indra's posts with tag: bush
Sunday, 18 May 2008 21:39 Syabab.Com - Usai berkunjung ke Israel Presiden AS Bush bertemu dengan kawannya, penguasa Arab Saudi, Raja Abdullah. Pada pertemuan itu Bush meminta Arab Saudi meningkatkan produksi minyak. Walaupun ditolak, tetapi Abdullah menjadi teman mesra Bush. Sebelumnya di Israel Bush terang-terang bersedia menjadi tameng Israel untuk bersama-sama menghadapi Islam yang dikatakannya sebagai syetan dan teror. Pertemuan Bush dengan Raja Arab dilakukan di luar kota Riyadh. Diperkirakan, Bush akan meminta Arab Saudi untuk mendongkrak produksi minyak yang membumbung. Permintaan serupa telah ditolak pada Januari lalu.
Arab Saudi menyimpan sekitar seperlima cadangan minyak dunia dan merupakan pengimpor 14 persen minyak mentah bagi Amerika Serikat.
Lawatan Presiden Bush ke Arab Saudi antara lain juga bertujuan untuk memperingati 75 tahun hubungan resmi Amerika dan Arab Saudi.
Tolak Permintaan Bush, tapi Tetap Bermesraan Arab Saudi telah menolak permintaan Presiden Bush agar menaikkan produksi minyak secara keseluruhan meskipun harga minyak di Amerika dan seluruh dunia terus naik. Presiden Bush mengemukakan permintaan itu dalam pertemuan dengan Raja Abdullah hari Jum’at di ranch raja di luar ibukota Riyadh. Permintaan serupa telah ditolak pada Januari lalu.
Pemerintahan Bush berpendapat persediaan yang tidak cukup mendorong harga naik ke tingkat belum pernah terjadi. Namun pemerintah Arab Saudi mengatakan persediaan dan permintaan cukup seimbang.
Dalam jumpa pers Jum’at petang menteri perminyakan Arab Saudi, Ali Naimi mengatakan Arab Saudi bulan ini telah menaikkan produksi minyak mentah sebanyak 300 ribu barel sehari atau sedikit di atas 3%. Kenaikan itu, katanya, ditujukan untuk menutupi pengurangan produksi yang dilakukan Venezuela dan Meksiko.
Arab Saudi menyimpan sekitar seperlima cadangan minyak dunia dan merupakan pengimpor 14 persen minyak mentah bagi Amerika Serikat. Lawatan Presiden Bush ke Arab Saudi antara lain juga bertujuan untuk memperingati 75 tahun hubungan resmi Amerika dan Arab Saudi.
Dalam suatu pernyataan di Gedung Putih menyatakan kedua negara telah menandatangani kesepakatan untuk melindungi sumber-sumberdaya energi, meningkatkan kerjasama nuklir untuk kepentingan damai, memperluas perang melawan terorisme, dan memperkuat perjanjian nonproliferasi senjata penghancur massal.
Demikianlah Penguasa Arab itu telah berteman dengan Bush yang telah membunuh lebih dari 1 juta kaum Muslim Irak dan membunuh ribuan warga Muslim Afghanistan. Bush juga telah menyakiti umat Islam dengan terang-terangan mendukung penjajahan Israel atas negeri Muslim Palestina. Lalu atas dasar apa penguasa Arab itu berteman dengan musuh-musuh Allah?
Hal itu wajar, karena Arab Saudi sejak awal berdirinya merupakan hasil konspirasi para pengkhianat Khilafah waktu itu yang malah bersama dengan Barat yakni Inggris untuk melawan Khilafah. Jadi bila sekarang berteman tak aneh lagi. Tetapi mengapa mereka tidak merenungi ayat Allah Swt berikut ini: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena kasih sayang. Sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu..." (TQS. Mumtahanah: 1). [z/f/voa/syabab.com]
Monday, 19 May 2008 09:08 Syabab.Com - Presiden Bush memberikan ceramah pada dunia Arab, Ahad (18/05) kemarin. Dengan penuh kedustaan, Bush tampil seolah pahlawan bagi Timur Tengah, padahal dia sedang menancapkan penjajahannya di kawasan itu. Bush sedang memaksakan demokrasi serta ide-ide busuk lainnya, turunan dari ideologi kapitalisme di dunia Arab. Sebarkan Ideologi Kapitalisme Bush di Mesir telah bertemu dengan kawan-kawannya para penguasa dan pejabat timur Tengah seperti Mesir dan Yordania. Kunjungan Bush di kawasan itu tiada lain untuk menyebarkan dan menancapkan idelogi kapitalisme yang sudah rusak itu. Dalam ceramah kemarin, Dia berbicara seputar semua hal mulai dari penindasan politik sampai penolakan hak-hak perempuan tetapi terkait tuntutan warga Palestina dia membantu Israel dalam perbincangan perdamaian di Timur Tengah. "Kebebasan dan perdamaian dalam genggamanmu," kata Bush walaupun tidak ada tanda-tanda kemajuan.
"Juga kerap kali di Timur Tengah, politik dibuat oleh satu pemimpin dalam kekuatan dan opisi tahanan," kata Bush di hadapan 1500 para pembuat kebijakan dunia dan para pemimpin bisnis di pantai Laut Merah.
"Amerika secara serius memiliki andil seputar para tahanan politisi di kawasan ini, seperti para aktivis demokrasi yang diintimidasi atau ditekan, koran, dan organisasi-organisasi masyarakat sipil yang terhenti dan tidak sepakat yang bersuara dibasmi," kata Bush.
Bush dengan hati busuknya seolah memberikan harapan bagi persoalan Timur Tengah, padahal yang terjadi tiada lain Bush sedang menyebarkan ideologinya yang busuk yang rusak, kapitalisme dengan demokrasi sebagai turunannya. Bush benar-benar menutup kebusukannya yang telah menahan, menyiksa dan membunuh lebih dari satu juta kaum Muslim di Irak dan Afghanista. Bush juga membiarkan para penguasa diktator yang telah menahan dan mengusir para politisi Muslim yang mengingkan Khilafah ditegakkan.
Lebih lanjut Bush menyerukan semua negeri di kawasan tersebut merilis para tahanan dan membuka debat politik.
"Saya serukan pada semua bangsa di kawasan ini untuk merilis para tahanan dari suara hati mereka, membuka debat politik mereka dan kepercayaan orang-orang mereka untuk peta masa depan mereka," lanjut Bush.
Ceramah Bush yang penuh kedustaan dan omong kosong malah diberikan tepuk tangan oleh para hadirin. Padahal, tak ada debat dalam pikiran Bush yang ada malah Bush sendiri yang melakukan kejahatan di dunia, ketika mereka kalah dalam debat-debat politik. Bagaimana tahanan Guantanamo ataupun penjara Abu Gharib di Irak telah menggambarkan kejahatan Bush yang telah memenjarakan para aktivis muslim dengan label teroris.
Omong kosong Bush berlanjut dengan mendesak perluasan hak-hak perempuan sebagai "sebuah masalah moral. Tidak ada bangsa yang menghentikan setengah populasinya dari kesempatan yang akan menjadi produktif atau kesejahteraan. Wanita adalah sebuah tenaga berat, seperti saya telah melihat dalam keluargaku sendiri dan administrasiku sendiri."
Pada waktu yang sama, Bush menyambut pengembangan demokrasi di negeri-negeri seperti Turki, Afghanistan, Iraq, Maroko dan Yordania dan ia berkata, "Cahaya kebebasan mulai bersinar."
Bush juga mengulang kembali seruannya yang kedua kalinya agar di setiap negeri bekerja untuk "mengakhiri tirani di dunia kita".
Lagi-lagi, omong kosong Bush yang penuh kedustaan. Padahal lebih dari 1 juta warga Irak tewas akibat pendudukan AS atas Irak.
"Apakah ini yang dikatakan oleh Bush sebagai kebebasan? Apakah ini penyelesaian demokrasi Bush bagi orang-orang Arab dan kaum Muslimin? Apakah aku harus membayar dengan enam nyawa untuk demokrasinya?" kata seorang warga Muslim Iraq beberapa waktu lalu.
"Aku tidak ingin kebebasannya. Aku tidak ingin demokrasinya. Kakakku dan anak-anaknya terbunuh. Darah di badanku ini adalah buktinya," tambahnya lagi kepada Al-Jazeera sambil memperlihatkan darah merah di baju putihnya. Tirani Arab dan AS
Tirani para penguasa Arab telah memakan korban para aktivis Muslim. Sama halnya tirani yang diciptakan Bush seperti di Irak dan Afghanistan. Para penguasa Arab kebanyakan mereka berteman dengan Bush. Tindakan tirani mereka terutama terhadap para pengemban dakwah yang merindukan Islam sebenarnya diamini dan atas restu AS. Jadi siapa sebenarnya yang tirani dan siapa di belakang tirani para penguasa Arab itu?
Demikianlah kondisi negeri-negeri Muslim yang telah memiliki penyakit wahn, cinta kehidupan dan takut mati. Sejak awal mereka telah berkhianat kepada khilafah dan kini mereka berteman mesra dengan para penjahat yang telah membunuh jutaan kaum Muslim dan merampas tanah mereka.
Kehadiran Bush di Timur Tengah hanya akan memperkuat penjajahan dan pendudukan mereka di kawasan itu. Melalui teman baiknya para penguasa Arab tersebut telah memberikan sumber daya alam milik umat kepada para penjajah. Kondisi buruk ini tidak terjadi sebelumnya, kecuali setelah Khilafah dibubarkan dan kaum Muslim mengambil ide busuk dari barat seperti demokrasi dan nasionalisme. Selama kaum Muslim memegang teguh ide-ide barat yang rusak itu, maka selama itu pula kaum Muslim dijajah oleh bangsa-bangsa Barat.
Satu-satunya solusi untuk kaum Muslim keluar dari segala musibah, penderitaan, penjajahan, pendudukan dan pembunuhan adalah kembali kepada pangkuan Islam dan menegakkannya melalui Khilafah Islamiyyah. Sudah selakyanya kaum Muslim bersegera menegakkan institusi pemersatu umat yang akan membebaskan negeri-negeri mereka dari segala penderitaan, penjajahan dan pendudukan. Khilafah pula yang akan mengembalikan sumber daya yang kita miliki hanya untuk kesejahteraan kaum Muslim. Sampai kapan umat ini berdiam diri? [z/m/ap/syabab.com]
Saturday, 02 February 2008
Syabab.Com - Presiden Teroris AS George W. Bush, Senin (28/01), tidak malu-malu, di akhir masa jabatannya mengatakan AS akan tetap melanjutkan ofensif dalam 'war on terorism' yang hakikatnya adalah 'war on Islam' dan tidak akan membiarkan kelompok garis keras untuk menghambat penyebaran kebebasan dan demokrasi.
"Kita telah telah memerangi teroris-teroris dan kelompok-kelompok garis keras ini," kata Bush dalam pidato pada sidang gabungan Kongres.
"Kita akan tetap melakukan serangan, kita akan tetap meningkatkan tekanan dan tindakan yang pantas terhadap musuh-musuh Amerika."
Yang dimaksud musuh AS tiada lain adalah mereka para pengemban ideologi Islam. Ideologi ini telah menjadi musuh bagi AS karena berlawanan dengan ideologi yang diemban oleh AS, yakni ideologi kapitalisme. Permusuhan kaum Muslim terhadap AS menunjukkan semakin tingginya ancaman bagi AS.
Bush menuduh mereka telah berusaha merusak perkembangan demokrasi di Lebanon dan Pakistan dengan mengincer para pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka di negara-negara itu, termasuk pembunuhan mantan PM Pakistan Benazir Bhutto Desember lalu menjelang pemilu.
Bush benar-benar lupa diri. Padahal yang sebenarnya teroris itu adalah Bush sendiri yang telah membunuh lebih dari 1 juta kaum Muslim di Irak akibat penjajahan AS atas Irak. Demokrasi yang digemborkan AS hanya bualan Bush. Demokrasi tersebut sudah terbukti kerusakkannya yang membuat negeri kaum Muslim bertekuk lutut di hadapan AS.
"Pada hakekatnya, pria dan wanita yang bebas untuk menentukan nasib mereka sendiri akan menolak teror dan hidup dalam pemerintahan tirani," kata Bush.
Benar, tindakan teroris yang dilakukan oleh pemerintah tirani Bush itulah yang tidak diinginkan oleh kaum Muslim. Sebenarnya yang tidak diinginkan oleh kaum Muslim adalah pemerintah tirani yang telah mengkhianati rakyatnya sendiri demi kepentingan AS, seperti pemerintah Musharraf di Pakistan dan Mubarak di Mesir. Mereka sama-sama pemerintah tirani yang berdalih atas nama demokrasi yang palsu demi kepentingan tuannya, teroris AS.
"Karena itulah kenapa para teroris berjuang untuk menolak pilihan ini untuk rakyat di Lebanon, Irak, Afghanistan, Pakistan dan wilayah-wilayah Palestina," kata teroris Bush.
Bush menutup mata, jutaan kaum Muslim yang terbentang dari Spanyol hingga Merauke menginginkan syariah ditegakkan di bawah daulah Khilafah Rasyidah. Bush ketakutan, institusi pemersatu umat Islam sedunia itu hadir kembali. Karena dengan Khilafah, akan mengakhiri penjajahan yang dilakukan oleh AS dan sekutunya. [Amir/ant/syabab.Com]
Artikel berikut ditulis tanggal 8 Januari 2008, diterjemahkan dari teks berbahasa Arab yang merupakan analisa atas alasan Presiden Bush mengunjungi Timur Tengah. Kunjungan Bush dilakukan di tahun pemilihan umum di Amerika, ketika sang presiden memiliki sedikit otoritas untuk mengambil keputusan mengenai isu-isu internasional. Inilah sebabnya mengapa pada tahun 1950an dan 1960an ketika Inggris masih merupakan rival Amerika di percaturan politik internasional, Amerika menjadi sangat aktif selama tahun pemilu yakni masa ketika calon presidennya dan partai-partainya disibukkan dalam aktivitas pemilu dan kemudian segera setelah presiden yang baru terpilih, Inggris lalu bersikap tenang. Kunjungan ini dilakukan pada saat negara zionis tidak puas dengan respon Amerika yang lunak atas isu nuklir Iran khususnya setelah adanya laporan-laporan intelejen Amerika bahwa mereka telah “membebaskan” Iran dari tuduhan-tuduhan atas usaha untuk memperoleh persenjataan nuklir. Ini adalah isu kritis yang membuat negara Zionis kalang kabut. Karena itu mereka mempersiapkan setumpuk dokumen khusus pada masalah itu kepada presiden Bush setelah diadakan pembicaraan rahasia dengan pihak keamanan di satu sisi dan badan politik di Israel yang diadakan tanggal 16 Januari 2008. Hal ini dilaporkan oleh harian Ye’diot Aharonot. Negara Israel melakukan kampanye besar-besaran untuk memanas-manasi isu nuklir Iran secara internasional dan khususnya di Amerika, karena Amerika terlihat enggan untuk mengambil tindakan militer atas isu ini. Amerika menganggap penting untuk berunding secara politik dengan Iran karena Iran telah bertindak positif pada isu Afghanistan maupun karena mengamankan negosiasi yang berulang kali dilakukan atas Irak. Israel menyadari bahwa Amerika telah mengetahui, berdasarkan laporan-laporan intelejen baru-baru ini, alasan untuk mendinginkan situasi untuk melakukan aksi militer atas Iran, dan hal ini telah mengecewakan mereka. Reaksi yang dilakukan Lobi Yahudi di Washington adalah jelas dan pernyataan Bush tidak bisa meredakan kekesalan mereka. Dia menegaskan bahwa walaupun ada laporan itu, masyarakat di wilayah itu harus sadar bahwa semua opsi mengenai Iran masih terbuka, dan hal ini menunjukkan opsi militer. Tapi dia menambahkan “Kami percaya solusi diplomatic adalah mungkin.” Kunjungan ini dilakukan di tengah-tengah kampanye gencar yang dilakukan Partai Demokrat yang menyerang Bush dan Partai Republik nya karena gagal dalam kebijakan-kebijakan internsional. Kubu Demokrat telah menekankan bahwa Amerika telah menjadi negara yang paling dibenci di wilayah Timur Tengah yang merupakan wilayah sumber utama kebutuhan minyaknya. Kubu Demokrat lebih lanjut menuduh bahwa pemerintah Bush telah menyia-nyiakan nyawa tentara Amerika di Irak dan tidak peduli atas kondisi mereka. Pada situasi dan periode seperti inilah kunjunganya ke wilayah Palestina yang diduduki, wilayah Teluk dan Mesir itu dilakukan. Bush terus menerus berusaha meredakan rasa frustasi yang diakibatkan oleh laporan intelejen itu dan menawarkan janji dan jaminan pada mereka yang menyatakan bahwa Amerika tidak akan membiarkan Iran untuk memperoleh senjata nuklirnya. Sebagai tambahan atas janji itu, Bush juga ingin memberikan persenjataan canggih dan bantuan keuangan buat Israel. Lebih lanjut, Bush juga menyokong keamanan negeri itu dengan mencegah Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, untuk bisa mengancam negara Zionis di Tepi Barat. Setelah hal ini, dia akan memberikan pekerjaan pada Hosni Mubarak agar menjinakkan Hamas dan isu tawanan serdadu Israel Galid Shalit.[yang ditangkap tahun 2006] Inilah caranya bagaimana Bush mencoba untuk menenangkan ketakutan Israel yang berkaitan dengan isu nuklir Iran dan menawarkan mereka jaminan keamanan, di satu sisi dengan mencegah Mahmuoud Abbas untuk mengganggu keamanan mereka, dan di sisi lain dari Hamas melalui pembicaraan di Mesir menyangkut isu itu termasuk isu Shalit. Semua hal ini mencerminkan reaksi Lobi Yahudi Amerika vis a vis pemilu Amerika. Karena kunjungannya ke wilayah Teluk adalah dimaksudkan untuk meng-counter kampanye partai Demokrat bahwa Amerika dianggap sebagai negara yang dibenci. Melalui kunjungan ini, Bush ingin menunjukkan kepada warga Amerika bahwa negara mereka tetap diterima dengan baik dan masih tetap popular dan ini bertentangan dengan apa yang dikatakan partai Demokrat. Lebih lanjut, Bush akan mengunjungi tentara Amerika di negara-negara itu dan menunjukkan kepeduliannya akan kondisi mereka. Walaupun tidak ada pemberi tahuan sebelumnya, dia mungkin akan memasukkan kedalam jadwal kunjungannya ke Irak untuk bertemu dengan tentara Amerika. Kunjungannya didisain sebagai puncak diakhir masa jabatan yang akan dilihat sebagai cara mengamankan kepentingan-kepentingan Amerika di wilayah itu dan akan dianggap sebagai penerimaan bangsa Arab terhadap mereka. Hal ini akan membentengi pengaruh politik Eropa dan mengekang bentuk-bentuk penentangan terhadap pengaruh Amerika. Apa yang sedang dirancang oleh Otoritas Palestina adalah ilusi bahwa kunjungan Bush akan membawa berkah yang banyak buat bangsa Palestina dan mereka akan diberikan sebuah negara dengan batas-batas negara dan kedaulatan yang sudah ditentukan. Hal ini ibarat seorang yang mencoba menggapaikan tangannya pada sumur yang dalam, dan berusaha agar air tidak memasuki mulutnya, tapi tentu saja tidak bisa! Bush datang adalah untuk menenangkan kaum Zionis dan menawarkan mereka kepastian akan keamanan mereka, dan bukannya untuk menjanjikan negara berdaulat kepada Mahmoud Abbas dan Otoritas Palestinanya. Bahkan isu yang banyak berkembang adalah menghilangkan wilayah perkampungan Palestina, yang merupakan struktur berpindah-pindah yang didisain bagi wilayah yang gersang , yang mungkin dapat dikompromikan sebagai imbalan dari tindakan Otoritas Palestina untuk mundur secara memalukan dan menerima skema perumahan yang terpisah di beberapa wilayah yang dipilih oleh Israel. Karena inisiatifnya untuk membagi negara Palestina yang independen, Bush amat sadar bahwa tahun pemilu bukanlah saat yang tepat untuk melakukan proyek semacam itu, bahkan dia mengklarifikasikan hal ini sebelum memulai kunjungannya itu dan mengatakan: “Bahkan jikalau para pemimpin Palestina dan Israel tidak bisa mencapai kesepakatan sebelum akhir tahun ini, saya berharap bahwa kita dapat memaparkan kerangka umum bagi negara Palestina”. Tentu saja telah kita ketahui bahwa kerangka umum ini berarti berlanjutnya negosiasi yang menghinakan dengan negara Zionis yang berakibat pada diberikannya konsesi demi konsesi. Tentu saja Bush datang ke Palestina untuk menawarkan kepastian keamanan kepada bangsa Israel yang pengecut, untuk menenangkan mereka dan ini berarti berdiri berdampingan dengan Bush untuk menentang apa yang disebut sebagai nuklir Iran. Dia mengunjungi juga negara-negara Teluk untuk meng-counter kampanye partai Demokrat bahwa Amerika adalah negara yang dipandang rendah dan tidak popular di wilayah yang kaya minyak itu. Sementara kunjungannya ke Mesir, negara Arab terbesar di wilayah itu, adalah bertujuan untuk menunjukkan kekuatannya melawan partai Demokrat. Sebenarnya Bush telah memulai kampanye pemilihan untuk Partai Republik dari tanah kita: Palestina, wilayah negara-negara Teluk dan Mesir yang strategis. Tanah kaum muslim bukan hanya direduksi hanya menjadi isu kebijakan luar negeri bagi negara-negar penjajah, tapi tanah kita itu telah menjadi masalah politik dalam negeri mereka juga. Penghinaan semacam itu bukanlah ketentuan nasib melainkan dikarenakan para penguasa yang telah menjual tidak saja dunia mereka sendiri tapi juga menggadaikan yang lainnya untuk kepentingan mereka. Betapa terkutuknya mereka dan tindakan yang mereka lakukan! Palestina bukanlah seekor serangga yang sedang merayap, seperti para penguasa yang membuatnya demikian untuk kepentingan penyambutan bagi Bush, bukan juga sesuatu yang bisa dijadikan alat tawar menawar dengan Israel. Apa yang akan mengembalikan kehormatan dan kebanggan Palestina adalah berbarisnya tentara yang menyebrangi perbatasan. Orang yang akan mengembalikan kehormatan Palestina adalah seorang pemimpin yang tulus yang mengharapkan dari Allah salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid. Orang yang akan mengembalikan kehormatan Palestina adalah Khalifah, dibawah benderanya lah kaum muslim akan bertempur dan di belakangnya lah mereka mencari perlindungan. Apa yang akan mengembalikan kehormatan Palestina adalah pemerintahan yang telah Allah (SWT) terangkan, Khilafah Rasyidah, yang berada di jalan Kenabian. Inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Palestina, seluruh Palestina. 30th Dhil Hijjah, 1428 A.H 8 January, 2008 (Riza Aulia : www.khilafah.com )
Wednesday, 16 January 2008
Syabab.Com - Presiden Pakistan akhirnya melakukan sendiri pembunuhan terhadap gerilyawan Muslim di sebuah pedesaan dekat perbatasan Afghanistan, Rabu (16/01). Sebelumnya, AS mendesak untuk melakukan pemburuan sendiri terhadap mujahidin muslim tersebut.
Musharraf mengerahkan tentaranya untuk membunuh para mujahidin di kawasan tersebut. Sedikitnya 50 pejuang muslim tewas.
"Ada laporan tentang tewasnya 40 sampai 50 gerilyawan, sementara tujuh personil militer tewas," kata jurubicara militer Mayjen Athar Abbas.
Apa yang dilakukan Musharraf tak jauh beda terhadap Masjid Merah. Beberapa hari sebelumnya, AS mengancam akan menurunkan pasukannya sendiri untuk membunuh gerilyawan Muslim tersebut.
Namun, segera Musharraf meyakinkan bahwa pasukannya mampu melakukan pembunuhan tersebut. Musharraf benar-benar telah berkhinat kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin.
Pakistan merupakan negara sekutu AS, terutama ketika Musharraf mengamini kemauan AS dalam kampanye "war on terrorism" yang hakikatnya adalah "war on Islam."
Wilayah Pakistan sangat dekat dengan Afghanistan yang beberapa tahun sebelumnya telah dihancurkan AS. Presiden Bush memutuskan untuk mengirim pasukan tambahan sebanyak 3200 marinir ke Afghanistan untuk memperkuat jajahannya di negeri tersebut. Para penguasa Muslim diam seribu bahasa. Mereka menunjukkan kehinaannya di hadapan AS. [m/syabab.com]
Tuesday, 08 January 2008 Syabab.Com - Presiden Bush dalam lawatannya selama 8 hari ke Timur Tengah akan membawa sederetan agenda yang penuh kepalsuan dan kelicikan. Diantaranya, meneruskan agenda "war on terrorism" yang tiada lain "war on Islam" di kawasan Timur Tengah termasuk Turki dan Iran.
Presiden Bush akan membahas rencana atas 'pelegalan penjajahan' Israel di Timur Tengah dengan mengatakan pihak Palestina perlu mempunyai visi bagi suatu negara damai disisi Israel untuk bersaing dengan visi teroris di kawasan itu. Padahal, Israel dan AS itulah teroris sejati.
Sangat disayangkan, Abbas telah berkolaborasi dengan Olmert untuk mengabulkan keinginan Bush. Abbas benar-benar telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Sejak 1948, tanah Palestina milik kaum Muslim itu dirampas oleh Israel atas bantuan PBB dan Presiden AS waktu itu. Hingga kini ribuan kaum Muslim menjadi korban atas kebrutalan Israel.
Soal Iran
Bush juga akan membicarakan soal Iran, yang menurut dia akan terus menjadi ancaman jika negara itu diberi peluang untuk belajar cara memperkaya uranium. Berbagai badan intelinjen Amerika melaporkan pada bulan Desember bahwa Iran sudah tahu cara memperkaya uranium dan kini sudah memperkayanya cukup banyak untuk membuat senjata nuklir antara tahun 2010 dan 2015.
Laporan itu juga mengatakan Iran telah menghentikan program senjata nuklirnya tahun 2003. Bush hari Selasa mengemukakan laporan itu telah mengirim “sinyal beragam” kepada komunitas internasional. Anehnya Bush tidak mau menghentikan program nuklirnya Israel. Inilah sikap ganda AS.
Turki: Kawan Akrab AS
Sebelumnya, Presiden Bush dan Presiden Turki Abdullah Gul bertemu di Gedung Putih untuk membahas perjuangan Turki melawan pemberontak Kurdi yang berbasis di Irak utara dan upaya Ankara untuk menjadi anggota Uni Eopa.
Bush mengatakan kedua negara menghadapi masalah terorisme dan Partai Pekerja Kurdistan atau PKK adalah kelompok teroris yang mengancam Turki, Irak dan semua orang yang hendak hidup damai.
Bush juga menyatakan dukungan kuat bagi upaya Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa, dengan mengatakan negara itu memberi “contoh fantastis” sebagai suatu negara demokrasi yang hidup berdampingan dengan Islam.
Presiden Gul mengatakan negaranya dan Amerika mempunyai visi-sama dan akan bekerja sama untuk mewujudkan perdamaian dan kemakumuran dan berjuang melawan PKK.
Turki, bekas negeri yang pernah menjadi super power dunia melalui Khilafah Utsmaniyyah yang kemudian dihancurkan oleh Mustafa Kemal telah menjadi target AS untuk dijadikan mitra. Utamanya dalam menghadang kebangkitan Islam yang akan menjadi ancaman bagi AS. [ammar/voa/syabab.com]
Sunday, 06 January 2008
Syabab.Com - Israel benar-benar telah menjadi negara bagian dari AS. Bush dengan berbagai upaya membela teroris Israel yang telah merampas tanah Palestina milik kaum Muslim tersebut. Dengan manis Bush memberikan solusi dua negara. Padahal itu membahayakan. Sayangnya, keinginan Bush ini diamini oleh pemimpin pengkhianat Palestina, Abbas.
Seperti dilansi kantor berita antara, menyebutkan sekalipun para pemimpin Israel dan Palestina tak mencapai kesepakatan perdamaian hingga akhir 2008, "persetujuan mengenai bagaimana bentuk negara Palestina" sudah ada, kata Presiden AS George W. Bush kepada stasiun televisi Israel.
"Saya optimistis bahwa kami dapat merumuskan garis besar mengenai suatu negara," kata Bush kepada Channel 2 News dalam suatu wawancara yang disiarkan Ahad malam.
"Saya optimistis karena saya percaya Perdana Menteri (Israel Ehud) Olmert dan Presiden (Palestina Mahmoud) Abbas ingin mencapai sasaran ini."
Abbas - Olmert untuk Bersekongkol pada Konferensi Annapolis
Olmert dan Abbas telah berjanji dalam konferensi Annapolis pada November lalu untuk berusaha mencapai kesepakatan perdamaian Israel-Palestina paling lambat akhir tahun ini.
Kehadiran Abbas pada konferensi yang rusak tersebut bukanlah representatif wargta Palestina. Hamas dan gerakan lainnya di Palestina seperti Hizbut Tahrir malah tidak diberikan kesempatan. Bahkan Hizbut Tahrir Palestina membongkar kejahatan konferensi Annapolis. Protes dilakukan di berbagai kota, satu diantaranya harus syahid ditembak oleh polisi setia Abbas sedangkan muslim lainnya luka-luka.
Konferensi Annapolis, bukanlah konferensi perdamaian melainkan konferensi jahat dan di dalamnya dirancang berbagai operasi pendudukan dan penjajahan atas kota Ghaza.
Bush Upayakan Solusi Dua Negara
Pendudukan Israel di tanah Palestina merupakan hasil dari persekongkolan pihak PBB, Amerika dan Inggris sejak 1948. Keberanian mereka mencaplok Palestina, setelah kekuatan kaum Muslim, Khilafah Islamiyyah benar-benar telah dibubarkan. Serta kaum Muslim terpecah belah ibarat keratan kue yang terpotong-potong yang siap disantap oleh para penjajah serakah.
Pekan ini Bush, yang tiba Rabu untuk kunjungan tiga hari di Israel dan daerah Palestina, mengatakan ia menduga kenyataan bahwa ia adalah "suatu kuantitas yang dikenal" oleh Olmert dan Abbas dapat terbukti menjadi pendorong ke arah kemajuan.
"Saya percaya para pemimpin tersebut mengenal saya, dan saya mengenal mereka ... Mereka nyaman bersama saya ... Oleh karena itu, pertanyaannya ialah, apakah mereka akan memutuskan untuk melakukan upaya yang diperlukan guna mewujudkan kesepakatan sewaktu saya menjadi presiden. Mungkin orang selanjutnya takkan setuju dengan penyelesaian dua-negara, mungkin orang berikutnya akan memerlukan waktu untuk bertindak," kata Bush kepada pewawancara Yonit Levi, sepertri dilansir DPA.
Bush mengatakan Abbas, yang terlibat dalam pergolakan politik dengan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas -- yang menolak penyelesaian dua-negara bagi konflik tersebut, harus mampu memperlihatkan prestasi dari proses diplomatik dengan Israel.
"Abbas, yang telah setuju bahwa Israel memiliki hak untuk ada, harus dapat mengatakan kepada rakyatnya, `Mari lah bersama saya, dukung lah saya, dan ini lah apa yang dapat terjadi. Jika anda mengikuti cara terors dan pembunuh, ini takkan pernah terjadi," kata Bush.
Saat membicarakan masalah ambisi nuklir Iran, Bush mengatakan seandainya ia adalah orang Israel, ia akan "memperhatikan ucapan presiden Israel secara sungguh-sungguh", dan mengatakan ia juga melakukan itu.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah menyeru agar Israel dihapuskan dari peta, dan Jerusalem menganggap program nuklir Teheran sebagai ancaman strategis utama.
"Iran dulu menjadi ancaman, dan Iran sekarang adalah ancaman," katanya. Ia memperingatkan bahwa kalau Teheran menyerang Israel, "kami akan membela sekutu kami --tak ada keraguan," katanya.
Masalah Iran diperkirakan menjadi perhatian utama dalam pembicaraan Bush dengan para pemimpin Israel selama kunjung mendatangnya.
Solusi Bush atau Solusi Khilafah?
Bush telah merancang solusi palsu bagi konflik Timur Tengah yang dipicunya sendiri oleh dia dan sekutunya. Bush menawarkan solusi dua negara.
Dua negara bukanlah solusi bagi kaum Muslim. Satu negara untuk Israel dan satu lagi bagi Palestina. Pendirian Israel sama artinya mengakui legalitas penjajahan Israel atas Palestina. Padahal Israel telah merampas tanah milik kaum Muslim tersebut yang dibantu oleh PBB. Begitu juga pendirian negara Palestina Merdeka bukanlah solusi. Berarti negara yang berdasar pada nasionalisme itu semakin menambah perpecahan negeri kaum Muslim di dunia yang hingga kini mencapai lebih dari 50 negeri muslim. Tanah Palestina merupakan milik kaum Muslim yang harus dikemmbalikan kepada kaum Muslim.
Islam memiliki solusi bagi Palestina. Pendirian Khilafah Islamiyyah merupakan satu-satunya solusi bagi penyelesaian Palestina. Yang diinginkan oleh kaum Muslim ialah kembalikan Palestina ke tangan institusi kaum Muslim dunia tersebut. Kaum Muslim dunia tentu harus kembali bersegera mewujudkannya, hingga Palestina dan juga negeri-negeri lainnya akan kembali dibebaskan.
Pasukan Khilafah ini yang akan mengusir Israel dari tanah Palestina. Khilafah akan menerapkan Islam dalam kehidupan dan menyatukan kaum Muslim dunia. Khilafah ini juga yang akan mebebaskan dari tindakan kejam para pemimpin diktator, penguasa korup, pendudukan, dan kesengsaraan. [z/f/antara/syabab.com]
Thursday, 25 October 2007 
Syabab.Com - Presiden AS, George W. Bush, Senin, tidak malu-malu untuk minta kepada Kongres agar menyediakan dana senilai 196,4 miliar dolar untuk mengokohkan penjajahannya di Irak dan Afganistan. Biaya tersebut sebagai bagian tambahan anggaran yang diminta untuk fiskal 2008. Harga yang mahal untuk meneruskan pendudukan Amerika di Timur Tengah tersebut. Para kapitalis yang memiliki kepentingan di sana, tentu menganggap biaya tersebut murah. Bush lewat pernyataannya mengemukakan bahwa permintaan terbaru tambahan dana perang itu untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti alat perlindungan terhadap peledak dan kendaraan-kendaraan tahan jebakan ranjau."Saya tahu beberapa anggota Kongres menentang perang ini, dan sedang berusaha mencari jalan untuk menunjukkan sikap oposisinya. Saya memahami posisi mereka dan mereka harus menjadikan pandangan mereka terdengar," katanya, seperti dikutip Kyodo."Tetapi mereka harus menjamin agar tentara kita memiliki hal-hal yang harus tersedia agar berhasil.""Para tentara kita di garis depan tidak boleh terjebak dalam perselisihan partisan di Washington D.C.," katanya.Pemimpin Partai Demokrat di Senat yang mayoritas, Harry Reid, dari Negara Bagian Nevada, mengatakan dia dan para kolega sesama Demokrat memutuskan untuk tidak menyetujui langkah itu.Permintaan pendanaan yang diajukan pemerintah Bush juga termasuk 106 juta dolar untuk penyediaan bahan bakar minyak, atau sepadan dengan bantuan lainnya kepada Korea Utara, berdasarkan "aksi-dibalas-aksi" demi usaha denuklirisasi Korea Utara. Penjajahan Amerika di Irak dan Afganistan ini telah membuat banyak korban. Dilaporkan di Irak saja, lebih dari 650.000 rakyat sipil tewas akibat penjajahan Amerika tersebut. [ant/ab/syabab.com]
| Tabloid Suara Islam Edisi 30, Tanggal 5 Oktober - 18 Oktober 2007 M/23 Ramadhan - 6 Syawal 1428 H | | Thursday, 15 November 2007 | | Arsitek perang Amerika Serikat di Irak mengakui kekeliruannya. Seratus ribu orang meminta Bush mundur, sementara kondisi Irak semakin tak terkontrol Amerika Serikat tampaknya tengah berada di ambang kegagalan total dalam invasi ke Irak. Betapa tidak, jika pilar-pilar kekuatan Presiden George Walker Bush akhirnya rontok satu-satu. Pilar pertama yang runtuh bernama Peter Pace. Jumat (14/9) lalu jenderal andalan Bush itu, mengakui bahwa ia telah mem-buat beberapa kesalahan saat menyusun strategi invasi ke Irak. Sebelum invasi, kata Ketua Kepala Staf Gabungan dan salah satu arsitek invasi itu, mereka berasumsi tentara Irak bisa diajak kerja sama setelah penjungkalan Saddam Hussein. Jumlah tentara yang dikirim dianggap memadai, tapi ternyata tak cukup untuk mengakhiri invasi. “Saya membuat kesalahan dalam penyusunan asumsi,” kata Pace kepada wartawan di Pentagon. Meski mengaku salah menyusun asumsi, Pace tetap menyatakan bahwa invasi ke Irak adalah tindakan tepat. “Salah satu kesalahan yang saya buat adalah anggapan bahwa rakyat dan tentara Irak akan menyambut pembeba-san itu, dan beranggapan bahwa tentara Irak akan merasa mendapatkan kesem-patan sehingga bisa merangkul rakyat Irak untuk membangun negara baru,” ujar Pace yang akan segera pensiun dari kursi Ketua Kepala Staf Gabungan 1 Oktober nanti. Pace benar-benar menyesali kenya-taan bahwa tentara Irak tak mendukung invasi. Jika mengetahui hal itu, ia pasti akan mengajukan rekomendasi lain, terutama tentang jumlah tentara Amerika yang dikirim. “Anda mengatakan bahwa anda ingin mengetahui semua itu sebe-lumnya, tetapi ternyata tidak tahu cara masuk ke dalam,” kata Pace saat menyam-paikan introspeksinya. Ketika merekomendasi penyerbuan ke Irak empat tahun lalu, Pace mengaku sangat yakin atas semua asumsinya. “Jelas saya yakin. Yakin dan yakin,” ujar-nya. Tapi, semua asumsi itu tak terbukti. Pemboman masjid Syiah di Samarra, 22 Februari 2006, yang memicu meluasnya konflik sektarian, membuat Pace sadar bahwa keadaan di Irak tak dapat dipredik-sikan lagi. Padahal sebelum invasi, The Broo-kings Institution lembaga kajian strategis Amerika telah mengeluarkan berbagai skenario. Salah satu skenario itu adalah invasi akan berkepanjangan dan tak ter-tuntaskan jika tak disambut rakyat. Lembaga ini juga mengingatkan bahwa invasi Irak akan makin sulit dimenangi jika kehadiran Amerika meningkatkan semangat perlawanan warga. Pace adalah salah satu petinggi militer yang menjadi korban politik akibat invasi ke Irak. Menteri Pertahanan Robert Gates telah memutuskan untuk menggantikan jenderal Angkatan Laut itu. Alasannya, keberadaan Pace telah meningkatkan perbedaan Gedung Putih dan Kongres soal Irak. Bom Waktu dan Proposal Webb Pilar kedua yang rontok adalah pudar-nya dukungan Kongres. Sehari setelah pengakuan Pace, Bush menghadapi te-kanan baru dari Kongres. Tak hanya dari Partai Demokrat yang sejak lama menen-tang perang Irak, beberapa tokoh Partai Republik, partai Bush, juga membelot dan ikut mengecam kebijakannya. Mereka mendesak Bush segera menarik pasukan-nya di Irak. Tapi, lagi-lagi Bush menolak. “Jika kami terus didorong keluar dari Irak, para ekstremis akan senang. Al Qaidah akan mendapatkan tempat perlindungan baru dan calon anggota baru,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan radio, Sabtu (15/9) lalu. Alasan ini telah berkali-kali diung-kapkan Bush untuk menepis tuntutan penarikan total pasukan Amerika Serikat dari Irak. Demokrat kini tengah memperjuang-kan proposal Senator Jim Webb yang mengatur pasukan Amerika harus meng-habiskan waktu lebih banyak di dalam negeri sebelum ditugaskan lagi di luar negeri. Agar lolos, proposal harus didu-kung luas di Kongres. Jika disetujui, pasukan bisa ditarik lebih cepat dari jadwal Panglima Amerika di Irak, Jen-deral David Petraeus. Kamis lalu, Bush memang telah mengumumkan menarik 21.500 tentara Amerika di Irak hingga 2008. Penarikan pertama dilakukan Desember nanti, yakni sebanyak 5.700 orang. Saat ini, jumlah tentara Amerika di Irak “tinggal” 169.000 orang. Namun, menurut para politisi di Kongres, dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, penarikan itu lebih baik dilakukan secepatnya. Bush akan mengakhiri masa jabatan pada Januari 2009. Dengan hanya mena-rik sebagian pasukan dari Irak, ia hanya akan meninggalkan bom waktu kepada presiden selanjutnya, dari partai mana pun dia berasal. Tampaknya Bush berpikir lebih baik meninggalkan masalah kepada presiden selanjutnya daripada harus bertanggung-jawab menarik seluruh pasukan. Sebab, penarikan pasukan dalam tingkat lebih luas berisiko gagal. “Kelak, jika penggan-tinya tak bisa menyelesaikan masalah ini, Bush akan menyalahkan Clinton, Obama, Giuliani, atau siapapun yang berkuasa,” kata Lawrence Korb, asisten menteri per-tahanan di masa Presiden Ronald Reagan. Melihat kemungkinan itu, para kandi-dat presiden bereaksi keras atas penarik-an sebagian pasukan. “Pasukan yang dita-rik terlalu sedikit dan waktunya terlalu lambat. Ini tak bisa diterima Kongres dan rakyat Amerika yang jelas ingin sekali menarik pulang pasukannya sesegera mungkin,” ujar Hilary Clinton. “Bush tak bisa meninggalkan masalah begitu saja,” kata Obama. Demo Besar di Capitol Hill Pilar ketiga yang runtuh adalah du-kungan publik Amerika Serikat. Sebab, pada hari yang sama ketika Bush berpi-dato, sekitar 100.000 orang demonstran dari koalisi Act Now to Stop War & End Racism (ANSWER) berpawai dari Ge-dung Putih ke Capitol Hill, kantor Kongres Amerika. Mereka meminta perang segera diakhiri, pasukan ditarik, dan Bush di-makzulkan. Unjuk rasa dipimpin veteran perang dan keluarga tentara yang ber-tugas di Irak. Panjang arak-arakan mencapai lebih dari sepuluh blok. Unjuk rasa ini adalah aksi bersejarah dan langkah maju gerakan anti perang. Demo ini menjadi salah satu gerakan pembangkangan kaum sipil terbesar sejak bebera-pa tahun terakhir. Para pengunjuk rasa membanjiri area selatan Capitol Hill dan menaiki tangga hingga menyentuh police line. Di sana, para veteran perang Irak memimpin renungan untuk mengenang para prajurit Amerika dan rakyat Irak yang tewas dalam perang sia-sia itu. Kemudian, lebih dari lima ribu warga berbaring di pelataran sebagai simbol kematian yang terjadi di Irak. Menurut koordinator demo, 197 orang, termasuk puluhan veteran ditahan ketika mereka mencoba menyampaikan pesan anti perang mereka ke Kongres, karena melewati garis polisi. Namun polisi mengaku hanya menahan 189 orang. Selain menahan pengunjuk rasa, menurut ANSWER, polisi telah memakai semprotan lada yang pedih untuk membubarkan massa. Senjata Liar Blackwater Di palagan Irak, kondisi semakin tak menentu. Selama ini Bush selalu menga-takan bahwa operasi militer berhasil membuat situasi Irak lebih aman. Tapi pernyataannya diragukan karena hampir setiap hari terjadi bentrokan atau serang-an bom yang menewaskan banyak orang. Ahad lalu, 20 orang tewas dalam serangan bom dan pertempuran di Tuz, dan Kirkuk. Jumlah korban tewas akibat bentrokan selama Ramadhan telah mencapai 50 orang. Kondisi makin berat karena senjata buatan Amerika kini justru beredar liar. Senjata yang didatangkan perusahaan tentara bayaran Amerika, Blackwater, jatuh ke tangan gerilyawan, dan menjadi mesin pembunuh utama. Kenyataan ini bertolak belakang dengan tuduhan Bush yang berkoar-koar bahwa senjata itu diselundupkan Iran dan Al Qaidah. Pentagon pun mulai menyelidiki pere-daran senjata ini, dan mengarahkan ke Blackwater, yang bermarkas di Moyock, North Carolina, Amerika Serikat. Perusa-haan milik veteran Angkatan Laut dan sejumlah penerbang Amerika ini semula hanya berbisnis dalam eksplorasi minyak. Tapi ketika Dick Cheney menjadi Menteri Pertahanan (1989-1993) di bawah Presi-den George Bush senior, bapak George Walker Bush, Blackwater mulai terjun ke bisnis militer. Di Irak, Blackwater bertugas mena-ngani logistik militer dan pengadaan senjata. Mereka juga punya divisi penga-daan tentara bayaran yang bertugas me-lindungi misi diplomasi Amerika Serikat. Perusahaan inilah yang menjadi body-guard dalam kunjungan setiap petinggi Amerika Serikat ke Irak, termasuk Bush. Diduga, Cheney dan Bush punya saham di perusahaan ini. Harian The News & Observer, terbitan Raleigh, North Carolina memberitakan bahwa pemerintah tengah menyelidiki pengapalan senjata Amerika yang dilaku-kan Blackwater ke Irak. Perusahaan ini konon telah mengekspor senjata otoma-tis, perlengkapan militer, dengan kontrak bisnis senilai 5 milyar dollar AS atau seki-tar Rp 45 trilyun. “Dua bekas karyawan Blackwater, Kenneth Wayne Cashwell dan William Ellsworth Grumiaux, siap bekerja sama,” kata harian itu. Pada awal 2007, Cashwell dan Gru-miaux dinyatakan bersalah karena me-nimbun senjata curian. Senjata itu diper-dagangkan di lintas negara bagian Ame-rika dan dijual ke perusahaan dagang asing. Sayang, kali ini semua instansi bungkam, sementara Blackwater mem-bantah dugaan pengiriman senjata ilegal. “Tuduhan itu tak berdasar,” kata mereka. Baiklah, mari kita saksikan proses keruntuhan Amerika di Irak. Abu Zahra (AP/AFP/Reuters/The Washington Post) |
09 Nov 2007 - 12:45 am  Tokoh-tokoh neocon di AS dan para pendukungnya yang duduk dalam pemerintahan, tidak segan-segan menipu rakyat AS, membuat konspirasi untuk mencapai tujuan politisnya. Sepak terjang mereka, diungkap oleh penulis Robert Parry dalam bukunya " Lost History" yang sudah dicetak ulang sebanyak tiga kali. Dalam bukunya, Parry mengupas bagaimana kelompok neocon dan sekutu-sekutunya yang duduk dalam pemerintahan Presiden Ronald Reagan mengakui bahwa media massa dan rekayasa-rekayasa yang mereka ciptakan menjadi kebohongan-kebohongan kecil dari negara AS. Dengan mengacu pada dokumen-dokumen rahasia tentang skandal Iran-Contra, Parry menulis bahwa kalangan neocon pada masa itu menggunakan konsep "Manajemen Persepsi", sebuah konsep memanipulasi rakyat AS dengan menghembuskan wacana ancaman luar negeri dengan cara yang berlebihan. (The Neocon Agenda ) Teori propaganda ini pernah dilakukan pada era tahun 1980-an, dengan menakut-nakuti rakyat AS tentang negara-negara Dunia Ketiga yang miskin, terutama Nicaragua dengan penguasanya dari kelompok Sandinista. Strategi yang sama dilakukan untuk meminimalkan informasi-imnformasi negatif tentang kelompok-kelompok yang didukung oleh kalangan neocon di AS, misalnya kelompok yang kontra dengan kelompok Sandinista. Dalam bukunya, Parry membeberkan sebuah memo yang ditulis oleh arsitek yang membuat strategi untuk menghadapi kelompok Sandinista di Nicaragua, yaitu dengan "melekatkan" topi hitam untuk kelompok Sandinista dan topi putih untuk kelompok yang kontra. Parry juga menuliskan bagaimana peranan korps media massa dalam membantu kelompok neocon sehingga sukses menjalankan propagandanya di masa itu. Kelompok neocon kembali berjaya di masa pemerintahan Presiden George W. Bush dalam menjalankan teori "Manajemen Persepsi"nya, di mana Bush berhasil "menipu" rakyatnya dengan wacana terorisme untuk melakukan invasi ke Irak. (ln/mol/eramuslim).
The Neocon Agenda
 Sejarawan terkemuka di AS yang pernah memenangkan hadiah Pulitzer, Profesor Herbert Bix menilai, negara AS di bawah pemerintahan Presiden George W. Bush hampir sama dengan Jepang ketika di bawah kepemimpinan Kaisar Hirohito. "Keganasan Amerika saat ini di Irak dan di mana saja, tanpa harus menyebut ancaman perang pemerintahan Bush terhadap Iran, sangat jelas merupakan replika dari pemerintahan imperialisme Jepang pada masa ketika para pemimpin pemerintahan negara itu tidak mempedulikan hukum internasional dan lebih mengedepankan diplomasi kekuatan senjata, " papar Bix di sela-sela kunjungannya ke Jepang. Hirohito adalah kaisar Jepang yang ke-124 dan memerintah dari tahun 1926 sampai 1989. Selama pemerintahannya sampai ia wafat, Hirohito tidak pernah dituntut atas peperangan yang dilakukannya. Di bawah kepemimpinan Hirohito, militer hampir menguasai semua kekuatan politik di Negeri Matahari Terbit itu, dan membawa Jepang ke kancah Perang Sino-Jepang Kedua (1937-1945) dan Perang Dunia II.  Sosok Bush hampir sama dengan Kaisar Hirohito, terutama dalam kebijakannya yang lebih mengedepankan kekuatan militer. Bedanya, Bush mengobarkan perang dengan memakai alasan memberantas terorisme, pasca serangan 11 September 2001 di New York, AS. Lewat kampanye Perang Melawan Teror, Bush menginvasi Afghanistan, kemudian Irak. Dan sekarang mengancam akan menyerang Iran, dengan dalih Iran sedang mengembangkan persenjataan nuklir. Padahal, semua tuduhan Bush untuk melancarkan perangnya ke dunia Islam, tidak pernah terbukti. Bix juga membandingkan pemboman-pemboman dan kekerasan yang dilakukan AS di Irak dan Aghanistan dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan Jepang pada masa perang. "Kejahatan perang yang dilakukan AS sudah diinstitusionalkan, seperti yang pernah dilakukan Jepang, " tukas Bix. Ia melanjutkan, "Di Amerika sekarang ini, penyiksaan bukan hanya standar yang digunakan dalam medan pertempuran yang mereka sebut untuk memberantas terorisme, tapi penyiksaan itu sudah menjadi semacam perayaan yang populer dalam budaya AS. Ini dibuktikan dalam '24', nama program televisi di mana seorang pahlawan melawan skenario bom yang bakal meledak, yang didisain untuk membenarkan penyiksaan. " Profesor Bix memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2001 untuk buku biografi Hirohito yang ditulisnya. Saat ini ia mengajar sejarah dan sosiologi di Bingmiham University, New York. (ln/iol/earmuslim)
Masih ingat dengan tulisan “George W Bush Sudah Lahir di Tahun 1796”? Yang dimuat di rubrik ini pada 1 Juni 2007? Kala itu tertulis bahwa di tahun 1796 atau 20 tahun setelah The Founding Fathers Amerika Serikat menandatangani Deklarasi Kemerdekaan AS, moyang dari Presiden AS George Walker Bush dilahirkan. Dia bernama George Washington Bush. Sama-sama George W Bush.
Michael Collins Piper, seorang kolumnis independen Amerika dan termasuk salah satu pengecam gerakan Zionisme, di dalam karyanya “Jerusalem Baru: Kuasa Zionis di Amerika” (edisi Malaysia diterbitkan Saba Islamic Media), mengutip penemuan Shalom Goldman, seorang Profesor Madya dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah University Emory, yang mengatakan bahwa George Washington Bush merupakan moyang dari George Walker Bush.
“George Washington Bush yang dilahirkan pada 12 Juni 1796 dan meninggal dunia ada 19 September 1859 merupakan seorang profesor dan penulis buku ‘The Life of Muhammad’, sebuah pertama terbitan Amerika yang menyerang Islam, ” demikian Goldman. Goldman yang juga berdarah Yahudi ini juga menegaskan bahwa Profesor Bush merupakan pelopor atau perintis lahirnya kelompok Zionis-Kristen Amerika yang sekarang menguasai Gedung Putih dan Pentagon. “Profesor Bush sangat akif mendukung Zionisme di Amerika dan berperan penting di dalam mengirimkan orang-orang Yahudi Diaspora ke Tanah Palestina, ” lanjutnya.
Wikipedia menulis, “Selain sebagai akademisi dan penulis, Profesor Bush juga seorang sarjana Alkitab, penginjil, dan seorang kontroversial. Dia lulus dari Dartmouth College di tahun 1818 dan masuk Princeton Theological Seminary. Bush ditahbiskan di Salem Presbytery, Indiana, tahun 1825 dan menjadi pendeta di sebuah gereja Indianapolis, sebah gereja yang dipandang sangat liberal pada masanya. ” Dari tahun 1831 hingga 1847, Bush menjadi Professor dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah di New York University.
Di tahun 1845 Bush memperlihatkan dukungannya secara terang-terangan terhadap lobi Zionis di Amerika dengan berpindah gereja dan masuk ke dalam General Church of the New Jerusalem. Bush dengan cepat meraih popularitas dan dijadikan juru bicara gereja tersebut, termasuk di dalam majalah yang diterbitkan oleh gereja (New Church Review) dan The Hierophant, sebuah majalah yang sangat dokriner. Inilah sosok salah satu moyang dari Presiden Amerika George Walker Bush. Jadi, tidaklah mengherankan jika sikap dan kelakuan Presiden AS ini sangat pro-Zionisme dan sangat anti-Islam, karena moyangnya pun nsudah demikian.
Itulah sekilas tentang moyang Dinasti Bush. Namun ternyata ada penemuan lain sekitar asal-muasal Dinasti Bush yang tak kalah penting untuk diketahui.
Texe Marrs
Texe Marrs, seorang peneliti masalah-masalah Illuminati dan Zionis berkewarganegaraan Amerika Serikat, dengan susah payah berusaha menelusuri jejak sejarah Dinasti Bush selama bertahun-tahun. Dalam penelusurannya, Marrz menemui banyak sekali data yang mengagetkan terkait salah satu dinasti berpengaruh di Amerika ini. Salah satunya seperti yang dituangkan dalam satu artikel berjudul “George W. Bush, Zionis Double Agent, American Traitor” (George W. Bush, Agen Ganda Zionis, Pengkhianat Amerika).
Dalam artikel yang halamannya ditulisi sebagai “Exclusive Intelligence Examiner Report”, di awal artikelnya, Marrz mencantumkan dua kutipan: satu dari Hillaire Belloc dalam bukunya Cultural Warrs (Sept 2000) yang menyatakan, “Seseorang sudah bisa dicap anti-Semit jika mengatakan bahwa orang Yahudi itu adalah Yahudi” dan satunya lagi dari Injil Yohannes 20:19 yang berbunyi, “Then... When the doors were shut where the disciples were assembled for fear of the Jews, came Jesus and stood in the midst, and saith unto them, Peace be unto you. "
Dalam artikelnya, Marrs yang beragama Kristen ini menulis bahwa mantan Presiden AS George Herbert Bush dan juga puteranya, George Walker Bush, demikian pula Jebb Bush, adik kandung George Bush Junior yang menjadi Gubernur Florida, merupakan para pelayan dan pembantu kepentingan Zionisme. Marrs awalnya ingin mengetahui akar kekristenan Dinasti Bush, namun yang didapat sungguh mengejutkannya.
Marrs mendapatkan sebuah dokumen yang dikeluarkan National Jewish Welfare Board, saat berlangsungnya perang revolusi Amerika Serikat melawan kolonialis Inggris, mencatat bahwa seluruh anggota Dinasti Bush ternyata berdarah Yahudi dan sengan sendirinya memeluk agama Yahudi. Mereka tercatat sebagai tentara dan juga pelaut Yahudi-Amerika. Ada yang bernama Mayor George Bush, Mayor Louis Bush, dan Mayor Solomon Bush. Nama-nama itu muncul di dokumen tersebut secara jelas. Dengan temuan ini, Marrs sangat yakin bahwa Dinasti Bush adalah sebuah dinasti Yahudi yang berpura-pura komit dengan kekristenannya guna mengelabui warga Amerika dan dunia pada umumnya.
Hubungan antara Dinasti Bush dengan pusaran elit Zionis Amerika juga sangat dekat, sehingga Marrs tanpa ragu menyatakan bahwa Dinasti Bush merupakan sebuah kelompok elit dalam lingkaran pusat kelompok Illuminati Amerika. “Berkedok sebagai penganut Kristen fundamentalis, Bush sebenarnya bekerja sepenuhnya untuk kepentingan Zionis-Yahudi, ” tegas Marrs yang telah melakukan penelitian soal keluarga Bush selama enam tahun.
Buku ‘Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha’ (Abu Aiman, 2007) yang juga mengutip artikel dari Texe Marrs menulis, “Sewaktu terpilih sebagai Presiden AS, George W Bush langsung melantik staf pertamanya untuk Gedung Putih, Ari Fleischer. Dia adalah seorang Rabbi dari sekte radikal Yahudi Lubavitch. Kemudian Bush juga mempertahankan posisi Allan Grenspan, seorang bankir Yahudi, sebagai Komisaris Federal Reserve, dan juga mengangkat seorang Rabbi Yahudi, Dov Zackheim, sebagai pengawas keuangan Pentagon!”
Lalu, Bush juga mengangkat Michael Chertoff sebagai ketua Dalam Negeri (Homeland Security). Padahal ia adalah ideolog Yahudi dan sangat benci kepada Kristen. Ayah Chertoff adalah seorang Rabbi dan tokoh radikal Yahudi di AS. Marrs bahkan menyamakan Chertoff sebagai Himmler-nya Amerika (Himmler merupakan ajudan Hitler yang sangat kejam).
“Saya tegaskan, saya telah meneliti latar belakang Dinasti Bush, termasuk dari faksi Rothschild, tanpa keraguan sedikit pun saya tegaskan kepada Anda bahwa Dinasti Bush dan George Walker Bush memang benar adalah Yahudi tulen. Seorang Yahudi berdasarkan keturunan, seorang Yahudi berdasarkan keyakinan. Hanya saja, mereka menyembunyikan itu dari publik dan memakai kedok sebagai keluarga Kristen yang taat. ” (Rizki Ridyasmara)
| |