SaaTnYa kHiLaFaH MEmimPiN DuNiA...!!!


Down-Down USA...Rise-Rise Khilafah!!!

indra's posts with tag: daulah islam

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag daulah islam
Blog EntryUpaya Merintangi Tegaknya Daulah IslamDec 7, '07 5:01 AM
for everyone

Sejak kafir penjajah menduduki negeri-negeri kaum Muslim, mereka memantapkan kekuasaannya dengan mengokohkan sistem hukum berdasarkan rumusan mereka. Tujuannya satu: menghalangi sekaligus merintangi setiap upaya dari sebagian maupun keseluruhan dari kaum Muslim untuk kembali menegakkan Daaulah Khilafah Islamiyah.

Di antara upaya yang dilakukannya adalah: Pertama, mengokohkan pemerintahan sekular, dengan mendirikan pemerintahan kolonial di sebagian negeri dan menggunakan nama kemerdekaan penuh di negeri lainnya.

Kedua, menangkap para aktivis penegak Daulah dan menyusupi gerakan-gerakannya agar melenceng dari tujuan awalnya. Sebagai misal, pada pertengahan tahun 1924 M, tatkala Hussain bin Ali hendak keluar dari Hijaz, dia ditahan di Tripoli karena merupakan aktivis yang sangat menginginkan kembalinya Kekhilafahan. Pada tahun itu pula, melalui kaki tangannya, Inggris menyusup ke dalam pertemuan Muktamar Khilafah yang diadakan di Kairo. Mereka berusaha memecah-belah dan menghancurkannya. Pada tahun yang sama, Inggris juga bekerja keras untuk menghapus Jam’iyyah Khilafah (komite yang memperjuangkan Khilafah) di India, membatalkan usaha-usahanya, dan mengubah serta mengalihkan arah perjuangannya ke paham nasionalisme dan kebangsaan. Di Mesir, pada tahun yang sama diterbitkan sejumlah karangan dari sejumlah ulama al-Azhar yang dipengaruhi kafir penjajah. Isinya mengajak umat untuk memisahkan agama dengan negara serta menyerukan bahwa di dalam Islam tidak ada dasar-dasar pemerintahan dan menggambarkan Islam sebagai agama kependetaan. Dikatakan pula bahwa dalam Islam tidak sedikit pun ditemukan konsep tentang pemerintahan dan negara. Pada tahun itu dan tahun-tahun berikutnya, di negeri-negeri Arab terjadi perdebatan-perdebatan seputar dua tema: apakah gerakan Pan Arabisme lebih patut dan lebih banyak memberi kemungkinan ataukah Pan Islamisme. Berbagai surat kabar dan majalah sibuk memperbincangkan tema-tema itu, padahal kedua-duanya, apakah Pan Arabisme atau Pan Islamisme, sama-sama tidak sesuai dengan Islam. Esensi gerakannya hanya berusaha mengadakan perubahan tanpa mendirikan Daulah Islam. Akan tetapi, bagi kafir penjajah, perdebatan ini mengandung kepentingan lain, yaitu untuk mengalihkan opini umat dari Daulah Islam. Dengan diskusi-diskusi ini, mereka mampu menjauhkan umat dari opini tentang Khilafah dan Daulah Islam.

Ketiga, menghembuskan slogan-slogan sesat pemecah persatuan umat. Kaum kafir imperialis telah mempropagandakan idiom-idiom nasionalisme. Secara agitatif dipropagandakan bahwa Turki memikul beban berat bangsa-bangsa yang bukan bangsa Turki. Turki harus membebaskan diri dari bangsa-bangsa selain Turki. Turki harus menyusun partai-partai politik yang bekerja untuk mewujudkan nasionalisme Turki dan membebaskan Turki dari negeri-negeri selain Turki. Begitu juga di kalangan para pemuda Arab. Slogan-slogan nasionalisme Arab disebarluaskan oleh kafir penjajah, seperti, “Turki negara penjajah”, “Sekaranglah saatnya bagi bangsa Arab untuk membebaskan diri dari penjajahan Turki”, dll. Kemudian dengan slogan-slogan itu mereka membentuk partai-partai politik yang bekerja untuk mewujudkan persatuan Arab dan membebaskan Arab.

Mereka juga menyebarkan pemahaman-pemahaman yang menyesatkan tentang pemerintahan dalam Islam, tentang Islam sendiri, dan gambaran khalifah, yang dinyatakan sebagai jabatan kepausan dan bentuk pengejawantahan dari pemerintahan agama yang bersifat kependetaan (teokrasi). Dengan begitu, kaum Muslim sendiri akhirnya merasa malu menyebut kata khalifah, juga orang yang menuntut Kekhilafahan. Di tengah-tengah kaum Muslim juga sering dijumpai pemahaman umum, yang menyatakan bahwa persoalan Kekhilafahan adalah perkara kuno, terbelakang, dan jumud, yang tidak mungkin keluar dari orang yang berbudaya dan tidak mungkin pula dikatakan oleh pemikir.

Keempat, menjaga sistem sekular sekuat tenaga. Setiap upaya mengubah sistem yang berlaku dianggap sebagai gerakan yang inkonstitusional. Gerakan ini akan dikenai sanksi keras oleh undang-undang penjajah yang dijalankan para penguasa. Kafir penjajah menerapkan undang-undang Barat di negeri kaum Muslim melalui antek-anteknya. Seluruh perundang-undangan bahkan sampai UUD di negeri-negeri Islam secara penuh diadopsi dari perundang-undangan Prancis dan Eropa lainnya. Selain itu, ditempatkan orang-orang yang memang ditugaskan secara khusus agar undang-undang yang telah dibuat ‘tidak bisa’ diubah oleh siapapun.

Kelima, makin memantapkan pilar-pilar dan penegakan semua perkara berlandaskan politik pengajaran yang dibakukan, di samping kurikulum pendidikan kafir penjajah, yang hingga saat ini masih diterapkan di seluruh negeri-negeri Islam. Prestasi ini sudah barang tentu menghasilkan “pasukan besar” para pengajar, yang sebagian besarnya menjaga dan melestarikan metodologi ini; juga melahirkan orang-orang yang sebagian besar memegang jabatan penting yang berkaitan dengan pengaturan urusan kehidupan. Mereka berjalan sesuai dengan kehendak kafir penjajah.

Politik pengajaran dibangun dan disusun berdasarkan dua dasar:

(1)      Sekularisme, dan

(2)      Kepribadian kafir penjajah dijadikan sumber pembinaan.

Keenam, membentuk undang-undang yang mampu menjaga dan mengamankan pelaksanaan metodologi tersebut. Undang-undang itu menetapkan berbagai aturan yang melarang pembentukan partai-partai politik atau gerakan-gerakan politik yang bernafaskan Islam. Undang-undang itu mencap kaum Muslim yang bergabung dalam partai-partai Islam sebagai radikal dan ekstrem. Undang-undang itu menetapkan berbagai aturan yang mengharuskan partai-partai dan gerakan-gerakan politik mengandung sistem dan aturan demokrasi. Artinya, undang-undang tidak membolehkan di negeri-negeri Islam berdiri partai-partai atau gerakan-gerakan politik yang bernafaskan Islam supaya Daulah Islam tidak kembali lagi. Mereka dilarang melakukan aktivitas politik yang berlandaskan Islam. Sebagian undang-undang bahkan mencap kriminal mereka yang berusaha mendirikan partai politik. [Gus Uwik]


Blog EntryPenjajah Melenyapkan Daulah IslamNov 21, '07 5:48 PM
for everyone

sirah-200.jpgPerang Dunia I berakhir ditandai dengan gencatan senjata antara dua pihak yang bertempur, setelah sekutu memperoleh kemenangan gemilang. Daulah Utsmaniyah hancur berkeping-keping menjadi negara-negara kecil. Sekutu berhasil menguasai seluruh negeri Arab, Mesir, Suriah, Palestina, kawasan Timur Yordania dan Irak. Lalu mereka memaksanya untuk melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah.

Di bagian ufuk, kilauan cahaya keyakinan akan kemungkinan menyusun gerakan perlawanan mulai terbentuk. Namun, Inggris lebih dulu menangkap tanda-tanda ini. Dengan cepat, Inggris mengambil langkah-langkah sistematis untuk semakin ‘menghilangkan Khilafah’, yakni dengan cara: Pertama, mempekerjakan Mustafa Kamal. Tugas yang diemban oleh Mustafa Kamal adalah berjalan sesuai dengan strategi politik Inggris, melaksanakan kebijakan globalnya, dan mewujudkan misi utamanya: merubuhkan Negara Khilafah. Cara-cara yang dilakukan adalah, di Istanbul dibentuk kelompok-kelompok rahasia yang jumlahnya lebih dari 10 buah. Cara selanjutnya adalah memaksakan sistem aturan yang samar ke tubuh Negara Khilafah.

Kedua, Mustafa Kamal menyusun makar secara sistematis dengan mengadakan konferensi kebangsaan di Swiss dan berhasil mengeluarkan berbagai keputusan. Di antaranya tentang sarana dan strategi politik dalam mengamankan kemerdekaan Turki. Konferensi juga berhasil mengambil berbagai keputusan. Satu di antaranya memilih Komite Pelaksana dan Mustafa Kamal ditunjuk sebagai ketua komite. Setelah itu Konferensi mengirimkan mosi tidak percaya kepada Khalifah. Mereka juga berhasil membentuk parlemen baru.

Hasilnya, semua negeri yang diperintah Daulah Utsmaniyah, yang notabene adalah Daulah Islam, pasca Perang Dunia I membuat konsensus kebangsaan yang mengandung satu komitmen saja: memerdekakan diri sebagai negara merdeka yang berdiri sendiri dan terpisah dari Daulah Utsmaniyah. Konsensus ini persis dengan yang dikehendaki Sekutu. Irak membuat deklarasi kebangsaan. Agendanya mewujudkan negara Irak merdeka. Suriah membuat piagam kebangsaan. Targetnya memerdekakan Suriah menjadi negara Suriah yang berdiri sendiri. Begitu juga Palestina, Mesir, dan negeri-negeri Islam lainnya.

Ketiga, Memecah-belah wilayah Khilafah. Sekutu sepakat untuk mengusir Yunani dari daerah Turis, Konstantinopel, dan menyerahkannya kepada Turki. Dari langkah-langkah Mustafa Kamal yang sistematis, dapat dilihat bahwa kesepakatan Sekutu merupakan bentuk sambutan untuk menerima Mustafa Kamal agar segera mengakhiri pemerintahan Islam.

Keempat, memerdekakan Turki yang bersifat kebangsaan, bukan umat Islam. Awalnya, dia tidak menghapus Khilafah dan tidak menentangnya. Hanya saja, dia mengusulkan adanya aturan yang memisahkan kekuasaan politik (pemerintahan) dengan Khilafah. Lalu dia menghapus Kesultanan dan mencabut Wahiduddin dari kekuasaan (bukan lembaga Khilafah). Akhirnya, Khilafah tidak memiliki penguasa yang syar‘i.

Mustafa Kamal melanjutkan manuvernya dengan dukungan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Dia menjalankan pemerintahan melalui jalur kebangsaan. Dia membentuk partai yang dinamakan Partai Kebangsaan. Tujuannya adalah untuk mengambil opini umum agar menjadi milikya. Karena itu, dia perlu mengambil inisiatif untuk mengumumkan bentuk pemerintahan yang ditetapkannya, yaitu Pemerintahan Republik Turki, dan memproklamirkan dirinya sebagai presiden.

Kelima, membuat UU subversif yang sangat mengekang. Apa yang dikehendaki oleh Mustafa Kamal tidaklah berjalan mulus. Bangsa Turki adalah bangsa Muslim. Apa yang dilakukan Mustafa Kamal adalah bentuk penentangan terhadap Islam. Negara didominasi pemikiran yang menyatakan bahwa Mustafa Kamal bertekad menghabisi Islam. Pemikiran ini diperkuat dengan perilaku-perilaku Mustafa Kamal sendiri yang jelas-jelas mengingkari dan melanggar Islam di sepanjang hidupnya, terutama penentangannya terhadap semua hukum syariah. Dia juga sering melecehkan atau merendahkan setiap keputusan suci atau hukum yang berlaku di tengah-tengah kehidupan kaum Muslim. Mayoritas umat yakin bahwa Pemerintahan Mustafa adalah pemerintahan kufur yang terlaknat. Masyarakat akhirnya bergabung di seputar Khalifah Abdul Majid dan berusaha mengembalikan kekuasaan kepadanya dan menjadikannya penguasa yang akan menghukum kaum yang murtad.

Mustafa Kamal mengetahui bahaya yang mulai membesar. Dia juga melihat bahwa mayoritas rakyat membencinya dan menggambarkannya sebagai seorang zindiq, kafir, dan ateis. Mustafa Kamal berpikir keras tentang persoalan ini. Akhirnya, dia memantapkan langkahnya dengan meningkatkan aktivitas propaganda menentang Khalifah dan Khilafah. Lebih jauh, Mustafa Kamal menyiapkan iklim yang mendorong penghapusan Khilafah. Sebagian anggota Dewan membicarakan manfaat Khilafah bagi Turki dari sisi diplomasi. Namun, Mustafa Kamal menentang mereka.

Keenam, propaganda menentang Khilafah seraya menjelaskan bahaya-bahayanya bagi Turki. Tidak cukup itu saja. Bahkan dia juga menciptakan gelombang ketakutan atas orang-orang yang mendukung Khilafah. Dia menebarkan ketakutan di sepanjang pemerintahannya. Dia juga menugaskan seorang hakim Istanbul untuk melakukan kewajiban menghapus panji-panji kebesaran yang mengitari arak-arakan Khalifah di tengah-tengah pelaksanaan shalat Jumat. Akibatnya, martabat Khalifah turun hingga ke batas yang paling rendah. Mustafa Kamal juga memperingatkan dengan keras para pengikut Khalifah supaya melepaskan diri darinya.

Dengan kekuatan diktator, Mustafa Kamal menetapkan rumusan ini melalui Komite Nasional. Keputusan ditetapkan tanpa melalui diskusi. Kemudian dia mengirimkan instruksi kepada hakim Istanbul agar memutuskan hukuman pengusiran bagi Khalifah Abdul Majid.

Demikianlah hantaman Mustafa Kamal terhadap Daulah Islam dan sistem Islam. Dia mendirikan negara dan sistem sekular. Dengan demikian, dia telah merobohkan Daulah Islam dan mewujudkan mimpi kaum kafir, yang menjadi senda-gurau mereka sejak Perang Salib. Ingatlah, melalui tangan dialah Daulah Islam dihancurkan! []


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.