indra's posts with tag: cerpen
-Rembulan Di ujung Rindu-
Sesosok Rembulan teduh
Untuk mempersiapkan dan membekali diri mengikuti SPMB tahun ini, aku ikut bimbel intensif selama tiga bulan di Lembaga Bimbingan Einstein. Di antara temen-temen bimbelku itu ada sesosok rembulan yang menarik dan terus terang mencuri perhatianku. Dia memakai jilbab sampai menutupi dada dan memakai pakaian yang menurutku agak aneh jubah; mirip pakaian wanita hamil. Pertemuan pertama bimbel hari ini adalah perkenalan dengan temen-teman seisi kelas. “Hamzah”ketika giliranku berkenalan dengan dia. Dan aku mengulurkan tanganku “Fahimah.”sambut dia singkat sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Seulas senyum renyah menyungging dari sudut bibirnya. “Kamu dari mana?” “Bandung, mas dari mana?”balas dia sambil menatap lantai kelas. “Oh saya dari pulau seberang!”jawabku singkat memancing dia agar bertanya lagi. Benar saja,”Maksudnya!”tanya dia mengejar “Aku dari Riau” “Oo…”hanya lontaran kecil itu yang keluar. Dan bertepatan dengan itu tentor memasuki ruangan. Terus terang, materi Bahasa Inggris hari ini lewat tanpa bekas, aku masih bertanya-tanya kenapa Fahimah menolak jabat tangan dan selalu menunduk. Pikiran itu terus berkecamuk sampai aku pulang. * * * Tentang Dia Ketika sampai kos,kuceritakan pengalaman perkenalanku dengan muslimah tadi ke Hanafi yang sudah semester dua, dia kuliah di UGM. Tentang pakaian dan tingkah, serta kenapa dia tidak mau bersalaman. Hanafi hanya tersenyum, “Akhi…itu namanya jilbab.” “Oh begitu. lho, lalu yang biasa dikenakan cewek-cewek gaul itu apa namanya? Kan itu juga jilbab meski pakai pakaian ketat dan menampakkan yang seharusnya tidak kelihatan.”debatku.. yah, soalnya aku sering melihat di jalan-jalan dan di Mirota Kampus Swalayan, banyak cewek memakai jilbab tapi memakai kaos ketat atau baju gaul. Meski aku tidak tahu motif mereka memakai itu untuk gaya ataukah untuk ketaatan. “Ooo..itu lain, mungkin yang kamu maksud itu kerudung. Jilbab dan kerudung itu berbeda. Kalau jilbab itu jubah yang longgar dan menutupi seluruh tubuh. Tapi kalau kerudung….ya yang kamu maksud tadi. Dalam Islam para muslimah selain memang diwajibkan mengulurkan kerudung hingga menutupi dadanya mereka juga wajib mengenakan jilbab.”panjang lebar Hanafi menjelaskan tentang definisi jilbab. aku hanya bisa menganguk-angukkan kepalaku. “Begitu ya!di kampungku di Indragiri Hilir kok jarang yang memakai pakaian jubah itu ya. Jangankan jilbab, kerudung saja jarang ada yang pakai, temen-temen SMU-ku cuma pakai kerudung kalau di sekolah. Ketika pulang kerumah, mereka melepasnya. Haram![1]…baru kali ini aku ketemu dengan model baju muslimah kayak begitu.” “Wallahu a’lam kalau ditempatmu seperti itu. Yang jelas menurut kitab-kitab yang aku pelajari memang seperti itulah seharusnya pakaian yang sesuai syariat untuk kaum muslimah.” “Kenapa ya! supaya nggak di gangguin preman ya?”tanyaku berseloroh. “Itu hanya salah satu puluhan hikmah kenapa muslimah menggunakan jilbab. Selain karena kewajiban yang telah di bebankan oleh Allah Swt untuk hambanya yang takwa, salah satu hikmahnya memang untuk menjaga kehormatan dan kesucian muslimah itu dari gangguan yang tidak diinginkan.” ”Whatever-lah..yang jelas dia memang sesosok rembulan teduh yang kukagumi.”sahutku “He-he-he pesona pertama memang biasanya begitu menggoda” goda Hanafi. “Jujur…ada geletar aneh saja ketika kutatap sosoknya. Ada tetesan embun menyejuk kala kupandangi wajahnya, meski ketika kutatap dia selalu menundukkan pandangannya. Dia ibarat setitik oase di gurun Sahara. Dia bak rembulan yang mensinari bumi dengan kemilau ikhlasi” gumamku berpuitis-ria. “Suit-suit…pujangga yang sedang merindu sepotong rembulannya yang terbelah nih!. Ehem.. siapa nama akhwat itu?” Tanya Hanafi lagi. “Akhwat? makanan apalagi itu?” sahutku tak mengerti sambil berkelakar. “Akhi…akhwat itu julukan yang melekat untuk para muslimah, termasuk the miracle akhwat yang kamu kagumi itu. Maksudnya muslimah yang benar-benar mengkaji Islam secara serius dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya dan dia juga bersimpati dengan mengajak sahabat, keluarga atau orang yang dikenalnya untuk bisa mengamalkan Islam secara kaffah” “Kaffah?” kupegang keningku dengan ujung jari telunjukku. “Apa lagi tuh?” tanyaku penuh keingintahuan, maklumlah ilmu agamaku hanya sebatas bisa mengaji alqur’an, sholat dan puasa. Huff…ternyata banyak ilmu yang harus aku pelajari dan kukuasai. “Kaffah itu maksudnya secara sempurna atau menyeluruh. Jadi selain beribadah dalam kehidupan pribadi atau dalam bermu’amalah kita juga harus menggunakan Islam. Jangan sampai kita memisahkan hal atau urusan pribadi dengan syariat.” “Ooo..”hanya ungkapan kecil itu yang bisa aku lontarkan. Salut juga aku sama Hanafi yang mempunyai ilmu agama yang mumpuni. “Oh ya.. siapa nama akhwat itu..”tanya Hanafi lagi “Namanya Fahimah, dia dari Bandung.” Ada senyum menyungging dari bibir Hanafi, akupun dibuat penasaran. “Kok tersenyum, kenapa?”tanyaku “Nggak kok. Tapi aku percaya, kekuatan cinta itu bisa menembus benteng sekokoh apapun, cahaya cinta akan membuat yang bakhil menjadi dermawan yang miskin berlagak kaya bahkan sang pendosapun bisa berlagak alim di hadapan sang pujaan.”jawab Hanafi sambil terkekeh. Sejak saat itu, Hanafi banyak meminjamkan buku-buku keislaman dan majalah-majalah islami. Keinginanku untuk bisa memperdalam dan mengkaji Islam tertanam kuat di dada. Kemudian aku diajak halaqah[2] oleh Hanafi di Masjid kampus UGM tiap kamis sore ba’da Ashar. * * * Awal yang Indah saat kuliah Alhamdulillah, akhirnya aku diterima di Sastra Inggris UGM. Sejak saat itu aku kehilangan kontak dengan sesosok rembulan teduh itu. Kabar dari Andre, teman satu bimbel denganku yang lulus di ITB, Fahimah lulus di Kedokteran Unpad Bandung. Selain kuliah aku juga aktif di LDK[3] UGM, selain menambah sahabat dan mempererat tali ukhuwah, juga mencari lingkungan yang kondusif untuk belajar dan bergaulku. Aku selalu teringat dengan tausiyah[4] Hanafi, carilah teman yang bisa menyejukimu kala terik, memberimu warna dakwah kala kejahilan menebar, mengharumimu dengan parfum cerapan persaudaraan sejati kala sistem kebodohan diterapkan banyak insan. Kucamkan setiap nasehat dari Hanafi, memang mencari teman sangat gampang. Tapi mencari sahabat sejati seumpama mencari jarum di lautan jerami. Alhamdulillah, saat semester dua aku ditawari mengajar di Bimbingan Belajar kepunyaan temen satu LDK. Bisa menyisihkan sedikit uang untuk melunasi SPP, uang kos dan mencicil motor. Semester enam aku sudah mempunyai lembaga kursus bahasa Inggris yang aku dirikan bareng temen-temen terpercayaku di kampus. Aku sudah tidak nge-kos lagi, tapi sudah ngontrak rumah di jalan Kaliurang bareng Hanafi. Dan Suzuki Sidekick telah terparkir di garasi rumah. Sempat aku merasa bimbang, apakah membeli mobil itu termasuk hal yang mubazir? ketika aku tanyain ke Hanafi di suatu senja. “Akhi…bersikap zuhud[5] itu memang tuntunan Rasulullah, tapi bukan berarti kita menolak dunia. Khalifah Utsman itu seorang yang zuhud tapi beliau juga memakai unta yang bagus dan kuda yang tangkas. Juga Imam al-Laits, beliau selain termasuk imam fiqih, dia juga sangat luar biasa melimpah kekayaanya. Bahkan kebutuhan hidup imam Malik beliau cukupi, meski beliau berbeda pandangan dalam beberapa hal dengan sahabat dan guru fiqihnya itu. Dan yang sangat luar biasanya lagi, beliau itu mempunyai istana yang megah, kendaraan yang tangkas tapi setiap tahunnya tidak pernah mengeluarkan zakat. Kenapa? Bukan karena beliau pelit, tapi karena hartanya telah habis dia dermakan untuk kaum miskin-papa. Sehingga setiap tahun hartanya tidak sampai satu nishab[6], Subhanallah.. luar biasa kan! Jadi kalau kamu ingin mempunya mobil ya silahkan,agama tidak melarang kok.” Setelah mendengar penjelasan panjang-lebar dari Hanafi, hatiku menjadi plong. Kemanapun aku pergi, Suzuki Sidekick itu selalu menemani, termasuk mengantar Hanafi mengisi kajian ditempat yang jauh atau saat lagi masiroh[7] di perempatan Kantor Pos Besar dekat dengan jalan Malioboro dan Shopping Center tempat buku-buku murah di Yogya. Pokoknya kendaraan untuk memperlancar dakwah. * * * Perpisahan dengan Sahabat Tak terasa Hanafi telah selesai skripsi dan bulan Agustus mendatang dia akan wisuda. Terang saja aku sedih, kutahan agar dia bisa tetep mendampingiku menjadi mentorku dalam berdakwah. Tapi dengan bahasa diplomatis dia menolak dengan halus. “Syukron,[8] bukan aku menolak untuk tetap tinggal di Jogja dan menolak tawaranmu untuk jadi manajer di lembagamu akh…tapi aku diamanahi Abah dan ummi untuk menjalankan bisnis keluarga di Bandung. Saatnya untuk berbakti kepada mereka .”jawab Hanafi “Tapi aku yakin, kamu sudah bisa aku lepas untuk menebarkan kebaikan dan menyadarkan ummah di birunya langit dakwah yang mempesona. Aku yakin dengan kemampuanmu.”tambah dia lagi sambil menepuk pundakku. Terasa ada kekuatan dorongan semangat yang dahsyat dari tangannya, mengalir merasupi relung-relung jiwaku. Setelah acara wisuda selesai, Hanafi langsung dijemput Abah dan Ummi-nya. Aku turut membantu mengepak barang-barang Hanafi dan saat yang paling menjengkelkan dalam hidupku harus kualami ‘perpisahan’. Ya… aku paling tidak suka dengan kata itu, pasti ada guliran air bening yang akan mengalir. Tapi memang hanya lewat perpisahanlah seseorang itu akan terasa sangat berarti bagi kita, ada rasa kehilangan, rindu dan mengharu-biru pasti akan menyatu ketika bayangannya akan berlalu. Seperti ketika kita begitu menginginkan rembulan selalu datang ketika fajar menyapa pagi, dan kita akan merindu mentari kala senja berlalu. “Ingat akh! jadilah engkau seperti petir yang bisa membelah angkasa, yang bisa memantik banyak orang agar terbakar. Jangan mau hanya menjadi kayu bakar, yang hanya menunggu orang untuk membakar dirinya. Menjadi petir atau menjadi kayu bakar itu adalah pilihan. Okay!, engkau sahabatku dan saudaraku di jalan Allah. Semoga hidupmu barakah, semoga tiap derap langkahmu untuk memancarkan pijar sinaran Ilahi di bumi yang di ridhai. Maafkan segala silap dan khilafku selama menjadi saudaramu.”Hanafi memelukku erat, tak kuasa aku menahan titik airmata yang jatuh. “Sama-sama, syukron… sudah menjadi temen curhat, guru dan saudara yang selalu mengarahkanku.”sambutku lirih hampir tak terdengar karena kata-kataku serasa tersumbat tercekat diujung tenggorokan. “Ok! aku tunggu undangan wisuda dan walimahan-mu[9]”kalimat canda yang memutus kesedihanku. “Jelas dong, insya Allah aku kabarin kelak.” Sambutku dengan senyum lebar, memupus suasana sedih di antara kami. Kucium tangan kedua ortu Hanafi dengan takzim. Mobil Nissan Terrano itu pun lenyap di ujung perumahan, sesosok yang pasti aku rindui kelak. * * * Rembulan yang Kurindu Alhamdulillah, akhirnya aku lulus juga setelah berjuang menyelesaikan skripsi selama satu semester. Perjuangan yang cukup melelahkan. Menguras tenaga dan fikiran. Minggu depan aku akan wisuda selain memencet-mencet keypad hp-ku tentang kabar gembira ini ke abah dan emak di Riau. Aku juga memberi kabar gembira kepada sahabatku. Kuambil laptop di meja kerjaku dan kubuka inbox dan kukirim kabar kelulusanku ke Hanafi. To : ikhwan_hanif@eramuslim.com Subject : Datang ke wisuda ana ya! From : hamzah_1924@alquds.com Date : 12 Agustus 2007 (11:25 WIB)
Assalamu ‘alaikum wr.wb. Semoga selimut cinta-Nya selalu menaungi tapak hidupmu. Gimana kabarmu akhi? Bisnismu lancar juga kan? Oh-iya, insyaAllah ana akan wisuda minggu depan, bisa datang kan! Kalau bisa sama Abah dan ummi karena abah dan ummiku juga insyaAllah datang ke Jogja. Kan nanti bisa kumpul rame-rame he-he-he. B-t-w,[10] antum kapan nikah? Bisa nyariin sesosok rembulan terang dari Bandung nggak? he-he-he,becanda kok. Aku tunggu yah kehadiranmu di wisudaku! “…Sungguh aku mencintaimu karena Allah, Semoga engkau di cintai Allah, yang karena-Nya engkau mencintaiku.”[11] Wassalamu alaikum wr.wb.
Saudaramu Fillah, Hamzah nan faqir ilmu
Bip-bip-bip… laporan pesan terkirim muncul di monitor. Aku tinggalkan laptop, setelah panggilan muadzin memanggil untuk sholat. Lalu aku sholat zuhur berjama’ah dengan staf-stafku. Setelah shalat sunah ba’da zuhur aku kembali ke ruangan kerjaku. Bip-bip monitorku menyala, ada email baru yang masuk. Ketika kubuka ternyata dari Hanafi. To : hamzah_1924@alquds.com Subject : re:Datang ke wisuda ana ya! From : ikhwan_hanif@eramuslim.com Date : 12 Agustus 2007 (12:25 WIB)
Assalamu ‘alaikum wr.wb. Semoga tetesan embun kasih-Nya selalu menerpamu saudaraku. Kabarku di Bandung alhamdulillah sehat dan selalu dalam naungan-Nya, semoga engkau juga begitu. Alhamdulillah, bisnis lancar. insyaAllah akan segera dibuka cabang di Jogja, jadi kita bisa sering ketemu nanti. Insya Allah tahun ini ana nikah. Akhwat Bandung!! memangnya di Jogja kehabisan akhwat apa, sampai minta dicariin di Bandung he-he-he, bercanda juga kok. Tapi kalau kamu memang serius, ada lho akhwat yang siap nikah disini. Mau nggak? Dia insyaAllah mengenalmu dan kamu juga kenal dengan dia. Jika kamu mau dan siap… nanti kita bicarakan lagi. Ok akh! Ana uhibbka fillah ya akhy! [12] Wassalam ‘alaikum wr.wb.
Paris van Java, Jatinangor Hanafi
Dag-dig-dug, denyut nadiku bersenandung cepat, setelah kubaca email balasan dari Hanafi. Ada raungan tanya yang menyergap. Siapa sih sang akhwat? Kata Hanafi dia kenal aku dan aku kenal dia, tapi siapa? Seingatku selama di Jogja aku belum pernah kenalan dengan akhwat manapun. Jangan-jangan Hanafi hanya bercanda dan menggodaiku saja, batinku. Saking penasarannya, aku langsung sms ke Hanafi Bisa online di YM[13] sekarang? aku mau nanyain tentang akhwat itu. Tak lama balasan dari Hanafi datang Afwan[14]…aku lagi ada meeting dengan kolega di Cimahi.He...he..he penasaran sama sang rembulan di langit hati nih ;-) Aku balas lagi Bisa online besok jam 09.00? Balasan Sms dari Hanafi masuk lagi Ok… Terus terang untuk saat ini, menanti mentari menyembul kala pagi, serasa menunggu antrian mengisi BBM di SPBU selama tiga hari. ♥♥♥ Misteri sang Rembulan Jam 09.00 di kantorku. Setelah buka laptop dan buka ID YM-ku. Cring…..ternyata Hanfi sudah online. Ikhwan_hanif : Assalamu ‘alaikum wr.wb. Hamzah_1924 : Wa alaikumsalam wr.wb. apa kabarmu akhi? Ikhwan_hanif : Baik, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana? Cieee…yang lagi penasaran sama sesosok rembulan. He-he-he Hamzah_1924 : Sehat dan baik, alhamdulillah bisnis juga lancar. Iya nih aku penasaran sama akhwat yang antum[15] tawarkan. Nggak bercanda khan? Soalnya kayaknya aku belum pernah ketemu dan kenalan dengan akhwat Bandung selama di Jogja. Ikhwan_hanif : Ya enggak lah. Begini…dia itu sebenarnya adik kandungku sendiri. Kenapa aku ingin menjodohkan kalian berdua? Yah, karena selain aku sudah paham dengan sepak terjangmu, aku mempercayaimu sebagai saudara seiman, seperjuangan bahwa engkau bisa dan sangggup menjadi imam untuk dia. Selain itu aku ingin melekatkan tali ukhuwah[16] kita agar lebih merekat-erat. Tentang siapa dia, nanti akan kami pertemukan kalian berdua satu minggu lagi pas wisudamu. Untuk sementara engkau boleh shalat istikharah dulu. Adik Hanafi? Lalu dia kenal dengan aku, dan aku juga tahu tentang dia? Kapan kenalnya? Siapa sih akhwat itu? Benar-benar sebuah misteri. Hamzah_1924 : Ok..aku akan shalat istikharah dulu. Nanti aku telepon saja yah Ikhwan_hanif : Ok…aku tunggu jawabanmu. Semoga bisnis dan ikhtiyarmu lancar. Wassalamu ‘alaikum. Hamzah_1924 : Syukron, semoga bisnismu juga makin merebak meruah wassalamu alaikum. Di layar monitor : Ikhwan_hanif has sign-out ♥♥♥ Bidadari di Langit Hatiku, Besok pagi aku akan diwisuda. Abah dan emak sudah dari tiga hari kemarin datang di Jogja, dan selama itupula aku jadi guide pribadi, mengantar Abah dan Emak berputar-putar keliling Jogja mulai dari Malioboro, Tamansari, pantai Parangtritis, Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Wisata Kaliurang tak luput dari tour dalam kota kami. Sebelumnya aku juga sudah memberitahu ke Abah dan Emak bahwa calon besan dan menantunya sehabis isya’ akan datang bersilaturrahim[17] dan sekalian ta’aruf. Beliau berdua dengan bijak menyerahkan sepenuhnya kepadaku siapa jodoh yang tepat. Aku bersyukur, karena kadang di kampung kami masih memakai adat yang kolot, kalau memilih jodoh kita kelak harus satu suku, bibit-bebet-bobot harus sesuai dengan standar orang tua. Hanafi dan keluarga juga adiknya sudah sejak subuh tadi datang ke Jogja, tapi mereka masih rehat di hotel Hyatt Regency, sebuah hotel bintang lima yang paling bagus servisnya. di jalan Palagan Tentara Pelajar. Kami memang sudah membuat janji bahwa acara ta’arufku dengan adiknya Hanafi akan dilaksanakan sehabis sholat Isya’. Jam 17.40 WIB Nissan Terrano ber-plat Bandung terparkir di depan halaman rumahku. Aliran darahku semakin cepat, degup jantungku tak beraturan. Keringat dingin mengucur deras. Aku dan kedua orang tuaku dengan hangat menyambut sang tamu istimewa di beranda depan rumah. Pertama yang keluar dari mobil adalah Abi dan Ummi-nya Hanafi, kedua wajah bijak yang masih lekat di ingatanku setahun lalu. Lalu Hanafi keluar dari pintu depan bagian kanan. “Assalamu alaikum”lontar Abi dan Umminya Hanafi. “Wa alaikumsalam”berbarengan kami menjawab uluk salam Setelah mencium kedua tangan Abi dan umminya Hanafi, kedua orang tuaku menyusul saling bersalaman satu sama lain. “Mari masuk,” Abiku mempersilahkan kedua ortu Hanafi. Tentu saja aku langsung menyergap dan memeluk erat Hanafi, sahabatku yang kurindu itu. “Bagaimana kabarmu akh? sudah lama kita tidak bersua ya! “sapa Hanafi hangat. “Alhamdulillah masih dalam lindungan Allah, kamu nampak sehat juga ya!.”jawabku sambil melirik ke arah mobil, karena aku tahu masih ada sesosok yang agak malu-malu tidak mau keluar dari sana. “Oh-iya ada sesosok rembulan yang masih tertinggal di mobil nih, aku panggil dulu ya!” seperti mengerti dengan kegelisahan dan kepenasaran hatiku. Hanafi berbalik badan dan melambai ke arah mobil. Dari balik remang-remang penerang lampu jalan di depan perumahan aku bisa melihat sesosok akhwat berjilbab[18] biru gelap memakai kerudung putih keluar dari pintu samping kiri. Masih nampak samar aku kurang jelas dengan pemandangan yang ada. Barulah berjarak lima meter di bawah naungan cahaya lampu taman, sesosok itu menampilkan cahaya kemilaunya. Tercekat tenggorokanku, dia..dia…sesosok bayangan yang pernah aku kagumi. Sosok cahaya yang pernah bersemayam di pikiranku. “Subhanallah, Fa..fa..himah”terbata aku mengeja sebuah nama yang telah kulupa dari ruang memoriku. “Ya dia Fahimah, dia adik kandungku satu-satunya.” “Bagaimana bisa !”aku geleng-geleng kepala tak mengerti “Dia yang kuliah di kedokteran Unpad. Dia akhwat yang dulu kamu kagumi sejak masuk ke Jogja. Aku sudah banyak cerita ke dia tentang kamu. Juga tentang sang pemuja yang merindu sesosok rembulan sampai berpuitis-ria tuh he-he-he. Ketika kutanyakan apakah dia sudah siap nikah tahun ini, kalau ada ikhwan yang melamar, dia jawab insyaAllah siap. Ya sudah…terus kebetulan kamu mengirim email yang isinya ingin mencari bidadari dari Bandung, klop kan!”tanpa tedeng aling-aling Hanafi dengan panjang lebar menjelaskan sambil berbisik. Entahlah, jika ada cermin di hadapanku, mungkin mukaku sudah tidak berbentuk sama-sekali,wajahku yang merona merah bak buah semangka yang terbelah. Seulas senyum menghampiri “Assalamu ‘alaikum akhi Hamzah.” Desisan suara itu bak siuran denting syair syahdu mengalun menyambar di kedua telingaku. “Wa..wa.. ‘alaikum salam, silahkan masuk ukhti…”ucapku sambil kutatap lantai marmer rumahku. Ada geletar syahdu yang menyelusup di taman langit hatiku, ada keteduhan yang mengalir dalam darahku, ada buncahan gembira yang menari direlung sanubari, ada rasa tak percaya bahwa sang rembulan ternyata adalah wanita shalihah yang aku kagumi. Ya! …sesosok rembulan teduh yang menautkan hatiku sejak mata kami bertemu pada pandangan pertama. Meski aku tahu itu bukan cinta, tapi kekaguman atas pancaran pesona kecantikan karimahnya. ♥♥♥ Sekuntum Bunga di Langit Hatiku Diruang tamu kami berkumpul duduk saling berhadapan. Acara ta’aruf[19] dipimpin oleh Hanafi. “Bismillah….Atas nama keAgungan-Nya atas nama Kasih-Nya semoga acara ta’aruf ini di bawah naungan ridha dan barakah-Nya. Semoga semangat menyatukan dua belahan jiwa di bawah langit dakwah ini menghamburkan jutaan kemilau pahala. “ hening menyapu ruang tamu, lalu Hanafi melanjutkan. “Majelis ta’aruf ini adalah sarana untuk saling mengenal antara dua insan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Silahkan untuk akhi Hamzah terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri…”suara Hanafi bak menyengat dari ketergagapanku. “Assalamu alaikum..saya Hamzah bin Abdurrahman. Asal Indragiri Hilir, Riau. Sedang menunggu wisuda di Sastra Inggris UGM.”aku lalu menoleh ke arah Hanafi. Dia lalu menganguk. “Sekarang giliranmu ukhti..”dia melirik adiknya yang duduk disampingnya. Fahimah mengangkat mukanya “Wa alaikumsalam, saya yang dhaif[20] Fahimah binti Syaifullah, asal Bandung. Kuliah kedokteran di Unpad. insyaAllah wisuda satu minggu lagi.” Selesai berkata Fahimah memandang kebawah lagi. “Alhamdulillah, sekarang silahkan mengutarakan visi dan misinya masing-masing dalam membangun ‘rumah cinta’ baru, agar tak ada yang tersembunyi di hati. Agar kejelasan memancar dengan terang.”lanjut Hanafi, dia melirikku. “Sebuah rumah takkan tegak tanpa pondasi. Visi dan misi saya selain menyempurna separuh agama adalah membangun ‘rumah cinta’ yang dilandasi keimanan. Syariat sebagai pilarnya dan ridha Allah dan Rasulku nan kutuju juga sebagai pengokoh derap dakwah. Aku akan berbagi kebahagiaan dan juntaian ribuan pahala dengan bidadariku kelak. Aku akan menerima apa adanya dia, dengan kelebihan dan kekurangannya. Aku harap kelak dia akan mengingatkan aku bila terpeleset dari syariat, menjadi ummi dan pelindung anak-anakku, sebagai pengobat rindu kala rindu mendera, sebagai penyala obor cinta ketika cahaya cinta meredup sayu melayu, dan merelakanku dengan ikhlas apabila panggilan jihad berdentang berkumandang.”dengan nada bergetar kuucapkan. Hanafi melirik Fahimah. Dan lagi-lagi Fahimah mendongakkan paras mukanya lalu menjawab. “Saya ingin sesosok pangeran hati yang kurindu itu seorang yang berbaju takwa, jihad cita utamanya, penyayang dan penyabar menerima apa adanya diriku. Dia seseorang yang bahunya bisa untuk bersandar kala aku dalam masalah, tempat berbagi senyum dalam naungan ridha-Nya. Sebagai imam dalam keluarga mungilku kelak.”ketika aku memandanginya tak sengaja dia juga mencuri pandang kearahku. Ketika mata kami bertemu, kulihat ada cahaya dikelopak matanya. Mata bening yang mewarisi kecerdasan bunda Aisyah, ada kelembutan yang memancar dari Fathimah az-Zahra. Ada pancaran lega dari wajah Hanafi, ”Apakah ada yang ingin diutarakan atau ditanyakan sebelum acara ta’aruf ini saya tutup?” hening sejenak menaungi ruang tamu. Tiba-tiba, Fahimah mengangkat paras dan tangannya. “Boleh saya menanyakan satu hal kepada kepada akhi Hamzah?” Hanafi memandangku meminta persetujuan, akupun menganguk. “Adakah seseorang yang mengisi di ruang hati akhi Hamzah sebelum ta’aruf ini?” pertanyaan singkat yang menyentakku. “Apakah pertanyaan ini wajib dijawab?”tanyaku “Iya !”sahut Fahimah tegas. Aku menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. “Terus terang, sebelum ta’aruf ini saya memang mengagumi pesona seseorang. Dia cantik secantik Fathimah binti Muhammad, dia pemberani sepemberani Asma binti Abu Bakar, syahidah cita melangitnya. Terus terang, sampai saat ini saya masih mengaguminya dan sangat sulit untuk melupakan pesona dirinya, mungkin selama hayat masih dikandung badan.”aku melirik Fahimah, kulihat ada setetes bening di kelopak matanya, lalu bergulir di pipinya yang putih bersih. Ada rasa sesal yang memancar dari dirinya karena telah melontarkan pertanyaan yang jawaban yang begitu tidak disangkanya ternyata telah menoreh dan menyayat jiwa. Meski aku tahu dia berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya. Tapi ledakan dari sumur hatinya benar-benar tidak bisa ia tahan lagi. Ruang tamu kini senyap, hanya dihiasi senandung detakan jam dinding yang terus bertalu tiada perduli. “Sejujurnya Bidadari yang kukagumi itu sekarang ada di dekatku. Dia sudah nyata dihadapanku.”lanjutku memecah keheningan, sambil tersenyum lebar. “Maksudnya!”tanya Fahimah sambil mengusap tetesan airmatanya memandangku. Tanda tak mengerti maksud ucapanku. “Ya…Bidadari itu adalah engkau ukhti. Sejak perkenalan kita yang pertama dulu, sungguh sangat membekas dalam relung jiwaku. Dan aku tidak menyangka bahwa Allah Swt. akhirnya menganugerahkan dirimu untuk menjadi Bidadari di langit hatiku.”jawabku tegas. Ada rona merah merebak di wajah Fahimah, ah..rembulan itu benar-benar begitu mempesona begitu sempurna. Ada senyum dan helaan lega dari Abah dan ummiku juga orang tuanya Hanafi. Ada senyuman kecil yang menggoda dari Hanafi untuk Fahimah. Dan tahulah Fahimah sekarang, kalau dirinya baru saja dikerjai habis-habisan oleh kakaknya. Ouuuuuuuwgh…!!! jerit Hanafi, ketika jemari lembut Fahimah membentuk tang penjepit dan menyentuh perut Hanafi. Kami semua tersenyum melihat keakraban kakak dan adik itu. Setelah ta’aruf kami putuskan bahwa khitbah,[21] dan walimah akan dilaksanakan sore setelah Fahimah selesai acara wisuda di Unpad. “Alhamdulillah, Allah Sang Penggenggam Alam Malakut[22], semoga keluarga mungil kalian barakah kelak. Semoga sinar cinta-Nya menaburi kalian. Semoga acara ta’aruf ini menjadi pengokoh dua keluarga besar untuk melekatkan temali persaudaraan.” Hanafi menutup acara. Abah dan ummi-ku juga orang tuanya Hanafi merekahkan senyum lebar. Binar-binar bahagia terpancar dari wajah mereka. Benar kata Hanafi, bahwa ‘cahaya cinta bisa mengubah dunia’ dan seisinya. Hatiku pun bersenandung riang, Duhai rembulan…. Kerindu sinar kala senja padam Kurindu peluk syahdu kala selimut malam menyapu Kurindu teduh lewat senyum takwamu Betapa bahagia memetikmu atas izin-Nya
Esoknya aku diwisuda di Graha Sabha Pratama UGM. Yang hadir di acara wisudaku selain kedua orangtuaku hanya Hanafi . ♥♥♥ Mewangi Bunga Surga, Aroma harum semerbak menerpa, semilir angin menghantarkan hembusan firdausi, awan bergerak berbaris di birunya cakrawala membalut suasana Bandung hari ini. Setelah acara wisudanya Fahimah selesai, sorenya akad pun kami kumandangkan dan ungkapan syukur walimatul ursy[23] secara sederhana kami gelar di rumah keluarga Hanafi. Setelah itu Fahimah akan ikut aku ke Jogja dan co-ass[24] di RSUD Dr. Sardjito. Sejak saat itu senja selalu menyapa bumi dengan indah, karena cahaya sang rembulan memancarkan kemilau keikhlasan. Membaluti kehormatan dan kesucianku, menselimuti dengan keistiqomahan dirinya, menebarkan pendar-pendar kemilau Islam. Meramaikan bumi Ilahi dengan jundi-jundi[25] Allah dengan polesan kesabaran dan ketakwaan. Dan satu belahan jiwa takkan sempurna kala sang rembulan belum terengkuh atas izin-Nya ♥♥♥ Alhamdulillah, wa shalawatu ‘ala rasulillah Allah Sang Penebar Cahaya Cinta di hamparan langit dan mayapada Yogyakarta 26 Juni 2007 16:54 Kurevisi 28 Juli 2007 18:39 Sebagai Untaian Doa, Lantunan Syukur dan Kado Cinta Untuk Shahabatku Akhi Aris dan Ukhti Sariningsih Mengembangkan Layar Kehidupan Baru Di birunya Langit Dakwah Semarang, 7 Juli 2007 Kedesahkan lisanku, kuucap dengan tengadah jemari “Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakuma fii khair… Selamat melabuh dan merapatkan cinta Semoga berkah Langit merekah meruah kepada kalian berdua..”
Turut Bersuka Cita Saudaramu fillah&billah- Apu’ El Indragiry
· Sebuah cerpen yang terinspirasi oleh pesona kota Jogja, juga puisi Pacar Dunia Akhirat, Duhai Indahnya Jilbabmu, Pangeran Hati yang Kurindu · Kala kukenang saat perpisahan dengan musyrifku nan mengharu biru. He-he-he, ikhwan kok nangis! Lho…ikhwan kan juga manusia
Referensi : Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.”Nizham al-Islam” (2001, Pti, Bogor) Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.”Nizham ijtima’I fii Islam” (2001, Pti, Bogor) Mohammad Fatih Indragiry.”Puisi-Puisi Cinta”lembar file.
[1] Bhs. Melayu, semacam kata penekanan untuk meyakinkan orang, seperti: suer!, sumpah!,yakin!, sumpeh [2] Pembinaan intensif (tastqif murakazzah) [3] Lembaga Dakwah Kampus [4] Nasehat [5] Menghindari sikap cinta dunia [6] Ukuran untuk mengelurkan zakat [7] Menyampaikan aspirasi,ide di jalan [8] Terima kasih [9] Pernikahan [10] By the way = ngomong-ngomong [11] HR. Abu Dawud [12] Aku mencintaimu karena Allah, saudaraku [13] Yahoo Messenger [14] Maaf [15] Kamu [16] Persaudaraan [17] Berkunjung [18] *Jilbab bukan kerudung, tapi baju terusan (Jubah) yang longgar. Dikutip dari buku Puisi-Puisi Cinta
[19] Acara perkenalan, sebelum menikah [20] Lemah [21] Lamaran [22] Kekuasan, Kerajaan [23] Acara syukuran pernikahan [24] Co assistant/ kuliah praktek selama dua tahun [25] Prajurit
Diujung Penantian Rindu
“Datang ke acara walimahanku ya! Duhai cintaku, duhai cahaya di langit hatiku" Itu pesan pendek dari Meutia, shahabatku sejak kecil. Dia akan merengkuh sang belahan jiwa, seorang ikhwan aktivis LDK di kampus Unsyiah. Rencananya tanggal 23 Desember besok acara akad nikah dan tanggal 25-nya ada acara syukuran hari bahagianya. Aku ‘wajib’ datang katanya. Sebenarnya, meskipun dia tidak meminta aku pasti akan pulang untuk berbagi mewangi aroma bunga cinta dengannya. Kubalas sms-nya “Tentu cinta, kebetulan aku tinggal menunggu skripsiku di-acc[1] dosen. Insya Allah besok aku berangkat dari Bandung. Kamu minta oleh-oleh apa?” Layar hp-ku berkedip lagi “Tiada yang lebih membahagiakan dalam hidupku, cukuplah arti hadirmu menjadi kado terindah dalam samudera bahagiaku he-he-he” Akupun tersenyum melihat balasan sms-nya satu minggu yang lalu. Sehabis sholat Ashar, aku mengambil tiket di agen bus yang sudah aku pesan dua hari yang lalu. Aku sekalian mampir di toko buku Cahaya Ilmu dekat dengan Cihampelas. Kuambil novel The Miracle Akhwat[2] dari rak buku bagian fiksi islami, sebagai kado pernikahan mereka berdua. Melihat judul dan sinopsis novel itu, membuka tali kenanganku dengan Meutia. Dia lebih dulu berjilbab dan aktif sebagai ketua keputrian di Rohis SMU Al-Quds. Sungguh aneh cara dia mengingatkanku. Suatu hari menjelang naik kelas tiga dia memberiku secarik kertas biru langit… tergurat sebuah puisi Duhai indahnya jilbab[3]mu- Kedamaian nan memancar Sorot mata keanggunan Bumipun menyungging senyum memandang
Membuat diri terjaga Kebersihan hati... Ketinggian tsaqofahPesona akhlak Engkau balut dengan ‘Jubah Langit’[4]
(Sebait puisi untuk bidadari kecilku) Cintamu: Cut Meutia-
Ada kristal-kristal bening bergulir di pipiku, bila mengingat semua itu. Dia memang shahabatku, shahabat tak hanya dikala senang saja, tapi ketika sang shahabat belum mendapat cahaya Ilahi, dia begitu gigih untuk berbagi. Berbagi nikmatnya mengecup gurih ridha Ilahi. Kutepis sepenggal kisah tentang jilbabku. Aku menghampiri kasir dan mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompet. “Ini kembaliannya mbak.”kulirik name-tag[5] di baju seragamnya, terukir nama Netti disana. Dengan rekahan senyum dia menyerahkan selembar duapuluh ribuan. “Bisa sekalian dibungkus dengan kertas kado mbak?”pintaku “Oh tentu.”dengan cekatan, hanya sepuluh menit novel itu sudah terbungkus rapi. “Terima kasih mbak Netti”kusunggingkan senyum bersahabat, sambil mengambil bungkusan rapi itu. Ada rona keterkejutan di pipinya ”Sama-sama mbak cantik.” Balasnya sambil melemparkan senyum manis kearahku. Mungkin dia agak terkejut ketika ada sesosok yang memperhatikan pegawai kecil seperti dia. Bukankah membuat orang lain bahagia dan tersenyum itu berpahala? *** Bandung, 22 Desember 2004 Semilir angin meniup kerudung dan jilbabku, meski cahaya hangat menyelusup di kota kembang siang ini, tapi pori kulitku tetap menggigil serasa ditusuk-tusuk air es. Kudekap lebih erat tubuhku ke jaket yang aku kenakan. Jam 13.30 Aku tiba di loket bus Patas Executive ‘KURNIA’ jurusan Bandung–Aceh. Bus akan berangkat jam 14.00 nanti. Tadi sholat Zhuhur dan Ashar sudah aku qasar[6] dan jamak[7] sekalian di kos. Hp-ku berderit...dari Meutia “Cinta.. jam berapa busnya berangkat?” Kubetulkan kacamataku “Insya Allah sekitar setengah jam lagi. Bagaiman persiapanmu?” Ku klik send “Alhamdulillah, insya Allah lahir batin aku siap. Eh cinta...kenapa dadaku berdebar-debar ya?” Dasar... “Bilang saja mau pamer he-he...ya itu sesuatu yang wajar. Ketika kamu biasanya sendiri, lalu tiba-tiba disampingmu ada orang yang tidak kamu kenali menghampiri dengan membawa ketulusan hati bertabur aroma cinta Ilahi. Tentu jiwamu akan bersenandung degup hati.” Ringtone smsku berbunyi lagi.... “Duh.. yang calon psikolog:-) Oh-ya jangan tersinggung ya!, Kapan ukhti nyusul?” Memerah kedua pipiku... “InsyaAllah nyusul kok. Lagi masukin proposal ke musyrifahku[8]. Ada ikhwan dari Yogya yang ingin ta’aruf. Doakan ya!” kubalas lagi sms-nya “Tentu ...oh-ya aku tinggal dulu ya!. Lagi banyak tamu nih. I miss u.. muah-muah-muah” Bersamaan dengan itu panggilan untuk penumpang jurusan Aceh berkumandang dari kantor agen bus. “Silahkan untuk penumpang jurusan Aceh naik ke bis, kita berangkat sepuluh menit lagi.” Bus terisi penuh, aku mendapat kursi nomer dua belas, dan syukurlah teman sebangku-ku seorang akhwat. Aku memang paling tidak suka duduk sebangku dengan laki-laki yang bukan mahramku[9], apalagi inikan perjalanan jauh, lebih dari sehari semalam. Sebenarnya aku sudah meminta keponakanku untuk menemani pulang, sayangnya dia masih ada ujian akhir semester di Unisba. Terpaksa aku pulang sendiri kali ini. Tadi memang sudah aku niatkan dari rumah, kalau teman sebangku-ku laki-laki aku akan minta ke pak sopir untuk dipindahkan ke kursi lain yanga ada wanitanya. Ada segenggam doa hati yang kuuntai agar perjalananku di bawah naungan perlindungan-Nya. “Bismillahi tawakaltu ‘ala Allah lahaula wala quwwata illa billah”[10] “Allahu ya hafidz”[11] Pegawai loket memeriksa tiket semua penumpang, setelah tidak ada penumpang yang tertinggal, bus pun mulai merayap pelan meninggalkan keramaian kota kembang. Gumpalan-gumpalan putih terlukis di birunya langit mengiringi perjalanan lintas pulau selama dua hari tiga malam-pun mulai terukir. ‘Sebuah perjalanan adalah saat-saat indah untuk meraup jutaan inspirasi’[12] itulah satu kalimat bijak yang kukutip dari shahabatku di Medan. Aku paling suka menulis letikan-letikan ideku untuk menatah bait-bait romansa puisi. Dan perjalanan panjang adalah saat indah memetik buah hikmah. “Turun di mana mbak?”pertanyaan akhwat yang duduk di kursi samping menyadarkan dari lamunanku. “Oh...saya turun di Banda Aceh. Kalau ukhti?”aku balik bertanya. “Saya turun di Pekanbaru. Oh-ya kenalkan saya Nadhifah” akhwat itu mengulurkan tangannya.Kusambut dengan hangat jemari lembutnya. ”Saya Sarah.” “Nadhifah kuliah dimana?”aku balik bertanya “Saya di UPI jurusan Kimia, kalau ukhti?” “Oo..kalau saya di Unpad ambil Psikologi.” Bus terus merayap melalui jalan-jalan berbukit. Kadang naik dan kadang meluncur turun menyusuri jalanan yang curam. Kota kembang sudah jauh terlewat dibelakang. “Kok pulang sebelum liburan?” tanya dia lagi. “Shahabat saya akan menikah, jadi saya pulang. Kebetulan saya sudah tidak ada materi kuliah lagi. Maksudnya tinggal menunggu skripsi saya di-acc dosen, kalau ukhti?” “Wah kok sama ya! Kalau saya, ada paman yang akan menikah di Bengkalis. Cuma kepulangan kali ini dipaksa oleh orangtua, jadi bolos kuliah ceritanya he-he-he” *** Bus berhenti sebelum masuk ke Tol Jagorawi di daerah Purwakarta, untuk istirahat di RM Kuring, rumah makan khas Sunda. Setengah jam kemudian bus merayap lagi, memasuki tol Jagorawi. Langit mulai memerah kekuning-kuningan berpendar, mentari nampak membulat samar di ufuk Barat. Lampu-lampu kota metropolitan Jakarta mulai berkelap-kelip. Kota yang banyak membius kaum pinggiran untuk mengundi nasib di tempat yang tiada kenal belas kasihan ini. Gedung-gedung pencakar bak menantang penghuni langit dengan jumawa. Anehnya negeri yang kaya ini, kata Bank Dunia dan IMF, negeri ini berkembang dengan pesat ekonominya, termasuk juga kata ‘penjilat ekonomi’ John Perkins dalam bukunya ‘Confession of an Economic Hit Man’. Tapi nyatanya gembel-gembel bak lukisan bertebaran di setiap sudut jalan, bayi-bayi meraung-raung kelaparan di seluruh pelosok negeri. Andai khalifah Umar ibn Khattab dan keturunannya yang adil, yaitu Umar ibn Abdul Aziz[13][14] tapi malah meminta dilayani ummah bak Raja Fir’aun. Kekuasaan bukan lagi sebagai amanah tapi sebagai alat menjajah. Sungguh ironis, menangislah Abu Bakar sang dermawan, menggeram-bergemerutuk-lah gigi Sayyidina Utsman dan Ali ra. Dan terputuslah-lah kelak syafaat[15] baginda Rasulillah Saw untuk para penguasa pengkhianat ummah.[16] Bibirku merekahkan sunggingan kecil. Lebih laiknya mencibir dunia kekuasaan sekarang. Tentu saja tingkah polahku membuat tanda tanya dibenak shahabat baruku,“Kenapa ukhti tersenyum?” “Sungguh aneh ya...ketika kita membandingkan kota ini dengan kampung kita. Bayangkan berapa triliunan galon minyak yang dikeruk di Riau. Berapa milyaran tabung gas yang dihisap PT. Arun di Aceh semuanya untuk mempercantik ibukota ini. Aku pernah membaca di koran kalau suku Talang Mamak[17], nasibnya begitu menyayat hati. Begitu juga nasib anak-anak di Aceh, daerah kita kaya tapi menderita.”aku bergumam lirih sambil telunjuk jemari mengarah ke gedung-gedung pencakar langit di sisi jalan. “Tidak usah merasa aneh ukh. Ditempat kami hanya orang-orang tertentu yang dekat dengan perusahaan dengan PT. Caltex saja yang makmur. Sedang yang tidak bekerja disana nasibnya juga sama.”timpal Nadhifah. ”Nasib daerah kita sama, kita tidak bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Negeri ini benar-benar telah tergadaikan. Negeri ini hanya taat pada korporasi internasional, jadi wajar meski Sumber Daya Alam kita melimpah, tapi kita tetap saja terjajah. Sepertinya ‘sistem’ yang diterapkan negeri ini memang salah dan merusak.”lanjut dia dengan mengepalkan kedua tangannya. Aku menganguk setuju dengan pendapatnya,”Ya..korporat-korporat asing[18] itu telah mejadi Tuhan disini. Dengan enaknya dia memaksa pemerintah membuat UU dan regulasi yang menguntungkan bisnis mereka. Tak perduli itu hak ummah, mereka memalak seperti preman jalanan. Mulai dari emas sampai tetesan minyak mereka dengan rakus melahap dan menghisapnya. Bahkan ‘tinja’ pun dibisniskannya. Padahal itukan wilayah umum yang tidak boleh dikuasai oleh individu. Seharusnya pendidikan, keamanan, dan jaminan kesehatan untuk rakyat wajib gratis.” Aku menguatkan pendapatnya. Deru mesin bus terus mengalun, bus merayap cepat masuk ke Tol Merak-Serang. Saat Maghrib kami sudah berhenti di rumah makan di dekat pelabuhan Merak. Kami sholat maghrib dengan berjama’ah. Ba’da[19] ‘isya, bus memasuki kapal penyebrangan JATRA II, aku dan Nadhifah memutuskan untuk naik ke anjungan atas kapal. Menatapi taburan gemintang di hamparan cakrawala, cahaya syahdu rembulan mulai memaksa menyelusup ke mayapada. Sekarang tanggal lima belas menurut kalender bulan. Separuh bagian rembulan mulai nampak di ufuk Timur. Sungguh indah panorama kreasi Sang Maha Indah, bersujud syukur insan mengharap berkah. Sungguh panorama memukau untuk sesiapa yang men-tafakuri[20] ayat kawliyyah[21] dan membaca ayat kawniyyah-Nya[22]. Aku teringat dengan bait syair yang disenandungkan oleh ibn Rusdy ‘aku berpikir, maka aku ada’ Tiba-tiba hp-ku berdering. Meutia nelpon? tumben...biasanya dia cuma sms saja. Klik “Assalamu alaikum, duhai rembulanku...sudah sampai mana sekarang?”suara syahdu melembut dari seberang sana. “Wa ‘alaikum salam, ini lagi melintasi Selat Sunda.” sambil kubetulkan kerudungku yang tertiup angin sepoi laut. “Tumben..kok nelpon?”aku menggodanya. “Tidak boleh ya?”ada nada merajuk diujung sana. “Bukan begitu cinta. Aku cuma merasa surprise saja. Eh.. bagaimana taman langit hatimu sekarang, cinta?” “Tidak bisa diungkapkan dengan barisan kata, dadaku benar-benar bergemuruh, jantungku berdenyut cepat.” Suara diseberang sana sangat renyah, seperti rembulan di ufuk timur yang menampakkan diri malam ini. “Banyak-banyak memohon kemudahan dan ridha-Nya, agar akadmu besok berjalan mulus.” “Tentu cinta! Aku benar-benar butuh pundakmu untuk berbagi. Rasanya putik-putik bunga di taman langit hatiku bermusim semi. Ah...mewanginya bunga cinta....Kuharap aku akan memetik citarasa harum atas seijin-Nya. Aku harap aku akan menciumi bunga surga-Nya. Untaikan doamu ya rembulanku, cahaya di langit hatiku.”mau tidak mau aku juga menampakkan kedua barisan gigiku mendengar syair bahagianya Meutia “Tidak ada yang paling membahagiakanku selain menatap kedua kelopak matamu bercahaya riang. Melihat taman bunga cinta tumbuh bersemi di langit hatimu, hatikupun berbunga doa, agar kelak keluarga SAMARA[23] yang kalian pupuk menaburkan benih-benih kebaikan. Prajurit-prajurit kecilmu kelak akan menjadi permata zamrud di lautan dakwah, menjadi pembela-pembela Islam dengan gagah. Aku juga berharap-pinta agar kebahagiaanmu menulariku secepatnya.” “Amin...kamu memang shahabat terbaik-ku. Ah aku jadi tidak enak hati, engkau jauh-jauh balek ke Bumi Rencong hanya untuk berbagi bahagia denganku.” Ada nada gemuruh haru yang kutangkap.”Sudah tentu, aku juga selalu berdoa agar kamu bisa secepatnya menyusulku. Intinya: jangan terlalu meninggikan kriteria untuk calon belahan jiwamu kelak. Sungguh..tak ada nan sempurna di dunia ini. Boleh memang kita berikhtiar mencari yang terbaik, karena itu memang wilayah yang diperbolehkan. Tapi, angan jangan terlalu dilambungkan ditingginya awan, nanti dia tidak akan terjangkau oleh tapak jemarimu. Asal dia se-fikrah[24] cukuplah itu menjadi pengukur kita.”dia melanjutkan lagi. “Baiklah ustadzah...”timpalku menggodanya. “Sudah ya...besok pagi sehabis acara akad aku telpon lagi. Daaa...cinta-ku. Tetaplah menjadi rembulan teduh yang selalu menerangi bumi dengan cahaya kemilaumu, meski banyak insan yang mencibiri dakwah yang kita semai. Wassalamu ‘alaikum.” Perlahan suara diseberang sana menghilang. “Semoga aku bisa bercermin dari tiap untaian katamu. Wa ‘alaikum salam.” Klik Kumasukkan hp-ku ke tas. Nadhifah mendekat, “Temen ukhti ya! Kok kayaknya dia bahagia sekali.” “Iya, dia temanku yang mau menikah itu. Insya Allah besok prosesi akad nikahnya.” “Semoga menjadi keluarga sakinah, semoga berkah langit menumpah dengan melimpah.”ucap Nadhifah tulus, sambil merekahkan bibirnya. “Amin...”akupun menyambut doanya. Kami bersandar di pagar dek kapal sambil memandangi buih-buih putih yang saling berkejaran di bawah sana. Kerlip lampu di pelabuhan Merak mulai lenyap, tinggal birunya samudera yang membentang terpantulkan oleh sinar rembulan. Entahlah... tiba-tiba saja mataku berkunang-kunang, kepalaku terasa agak berat. “Ukhti...tidak tahu tiba-tiba saja badanku terasa tidak enak.” Melihat mukaku yang memucat Nadhifah menggandeng lenganku. “Yuk kita turun saja. Sebaiknya ukhti istirahat.” Kami berdua lalu turun kembali ke bus. Ada beberapa penumpang yang tidak naik ke dek atas kapal. Nadhifah mengambil minyak kayu putih di tas dan mengoleskannya di keningku. Dia menyorongkan ujung jari telunjuknya yang sudah diolesi minyak ke lubang hidungku untuk kuhirup. Alhamdulillah, sakitku sedikit berkurang. Kuambil selimut dan bantal dari sandaran kursi, kunaikkan foot-rest[25] kursiku lalu kuselonjorkan kaki dan kurebahkan tubuhku. “Bagaimana ukh..sudah berkurang sakitnya?”tanya Nadhifah dengan nada khawatir. “Alhamdulillah, sudah lumayan kok. Syukron ya! tidak tahu, biasanya aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.”ujarku. Aku juga heran, biasanya kalau kapal sedang menyeberang dari Merak ke Bakaheuni ketika pulang kampung aku selalu naik ke dek atas kapal dan tidak pernah merasa sakit seperti ini, sungguh aneh! “Mungkin angin laut malam ini tidak bershahabat dengan ukhti.”hiburnya. “Ya-ya..”aku menghibur diriku sendiri. Kuambil al-Qur’an mungilku di tas, kubaca surat at-Takatsur sampai surat an-Nas. Sudah menjadi kebiasaanku untuk membaca surat-surat pendek sebelum memejamkan mata. Kulihat Nadhifah sedang asyik larut melihat film ‘Kingdom of Heaven’ yang diputar oleh crew bus. *** Meutia-ku terlihat anggun, memakai jilbab warna krem muda dipadu kerudung putih polos, dia juga mengenakan mahkota bertahtakan zamrud di atas kerudungnya, ia kini bak Ratu Cleopatra. Sungguh perpaduan yang serasi antara pesona paras alamiah dan warna jilbab yang dikenakannya. Tidak ada polesan make-up di wajahnya, tidak ada lukisan tinta di kedua alisnya juga tidak ada bau wewangian dari tubuhnya. Tapi di kamarnya telah tersedia parfum Kenzo non-alkohol yang hanya akan dia pakai ketika ‘malam merindu surga’ tiba, parfum yang hanya dikhususkan untuk Pangeran di Langit Hatinya. Ya..hari ini dia ingin menjadi seorang Ratu, meskipun hanya untuk sehari katanya, sambil bercanda. “Bagaimana cinta dengan dandananku? Cocok tidak?”sambil mematut-matutkan dirinya di cermin besar di kamarnya. “Subhanallah, cocok. Sepertinya para foto model di Jakarta dan Bandung pada kalah dengan penampilanmu. Geulis euy[26]...!”aku mengacungkan dua jempol ke arahnya. “Jangan berlebihan begitu dong...nanti aku jatuhnya sakit kalau pujianmu terlalu tinggi, he-he-he. Terimakasih ya cinta! engkau berkenan hadir dan mendampingiku saat bahagiaku. Dadaku berdebar nih”ujarnya sambil memegangi dada. Akad nikah baru akan dilangsungkan di masjid Raya Baiturrahman sekitar empat puluh menit lagi. “Tenang saja, mantapkan hati, putihkan niat, gumamkan doa agar akadmu nanti tiada aral dan halangan.”aku mengukuhkan jiwanya. Lalu kupeluk ia dengan erat, seolah-olah aku enggan melepaskannya. Entahlah...mungkin ini pelukan terakhirku sebagai shahabat ketika masih sama-sama sendiri. Esok mungkin nuansanya sudah lain, karena disisinya telah ada sesosok yang akan mengisi hari-harinya dengan goresan tinta indah. Di masjid Raya Baiturrahman, prosesi akad nikah berlangsung lancar. Kuabadikan momen indah itu dari handycam yang kubawa. Ada bulir-bulir bening yang jatuh dikedua pipi shahabatku itu yang kutangkap dari layar kamera. Hal-hal yang haram untuk kedua mempelai dulu, kini terhalalkan sudah, malahan tiap bersentuhan keduanya berbunga pahala dan beraroma surga. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sungkeman[27] dengan suaminya tercinta, orangtua dan mertuanya. Selesai seremoni itu dia langsung menghambur kearahku. Tangis bahagianya pun pecah... “Ba...ba...barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair[28]. Selamat melabuh dan merayakan cinta! duhai shahabatku.”tak terasa akupun larut dalam tangis bahagianya. Penghuni-penghuni kolong langitpun menguntaikan kalimah amin... menyambut pintaku. “Jazakillah khairan,[29] sampai kapanpun engkau tetap menjadi permata indah yang berkilau di sudut hatiku. Meski kini statusku sudah menjadi nyonya.”suaranya tercekat. “Ya-ya-ya, engkau juga tetap rembulan teduhku. Biarlah bentangan langit menjadi saksi, biarlah desau angin mengabari.” Kuhapus guliran airmata bahagia yang bergulir di pipi putihnya dengan sehelai tisu. “Oh-iya...ini ada sebuah ‘bingkisan cinta’. Bila engkau rindu aku, bukalah isinya. Aku akan ada dihadapmu saat itu juga.” Kuambil kado yang sudah aku persiapkan dan kubawa dari Bandung, entah kenapa tiba-tiba tanganku gemetaran. Hingga kado itu meluncur jatuh ke lantai. Refleks tanganku mencoba menggapai ... Tapi luput...... “Ukhti...”panggilan Nadhifah dari samping menyadarkanku dari alam mimpi, wajahku merona merah. “Kita sudah sampai mana?”aku mencoba mengalihkan perhatiannya dari tanganku yang menggapai-gapai tadi. Memang ketika badanku agak kurang enak, aku suka bermimpi yang agak aneh-aneh. “Sudah di Kotabumi Lampung. Ukhti nampak lelap jadi ketika bus berhenti di RM. Begadang III tadi, ukhti memang sengaja tidak ana bangunkan. Tapi, tadi ana sempat turun sebentar. Ini ana bungkusin sate padang.”sahut dia. Tadi di Merak, aku memang cuma berbuka roti donat dan air mineral. Perutkupun juga sudah mulai bernyanyi minta diisi. “Kita makan berdua ya!”pintaku ke dia. Nadhifah menganguk, jadilah kami makan keroyokan menghabiskan sate plus lontong itu, sungguh nikmatnya makan berdua dengan shahabat baruku yang sangat perhatian. Diiringi guncangan-guncangan kecil dari badan bus, jalan Lintas Timur memang rusak parah, banyak lubang di sana-sini. Gara-gara truk tronton yang mengangkut gelondongan kayu hasil illegal logging[30] dari hutan di Sumatera ditambah lagi pejabat penimbang truk barang yang tidak amanah, sogok menyogokpun terasa lumrah. Lengkaplah sudah penderitaan jalan trans Sumatera ini. “Syukron[31] ya! afwan[32]kalau selalu merepotkan ukhti”setelah makanan tadi tandas di mulut kami. “Biasa saja ukh...Eh bagaimana sudah tidak sakit lagi kan?”dia balik bertanya. “Alhamdulillah, sudah baikan kok.” Suasana jalan kembali lenggang, kadang bus berpapasan dengan truk fuso sesekali sesama bus lintas Sumatera juga meramaikan badan jalan. Sinar rembulan menyelusup lewat jendela bus menerpa wajahku. Kulihat Nadhifah sudah mulai memejamkan matanya, kelihatannya dia kecapekan. *** Palembang, 23 Desember 2004 (09.00) Bus berhenti di RM Pagi Sore, ketika aku dan Nadhifah melangkahkan kakiku memasuki restoran, banyak orang berkerumun di depan TV yang berlayar lebar. Tapi aku mengacuhkan itu, dan langsung pergi ke toilet wanita di bagian belakang restoran, sedang Nadhifah memesan Pop mie plus teh panas untuk kami berdua. Ketika aku kembali dari belakang Nadhifah menyambutku di depan pintu dan langsung menyeretku untuk ikut melihat apa yang ditonton oleh banyak orang yang berkerumun itu. Tubuhku melemas, tenggorokanku menyesak. Dari laporan pandangan mata sebuah stasiun televisi swasta, nampak bumi Serambi Mekkah telah porak poranda. Mayat-mayat bertebaran dimana-mana. Masjid Raya Baiturrahahman salah satu dari sedikit bangunan yang masih tersisa. Subhanallah...Allahu Akbar ini salah satu mu’jizat dan kuasa-Nya, padahal bangunan-bangunan beton di sekitar masjid telah luluh-lantak serata tanah diterjang air bah. Sungguh Allah ingin menyatakan sebuah ‘pesan’ kepada banyak insan untuk menjaga ‘rumah-Nya’ dengan ikhlas untuk menerapkan syariah Islam yang telah memudar di bumi-Nya. Ya..lempengan bumi yang bergeser di laut Banda menyebabkan gempa dahsyat ditengah laut. Gempa yang berkisar 9,5 skala richter itu menimbulkan gulungan ombak setinggi pohon kelapa. Menyapu apa saja yang dilewatinya tanpa ampun. Ya..pagi yang akan aku kenang selama hidupku sebagai peristiwa memilukan yang membekas dalam sanubari. Duhai Allah, begitu Maha Perkasanya Engkau, hanya dalam sekejap dan dengan mudahnya bumi indah itu kini terlumat oleh ganasnya gelombang pasang. Aku langsung jatuh terduduk di lantai, Nadhifah langsung menyangga tubuhku dan mendudukkan kepalaku di pangkuannya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun[33] kusenandungkan syair sendu yang mengharu biru di langit-langit hatiku. Kepada siapa lagi aku akan mengadu selain kepada-Nya. Manusia hanyalah setitik noktah. Mungkinkah karena banyak insan yang berselimut kesombongan di bumi-Nya saat ini hingga menyebabkan Allah Swt. Sang Pemilik jiwa murka. Mungkin banyak insan yang telah lupa akan hukum-hukum-Nya yang mensebabkan Allah mengirim teguran cinta agar insan kembali ke pangkuan-Nya dengan kepolosan hati. Untuk sepersekian detik jiwaku mengembara entah kemana. Hanya terlihat kabut putih di hadapanku. Langitpun tak kutahu warnanya, entah biru atau jingga. Terasa ada bau yang menyengat yang menusuk di hidungku. Ketika lamat-lamat kubuka mataku, Nadhifah masih ada disampingku. Dengan lembut dan penuh kasih ia mengoleskan minyak kayu putih di keningku. “Alhamdulillah, ukhti sudah sadar. Ini diminum dulu air putihnya agar tenang.”dia menyorongkan segelas air putih di depan mulutku. Setetes air yang kuteguk serasa menutup saluran tenggorokanku. Pikiranku masih melayang, bagaimana nasib Abi,Ummi dan adekku. Apakah mereka selamat? Atau...atau... ah..kuusir jauh jauh pikiran buruk yang berkelebat di depanku. Tiba-tiba... Meutia...ya Meutia, entahlah satu bayangan anggunnya kini memaksa berkelebat dihadapanku. Ah...bagaimana kabarmu duhai cintaku? hari ini seharusnya prosesi akad nikahmu? Kamu pun sudah berjanji untuk mengabariku ketika akad sumpah itu usai. Adakah engkau masih di alam ini atau engkau dengan tega meninggalkan aku shahabatmu dilautan penantian rindu? Jangan...jangan engkau tinggalkan aku dalam keadaan begini, aku pasti tidak akan kuasa lagi menahan beban rindu di hati. Ada setitis gulir basah yang menetesi kedua pipiku. Ah...kuusir pikiran-pikiran buruk yang berkelebat di benakku. Semoga dia selamat, semoga aku masih bisa memeluk tubuh anggunnya, semoga aku masih bisa berbagi canda-tawa. Semoga kami masih bisa menatap panorama senja di pantai Meulaboh. *** Badanku masih sulit kugerakkan, aku memberi isyarat ke Nadhifah untuk mengambilkan hp-ku di tas. Dengan sigap Nadhifah mengambilkan telpon seluler itu dari dalam tas. Kupencet nomor telpon rumahku, tak ada nada sambung sama sekali. Gemuruh hatiku kian tak tertahan. Kucoba menghubungi nomer hp Abiku...hanya nada sela dari operator yang menjawab, kalau nomer yang aku hubungi di luar area. Masih kugumamkan doa agar hp ummi bisa menangkap panggilanku. Nihil .... Deras kristal-kristal berguguran dari sudut mataku. Tidak kupedulikan tatapan-tatapan mata pengunjung restoran yang merasa keheranan dengan apa yang terjadi dengan diriku. Pasrah...hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Menyerahkan sepenuhnya kepada Kuasa Ilahi. Aku hanya sempat menyeruput sedikit pop-mie dan teh panas. Karena bus akan melanjutkan perjalanan. Nadhifah kembali memesan sate padang plus lontong untuk dibungkus. Sepanjang perjalanan Palembang-Pekanbaru aku hanya membisu. Tidak ada lagi keindahan disisi jalan yang bisa menarik perhatianku. Meski Nadhifah juga menghiburku dengan candaan-candaan segarnya. Tapi jiwaku sudah tertirai selimut hampa dan lelehan airmata yang tak pernah kering dalam perjalanan panjang ini. Rabbi.. Kuatkan hamba... Tabahkan hati... Naungi keluarga dan shahabatku dengan setitis Kasih-Mu
Sampai dinihari di Pangkalan Kerinci, belum juga ada titik terang nasib keluarga dan temen-temenku yang di Aceh. Tiba-tiba hp-ku berdering. Tertera dari nomer telpon rumah nenek yang di Deli Serdang. Klik “Assalamu’ alaikum,” intonasi suara yang kuhapal benar. Ummiku ! “Kamu jadi pulang? Sudah sampai mana? Maaf tadi hp Abah dan Emak lagi kehabisan baterai. Disini sinyalnya juga sangat sedikit.” Alhamdulillah, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba ummi dan abi bisa kebetulan di Medan saat ini. Secercah cahaya hidupku kembali pulih. “Wa ‘alaikum salam. Jadi mi.... ini Sarah sekarang sudah sampai di Pangkalan Kerinci. Insya Allah siang sudah sampai Pekanbaru. Bagaimana kabar abah dan adek?”tanyaku dengan nada khawatir. “Mereka juga disini, mungkin kalau nenekmu tidak sakit dan kami tidak menjenguk kemari, entahlah apa kami masih bisa menatap wajahmu lagi.” Ada suara yang mencekat diujung sana. Tak henti-henti aku memuji Kebesaran-Nya. Alhamdulillah Engkau masih memberi hamba kesempatan untuk lebih lama berbakti kepada orang tuaku. Dari ummi aku tahu kalau rumah kami juga ikut terhanyut, juga ruko kainnya Abi ikut terbawa arus gelombang. Syukurlah Abi masih punya bisnis perkebunan sawit yang diwariskan nenek di Deli, yang pengelolaannya diserahkan ke paman, juga kebun teh yang ada di kabupaten Kerinci di Jambi. Satu potongan belahan jiwaku sudah kembali bercahaya. Meutia...ya tinggal satu nama itu yang terus mengusik ketenanganku. Bagaimanapun sesosok belahan jiwaku yang satu itu masih belum ada kabar beritanya. Nomer hp-nya benar-benar tidak bisa kuhubungi. Rabbi...sinarkan kembali satu belahan jiwaku agar cahaya jiwaku kembali pulih total. Ah...semoga engkau baik-baik saja di sana. *** Sampai di Pekanbaru, ummi menyuruhku ganti memakai pesawat biar lebih cepat sampai kerumah nenek. Setelah mampir sebentar di rumah Nadhifah, aku langsung diantar ke Bandara Simpang Tiga. Aku ingin cepat-cepat kembali ke pangkuan abi dan ummiku, memeluk erat dan menumpahkan kerinduanku hanya itu keinginan terkuatku. Dengan terpaksa kupatuhi perintah ummi, meski sebenarnya aku tidak begitu suka dengan naik pesawat terbang. Aku banyak mengucapkan terima kasih ke Nadhifah, shahabat dalam perjalanan panjangku itu, atas semua perhatiannya. Aku juga berjanji akan main ke kosnya setelah pulang ke Bandung kelak. Burung besi pun terbang meninggi di birunya langit, menyelinap di antara gumpalan-gumpalan awan. Langit mulai mendung...semendung suasana hatiku yang masih belum menerima kabar dari Meutia. Sekitar empat puluh menit mengawang di angkasa, pesawat yang kutumpangi kemudian mendarat di bandara Polonia. Abi dan ummiku datang menjemput, kamipun kemudian melaju ke Deli dengan memakai mobil paman. *** Dua minggu setelah tsunami, kesehatan nenek kembali pulih. Aku, abi dan ummi kembali ke Aceh. Sedang adik dititipkan di rumah nenek. Aduhai...bumi megah dan indah itu kini benar-benar tinggal puing-puing berserakan. Termasuk rumahku kini hanya tinggal tumpukan dinding-dinding beton yang saling bertindihan. Meski dua minggu setelah peristiwa tsunami berlalu, masih banyak mayat yang berserakan di pinggir jalan. Relawan yang datang berduyun-duyun baik dari mancanegara maupun dari saudara sendiri dari seluruh pelosok negeri ternyata benar-benar kewalahan untuk menanganinya. Aku bergegas ke Meulaboh ke rumah Meutia. Rumahnya memang hanya berjarak satu kilometer dari bibir pantai. Tak ada yang tersisa, semua rata dengan tanah. Lagi-lagi mu’jizat-Nya menampakkan diri, ada beberapa masjid yang berdiri kokoh tak tersentuh sedikitpun dengan gelombang dahsyat itu. Allahu akbar...kembali kudapati keMahabesaran Ilahi. Tak ada jejak rembulan teduh-ku itu. Mendung mulai menyapa langit hatiku, hembusan angin sepoi pantai-pun memecahkan gumpalan mendung yang menebal hitam itu dan gerimis di pelupuk mataku mulai bergulir deras. “Sampai kapanpun engkau tetap menjadi permata indah yang berkilau di sudut hatiku.” masih terngiang dengan jelas untaian kata-kata Meutia di dalam mimpiku dua minggu lalu. Dan gerimis itu sekarang telah menjadi hujan badai dalam jiwaku. Duhai bidadari...duhai rembulan teduhku... Tegakah engkau meninggalkanku diujung penantian rindu? Tidak bisakah engkau menghampiriku dan menghapus kristal-kristal bening yang bergulir ini? Tidak bisakah engkau bertutur indah tentang prosesi akad nikahmu? Tidak bisakah aku mengecup kedua pipimu nan melembut? Tidak inginkah engkau menyentuh kedua lesung pipitku yang sering engkau kagumi itu? Senja telah menyapa di pantai Meulaboh, warna merah kekuning-kuningan di ufuk barat terlukis di bentangan cakrawala. Tidak ada warna keindahan di ‘lukisan alam’ itu. Padahal dulu semasa masih di SMU aku dan Meutia bisa berjam-jam menatapi keindahan panorama senja, menatapi mentari yang mulai bersembunyi sedikit demi sedikit diujung horison sambil di selingi tukar-menukar puisi-puisi hati dan bertukar pengalaman hikmah yang terpetik hari ini. Kualihkan pandanganku dari pemandangan senja, yang hanya mengingatkanku kepada shahabatku tercinta. Biarlah dia tetap indah diujung sana meski di sini hatiku dirundung nestapa. Abi menghampiri dan menggandengku. Kutatap lagi reruntuhan rumah Meutia, aku berjanji akan kembali lagi. Sampai sang rembulan teduh itu menampakkan diri. Ya..itulah janji hatiku. *** Di tenda posko ‘Nisa’ TMU[34] Aceh di dekat dengan masjid Raya Baiturrahman tidak kusangka aku berjumpa dengan Teuku Rafli temen satu SMU dulu, memang dia yang menjabat sebagai ketua Rohis SMU al-Quds. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata dia-lah sebenarnya suami Meutia. Duhai rahasia apalagi yang engkau sembunyikan dariku, cinta! “Sungguh teganya engkau duhai rembulanku. Begitu rapi engkau menyimpan kisah-mu.”ujarku sambil menutupi kedua wajahku yang sembab. Ah..nampaknya hujan badai akan datang lagi. Bahkan mungkin lebih dahsyat lagi, karena awan gelap telah mulai tampak di langit hatiku. “Ukhti...setelah prosesi akad nikah kami senandungkan, gelombang dahsyat itu datang menghampiri kami. ‘dia’ sempat mencium tanganku dan ayah-ibunya juga ayah-ibuku.” Rafli berhenti sejenak, mecoba menguatkan hatinya untuk bisa terus bertutur. “Sebenarnya, ana sempat memegang tangannya, tapi derasnya arus menghantamkanku ke pohon dan pegangan kamipun terlepas.” Aku memegang erat tangan Abi...menguatkan hatiku yang mulai retak dan hancur luluh berkeping-keping. “Satu hal yang harus ukhti ketahui. Meutia memang sengaja merahasiakan namaku sebagai calon suaminya ke ukhti...bukan maksud apa-apa, dia ingin memberi kejutan indah untukmu. Tapi qadha-Nya[35] berkata lain. Afwan[36]..sebenarnya ana kurang setuju dengan idenya ini. Tapi ia bersikeras untuk menyimpan rahasia ini sampai ukhti datang di acara syukuran walimahan kami. Sungguh...dia tak bermaksud lain. Sebenarnya ana ingin acara akad dan syukurannya sewaktu, tapi karena ia ingin ukhti bisa hadir di hari bahagia kami, maka dia meminta acara syukurannya di tunda sampai ukhti selesai memasukkan skripsi ukhti ke dosen.” Ada tetes bening bergulir di wajahnya. *** Kukabarkan berita hilang dan belum ditemukannya Meutia ke Nadhifah yang sudah pulang ke Bandung duluan. “Ukhti...Andai aku boleh memilih..Andai putaran waktu masih bisa diputar ulang. Ingin rasanya aku tidak pulang ke Aceh, tapi aku akan meminta pulang dilain waktu, dimana aku masih bisa bertemu dengan shahabat tercintaku. Daripada aku pulang kini, tapi hanya sepenggal kisah sendu tentang rembulan teduhku yang harus kuteguk.” Balasan sms dari Nadhifah berderit “Shahabat...semoga engkau bisa bercermin dari ayat ini: apabila ajal itu sudah datang, tidak dapat mereka (berusaha) mengundurkan atau memajukannya walaupun sesaat.[37] Semoga engkau ta’bah dan menerima qadha-Nya. Sungguh ini adalah badai...badai yang telah termaktub dalam Alam Malakut-Nya[38]. “Bencana yang terjadi di bumi atau atas dirimu sendiri telah tertulis di dalam Kitab sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah bagi Allah.[39] Sungguh..ini adalah ujian keimanan untukmu duhai shahabatku. Semoga engkau bisa mulus melaluinya. Salam sayang!” Hari ini aku kembali lagi ke pantai Meulaboh. Reruntuhan rumah Meutia terlihat dari pinggir jalan yang kulalui. Besok aku harus kembali ke Bandung karena satu minggu lagi aku akan sidang skripsi. Kuambil kado mungil dari dalam tas, kuberjalan di bibir pantai yang membentang. Kulihat lagi tulisan tangan yang aku ukir di atas kertas mungil biru langit, itu warna kesukaan kami berdua. Untuk Sepasang Cinta yang Berbahagia- Kala akad telah terucap Ada harap nan diucap Harapkan berkah Allah tercurah murah Cinta suci dibuhul satu ikat Ikatan suci mitsaqan ghaliza[40] sebagai perekat Agar Allah menghamburkan berkat Agar Allah taburkan rahmat[41]
Kutatap kakilangit diujung laut sana, kulangkahkan kakiku hingga menyentuh birunya air laut yang berbuih dihempas oleh riak-riak gelombang kecil. Cintaku... Dengarlah gemuruh hatiku Dengarlah senandung lara jiwaku
Ada segenggam rindu nan bergelayut Ada asa nan membuncah tercacah Ada sekeping hati teretak gelombang rencah
Rekahkan senyum-mu diujung nanti Agar rindu ini terobati Agar pedih tertutupi
Kuletakkan kado itu dipermukaan air laut yang berkecipak, satu hembusan gelombang datang menghampirinya dan perlahan mulai menariknya ketengah. Berayun-ayun mengikuti irama riak gelombang. Kupandangi ia hingga mengecil dan kemudian menghilang di tengah lautan. Sehilang satu asaku di pantai Meulaboh-ku ini. Biarlah ia menghilang...biarlah ia mengembara di lautan yang tidak berujung, seperti selaksa rindu yang memayungiku kini. Biarlah sekeping hatiku patah, untuk sesosok rembulan teduh yang selalu bersinar di sudut hatiku. “Tetaplah menjadi rembulan teduh yang selalu menerangi bumi dengan cahaya kemilaumu” Ya... aku akan selalu disini, memancari dan menerangi bumi seperti pintamu, meski rembulan itu sekarang sungguh telah retak. Kata-katamu akan selalu menjadi pelita hidup dan menjadi bara dalam melangkah dan menapakkan dakwahku. Untaian katamu akan selalu kusenandungkan di penghujung malam, agar rindu ini terbaluti dan terobati dengan rekahan senyum-mu di alam sana. Akan kurajut dan kurangkai lagi serpihan-serpihan hati untuk menatap mentari di ufuk timur esok. Selamat jalan cinta Semoga pelangi-Nya menyinarimu selalu Semoga sinar teduhmu membersamaiku Kurindukan engkau diujung waktu
Setetes Embun Yogya, 30 Juli 2007 (22.22) Alhamdulillah, washolawatu ‘ala rasulillah Kutulis dengan gerimis cinta! Nan faqir ilmu Apu’ El Indragiry
Inspirasi Cerpen · Artikel wawancara guruku KH. Ir. Muhammad Shiddiq Al-Jawi di majalah al-Wa’i No.28 tahun VIII, 1-30 Juni 2007 Bertajuk :Pengkhianatan Penguasa Banyak Ragamnya. Silahkan dibuka di situs: www.khilafah1924.org · Alhamdulillah..tsumma alhamdulillah ‘ala ni’mati hikmah. Akhirnya ada inspirasi untuk membuat cerpen, tentang pengalaman perjalanan nan melelahkan Yogya-Jambi selama 2 hari 2 malam di atas bus Patas Executive ‘Putra Remaja’ langgananku kalau balek kampung ke Riau. Satu untaian kalimat bijak yang selalu terngiang di benakku ”Sebuah perjalanan adalah saat yang indah untuk meraup inspirasi”. Sungguh...kalimat hikmah berbalut mutiara, dari seorang shahabatku di Medan. Akhirnya ... kalimat itu berbuah indah. · Acara walimatul ‘ursy shahabatku Aris & Sari, di Semarang 7.7.2007 Angka yang indah semoga terpetik barakah nan meruah menumpah.
· Jazakumullah khairan tsumma ahsanul jaza, ‘tuk para ‘Bidadari’ nan berkenan mencurahkan hati, mengungkapkan harap dan asa di polling SMS untuk bahan novel ‘The Miracle Akhwat’-nya apu’. Yang tak bisa kusebut namanya satu persatu. “Kokohkan hati Tuk selalu mewarnai bumi Ilahi dengan keteguhan hati Teteskan embunmu dikegersangan bumi ini Nan masih tergelapi sistem buatan insani.”
Kucuba ‘tuk menuangkan kata-kataku lewat bait-bait pintamu. · Lagu Kisah dan Doa dari Rafli. Do Do Daidi dan Payong Keunagan dari Cut Rizka. Lagu sendu nan menemani dalam penulisan cerpen ini. Sungguh kristal-kristal di belahan pipi ini tak bisa menipu diri.
Special dedicated to: Bumi nan dianugerahi keindahan Bumi nan terberkahi Ilahi Nanggroe Aceh Darussalamku-
Semoga tiap mushibah bukan menghalangi diri ‘tuk merintihi taubah Semoga engkau ta’bah Agar Allah Swt menaburimu dengan berkah nan melimpah Agar sinar pelangi-Nya memancarimu
Sungguh...tiada satupun peristiwa di dunia ini, Selain telah termaktub dalam kitab-Nya.
Semoga ada pantulan cermin dari ayat ini: “Bencana yang terjadi di bumi atau atas dirimu sendiri telah tertulis di dalam Kitab sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah bagi Allah. (al-Hadid 22)
Cerpen selanjutnya insya Allah: -Senandung Cinta di Malaysia -Qum!
Dua Cerpen sebagai ‘kado doa’ untuk Konferensi Internasional Khilafah Islamiyyah (KIKI) di Tennis Indoor Gelora Bung Karno Jakarta. 12 Agustus 2007. Sungguh Kado miladku nan terindah!!
[1] Di setujui [2] Novel yang sedang apu’ kerjakan [3] Jilbab bukan kerudung (khimar) tapi baju terusan (Jubah) yang longgar. Dikutip dari KH. Ir. Muhammad Shiddiq al-Jawi. (Lihat Puisi-Puisi Cinta, bab Bidadari Di Langit Hatiku, hal,81) [4] Buku Puisi-puisi Cinta, Bab Bidadari di Langit hatiku [5] Papan nama [6] Meringkas shalat, karena sedang melakukan perjalanan jauh, sekurang-kurangnya 80, 60 km (perjalanan sehari semalam). Semua shalat bisa di qasar, kecuali maghrib dan subuh. [7] Mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu, kecuali shalat Shubuh.
[8] Pembina [9] Seorang kerabat dekat, (orang yang tidak boleh dinikahi) [10] Dengan menyebut nama Allah, hanya kepada-Mu lah aku berserah diri. Tiada kekuatan selain dengan kuasa dari-Mu. [11] Allah Yang Maha Melindungi/Menjaga [12] Dikutip dari seorang shahabat [13] Khalifah yang memimpin pada masa dinasti Bani Umayyah, disebut-sebut sebagai khalifah kelima karena kemasyhurannya memerintah dengan sangat jujur dan adil. Pada masa ini Islam mengalami puncak kejayaannya. Bahkan tak ada rakyat yang mau menerima zakat karena saking makmurnya negeri pada masa itu. Ibunya masih ada garis keturunan dengan Umar ibn Khattab. [14] Pelayan rakyat [15] Pertolongan [16] Artikel KH. Ir. Muhammad Shiddiq Al-Jawi di majalah al-Wa’i No.28 tahun VIII, 1-30 Juni 2007. [17] Suku asli (pedalaman) di Riau [18] Trans National Corporation/TNC [19] Setelah [20] Memikirkan, merenungi [21] Ayat tersurat (al-Qur’an) [22] Ayat tersirat (apa-apa yang tercipta,kejadian di semesta alam-Nya) [23] = Sakinah, Mawaddah wa Rahmah [24] Sepemikiran, seide, seperjuangan [25] Sandaran kaki, khusus di bus Patas Executive class [26] Cantik sekali, bhs Sunda [27] Cium tangan [28] Semoga berkah Allah tetap untukmu, dan semoga berkah Allah tetap atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. (HR. Imam Tarmidzi, Abu Dawud dan Ahmad) [29] Semoga Allah membalas kebaikanmu [30] Pembalakan kayu liar [31] Terima kasih [32] Maaf [33] Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kita akan kembali [34] Tabanni Mashalih Ummah [35] Ketentuan-Nya [36] Maaf [37] Al-A’raaf:34 [38] Kekuasaan-Nya [39] Al-Hadid:22 [40] Perjanjian berat/suci [41] Buku Puisi-Puisi Cinta, Sebuah Bingkisan Cinta untuk Sahabat
| |