tewas, disiksa di penjara Uzbek.
Jumlah mereka yang ditawan dan disiksa meningkat di Uzbekistan. Kelompok hak asasi manusia mengatakan banyak dari mereka adalah korban dari penahanan politik.
Seorang wanita Uzbek baru-baru ini mengatakan pada BBC bahwa suaminya telah dipaksa ditelanjangi dan merangkak dalam keadaan telanjang untuk berjam-jam, dan juga para penjaga penjara mengencingi pada suaminya dan penghuni lainnya selama melakukan sholat.
Human Rights Watch mengatakan pada PBB untuk menekan dan menghukum di depan publik penguasa Uzbekistan yang telah melakukan tindakan kekerasan dan penyiksaan pada rakyatnya.
Pemerintah Uzbekistan secara represif menyiksa dan menahan para aktivis Islam. Salah satu tragedi yang tidak bisa dilupakan diantaranya tragedi Andijan pada 14 Mei 2005 lalu. Ribuan kaum Muslim, laki-laki perempuan, muda maupun tua menjadi korban keganasan Karimov.
Karimov benar-benar telah menjadi penguasa diktator dan tidak mau tunduk pada aturan Allah, seperti halnya Musharraf. Malah mereka melakukan serangkaian serangan kepada para pengemban dakwah yang mukhlis yang menginginkan syariah dan Khilafah di Uzbekistan. [z/na/bbc/sycom]
sumber:syabab.com