SaaTnYa kHiLaFaH MEmimPiN DuNiA...!!!


Down-Down USA...Rise-Rise Khilafah!!!

indra's posts with tag: buletin studia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buletin studia
Blog EntrySex on ValentineFeb 13, '08 6:03 PM
for everyone
Add to Technorati Favorites

أOnly You The One that I Love The Most in The Whole World.  Tulisan yang berisi ungkapan rasa cinta model gini gampang kita temuin di bulan Februari. Yup, bulan Februari jadi istimewa dan penuh cinta lantaran kehadiran Valentine Day (VD) yang jatuh pada tanggal 14-nya. Nggak heran kalo jutaan remaja di seluruh dunia tak sabar menantinya. Lantaran VD menjadi hari dimana mereka bebas nunjukkin kasih sayangnya pada pacar alias kekasih gelapnya. Nah lho, sephia dong? Ya iyalah, soalnya kan kebanyakan mereka belon pada merit alias nikah. Hubungan resmi laki-perempuan kan melalui ikatan pernikahan, bukan pacaran. Betul?

Bagi para pelaku bisnis, VD berarti momen penting untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin dari penjualan produk dan pernak-pernik Valentine. Lantaran menjelang VD, daya beli masyarakat terutama remaja mendadak dangdut, eh meningkat drastis. Remaja berlomba-lomba berburu kado spesial yang unik dan menarik agar perayaan VD ngasih kesan yang mendalam bagi pasangannya. Ada buket bunga mawar nan cantik, coklat dalam kotak berbentuk hati, perhiasan, CD lagu romantis, permen, kartu Valentine, hingga sepasang sendal jepit!

Nggak cuma pernak-pernik, perayaan VD juga dilengkapi dengan acara bernuansa pesta pora bin hura-hura yang bikin remaja terlena. Mulai dari acara yang romantis abis hingga yang berbau erotis yang pastinya nggak pake gratis. Ada konser musik dari para musisi idola yang melantunkan lagu-lagu melankolis, pesta pribadi yang mendatangkan penari striptease, atau acara arisan teman kencan yang berujung pada perilaku seks bebas. Ih najis!

Padahal nggak semuanya tahu asal-usul VD. Kebanyakan mungkin cuma ikut-ikutan tren aza. Jangan-jangan, VD cuma mitos yang digede-gedein dan dianggap istimewa. Bisa jadi kan?

VD, hari kasih sayang?
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine Day. Sebagian memahaminya sebagai Perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.
Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity).
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentines Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Sementara The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian nggak jelas siapa أSt. Valentine yang dimaksud. Malah kisahnya juga nggak ketahuan ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda(idem).

Sobat, dari sejarahnya aja udah keliatan kalo Valentines Day nggak jelas asal-usulnya alias banyak versi yang nggak pasti. Cuma akal-akalan doang yang dipake untuk menyebarkan agama kristiani termasuk budaya dan tradisi Barat. Nggak heran kalo kini makna VD kian tulalit. Lebih ke arah kebebasan yang kebablasan untuk nunjukkin kasih sayang kepada pasangan yang dicintainya, khususnya kalangan remaja. Bahaya tuh!

Sex on Valentine Day
Menjelang hari Valentine, banyak remaja sibuk nyari kado spesial sebagai tanda cinta bagi sang kekasihnya. Di balik kegembiraan anak muda merayakan VD ternyata tersembunyi bahaya besar yang mengintai para aktivisnya. Mulai dari penularan HIV/AIDS hingga kehamilan tak dikehendaki. Waduh!

Ini dikemukakan oleh dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. Sekarang Valentine Day nuansanya cenderung romantis dan erotis, tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho. Ternyata eh ternyata…

Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentines Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentines Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen, imbuh dr. Andik.

Bagaimana di dalam negeri? dr Andik menuturkan, tiga tahun lalu ia diundang sebuah hotel berbintang di Surabaya menghadiri pesta Valentineأ¢â‚¬ثœs. Bonusnya undangan boleh check in sehari bersama pasangannya dengan jaminan tak dicek identitasnya (suami istri atau bukan). (www.beritakesehatan.com, Rabu, 14/02/2001)
Fenomena sex on valentine dikuatkan juga saat seorang penulis, menjelang Valentines Day tahun 2004, pernah melakukan survei terhadap remaja pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang. Dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) penulis menyebarkan 500 angket ke siswa siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Hasilnya? Mengejutkan!

Dari 413 responden yang menjawab angket secara آ‌ 26,4% di antaranya mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan lalu berciuman (melakukan seks). (Lihat, Samsul Maarif, Valentine Day Bukan Budaya Kita, Tapi …Pikiran Rakyat, 12 Februari 2005).
Bahkan lembaga sosial Family Health International (FHI) Jabar yang berkedudukan di Kota Bandung, mempublikasikan hasil riset dan surveinya tentang perilaku seks remaja Kota Bandung. Dari penelitian itu disimpulkan bahwa 54% remaja Kota Bandung pernah berhubungan seks! (Kompas, 25 Januari 2006). Bahkan, persentasenya paling tinggi dibandingkan kota-kota besar lain, seperti Jakarta (51%), Medan (52%) dan Surabaya (47%).

Prihatin juga ya, ternyata gaya hidup permissif alias serba boleh dalam berbuat kian banyak menjerat temen-temen kita. Terutama dalam urusan ekspresi cinta mereka pada pujaan hatinya. Katanya cinta suci, ternyata cuma cinta birahi. Ini gaswat sobat. Kalo tetep dibiarin, gaya hidup sekuler ini bisa menyeret remaja pada kehidupan yang menuhankan hawa nafsu. Kalo itu terjadi, kehidupan kita nggak jauh bedanya dengan marga satwa. Nggak lah yauw! Amit-amit banget deh.

Hati-hati tertipu…
Sobat, karakter remaja yang doyan having fun gampang dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk menjerat remaja muslim dalam gaya hidup hedonis demi meraih keuntungan yang bombastis. Remaja muslim digiring agar aktif merayakan hari kasih sayang. Padahal jelas-jelas VD adalah budaya Barat yang harus kita hindari bukan malah kita ikuti.

Seperti kebiasaan mengirim kartu Valentine disertai ucapan Be My Valentine? Ken Sweiger dalam artikel Should Biblical Christians Observe It‌ (www.korrnet.org) mengatakan bahwa kata أValentineأberasal dari Latin yang berarti : Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, kalo kita meminta orang menjadi to be my Valentine hal itu berarti memintanya menjadi أSang Maha Kuasadan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Syirik tuh!

Kamu juga kudu tahu kalo Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod the hunter dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

So, nggak usah minder untuk ngakuin VD yang pastinya bukan budaya Islam. Kalo kita tetep ngotot ikut ngerayain, bisa-bisa kita bakal termasuk golongan orang-orang kafir yang menjadikan VD sebagai salah satu hari besar agamanya. Seperti diingatkan Rasul saw dalam sabdanya: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk salah seorang dari mereka
(HR Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabranأ)

Sempurnakan cinta kita
Sobat, VD sebagai simbol ekspresi cinta telah menyeret para aktivisnya keliru memaknai hakikat cinta. Gaya hidup permissif seperti terlihat dalam perayaan VD selalu memandang baik apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya dan menjadikannya sebagai jalan hidup. Kondisi ini sama dengan menyekutukan Allah Swt. dengan menuhankan hawa nafsu. Seperti disebutkan Allah swt dalam firman-Nya:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?  Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS al-Furqaan [25]: 43-44)

Kalo kita nggak mau disamain dengan ayam, kambing, atau sapi seperti ayat di atas, maka berperilakulah layaknya manusia. Allah Swt. udah ngasih kita akal agar bisa bedain perilaku yang diridhoin Allah ama yang nggak. Jangan mau diperbudak hawa nafsu dan ngikutin perasaan aja. Kita ini lebih mulia dibanding hewan sobat.

So, untuk nunjukkin kasih sayang, nggak mesti saat VD. Kapan aja boleh kok. Yang terpenting dan pokok adalah ekspresikan cinta-kasih-sayang sesuai ajaran Islam yang mulia dan masuk akal. Bukan ajaran lain yang justru merendahkan derajat kita. Maka, kalo pengen selamat dunia-akhirat: cintai Islam dan pake aturan Islam dalam keseharian kita. Biar mantep cintanya, kuatkan dengan ikut pembinaan dan pengkajian Islam. Biar kokoh dan utuh dalam membentuk kerangka berpikir, maka pembinaan itu harus dilakukan intensif dan rutin. Jangan setengah-setengah. Kini, saatnya kita bareng-bareng mengkaji Islam untuk sempurnakan rasa cinta kita! [hafidz341]

(Buletin STUDIA - Edisi 328/Tahun ke-8/12 Februari 2007)


Blog EntryDi Balik Perayaan Tahun Baru MasehiDec 25, '07 9:38 AM
for everyone
STUDIA Edisi 224/Tahun ke-5
(27 Desember 2004)
 

Sreet....! Satu lembar lagi kalender sobek yang mangkal di atas meja kerja kudu menghuni tempat sampah. Phew....sobat, nggak kerasa ya, dalam hitungan hari, sebentar lagi kita akan memasuki tanggal keramat di awal tahun. 1 Januari bow! Tanggal yang memaksa kita mencampakkan kalender lama yang lecek bin dekil of the kumel dengan semua kenangan yang tersimpan di setiap tanggalnya. Posisinya kudu digantikan oleh almanak baru yang siap merekam setiap peristiwa dalam keseharian kita. Ibarat pepatah, �Habis tanggal, kalender dipenggal� Kejam nggak sih?

Nggak cuma ganti kalender secara massal, akhir tahun juga selalu diwarnai berbagai tradisi. Di stasiun tv, ada tayangan kaleidoskop yang mengulas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu tahun yang akan ditinggalkan. Dukun dan paranormal banyak disantroni untuk dapetin ramalan jodoh, rizki, musibah, atau peruntungannya di tahun depan. Para desainer pakaian, penata rambut, atau produsen kosmetik juga udah siap me- launching produk-produk terbarunya untuk dipopulerkan di tahun mendatang.

Ada juga yang punya tradisi berburu kalender baru yang gratisan (jangan tesinggung ya?). Di mana saja dan kapan saja, panca inderanya nggak lepas dari pantauan sinyal-sinyal yang menunjukkan keberadaan kalender gratisan. Dari tukang bakso sampe supir angkot, sempet-sempetnya pake ditagihin kalender. Malahan, yang biasanya beli kopi Liong Bulan sebungkus di warung depan rumah, bela-belain pergi ke toko kopi di pasar biar dapet kalender. Jalan kaki lagi. Idih, ini sih tipe remaja hemat setiap saat. Watau!

Tapi semuanya kalah prestise dibanding tradisi perayaan tahun baru. Sudah harga mati kalo momen istimewa ini nggak boleh lewat tanpa dirayakan dengan heebooooh! Buat remaja, terasa garing binti kering-kerontang kalo malam tahun baru kagak pake acara arak-arakan di jalan raya. Baik dengan jalan kaki atau pake kendaraan bermotor sambil bakar petasan dan kembang api, niup terompet, metik gitar, nabuh gendang, plus ngedarin �kotak infak' dari gelas plastik (ini konvoi ama ngamen seh?)

Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari udah wanti-wanti bakal ngegelar acara spesial dalam rangka menyambut tahun baru. Musik, dance, kuis, games, semuanya digelar hingga larut malam. Puncak kemeriahan terjadi pada saat perhitungan mundur menjelang detik-detik proklamasi, eh pergantian tahun sebelum jarum jam menunjukkan pukul 00.00 (tahun baru) Lima... empat... tiga... dua... satu... toooeet!!!

Tanpa dikomando, penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet. Di jalan raya, raungan keras dari knalpot dan teriakan klakson kendaraan bermotor memecah kesunyian malam. Nyala kembang api dalam berbagai warna menerangi gelapnya langit dan makin menambah kemeriahan dan semaraknya suasana. Kemudian berlanjut dengan pemberian ucapan selamat tahun baru, sun pipi kiri-kanan dan tukar-menukar kado dalam iringan musik yang hingar-bingar.

Tradisi perayaan tahun baru masehi

Sobat muda muslim, ternyata perayaan tahun baru nggak cuma sebatas merengkuh kebersamaan aja lho. Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka terhadap dewa. Nah lho!

Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja. Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara si �Toloy Bocah Sakti� Ronaldo.

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Masa' sih? Ah...namanya juga takhayul!

Sejarah tahun masehi

Sobat muda muslim, di tengah gencarnya ajakan dari sana-sini untuk ngerayain tahun baru, kita justru sedih. Sedih karena banyak di antara kita, khususnya remaja mulim, nggak ngeh kalo perayaan tahun baru merupakan bagian dari hari suci umat Kristen. Seperti yang tercantum dalam pernyataan dari kedubes AS perihal sejarah dan perayaan tahun baru.

Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi. Gitchu ceritanya!

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari tahun baru. Tepatnya tanggal 1 Januari tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Tak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM.�Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, ahli astronomi dari Aleksandria, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. ( www.irib.ir )

Sementara kalender sekarang yang banyak dicari di akhir tahun adalah Kalender Gregorian atau kalender Masehi. Kalender ini yang dinobatkan sebagai standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadual kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Termasuk untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia. ( www.babadbali.com ).

Hindari tasyabuh...

Sobat muda muslim, sekarang kita tahu dong kalo perayaan pergantian tahun merupakan tradisi yang berasal dari orang kafir. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyeru dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum, populer, tren, dan bisa diperingati oleh siapa saja. Padahal ini merupakan salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Hati-hati ya...

Sialnya, banyak dari kita yang nggak menyadari serangan budaya ini. Terlena oleh acara malam tahun baru yang dikemas secara apik dan menarik. Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama atau kepercayaan lain. Rasulullah saw. bersabda: �Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.� (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani)

Dalam hadits lain diceritakan: ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi saw. menanyakan kepadanya (yang artinya): �Apakah di sana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah?� Dia menjawab, �Tidak�. Beliau bertanya, �Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?� Dia menjawab, �Tidak�. Maka Nabi bersabda, � Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam� [Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim]

Hadits di atas mengajarkan kita untuk menghindari syiar dan ibadah orang kafir baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Meski itu dalam rangka beribadah kepada Allah. Sebab hal itu sama aja turut menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Sobat, semoga dalil di atas cukup mampu mengerem keinginan untuk berpartisipasi dalam perayaan tahun baru atau hari-hari besar umat lain. Kecuali kalo kita mau digolongkan ke dalam penganut agama selain Islam. Tahu dong, konsekuensinya kalo Allah menggolongkan kita ke dalam golongan orang-orang kafir. Kita bakal kekal �nginep' di neraka. Iih, nggak lah yauw..!

Trus gimana dong?

Pertama , kita nggak perlu malu bin segan untuk menolak ajakan sohib untuk hura-hura bin pesta-pora di malam tahun baru. Di hadapan temen-temen boleh jadi kita dianggap sombong, nggak toleran, atau malah dikira alien alias makhluk asing karena �beda'. Tapi di hadapan Allah, kita bisa termasuk golongan para penghuni surga. Amiin.

Kedua , kita nggak ngikut tahun baruan bukan berarti kita nggak peduli dengan pergantian tahun lho. Tetep kita nyadar kalo pergantian tahun merupakan bagian dari perubahan waktu. Saking sadarnya, kita mencoba mensikapi sang waktu seperti yang dicontohkan tauladan kita, Nabi saw. Bukan dengan euforia bergelimang maksiat, tapi sebagai alat ukur untuk mengevaluasi kemajuan diri kita.

Rasulullah saw. bersabda: �Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.� (HR. Ahmad)

Sobat muda muslim, kesempatan yang Allah berikan nggak akan datang dua kali. Waktu yang telah kita lewati nggak akan bisa diputar ulang. Tapi akan terus ngotot lari dan pergi.

Kita perlu sadari bahwa kita nggak akan selamanya muda. Jika usia kita panjang, mau nggak mau, waktu bakal nganterin kita memasuki kehidupan orang dewasa dengan segudang permasalahannya. Apa yang kita harapkan di masa depan jika sekarang kita lebih doyan hura-hura bin pesta-pora dibanding memanfaatkan waktu untuk mengasah keterampilan, pola sikap, dan pola pikir kita. Bisa-bisa otak kita sampai meninggal masih orisinil karena jarang dipake buat nyari pemecahan masalah. Walah!

Suatu saat juga kita akan sampai di ujung waktu. Satu masa dalam hidup saat kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat. Masihkah kita memimpikan kesenangan surgawi di kala kita sibuk mengejar materi dan popularitas dengan mengorbankan aturan Ilahi.

Karena itu, mari kita sama-sama sambut kesempatan yang Allah berikan dengan memperbanyak amal saleh dan mengurangi amal salah. Kita luruskan niat dalam berperilaku semata-mata mengharap ridho Allah Swt. Kita ringankan langkah kaki menuju taman-taman surga tempat mengkaji, memahami, meyakini semua aturan Allah Swt. Kita kuatkan pijakan kaki kita di atas akidah Islam di tengah serangan budaya dan pemikiran Barat. Kita padati hari-hari kita untuk siapkan perbekalan dalam menghadapi masa tua dan masa persidangan yaumul hisab kelak. Terakhir, kita semayamkan dalam diri kita semangat perjuangan Rasulullah saw., para shahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan para mujahid di medan perang untuk mengembalikan izzah Islam wal Muslimin . Allahu akbar! [hafidz]


Blog EntryAWAS! Toleransi SemuDec 25, '07 9:33 AM
for everyone

STUDIA Edisi 321/Tahun ke-7

(25 Desember 2006)

 

Waduh…belum apa-apa judulnya udah serem banget. Seakan-akan ada sesuatu yang berbahaya dengan kosakata AWAS! Yup, emang kita mau ngomongin sesuatu yang berbahaya yang tanpa sadar mengintai akidah kaum Muslimin atas nama toleransi semu. Bahaya yang mengintai setiap bulan Desember dan tahun baru. Yup, bahaya perayaan Natal dan perayaan Tahun Baru.

Suasana natal merebak di sekitar kita. Mal, plaza, hotel, toko, baliho di jalan-jalan protokol, dan umbul-umbul sepanjang jalan terlihat semarak menyambut natal dan tahun baru. Tak ketinggalan televisi dan radio juga saling bersaing program natal dan tahun baru. Acara-acara yang tersuguh khas nuansa natal semisal pohon cemara dan pernik-perniknya, lagu malam kudus atau Holy Night dalam versi Inggris-nya dan juga nggak ketinggalan Jingle Bell. Juga ada Sinterklas dan kado-kado, kereta salju yang ditarik anjing kutub dan anak-anak miskin yang mendapat kegembiraan karena ada hadiah-hadiah yang mereka inginkan.

Tak jarang kaum Muslimin terlena dengan itu semua. Hati-hati dengan adek-adek kamu yang masih kecil. Mereka mudah sekali silau dengan gemerlap natal dan banyak kado menyertai. Tapi, yang silau sama natal bukan cuma anak-anak kecil. Orang-orang tua bahkan ulama banyak juga yang bukan hanya silau, tapi malah ikut-ikutan larut di dalamnya.

Karena terbiasanya mereka disuguhi pemandangan natal dan tahun baru Masehi, akhirnya merasa seakan-akan perayaan itu adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat. Belum lagi para bapak dan ibu yang duduk sebagai pejabat dan mengaku-aku dirinya ulama mencontohkan diri dengan ikut menghadiri perayaan natal dan tahun baru itu. Akhirnya kaum Muslimin dibuat bingung mana yang hak dan batil karena semua sudah dicampur aduk.

 

Natal dan tahun baru bukan budaya kita

Natal dan tahun baru jelas-jelas budaya dan milik kaum Nasrani. Natal diperingati sebagai kelahiran Yesus yang mereka pertuhankan. Meskipun kita kaum Muslimin mengakui Nabi Isa, tapi tak dibenarkan untuk mengakuinya sebagai Tuhan. Bukan sekadar tak dibenarkan tapi juga haram alias mutlak tidak bolehnya. Lagi pula kelahiran Nabi Isa sendiri juga bukan di bulan Desember. Lha wong aliran sekte Kristen yang lain aja ada yang merayakan Natal di bulan Januari kok. Herbert W. Arsmtrong (1892-1986), seorang pastur di Worldwide Church of God, Amerika Serikat, menyatakan dalam bukunya, The Plain Truth about Christmas, bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Nah lho?

Abu Deedat Syihabuddin M.H, seorang kristolog dalam wawancaranya dengan majalah Sabili mengatakan, “Isa Almasih bukan lahir tanggal 25 Desember. Di kalangan Kristen sendiri ada perbedaan, ada yang tidak mau merayakan Natal pada 25 Desember seperti Advent dan Yehova. Mereka menganggap Yesus lahir tanggal 1 Oktober. 25 Desember itu, upacara penyembahan Dewa Matahari.”

Most of all, setelah Muhammad datang, cuma ajaran beliau aja yang boleh diikuti. Ajaran nabi-nabi sebelumnya sudah dihapus dengan kedatangan Muhammad Rasulullah saw. sebagai nabi akhir jaman.

Tahun baru juga sama aja. Ini tahun baru Masehi, diperingati untuk mengingat sang Mesiah (asal kata dari Masehi alias Nabi Isa juga) dilahirkan ke bumi. Kita nggak perlu latah ikut-ikutan merayakan meski sekadar mengucapkan selamat tahun baru. Karena bagaimana pun, ucapan tahun baru selalu mengekor dengan ucapan natal. Kita punya kok tahun baru sendiri. Tahun baru Hijriyah. Sebagai momentum peringatan Rasulullah saw. hijrah dari Mekah ke Medinah dan mendirikan Negara Islam di sana.

Selain tahun baru masehi bukan budaya kaum muslimin, lihat juga bagaimana orang-orang itu merayakannya. Hura-hura, pesta, kembang api, dansa, dan banyak acara maksiat lainnya yang digeber semalam suntuk. Jelas banget, semua hal itu sama sekali nggak sesuai dengan budaya kaum Muslimin yang sangat menjaga diri dari segala perbuatan sia-sia dan maksiat. Udah acaranya nggak ada tuntunannya dalam Islam, eh, cara merayakannya juga amat sangat tidak terpuji.

       

Bagaimana sikap kita?

Jelas dong, sikap kita sebagai kaum Muslimin untuk tidak mengikuti perayaan itu meskipun sekadar mengucapkan natal dan tahun baru. Lha wong kita tidak meyakini kedua perayaan itu kok mau mengucapkan selamat. Bukankah yang selamat itu cuma mereka yang meyakini akidah Islam saja? Jangan khawatir kamu dituduh tidak toleran hanya karena tidak mau mengucapkan selamat natal dan tahun baru. Toh, makna toleran tidak sesempit itu.

Toleran itu cukup dengan mengakui adanya keberagaman di sekitar kita. Kita tak mengganggu keyakinan dan ibadah mereka dan begitu sebaliknya. Mereka juga tidak boleh mengusik akidah dah ibadah kaum Muslimin. Toleran tidak bermakna untuk ikut-ikutan dan mencampuradukkan keyakinan kita dengan keyakinan dan peribadatan agama lain. Bukankah telah dinyatakan oleh Allah dalam surat al-Kafirun bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku? Ya sudah, cukup ini saja yang jadi patokan kita, oke?

Sering saya diberi ucapan selamat tahun baru oleh teman-teman baik Muslim atau nonmuslim. Kalo ucapan Natal jelas nggak, karena identitas saya sebagai muslimah dengan jilbab dan kerudung sangat jelas terlihat. Saya selalu katakan pada mereka, bahwa saya tidak merayakan tahun baru Masehi. Malam tahun baru toh nggak beda dengan malam-malam sebelum dan sesudahnya. Baru kalo di penghujung malam tahun baru matahari terbit dari barat, itu baru saya takjub dan pantas untuk dirayakan. Teman-teman langsung pada keki karena kalo beneran seperti itu, artinya kiamat dong hehehe…

Tentunya tidak berhenti di situ saja. Harus ada penjelasan secara logis mengapa kita tidak mau merayakan atau sekadar mengucapkan selamat tahun baru. Penjelasan sederhana di atas sudah cukup kamu gunakan sebagai penjelasan bila ada yang nekat ngucapin hal yang sama ke kamu.

Jadi sikap kita jelas dalam hal ini. Tak ada yang namanya nggak enak ati karena ini menyangkut masalah akidah dan keimanan. Nggak main-main urusannya. Meskipun dengan itu kita harus dengan sabar memberi penjelasan dan pengertian bagi mereka yang emang belum ngerti.

Saya punya teman pena dari Finlandia. Kami bersahabat sudah lebih dari sepuluh tahun. Setiap bulan Desember tiba, ia selalu mengirim kartu ucapan merry christmas and happy new year pada saya. Bahasa Finland-nya sih “Hyvä  Joulua ja Onnellista Uutta Vuotta!” Padahal sudah berulangkali saya jelaskan padanya kalo saya seorang Muslim dan tidak merayakan natal atau pun tahun baru masehi. Saya jelaskan pula kalo kami punya tahun baru sendiri, Hijriyah. Tapi lucunya, dia selalu heran dan bingung dengan penjelasan saya.

Usut punya usut, ternyata merayakan natal di negeri Barat tidak berkaitan dengan keyakinan seseorang. Teman pena saya ini mengakunya bukan seorang nasrani, karena ia tidak percaya terhadap ketuhanan Yesus. Ia bilang kalo ia tidak percaya dengan tuhan yang ada di gereja. Ia percaya dengan tuhan menurut definisinya sendiri. Hihi, kacau yah?

Jadi, baginya natal adalah sebuah perayaan yang tidak ada nilai religiusnya sama sekali. Tidak ada acara pergi ke gereja. Tidak ada acara membaca doa atau pun hal-hal keagamaan lainnya. Natal cuma momen untuk bisa kumpul bersama keluarga, makan enak, pesta dan mabuk hingga pagi.

Tapi tetap saya jelaskan bahwa meskipun natal di Barat saat ini kehilangan nilai religinya, tapi saya tidak bisa menerima ucapan itu. Bagaimana pun natal tidak bisa dilepaskan dari mana ia berasal dan dalam konteks apa ia diperingati. Memang tidak mudah membuat teman saya ini paham karena perbedaan budaya dan keyakinan yang sangat mencolok di antara kami.

Pertemanan bukan berarti bisa dengan seenaknya mencampurkan akidah dan keimanan. Harus ada batas yang jelas untuk itu. Toh, kami tetap berteman dengan baik meskipun saya tak pernah mengucapkan merry christmas and happy new year padanya. Ia juga tak pernah menuntut saya untuk mengucapkannya. Malah yang sering, dia suka tanya-tanya tentang Islam dan saya dengan senang hati menjelaskannya.

Apa yang bisa diambil dari cerita saya di atas? Jangan pernah ambil kompromi untuk masalah penting dan mendasar. Perayaan dan ucapan natal dan tahun baru memang ringan di lidah, tapi berat di timbangan pada hari penghisaban nantinya. Maksudnya berat dalam hal mengurangi timbangan kebaikan kamu alias jadi tekor. Jadi jangan pernah menganggap enteng hal ini.

 

Kok, ada ulama ikut natalan?

Mungkin di antara kamu ada yang bertanya-tanya seperti ini. Jangan kuatir, ngaku-ngaku ulama saat ini memang gampang. Tapi dari perbuatannya, kamu kan bisa menilai ulama seperti apakah yang ada pada dirinya.

Merusak Islam sudah bukan jamannya lagi dari luar. Diperangi secara fisik, dibenci oleh kaum kafir, dicemooh dan diludahi seperti jaman nabi. Saat ini ada yang lebih keren tapi berbahaya dalam merusak Islam yaitu dari dalam. Dari pemeluk Islam sendiri dan dari mereka yang mengaku ulama panutan umat. Kalo ulamanya sudah kena, maka umat pun akan mudah diarahkan ke jalan tidak benar. Gampang kan?

Apalagi dengan adanya sebuah jaringan yang teroraganisasi dengan baik untuk menghancurkan Islam dari dalam, yakni JIL alias Jaringan Islam Liberal. Islam kok liberal? Hehe makanya nggak pantas banget kata Islam disandang dan bersanding dengan liberal. Terus, apa hubungannya dengan perayaan natal dan tahun baru?

Merekalah yang gencar mempromosikan ajakan untuk merayakan dan mengucapkan natal dan tahun baru. Alasannya sih slogan pluralisme agama yang sering jadi dalih. Merekalah yang suka memberi cap eksklusif pada kita-kita yang berusaha berjuang dan menerapkan Islam secara kaffah (keseluruhan). Lucu ya.

Musuh-musuh Islam nggak perlu repot-repot untuk menghancurkan Islam karena sudah ada mesin penghancur itu dari dalam. Pihak JIL inilah yang paling getol mengadakan diskusi dan seminar dalam merusak ide dan akidah Islam. Lha wong teman-teman saya yang nasrani aja nggak repot kok meski saya dan teman-teman yang lain nggak mengucapkan selamat natal pada mereka. Dan kami juga tetap berteman sebatas hal-hal yang memang dibolehkan. Bukan mencampuradukkan akidah dan keimanan. Kok, malah pihak yang mengaku dirinya muslim yang ajak-ajak untuk ikut natalan. Aneh!

Makanya, kamu jangan heran lagi kalo ada ulama yang ikut natalan bahkan ajak-ajak umatnya untuk mengikuti perbuatannya. Ingat, setiap individu akan bertanggung jawab terhadap amal perbuatan masing-masing. Nggak ada ceritanya entar di akhirat ketika dihisab dan ditanya kamu akan bikin alasan “Saya kan cuma ikut-ikutan ulama anu.” Ulama anu itu bisa jadi ikut bikin alasan “Salah sendiri, ngapain kamu mau ikut-ikutan saya?” Nah lho, jadi ribet kan urusannya?

Nah lho, masing-masing saling menyalahkan. Kalo kamu paham Islam dengan baik dan benar, kondisi itu nggak akan terjadi. Meskipun ulama, kalo perbuatannya gak benar ya seharusnya dinasehati bukan diamini aja. Bukankah itu sejatinya sikap seorang Muslim? Saling menasihati dalam kebenaran dan dalam kebaikan.

Kalo ternyata si ulama tetap ngeyel? Kita ingkari aja perbuatannya dalam hati sambil terus melakukan upaya penyadaran terhadap teman-teman dan keluarga kita, supaya mereka nggak ikut-ikutan perbuatan yang nggak bener itu. Kalo kamu punya kemampuan menulis, bisa tuh bikin tulisan sederhana terus kamu tempel di mading sekolah. Atau bisa kamu kirimkan ke surat pembaca di surat kabar kotamu. Jangan cuma diam aja.

Termasuk nih, kalo kamu pandai berbicara di depan banyak orang, jelaskan kepada mereka persoalan ini. Nggak perlu takut dicerca. Oke?

Kalo musuh Islam gencar menyerang dengan dalih toleransi dan pluralisme, maka kita harus lebih giat dan semangat untuk menyadarkan umat akan bahaya ide ini. Kalo mereka punya backing dana banyak, media massa yang jadi corong ide rusak, pejabat korup, ulama syu’ (jahat), kita punya satu hal. Meski satu tapi dahsyat. Apakah itu? Kekuatan Iman. Backing-nya langsung bersandar pada Yang Maha Dahsyat. Pemilik langit dan bumi. Kalo Ia sudah menjadi sumber kekuatan kita, siapa yang bisa mengalahkan?

Tuh kan, keren banget! Allah sebagai backing kita. Allah sebagai sumber kekuatan kita. Hanya satu pertanyaan untuk kamu dan kita semua, maukah kita menjadi pejuang di jalanNya? Itu saja! Semoga kita semua siap. Setuju kan? [ria: riafariana@yahoo.com]


Blog EntryGay & Lesbian? No Way!Dec 8, '07 4:39 AM
for everyone

Apa pula ini? Sori, kawan, kita pake bahasa yang rada keren. Bukan sok modern, tapi biar telinga kamu juga lebih akrab dengan istilah yang bakal kita kupas habis ini. Kejadian ini adalah satu dari sekian banyak masalah yang berkembang di remaja. Budaya kaum Nabi Luth ini sekarang lagi dapat angin untuk berkembang menjadi sebuah trend. Memang, di negerinya Ibu Pertiwi ini nggak terlalu ngepop, meski diakui beberapa kader gay dan lesbi mulai banyak tingkah. Kamu perlu tahu, budaya ini adalah budaya sesat, dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Adalah film Boys Don’t Cry garapan sutradara Kimberly Pierce yang mencoba memberikan gambaran bagaimana sebuah petualangan seorang gadis yang mengalami transeksual. Celakanya, film yang dibintangi oleh Hilary Swank yang berperan sebagai Brandon Teena—seorang remaja flamboyan yang terperangkap krisis kepribadian—malah memberikan justifikasi terhadap para pengidap penyakit itu. Film drama psikologi produk Fox Searchlight Pictures ini sengaja mengeskpos kehidupan pengidap transeksual ini seolah-olah mereka pun berhak untuk hidup dan menikmati kehidupannya sebagaimana manusia yang lain. Parahnya, digambarkan pula bagaimana sikap masyarakat tempat tinggal Brandon Teena yang biasa mengucilkan dan tidak memberikan hak hidup bagi kaum pengidap penyakit itu. Dan menurut pembuatnya masyarakat seperti itu adalah masyarakat yang kejam.

Yang lebih ‘gila’ adalah dalam film Total Eclipse yang dibintangi Leonardo DiCaprio, yang konon kabarnya hanya ada dalam kepingan VCD. Dalam film ini jelas sekali digambarkan tentang lika-liku hidup kaum homo. Tentu saja dengan tujuan ‘mulia’nya untuk melegalkan budaya kaum yang dilaknat oleh Allah itu. Bahkan dalam beberapa adegan film tersebut sengaja menampilkan bagaimana ‘prosesi’ kaum homo melampiaskan hajatnya. Edan!

Ternyata sekarang kaum homo dan orang yang mendukung budaya bejat itu mulai banyak tingkah. Beberapa waktu lalu, di Amerika Serikat diharu-birukan dengan demo kaum Gay dan Lesbian menuntut pengakuan atas aktivitas yang mereka lakukan selama ini. Gelombang demo kaum homo dan lesbi di AS itu bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah sering, bahkan sudah sejak lama, termasuk dulu mereka pernah menuntut untuk dibuatkan gereja khusus untuk kaum homo. Parah, Bo..!

Kasus pengidap pedofilia alias senang bermain seks dengan anak-anak pun mulai marak di negeri ini. Di Depok bulan Juli lalu dihebohkan dengan kasus ‘pemboolan’ terhadap 12 bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD. Karuan saja, ini semakin menunjukan bukti bahwa kaum homo masih berkeliaran dan mengancam kehidupan.

Sodomi, begitu istilah ini biasa dialamatkan bagi kaum homo yang melakukan aktivitas seksnya. Kasus ini memang bukan barang baru, sejak  jaman Nabi Luth kasus ini sudah ada, dan telah memicu murka Allah SWT untuk membumi-hanguskan penduduk Sodom, sebuah daerah di Yordania yang merupakan kaum Nabi Luth.

Bak virus yang menyebar dengan cepat, ‘budaya’ itu kembali muncul di jaman yang sudah serba digital ini. Tak tanggung-tanggung, para selebriti Hollywood malah sudah pernah mempraktekkannya. Sebut saja Michael Jackson, George Michael, Elthon John, Mickey Rourke, Bob Geldof, Nono Extreme, Prince, David Bowie dan Kenny G (yang konon sempat ‘bergulat’ dengan Michael Bolton).

Homo & Lesbian; Melanggar Fitrah!
Allah SWT telah menciptakan manusia itu dari dua jenis, yakni laki-laki dan wanita. Nggak ada jenis ketiga. Kamu juga perlu tahu bahwa dalam proses penciptaan itu manusia dilengkapi juga dengan potensi-potensi kehidupan. yang salah satunya adalah nafsu birahi. Yang lelaki senang kepada perempuan, begitupun sebaliknya. Jadi, kalau ada orang yang sama sekali nggak punya nafsu birahi, berarti masih diragukan keasliannya sebagai manusia (hi..hi..hi..).

Nah, potensi yang dimiliki oleh manusia itu sifatnya mutlak alias nggak bisa diubah lagi, karena itu adalah sunatullah. Ustadz Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy menyatakan bahwa dorongan seksual pada seseorang merupakan tanggapan dari faktor eksternal bila indera menangkap rangsangan berupa gambar, cerita porno dan penampilan yang menyentuh sayaraf seks. Makanya, bila nggak disalurkan bisa mengakibatkan kegelisahan jiwa. Jadi berdasarkan sunatullah ini, otomatis manusia yang berlainan jenis kemudian hidup sebagai makhluk heteroseksual, yakni saling tertarik sama lawan jenis, sehingga bila ada orang yang cuma bisa nempel dengan sesama jenis, jelas ini adalah kelainan yang sangat berbahaya. Bila dibiarkan hidup dan berkembang, alamat murka Allah tak mustahil terjadi seperti apa yang pernah dialami kaum Nabi Luth. Naudzu billahi min dzalik!

Dengan demikian, gay dan lesbian ini melanggar fitrah manusia. Gimana nggak, masak cowok senang sama cowok? Atau cewek senang sama cewek? Tak usah la yauw.

Celakanya, dalam kehidupan yang diatur dengan sistem kapitalisme ini populasi kaum homo dan lesbian malah tumbuh subur. Jangan kaget, di negeri yang konon katanya menjunjung tinggi budaya timur ini malah kebobolan juga. Di sini malah sudah terbit majalah khusus kaum homo, namanya GAN alias Gaya Nusantara. Lucunya, sebagai ‘koordinator’ sekaligus ‘maskot’ kaum homo (gay) di negerinya Si Komo ini adalah Dede Utomo—doktor linguistik jebolan Cornell University yang kini menjadi dosen pascasarjana di Unair, Surabaya. Malah beliau ini termasuk anggota International Gay and Lesbian Human Right Commission pada ILGA (International Lesbian and Gay Association) (Permata, No. 12/IV/Desember 1996).

Bisa Menular
Ih, ngeri amat! Kok bisa, sih? Bisa dong, namanya juga ‘penyakit’ berbahaya. Seperti halnya kebaikan yang bisa menyebar, maka kemaksiatan pun bisa menular. Bahkan pada faktanya saat ini justru kemaksiatan yang cepat berkembang ketimbang kebaikan.

Orang yang bergaul secara abnormal ini akan mengulanginya terus dan terus. Gawat deh kalo udah ‘nyandu’ begitu. Nggak peduli lagi, apakah itu membahayakan atau tidak, yang penting hepi. Kamu percaya nggak, bahwa sebagian besar orang yang homo atau lesbian karena dulunya pernah digauli oleh orang yang homo atau lesbian pula? Harus percaya!

Soalnya, ada bukti yang boleh dibilang sangat mewakili untuk dijadikan alasan. Sebut saja Andi (bukan nama sebenarnya) yang mengungkapkan masa lalunya kepada majalah Jakarta-Jakarta, edisi Agustus 1996. Kepada majalah tersebut Andi menuturkan bahwa suatu ketika ia pernah diajak kencan oleh seorang sopir yang bekerja pada teman bapaknya. Perkenalan itu dimulai ketika Andi main ke tempat teman bapaknya itu. Disitulah sang sopir yang berbadan kekar dan terkesan jantan alias macho memperkenalkan ’sentuhan’ awal dari teknik-teknik bersodomi. Celakanya, setelah kejadian itu Andi malah jadi nyandu bahkan doyan melakukan cara gaul yang abnormal itu. Naudzu billahi min dzalik!

Bukti lain bahwa ‘penyakit’ ini bisa menular adalah pada jaman Nabi Luth. Orang-orang yang melakukan kemaksiatan itu awalnya bsia dihitung dengan jari, tapi kemudian secepat kilat membengkak menjadi satu kampung, jelas ini memang menular. Maka perlu ada tindakan khusus supaya tidak menjalar kemana-mana. Gawat!

Kamu mungkin heran bahwa ternyata orang-orang homo itu justru sebagian besar berpenampilan macho. Mantan chopet? Bukan dong sayang. Ya, jantanlah! Hal ini dikuatkan pula oleh dokter Boyke Dian Nugraha yang memang pakar dibidang seks ini. Menurutnya, 85 persen kaum homo itu berbadan kekar dan memang penampilannya macho. Tidak kemayu atau gagah gemulai. Cuma sayang, ‘pejantan’ ini beraninya cuma lewat ‘belakang’!

Hati-hati, jangan sampai kamu ketularan dengan penyakit dan budaya bejat seperti ini. Seperti kata pepatah, kalau takut dilebur ombak, jangan berumah di tepi pantai. Kalau takut kesenggol dan nyemplung menjalani kehidupan seks yang nggak normal seperti itu, maka kamu nggak boleh dekat-dekat dengan para penyebar budaya kaum Sodom itu. Bahaya!

Tapi sayang seribu sayang, masyarakat sekarang begitu cuek. Bahkan nggak mau ambil pusing dengan persoalan yang sebetulnya sangat serius ini. Alih-alih berusaha membereskan masalah ini, malah secara tidak langsung membiarkan praktek maksiat itu tetap ada, dengan sikapnya yang tak peduli itu. Lebih parah lagi, saat ini kaum gay dan lesbi ini mulai banyak tingkah minta aktivitas dan keberadaan mereka itu diakui di masyarakat. Sekali lagi, bila ini dibiarkan, maka alamat kehancuran sebuah bangsa pun tak mustahil terjadi. Lalu bagaimana menyelesaikan kasus ini?

Tiada Maaf Bagi Mereka!
Tentu saja pernyataan sedikit ‘kejam’ ini bila kaum homo (gay) dan lesbi ini nggak segera bertobat atas perbuatannya yang tidak saja melanggar fitrahnya sebagai manusia, tapi sekaligus ‘menantang’ Allah SWT. Ini harus segera diselesaikan dengan cepat dan tepat.

Sebagai seorang muslim, tentu saja segala tolok ukur perbuatan kita harus senantiasa berlandaskan ajaran Islam. Kita nggak boleh asal berbuat tanpa ada dasar yang jelas dan pasti. Itu bisa membahayakan diri kita dan juga orang lain.

Melihat faktanya, ternyata orang yang menjadi gay atau menjadi lesbi, bukan diakibatkan oleh faktor genetis alias keturunan. Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar FKUI berkomentar, “Sampai sekarang belum ada yang menyatakan karena faktor genetis, yang sudah jelas adalah faktor lingkungan.” (Permata, No. 12/IV/Desember 1996).

Sehingga, prosedur yang dipakai adalah bagaimana mengubah lingkungan yang telah meracuninya dengan lingkungan yang baru. Terbukti sekarang, bahwa populasi kaum homo dan lesbian di negeri ini semakin meningkat, adalah karena sistem kehidupan yang dipakai untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara malah memberikan kebebasan untuk berbuat seperti itu. Disinilah letak rusaknya sistem kapitalisme yang memang berakidah sekuler ini. Lingkungan dalam sistem kehidupan seperti inilah yang turut membidani lahirnya budaya kaum homo dan lesbi sekaligus melestarikannya.

Seharusnya, setiap kejahatan, apapun bentuknya, harus ada sanksinya. Bila tidak? Siap-siaplah untuk tumbuh subur dalam kehidupan kita. Makanya, kalau tradisi kaum homo dan lesbian yang merusak kehidupan ini dibiarkan, maka selamanya mereka akan tumbuh dan ‘berkembang biak’ dengan baik.

Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengatur pelaksanaan kewajiban yang telah diikuti juga dengan sanksi atas tidak terlaksananya suatu kewajiban tersebut. Pendek kata, ada aturan yang mengikat, plus diberikan juga hukuman bagi yang melanggar. Ancaman hukumannya bukan hanya ditakut-takuti dengan azab di akhirat saja, Tapi memang ada bentuk hukuman yang diberlakukan oleh negara, dalam hal ini adalah Khilafah Islamiyah (pemerintahan Islam). Jadi tidak normatif belaka.

Apa bentuk hukuman yang bakal dikenakan kepada kaum homo dan lesbian ini? Terdapat beberapa pendapat ahli fiqih tentang sanksi (ganjaran) yang harus diberikan kepada pelaku homoseksual ini. Salah satu di antaranya dikemukakan oleh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz Al Malibaary, yang mengatakan: Maka ada sekelompok fuqaha (ahli fiqih) yang menetapkan bahwa pelakunya wajib dihukum sebagaimana menjatuhkan hukuman perzinaan. Kalau pelakunya adalah orang yang pernah married, maka wajib dirajam. (Tahu kan dirajam? Itu, lho, bentuk siksaan yang pelaku kemaksiatan itu ditanam sebatas leher lalu dilempari dengan batu sampai mati). Kalau pelakunya masih lajang? Wajib didera alias dicambuk sebanyak seratus kali.

Dan pendapat ini pula yang menetapkan bahwa terhadap laki-laki yang digauli oleh homoseksual, diberikan sanksi dera 100 kali atau diasingkan selama setahun; baik laki-laki maupun perempuan, yang pernah kawin maupun yang belum pernah. Ada juga segolongan fuqaha yang berpendapat bahwa pelaku homoseksual itu harus dirajam, meskipun ia belum pernah kawin. Ini termasuk pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal, Pendapat lain, yakni Imam Syafi’i menetapkan pelaku dan orang-orang yang ‘dikumpuli’ (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadits, “Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktek homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi). (Zainuddin bin Abdul ‘Aziz Al Malibaary, Irsyaadu Al ‘ibaadi ilaa Sabili Al Risyaad. Al Ma’aarif, Bandung, hlm. 110).

Adapun uslub (teknis) yang digunakan dalam eksekusinya tidak ditentukan oleh syara’. Para sahabat pun berbeda pendapat tentang masalah ini. Ali r.a. memilih merajam dan membakar pelaku homoseks, sedang Umar dan Usman r.a. berpendapat pelaku dibenturkan ke dinding sampai mati, dan menurut Ibnu Abbas dilempar dari gedung yang paling tinggi dalam keadaan terjungkir lalu diikuti (dihujani) dengan batu. Boleh jadi menurut ukuran hawa nafsu kita hal itu mengerikan. Tapi, tentu saja sebagai seorang muslim yang beriman, kita wajib mentaati segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jadi hukuman yang bakal diterima para pelaku homoseksual dan lesbian adalah vonis mati. Terserah caranya, mau digantung atau dipenggal batang lehernya, boleh-boleh saja. Yang penting mati! Begitulah Islam sebagai sebuah ideologi mengatur kehidupan masyarakatnya. Tidak seperti sekarang, dalam sistem kapitalis yang malah membiarkan kemaksiatan tetap tumbuh subur!

Jadi, jangan anggap enteng!

(Buletin Studia - Edisi 022/Tahun I)


Blog EntryTeman Tapi MesraDec 7, '07 6:12 AM
for everyone

STUDIA Edisi 268/Tahun ke-6 (21 Nopember 2005)

 

Kayaknya kamu sering dengerin deh lagunya Ratu yang berjudul Teman Tapi Mesra. Seperti ini sebagian liriknya: “Cukuplah saja berteman denganku/ janganlah kau meminta lebih/ ku tak mungkin mencintaimu/ kita berteman saja/ teman tapi mesra…”

Ehm, punya teman tuh emang asyik. Selain ada orang yang bisa diajak ngobrol dan saling membantu di kala saling membutuhkan, teman juga bisa menjadi tempat muara emosi kita. Ngobrol biasa mungkin sering. Tapi ngobrol yang lebih dalam, rasanya agak jarang dilakukan dengan seseorang yang sekadar teman biasa. Kita agak canggung. Itu sebabnya, kehadiran seorang sahabat karib yang bisa menjadi tempat muara emosi kita, sangat diharapkan.

Teman sejenis pun, cowok dengan cowok maupun cewek dengan cewek, sebenarnya bisa juga sangat akrab. Itu kalo di antara kita udah terjalin sikap saling percaya, saling memahami, dan saling menghargai. Mungkin bisa saja yang seperti ini dibilang mesra. Karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata mesra adalah lekat dan sangat erat.

Sobat muda muslim, cuma masalahnya, gimana kalo teman tapi mesra itu adalah antar lawan jenis. Wow, ini dia yang kudu jadi perhatian dan bikin kita jaga-jaga biar nggak kebablasan. Gimana pun juga, hubungan pria dan wanita pasti nimbulin perasaan-perasaan yang ‘lain’. Perasaan suka, sayang, cinta, termasuk cemburu kalo sang teman tapi mesra itu deket ama yang lain. Karena apa? Karena masing-masing merasa ingin memiliki lebih dari sekadar teman. Tul nggak? Seperti syair di awal lagu dari duo Ratu ini: “Aku punya teman/ teman sepermainan/ kemana pun dia pergi selalu ada aku/ dia manis dan juga baik hati/ tapi aku bingung ketika dia bilang cinta…”

Inilah unik dan menariknya hubungan antar manusia. Dan harus diakui bahwa manusia tuh makhluk sosial, sehingga ia merasa kesepian kalo nggak ada teman. Padahal manusia bukan hanya terdiri dari sejenis. Itu sebabnya, dalam beberapa kondisi, komunikasi dengan lawan jenis untuk berbagai keperluan dalam melakukan kegiatan sehari-hari nyaris nggak bisa dihindari. Mungkin kita biasa bergaul dalam komunitas sejenis, tapi dalam beberapa kondisi kadang kita harus merambah ke luar komunitas kita, maka kita akan berhubungan dengan banyak pihak, termasuk dalam hal ini dengan lawan jenis.

Sebagai teman akrab atau sebagai sahabat, berteman dengan lawan jenis besar kemungkinan akan menjadi ajang curhat dan saling berbagi cerita mesra. Apalagi teman tapi mesra ini sangat mungkin hubungannya akan ditingkatkan menjadi ‘kekasih’. Bila itu yang terjadi, maka ketika kita curhat dengannya, kita jadi nggak ngerasa sedang ngobrol dengan teman biasa. Tapi dengan seorang kekasih hati, meski baru anggapan sepihak saja dari kita.

Dengan kenyataan seperti ini, cerita dan curhat kita akan semakin terasa bermakna. Pandangan dan pendapatnya yang disampaikan kepada kita sering membuat kita bertenaga. Hidup rasanya dapat tambahan darah segar. Nafas baru dan semangat menggelora. Rasa-rasanya dunia adalah milik kita, yang sedang dimabuk cinta dan dibakar api asmara (meski baru kita sendiri yang merasakannya alias geer—entah dirinya. Mungkin malah sebel). Kita jadi ngedadak ‘lupa diri’, dan kita menjadikan orang yang kita cintai sebagai dewi or pangeran pujaan hati. Kita bersedia berkorban dan menjadi bagian dari hidupnya. Sehari saja tak jumpa dan komunikasi, rasanya hati kita jadi dingin dan beku. Tapi, ketika rindu itu terpuaskan, dinding es yang kokoh menyelimuti hati kita pun perlahan mencair (suit..suit.. swiiw!)

 

Dari temen jadi demen

Pernah nonton sinetron “Dari Temen Jadi Demen” di sebuah stasiun televisi swasta? Yup, sinetron ini bercerita tentang kisah-kasih sepasang anak manusia. Benar kata pepatah jawa: “Witing tresno jalaran soko kulino”, bahasa nasionalnya: “Munculnya cinta, karena seringnya bertemu”. Hati-hati buat kamu yang sering ketemu dengan lawan jenisnya. Kalo berteman kan sering bertemu lho. Dan, bisa-bisa ‘pepatah’ ini ada benarnya. Singkat kata, kamu jadi demen sama temen kamu. Huhuy!

Sobat muda muslim, gambaran di sinetron yang dibintangi oleh Jonathan Frizzi dan Wulan Guritno ini bisa jadi muncul dalam kisah nyata. Ya, kisah-kasih di antara kita. Bahkan sangat boleh jadi lho kalo cerita itu justru terinspirasi dari kejadian nyata. Tul nggak?

Saya pernah punya kawan yang mengalami kejadian begini. Doi bilang bahwa berteman itu memang mengasyikan, apalagi dengan lawan jenis. Untuk ukuran sesama jenis aja, berteman efektif untuk menumbuhkan kebersamaan, memupuk kasih sayang, bahkan kita saling mencintai. Tengok aja orang yang udah lengket sohiban. Kamu pastinya ngiri deh ngelihat di sekolahmu ada dua orang teman yang lengket bak perangko. Kemana-mana nyaris bareng. Mirip kisah Ujang dan Aceng yang pernah muncul di televisi dulu. Sohiban Ujang dan Aceng ini kebawa sampe mereka dewasa. Bener lho. Asyik banget kan punya teman yang seide dan seperasaan. Itu sebabnya, banyak orang yang kepengen banget punya teman sehidup-semati. Bahkan, teman ibarat cermin buat kita.

Eh, tapi berteman pun bisa berpotensi bikin kita berabe. Kok bisa sih? Iya, kalo berteman sejenis dengan akrab, ati-ati aja jangan sampe kecemplung jadi homoseks. Terus kalo kita berteman dengan lawan jenis, juga kudu taat syariat Islam. Waspada ya.

Nah, khusus ketika berteman dengan lawan jenis, karena selain menumbuhkan rasa kebersamaan, juga efektif memunculkan rasa simpati, selanjutnya empati, berikutnya mulai tumbuh benih-benih cinta di hati. Akhirnya, jatuh hati. Huhuy! Itu namanya bukan lagi temenan, tapi malah demenan. Malah pas lagi sakit pun kita bisa lupa diri kalo ada kekasih di samping kita. Jadinya, kata Wong Cerbon (orang Cirebon) DBD deh, Demam Bari Demenan (baca: demam sambil pacaran)

Sobat muda muslim, seperti kata pepatah lama, “Banyak jalan menuju Roma”, maka sekarang kita ‘plesetkan’ jadi “banyak jalan menuju cinta”. Berteman, salah satu jalannya. Yup, karena cinta itu ibarat jelangkung; datang nggak dijemput, pulang nggak dianter. Diusir pun susyeh! (backsound: ehm.. bener nih?)

 

Jaga jarak aman

Berteman, bisa juga lho jadi jembatan menuju cinta. Jangan heran, sebab frekuensi bertemu dan berhubungan jadi sering banget. Sekadar basa-basi ngobrolin pelajaran sekolah, sampe janjian untuk nomat alias nonton hemat di bioskop. Kalo udah gitu, jadi bias deh definisi teman kalo dengan lawan jenis. Berteman apa pacaran? Berteman apa demenan? Nah lho.

Sobat muda muslim, memang nggak kerasa sih kalo kita udah merasa deket banget dengan teman lawan jenis kita. Tahu-tahu… eh, lengket bak perangko. Pokoknya, kalo kita udah biasa main bareng, makan bareng, dan ke sekolah pun bareng dengan teman lawan jenis, itu artinya alarm tanda bahaya udah berbunyi. Beware! Kamu bisa berabe.

Why? Yup, karena sangat boleh jadi kondisi ini bikin kamu ketagihan untuk terus berduaan dan konek terus dengan si doi. Nggak heran kan kalo kamu akhirnya bisa tidur bareng dengan lawan jenis kamu. Upss.. Amit-amit, jangan sampe deh!

Mungkin, di antara kamu juga ada yang interupsi van protes kalo temenen nggak identik dengan pacaran, dan tentunya nggak gitu-gitu amat sampe kudu tidur bareng.

Oke, kalo kamu punya argumentasi begitu. Tapi, apa ada yang ngejamin kalo udah berduaan bakalan aman dari perbuatan ini dan itu yang lebih ‘syerem’? Apa kamu dan temanmu berani jamin bisa tahan godaan kalo udah berduaan begitu? Jangan-jangan, susyeh tuh ngebedain mana sayang, suka, simpati, empati dengan nafsu liar. Lagian, banyak juga kok faktanya yang ‘begituan’ justru karena udah saling mengenal. Hati-hati menggunakannya, eh, melakukannya. Gejlig!

Yup, seperti pernyataan dalam Hukum Coloumb yang membahas gaya elektrostatis (tarik menarik), hubungan cowok-cewek berpotensi untuk saling tertarik satu sama lain yang dibumbui perasaan cinta. Soalnya cowok ama cewek berbeda ‘muatan’, pasti saling tertarik. Karena bunyi Hukum Coloumb sendiri bahwa gaya tarik menarik antara dua buah benda (F) yang berlainan muatan (q1 dan q2) sebanding dengan konstanta (k) dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak keduanya (r). Semakin besar muatan kedua benda serta semakin pendek jaraknya, semakin besar pula gaya tarik menarik yang ditimbulkannya. Nah lho, kudu ekstra ati-ati deh.

Ketertarikan pria terhadap wanita atau sebaliknya dipengaruhi oleh “muatannya” (q), yaitu akumulasi dari faktor pendorong (q1) dan penarik (q2). Faktor pendorong berasal dari diri sendiri seperti rasa kagum, rasa suka, kesengsem, keblinger, kesepian, atau mungkin nafsu yang mengebu-gebu. Sedangkan faktor penarik berasal dari lawan jenis seperti rupa, harta, sikap, keturunan, kecerdasan dan sebagainya. Jika kedua faktor tesebut nilainya sama-sama besar, maka sudah pasti saling ketertarikan antara pria dan wanita akan bertambah besar pula.

Dalam kondisi sadar dan berada di bawah naungan rambu-rambu agama, hubungan-hubungan ini dapat melahirkan pertautan dua hati yang mengarah ke pernikahan. Ini tentu akan lebih utama lagi bila faktor pendorong semata-mata karena lillahi ta’ala dan faktor penarik berupa akhlak yang mulia atau ketaatan beribadah. Namun celakanya, dan tampaknya ini yang semakin merajalela, bahwa di luar kendali fenomena tarik-menarik antara pria dan wanita ini bisa pula mendorong timbulnya perzinahan seperti terjadinya penyelewengan, perselingkuhan, perkosaan, pelacuran, pelecehan seksual, dan bahkan seks bebas. (O. Solihin, Asmara Aktivis Dakwah, hlm. 29-32, mengutip penjelasan di www.isnet.org)

 

Jadi teman biasa aja

Berteman itu mubah alias boleh-boleh saja. Toh memang itu adalah bagian dari dinamika kehidupan kita sehari-hari. Kita akan bertemu dan berhubngan dengan lawan jenis. Di sekitar rumah, di sekolah, di tempat pengajian, di tempat kuliah, juga di tempat kerja. Semua akan kita temui. Hanya saja, kita kudu membedakan jenis dari masing-masing hubungan tersebut.

Kalo kamu gabung dengan organisasi remaja masjid, itu artinya kamu berteman dengan semua kalangan; laki-perempuan di organisasi itu. Tentunya, itu adalah teman kamu dalam pengajian. Di tempat kuliah or sekolah dan di kantor juga silakan berteman dengan lawan jenis. Asal… jaga jarak aman, dan tentunya nggak ‘spesial’. Cukup teman biasa. Kita berhubungan dan bergaul sebatas keperluan di masing-masing kondisi tersebut.

Sangat ditekankan untuk tidak saling curhat masalah pribadi. Berbahaya euy! Memang, cinta akan tumbuh saat masing-masing dari pelakunya membuka diri (apalagi kalo sampe membuka aurat—itu sih cinta berbalut nafsu liar). Jangan ada hubungan spesial kalo kamu nggak berniat untuk menikah. Meski tujuannya untuk menikah sekalipun, tetep aja ada aturan mainnya. Nggak liar. Apalagi sekadar berteman.

Nah, karena Allah Ta’ala tahu betul dengan karakter manusia (jelas dong, karena Allah adalah al-Khalik), maka ada aturan mainnya tuh hubungan di antara kedua makhluk ini. Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya (yang artinya): “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (QS an-Nûr [24]: 31)

Dalam ayat lain Allah Swt. Berfirman (yang artinya): “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS an-Nûr [24]: 30)

Dengan begitu, kita kudu mampu untuk menjaga dan mempertahankan aturan main itu sebagai tameng dalam berteman dengan lawan jenis. Sebab, banyak juga di antara teman remaja yang ngakunya berteman, eh, buktinya malah pacaran. Bilangnya temenan, eh, malah demenan. Ngakunya teman, eh teman tapi mesra. Kata Bang Napi: Waspadalah! [solihin: sholihin@gmx.net]


Blog EntryGeger "VCD Iklan Sabun Mandi" th 2002Dec 7, '07 5:46 AM
for everyone

Ngomong-ngomong soal iklan, saat ini lagi gonjang-ganjing tentang VCD casting iklan sabun mandi yang heboh diobrolin masyarakat. Korbannya sudah jelas anak puteri. Kenapa heboh? Konon kabarnya calon model yang katanya untuk iklan sabun mandi itu melaporkan kepada polisi, bahwa mereka udah ditipu pihak production house (rumah produksi). Tadinya mereka berpikir bahwa casting (pemilihan) tersebut adalah untuk jadi calon bintang iklan sabun mandi, eh, ndak tahunya ternyata malah rekaman adegan "buka-bukaan" tubuh mereka digandakan dan dijual bebas dalam bentuk VCD. Bisa didapatkan di pedagang kaki lima lagi. Ya, mirip-mirip kasus Bandung Lautan Asmara yang dulu sempat bikin heboh juga. Walah?

Kasus VCD porno casting iklan sabun mandi ini kian hari kian runyam. Bahkan VCD itu konon banyak dicari. Tapi semoga saja pembahasan ini bukan untuk semakin membuat penasaran kamu, untuk kemudian bela-belain nyari VCD-nya. Wah, jangan sampe deh. Maksud kita hanya ingin mengingatkan, jangan sampe kasus seperti ini terus dan terus terulang. Kita benci juga sama para model tersebut karena mereka rela nyari duit dengan cara yang haram, termasuk kepada pemilik rumah produksi, dan juga pengganda VCD tersebut, sekaligus menyayangkan masyarakat yang beli VCD yang bersangkutan. Pokoknya, benci tulen deh!

Sekadar tahu saja, VCD yang memamerkan 9 calon model lokal yang tengah melenggak-lenggok memamerkan tubuhnya yang-maaf-tanpa busana itu, oleh pihak berwajib dianggap sebagai salah satu bentuk VCD porno, meski konon kabarnya di dalamnya tidak ada satupun di antara model tersebut yang beradegan sedang-maaf-bergelut dengan seorang pria. Ih, jijay deh!
Lucunya, berdasarkan laporan dari situs kafegaul.com, dari 9 model tersebut, beberapa di antaranya pernah membintangi sejumlah iklan dan sinetron. Bahkan ada juga yang pernah menjadi gadis sampul sebuah majalah remaja. Mereka yang disebut-sebut terlibat dalam casting itu di antaranya Cut Nadira (18), siswi SMU Jakarta, Susi Widaningsih (14) siswi SLTP Jakarta, Helen (20), mahasiswi universitas swasta, Jakarta. Gadis ini mengaku pula sebagai model dan bintang sinetron. Lalu, Melvy Noviza (20), tamatan SMA yang mengaku sempat pula menjadi gadis sampul sebuah majalah tahun 1996, sempat membintangi beberapa sinetron, dan iklan. Reski Novita (19), yang pernah menjadi foto model kalender dan gadis sampul majalah tahun 1999, juga pernah membintangi beberapa sinetron. Kemudian Gerhana (22), seorang model, Marita (25), bintang iklan, serta Nadia (19), model dan bintang iklan produk Nature, juga sempat menjadi gadis sampul majalah.

Melvy Novita Z (20) adalah salah satu di antara sembilan orang model yang di-casting untuk iklan sabun. Ia pernah menjadi figuran di beberapa sinetron, di antaranya FTV Cinta Tak Semanis Gula dan sebuah miniseri dengan judul Duda. Ia juga pernah membintangi beberapa iklan di antaranya Biore Scrub. "Saya ini merasa sangat dirugikan dan merasa sangat terpukul. Saya tidak pernah mau menjual tubuh saya. Benar-benar ini saya tidak tahu," ungkap Melvy dengan pandangan mata berkaca-kaca. Ia merasa harga dirinya hancur karena ada gambarnya dalam video tersebut. (tabloid-citra.com)

Coba, masih muda, enerjik, dan tentunya punya tampang yang menjual dong. Sebab, kalo yang tampangnya kartu mati atawa PPD alias Pas-Pasan Deh, kayaknya cocok untuk iklan kaos. T-Shirt maksudnya? Bukan, tapi iklan kaos lampu! He..he..he.., sori sobat.

Sobat muda muslim, atas kejadian ini kita prihatin. Bukan karena mereka dijebak or ditipeng habis-habisan sama agennya. Tapi kita prihatin kenapa masih ada remaja yang mau mencari rezeki dari pekerjaan yang haram. Pun kita juga kecewa dan geram kepada para agen model, kenapa mereka masih nyari duit dengan cara yang haram. Astaghfirallah!

Siapa yang disalahkan?
Sobat muda muslim, jangan sampe kita salah memberi hukuman. Mentang-mentang para model tersebut dirugikan, lalu kita secara tanpa sadar belain mereka. Dengan alasan kasihan atau karena hak asasi manusia. Wah, itu namanya dukungan yang nggak proporsional, alias nggak pada tempatnya. Bahaya kawan.

Dalam kasus ini, semuanya bisa ditunjuk hidung. Paling nggak yang pertama adalah para model tersebut. Mengapa mereka mau menjalani profesi yang bertabur maksiat? Berikutnya adalah pemilik rumah produksi, karena mereka telah memberi peluang orang untuk berbuat maksiat. Termasuk bisa jadi masyarakat juga disalahkan. Kenapa? Karena mereka malah menjual dan membeli VCD tersebut. Padahal seharusnya ikut andil dalam memberantas peredarannya. Bukan malah menikmatinya juga. Wah, benar-benar kacau semuanya nih. Itu sebabnya, yang pantas disalahkan jadi banyak, bukan cuma pemilik rumah produksi.

Celakanya, nggak sedikit orang yang "membela" para model. Dengan alasan mereka dilanggar privasinya. Lho, apa nggak kebalik nih? Dengan mereka ikut mendaftar jadi calon model iklan tersebut berarti mereka udah rela diapain aja dong, termasuk disuruh pamer aurat.

Tapi anehnya, sikap kecewa, geram, dan dongkol dari 9 calon model yang ikutan casting iklan sabun mandi itu, adalah karena adegan "buka-bukaan" yang dilakukannya 'disalahgunakan' pihak rumah produksinya, yakni digandakan dan dijual bebas dalam bentuk VCD. Apalagi pihak kepolisian kemudian menggolongkan ke dalam VCD porno. Nah lho, kok bisa?

Barangkali akan lain ceritanya kalo benar-benar casting tersebut dibuat untuk iklan sabun mandi, apalagi merek terkenal. Rasanya mereka nggak bakalan protes tuh. Yakin deh, walaupun pada akhirnya tubuh mereka sama-sama 'dinikmati' banyak pemirsa televisi misalnya. Padahal, itu kan sama-sama jual tubuh. Iya nggak? Wah, ini logikanya gimana sih? Kasiaan deh. Jadi apa bedanya? Keduanya sama-sama bejat. Dan seharusnya mereka juga udah paham risikonya dong. Bahwa yang namanya casting untuk model iklan sabun mandi pastinya kudu melakukan adegan "buka-bukaan" pakaian. Berarti kan udah rela untuk diapain aja. Iya nggak? Mengapa musti protes? Cuma mungkin lebih 'sopan' kali ye, karena bisa tampil mengiklankan produk sabun mandi merek terkenal, ketimbang dijajakan di VCD porno. Logikanya kok aneh ya?

Tambah ribet lagi karena kita saat ini hidup dalam sistem kehidupan kapitalisme. Dalam sistem kehidupan ini, kita dididik dengan gaya hidup yang permisif (serba boleh) dan hedonis (memuja kenikmatan jasmani dan materi belaka). Dua gaya hidup ini paling nggak sudah mendarah-daging dalam kehidupan kita. Dengan demikian, yang patut disalahkan adalah negara, masyarakat dan terakhir individu. Untuk mengubah kondisi ini, juga dibutuhkan pembenahan dari ketiga komponen tersebut. Dan itu hanya bisa diubah dengan syariat Islam. Jadi mulai sekarang kita dukung dan perjuangkan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh.

Mengapa jadi model?
Kayaknya kalo diajukan pertanyaan macam begini, nyaris bisa dipastikan jawabannya seragam; yakni untuk nyari popularitas, dan tentunya tujuan akhirnya mengeruk banyak duit. Siapa tahu berawal dari model, tawaran untuk jadi bintang iklan dan sinetron bejibun. Jadi, siapa yang nggak mau hidup enak kayak begitu? Dan siapa pula yang nggak tergiur dengan dunia yang kerlap-kerlip seperti itu? Banyak kasus memang. Dessy Ratnasari misalnya, bisa tenar jadi bintang sinetron berangkat dari dunia model. Dulu, Teh Dessy ini pernah jadi gadis sampul di majalah GADIS. Dari situ tawaran iklan dan main film antri. Banyak duit dong? Betul, ya ngetop, ya tajir.

Tapi nggak semua orang beruntung, lho mengadu nasib di dunia model. Maklum banyak saingan. Ketatnya persaingan acapkali membuat sebagian besar calon model rela diapain aja. Celakanya kalo sampe 'dikerjain' pihak pencari bakatnya (agen). Bisa berabe kan? Tapi bagi yang masih berpikir waras demi menjaga kehormatan barangkali nyesel dan gondok banget. Tapi bagi remaja puteri yang cuek dan punya prinsip "Biar tekor asal kesohor", kayaknya enjoy aja tuh. Biarin nggak dipajang sebagai sampul majalah, dipasang jadi sampul rapot or sampul "Surat Yasin" yang dibagiin pas 40 hari wafat pun mau. Lho?

Udah jadi rahasia umum kalo dunia model bisa menjadi jalan pintas untuk tenar dan sekaligus gampang nyari duit. Remaja puteri yang punya tampang sedikit di bawah J. Lo (Jennifer Lopez), kayaknya udah bisa lolos jadi model iklan tuh. Maklum, berdasarkan kesepakatan umum, tampang kayak begitu menjual banget. Maka kalo udah lulus jadi model, siap-siaplah tenar dan peluang nyari duit semakin cerah. Bukan apa-apa, tawaran jadi bintang sinetron atawa bintang iklan kian terbuka lebar. Jadi kian jelas, bahwa tujuan teman-teman remaja puteri yang terjun sebagai model adalah untuk mencari ketenaran dan uang.
Sobat muda muslim, tapi rasanya sedih banget denger dan baca cerita tentang teman-teman remaja puteri yang mengadu nasib jadi model iklan atau bintang sinetron. Bener. Rasanya kok aneh ya, apa yang mereka cari? Kalo kesenangan yang dicari mengapa harus mengorbankan harga diri? Bukankah itu juga adalah sebuah bentuk kerugian besar. Aneh memang. Inilah alasn yang nggak bisa kita terima.

Taubatlah
Sobat muda muslim, khususnya bagi teman remaja puteri yang sudah terlanjur meniti karir jadi model, atau yang akan menjadi model, atau yang bercita-cita jadi model, sadarlah. Jalan yang sedang kamu tempuh itu banyak peluang untuk berbuat maksiat. Pekerjaan seperti itu haram ditekuni seorang muslimah.

Bagi yang masih sekadar bercita-cita, urungkan lagi cita-cita kamu dan ubahlah dengan cita-cita yang baik dan halal. Mumpung belum terlambat. Bagi yang sudah melangkah ke dunia itu, dan boleh dibilang jadi model, meski kelas amatiran, segeralah sadar. Nggak usah diterusin menjalani profesi yang dekat dengan kemaksiatan tersebut. Nggak baik. Masih banyak waktu untuk mencari jenis pekerjaan yang halal. Kalo pun kamu mau sekolah lagi, itu juga baik. Rajin belajar dan semangat mencari ilmu, untuk bekal kehidupan di dunia dan di akhirat.

Nah, bagi teman remaja yang sudah kepalang basah, alias udah terlanjur jadi model, dan ngetop lagi. Ingat, itu nggak jadi jaminan kalo kamu terus kepake dan banyak disuka. Kamu bakalan tua, kulit keriput, dan nggak laku lagi. Atau malah sebelum usia kamu bertambah tua, ajal sudah datang duluan menjemput kamu. Sementara kamu masih bergelimang dalam kemaksiatan. Apa yang mau dibawa sebagai bekal di akhirat kelak? Aduh, jangan sampe deh.

Sobat muda muslim, masih ada waktu untuk berubah. Tentu, selama kita masih diberikan hidup oleh Allah Swt. Jadi manfaatkan kesempatan hidup ini. Sebab, kita juga nggak tahu kapan kematian itu akan menjemput kita. Oke, mulai dari sekarang benahi kehidupan kita. Jangan ditunda-tunda lagi. Sebab, kalo nggak dimulai dari kita sendiri, siapa lagi? Allah Swt. menyebutkan dalam firman-Nya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (TQS ar-Ra'd [13]: 11)

Sobat muda muslim, kalo pun kebahagian yang dicari dan didapat oleh teman-teman remaja puteri yang jadi model, tapi sebenarnya itu adalah kebahagiaan semu semata. Bagi kita, kaum muslim, makna kebahagiaan adalah tercapainya ridho Allah, bukan dengan banyaknya harta kekayaan atau popularitas. Sebab percuma aja banyak harta dan ngetop, tapi Allah nggak ridho karena kita nyari rizki dari jalan yang diharamkan oleh Allah. Iya nggak?

Oke deh, mulai saat ini, dekati teman kamu yang udah sholehah, terus minta pengajian kepada mereka secara intensif. Pelajari Islam dengan serius dan benar. Insya Allah, dengan begitu kamu bisa menjadi generasi muda yang selamat di dunia dan di akhirat. Kita bukan sok suci lho, tapi ngingetin kamu. Setuju kan?

Edisi 102/Tahun ke-3 (17 Juni 2002)


Blog EntryPermisivisme ala Angin MalamDec 7, '07 5:34 AM
for everyone
Dewi Hughes, presenter bertubuh subur dengan gayanya yang khas kerap muncul membawakan acara Angin Malam-nya RCTI. Sebuah acara yang dikemas secara live dengan tema-tema yang sedikit nyerempet (mobil kali?). Maksudnya tema-tema yang kerap dihadirkan nggak jauh dari urusan perilaku seksual atau yang bernuansa seks.

Biasanya, acara yang ditayangkan tiap hari Sabtu jam setengah dua belas malam ini menghadirkan narasumber dari kalangan psikolog. Sebab, acara ini emang banyak menyoroti perilaku manusia. Kemudian sebagai tamunya, biasanya dari kalangan seleb yang udah beken di kalangan pemirsa.

Tema acara sebenarnya menarik, dan awalnya mungkin ditujukan untuk membahas persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan di masyarakat. Namun sayangnya tidak diikuti dengan pesan dan penyelesaian yang benar. Soalnya, acara yang disiarkan langsung dari lantai 6 Hotel Indonesia ini tidak memberikan solusi apa pun di akhir acaranya.

Celakanya lagi, acara ini seperti diset untuk melegalkan aktivitas yang sedang dibahas. Buktinya, meskipun selalu menghadirkan narasumber, namun pemirsa sengaja “diikat” pikirannya untuk menerima kesimpulan apa adanya. Malah Hughes wanti-wanti banget supaya pemirsa yang akan memberikan saran nggak boleh menurut aturan agama alias jangan menilai dari sudut pandang agama. Wah, gimana urusannya?

Nah, itulah parahnya, acara ini nggak ada bedanya dengan legalisasi atas kerusakan. Kenapa? Soalnya, tema yang diusung sebetulnya menarik bila kemudian dikritisi dengan pandangan agama, khususnya Islam. Tapi yang terjadi kan nggak. Jelas ini bermasalah. Sebab, tema yang dihadirkannya menyangkut problem kehidupan. Kalo agama nggak boleh mensikapi, lalu buat apa ngebahas masalah tersebut? Iya nggak? Padahal, obrolan itu dalam rangka mensikapi perilaku yang menyimpang. Misalkan, pernah mengangkat tema transeksual (“pindah” jenis kelamin) dan  homoseksual (gay dan lesbian). Dalam pandangan Islam, tentu saja ini tidak dibenarkan, sebab itu termasuk aktivitas yang melanggar syariat dan jelas ada sanksinya bagi yang melakukan perbuatan tersebut.

Contoh kasus, pada penayangan tanggal 5 Mei 2001, dibahas tentang homoseksual, khususnya lesbian. Dengan narasumber dari psikolog, bintang tamunya Ersa Mayori dan Cut Mini. Setelah ngomong ngalor-ngidul seputar lesbian ini, kesimpulannya diserahkan kepada masing-masing individu (baca: pemirsa). Alasannya, faktanya sudah ada dan banyak yang melakukannya. Kalo pun masyarakat sampai saat ini tidak bisa menerima kehadiran dari penyimpangan seksual itu, disarankan bagi yang merasa “mengidap” homoseksual untuk tidak mengeksposnya. Maksudnya jangan terang-terangan. Wah, inilah jadinya bila urusan kehidupan diserahkan kepada manusia. Berantakan, Brur! Padahal dalam pandangan Islam, kasus homoseksual ini kudu diberi sanksi karena melanggar syariat (lengkapnya kamu baca kembali Studia edisi 022/Tahun I).

Sampah dong acara itu? Bolehlah kita bilang begitu. Sebab, lucu dan menggelikan tentunya. Suer, naif banget kan bila kita bicara kriminalitas, tapi nggak boleh bicara hukum? Itu namanya orang yang punya masalah tapi nggak mau menyelesaikan dengan tuntas. Dengan begitu, yang dicari bukan kebenaran, tapi pembenaran dari masalah yang sedang dibahas. Heran, kenapa bisa begitu, ya? Brur, alasannya, kerap kali orang jaman sekarang ini menggunakan tameng HAM alias Hak Asasi Manusia untuk melegalkan aktivitas bejatnya. Wah, wah, wah, amburadul banget.

HAM: Senjata untuk maksiat
Sadis banget nuduh begitu? Kita nggak nuduh, Non. Soalnya, faktanya kan emang begitu. Remaja sekarang, udah pandai berdalih untuk urusan gaya hidupnya. Itu emang nggak lepas dari pola kehidupan yang sudah menjasad dalam dirinya. Bayangin, dari mulai kita melek sampai saat ini, kita terbiasa hidup dengan aturan Kapitalisme yang dominan banget dalam kehidupan kita. Seolah kita nggak punya pilihan lain dalam mengatur kehidupan ini. Walhasil, bagi yang pikirannya buntu, udah aja menelan mentah-mentah aturan dalam kehidupan ini. Tapi bagi yang sedikit kritis namun bokek dalam urusan keimanan dan ketakwaan, awalnya bisa jadi doi risih juga, tapi karena nggak ada pilihan, akhirnya mau juga. Ibarat kita masuk WC, awalnya kan misuh-misuh juga dengan baunya yang bikin enek, tapi karena butuh, akhirnya tiap hari didatengin. Iya nggak?

Ngomong-ngomong soal HAM, kita perlu membongkar apa sih yang diinginkan dari pembuatnya? Kamu wajib tahu juga dong. Dalam pandangan sistem Kapitalisme, yakni sistem yang berlandaskan pemisahan antara agama dengan politik (kehidupan), hak individu sangat dijunjung tinggi, bahkan oleh negara sekalipun. Seseorang dibiarkan untuk melakukan apa saja. Permisif alias serba boleh banget. Pokoknya terserah berbuat apa pun sesuka hatinya. Dan itu nggak ada sanksinya, kecuali bila tindakannya merugikan orang lain.

Kok bisa begitu ya? Kamu jangan heran bin aneh, sebab sistem ini ”yang sekarang mengatur kehidupan kita” memang buatan manusia. Bayangin aja, masak agama dipisahkan dari politik (kehidupan). Ini jelas nggak wajar. Itu artinya, agama nggak boleh mengurusi problem kehidupan manusia. Dengan kata lain agama nggak boleh ikut campur dalam menata kehidupan. Itu sebabnya, agama cukup diterapkan oleh individu sebatas urusan ibadah ritual. Untuk masalah sosial, ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, peradilan, dan hukum diserahkan kepada penguasa dengan aturan buatan manusia. Inilah jalan kompromi yang kemudian melahirkan sistem rusak ini.

Brur, ada empat ide pokok dalam HAM. Semuanya bicara tentang kebebasan.

Pertama, kebebasan berakidah (beragama). Nah, ide ini menurut pembuatnya, menyatakan bahwa setiap orang boleh memilih untuk beragama atau tidak. Kemudian, boleh juga berpindah-pindah agama sesuka hatinya. Kacaunya lagi mereka menggunakan ayat al-Quran seperti, firman Allah Swt.:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);” (QS al-Baqarah [2]: 256)

Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan berbuat demikian. Dan sebenarnya ayat tersebut tidak bisa digunakan sebagai dalil untuk beragama atau tidak. Karena ayat itu ditujukan kepada orang-orang kafir. Mereka tidak dipaksa untuk masuk Islam. Tapi bila seseorang sudah masuk Islam, maka ia harus tunduk dan patuh pada aturan Islam, termasuk tidak dibenarkan keluar dari Islam. Sabda Rasulullah saw.: Siapa saja yang mengganti agama (Islam)-nya, maka bunuhlah dia. (HR, Ahmad, Bukhari, Muslim, Asshhabus Sunnan)

Nah, kalo sekarang? Pindah agama aja nggak dipersoalkan. Jangankan gitu, seorang muslim pun gaya hidupnya sudah tidak mencirikan identitas islami lagi. Kacau kan? Inilah rusaknya HAM. Mentang-mentang atas nama HAM, akhirnya boleh berbuat sesukanya. Nggak peduli kalo itu bertentangan dengan Islam.

Kedua, ide kebebasan berpendapat. Dalam pandangan sistem kapitalisme, itu berarti setiap orang boleh ngomong apa saja dan dari sudut pandang apa saja. Bebas merdeka untuk ngomong atau ngelakuin sesukanya, nggak boleh ada yang ngerecokin. Nafsi-nafsi alias individualis.

Namun meski demikian, ini sering terjadi anomali alias keanehan. Buktinya dalam kasus “Angin Malam” ini, meski katanya demokratis, tapi kita nggak boleh berpendapat atas nama agama. Ya, itulah salah satu anomali demokrasi yang emang bobrok bin bejat. Oya, demokrasi itu sendiri adalah cara mereka bernegara atau istilah kerennya demokrasi adalah format politik standar dari sistem Kapitalisme dalam mengatur pemerintahannya.

Ketiga, kebebasan bertingkah laku. Nah, ini dia. Kebebasan bertingkah laku ini udah amat tertanam dalam perilaku kaum Muslim, terutama remajanya. Buktinya, kita sering menyaksikan teman-temen remaja yang udah nggak peduli lagi dengan aturan agama. Contohnya, dalam urusan makanan aja teman remaja kadang ada yang nggak peduli dengan halal dan haramnya. Main gares aja. Begitu pun dengan dandanan, sebagian besar remaja memilih pakaian sesuai seleranya. Nggak peduli syariat Islam, yang penting modis dan trendi. Liat aja, banyak remaja putri Islam yang udah putus urat malunya dengan berdandan ala kadarnya; bikini, tang-top, swimsuit, dan model dandanan yang memberikan peluang kaum Adam untuk ngejailin.

Nah, termasuk dalam urusan tingkah laku ini adalah kasus gay dan lesbian. Orang mau jadi gay, lesbi, pelacur, bandit, perampok, atau mau selingkuh nggak boleh ada yang ngerecokin, terutama dilarang keras bicara atas nama agama untuk mensikapi persoalan ini. Ya, seperti format acara Angin Malam itu. Masalah dibiarkan mengalir tanpa ada penyelesaian. Dan agama terlarang untuk ikut campur dalam persoalan ini. Rusak berat kan, Brur?

Keempat, adalah kebebasan pemilikan. Ini juga sangat berbahaya, Non. Kalo kamu merhatiin masalah di sekitar kehidupan kamu, pasti bakal geleng-geleng kepala (bukan triping, lho). Kenapa? Kamu tahu hutan kan? Nah, hutan dalam pandangan Islam adalah milik umum yang dikelola oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Namun apa yang terjadi? Ternyata hutan udah dikavling-kavling untuk para konglomerat. Salah satunya si “Raja Hutan” Bob Hasan yang kini jadi warga Nusakambangan.

Untuk persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan kamu, bisa ambil contoh tentang kebebasan orang untuk memiliki harta. Masih segar dalam ingatan kita, beberapa minggu yang lalu ada sekelompok pelajar Jakarta yang membajak bis dan menodong penumpangnya serta menguras harta benda mereka. Terus, judi kecil-kecilan juga kerap dilakukan sebagian besar temen remaja. Padahal, judi itu kan termasuk cara mencari harta dari jalan yang nggak bener. Tentu aja harta yang dimilikinya jadi haram. Dan itu emang dilarang dalam Islam.

Inilah rusaknya HAM sobat. Makanya nggak salah-salah amat kan kalo kita bilang bahwa HAM adalah senjata untuk berbuat maksiat. Soalnya, banyak temen-temen remaja ketika berbuat bejat berlindung di balik HAM. Terus terang kita prihatin banget dengan kejadian ini. Lalu apa yang bakal kita perbuat?

Bertahan dan menyerang
Idih, kayak strategi sepak bola aja? Brur, emang ini yang kudu kita lakukan. Bertahan artinya, jangan mudah tergoda dengan paham ini. Soalnya gimana pun juga, permisivisme alias paham serba boleh dalam berbuat jelas merupakan ide yang bertentangan dengan Islam. Sebab Islam mewajibkan bagi setiap Muslim untuk terikat dengan syariat Islam ketika berbuat. Nah, berarti bertahan di sini maksudnya adalah tidak kepincut untuk melakukan perbuatan maksiat. Caranya gimana?

Oke, kamu kudu mengisi pikiran dan perasaan kamu dengan ajaran Islam. Teknisnya, kamu kudu sering bergaul dengan segala bentuk produk Islam. Bisa dari bacaan, artinya kamu kudu sering baca media Islam, contoh buletin kesayangan kita ini (nggak nyombong, lho). Terus kamu juga deketin tuh temen-temen yang emang udah duluan kenal Islam, kuras semua ilmu dalam dirinya. Selain itu, kamu juga bisa aktif hadir di acara yang bertemakan Islam; entah seminar, pengajian umum, atau di majlis taklim dan masjid. Dan sebagai patokannya, kamu jangan memahami Islam sekadar informasi belaka, tapi kamu kudu jadikan Islam sebagai pemahaman. Artinya, Islam bukan sekadar teori belaka, tapi ada aspek amaliahnya. Bahasa kerennya, Islam kudu dipahami sebagai akidah dan syariat alias ideologi. Sekali lagi, ideologi.

Insya Allah dengan taktik ini, kita bisa bertahan dari godaan paham permisivisme ini. Tapi ingat kawan, bertahan juga ada batasnya. Lama-lama bisa berantakan kalo terus-terusan dibombardir. Iya nggak? Itu sebabnya ada taktik untuk menyerang juga. Kita harus melawan paham ini. Caranya? Kita pahami dulu setiap ide yang berkembang di tengah masyarakat dengan kunti alias tekun dan teliti, lalu kita sikapi dengan sudut pandang Islam. Kalo ide itu rusak, ya kita serang. Sekuat kemampuan kita.

Inilah yang termasuk amar makruf nahyi mungkar. Rasulullah bersabda:"Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka dia hendaklah mencegah kemungkaran itu dengan tangannya, yakni dengan kekuasaannya. Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman” (HR. Bukhari- Muslim. CD-al-Bayan hadits no. 32)

Oya, karena masalahnya besar, maka nggak bisa dong kita berjuang sendiri-sendiri. Harus berjamaah dan kompak. Sebab, percuma banyak juga kalo jalan masing-masing. Bisa malah tambah berabe. Iya nggak?

Itu sebabnya kita harus menggalang kekuatan dalam melawannya. Inget, Brur, ide permisivisme ini bukan hanya ditebar lewat acara Angin Malam aja, tapi udah banyak di acara lain, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita udah sering menjumpainya. Duh, merana banget hidup dalam sistem Kapitalisme ya? Jelas. Oleh karena itu, mari kita perjuangkan penerapan Islam sebagai akidah dan syariat.

Dengan begitu, paham serba boleh (permisivisme) ini nggak bakalan ada lagi dalam kehidupan kita. Negara akan memberangusnya tanpa ampun. Akhirnya, hanya Islam yang jadi patokan dalam kehidupan kita. Beres!

(Buletin Studia - No.050/Tahun 2)


Blog EntryIslam, Ya Islam!Dec 7, '07 5:30 AM
for everyone
Edisi 221/Tahun ke-5 (6 Desember 2004)

Bukan sulap bukan sihir. Jangan pula kaget, apalagi sutris kalo akhir-akhir
ini banyak yang benci sama Islam. Kalo dia musuh Islam, ya wajar aja. Tapi
mungkin rada-rada terkejut kalo yang nggak suka sama Islam justru kaum
muslimin itu sendiri. Ada yang nekatz bikin tafsir baru tentang ayat-ayat
yang ada di al-Quran, ada pula yang tega menyebutkan bahwa Islam nggak
berpihak pada wanita dengan adanya hukum poligami, yang menurut
pengkritiknya, menyengsarakan kaum wanita. Malah, nggak sedikit yang
kemudian memodifikasi Islam dengan ajaran lainnya, maka muncul istilah Islam
liberal, Islam moderat untuk menandingi istilah yang mereka buat sendiri,
yakni Islam fundamentalis, Islam radikal, Islam garis keras dsb. Waduh!

Ehm, saya nggak bermaksud memprovokasi supaya kamu jadi beringas, pasang
muka garang, tangan mengepal siap melayangkan bogem mentah kepada mereka
yang mulai mempertanyakan kebenaran Islam. Nggak, di buletin ini saya cuma
ingin ngajak kamu belajar, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam.

Tenang aja. Nggak gerasak-gerusuk kayak orang mo kebelet pipis. Pikiran
tenang, hati jernih, insya Allah bisa ngendaliin keadaan. Jadinya, kita juga
bisa melawan setiap upaya penghancuran ajaran Islam dengan kajian yang
mencerdaskan pula. Paling nggak, kita ngasih jawaban yang berasal dari
ajaran Islam. Bukan dari yang lain. Sebab, kalo dilawan dengan hawa nafsu
juga akibatnya bisa fatal banget.

Kita pengen coba bahas sedikit kenapa masih ada yang meragukan ajaran Islam.
Padahal, Islam emang beda! Beda ama agama mana pun dan emang nggak bisa
disamain dengan ideologi mana pun. Makanya banyak yang nyesek kalo Islam
sampe kembali memimpin dunia ini. Panas dingin deh. Kenapa? Karena pasti
akan menjadi pesaing utama ideologi yang ada, khususnya Kapitalisme.
Jadinya, setiap ada usaha kaum muslimin untuk memurnikan ajaran Islam, pasti
deh dikecam, pasti tuh dicemooh, bahkan dengan sadis bilang kalo
Islam tuh ngajarin terorisme. O..ow! (nggak salah nuduh nih?)

Sobat muda muslim, jangan dulu begidik tanda nggak suka dengan bahasan kita
kali ini, jangan pula langsung melempar buletin ini ke tempat sampah. Sebab,
di sini saya janji nggak bakalan ngedoktrin kamu dengan cara menggurui
(apalagi menghakimi). Nggak. Tapi saya coba ngajak kamu berpikir, berusaha
menuntun kamu dengan ngajak ngobrol asyik soal yang katanya berat-berat itu.
Setuju kan?


Ketika Islam dipertanyakan

Rasa-rasanya emang aneh. Tapi beginilah kenyataannya. Kamu pasti udah denger
dong soal KHI alias Kompilasi Hukum Islam? Yup, counter legal draft KHI ini
udah bikin geger. Kenapa? Soalnya, draft yang disusun oleh Tim
Pengarusutamaan Gender bentukan Depag ini ganjil banget (makhluk ganjil
dong?). Disebutkan bahwa poligami dilarang. Perkawinan beda agama malah
disahkan. Kawin kontrak diizinkan. Pembagian waris antara laki dan perempuan
harus sama dan sebanding. Udah gitu, ngasih batas perkawinan minimal 19
tahun. Laki-laki, sebagaimana umumnya perempuan—juga memiliki masa
‘iddah (misalnya kalo udah cerai kudu menanti sekian bulan untuk bisa
menikah lagi), seorang gadis boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa walinya
(padahal yang benar hal itu cuma berlaku untuk para janda). Walah!

Sobat muda muslim, kalo diusut-usut (tapi nggak sampe kusut lho), ternyata
draft KHI ini disusun berdasarkan empat pendekatan: gender, pluralisme, hak
asasi manusia dan demokrasi. Heuheu... pantes aja kacau-beliau. Karena semua
itu tidak saja bertentangan dengan Islam, tapi juga menentang Islam. Jadi,
memang nggak bakalan bisa nyetel untuk ngatur Islam, tapi aturannya dari
luar Islam. Ibarat mo bikin sayur lodeh kok pake resep bumbu untuk sop?
Nggak nyetel tuh!

Kalo menurut Pak Adian Husaini, salah seorang anggota MUI, “Menyimak
dasar pijakan penyusunan draft KHI, sebenarnya pola pikir yang mendasari tim
penyusun bukanlah pola pikir yang berkembang dalam tradisi Islam.
Epistimologi atau metodologi penafsiran al-Quran dan Sunnah yang digunakan
bukanlah metodologi penafsiran yang digunakan kaum muslimin selama ini.
Mereka lebih suka meminjam metodologi hermeneutis. Mereka lebih percaya
kepada Paul Ricour, Ferdinand de Saussure, Emmilio Betti, Michel Foucault,
Antonio Gramsci, John Hick, Wilfred Cantwell Smith, dan teman-temannya,
ketimbang percaya kepada Imam as-Syafi’i atau al-Ghazali.”
(Sabili, No. 8 Th. XII 5 Nopember 2004)

Ambil contoh soal larangan poligami yang termuat dalam draft KHI tersebut,
“Asas perkawinan adalah monogami. Perkawinan di luar itu harus
dinyatakan batal secara hukum (pasal 3 ayat 2)”

Aneh banget deh, sesuatu yang dimubahkan Allah malah mereka larang, tapi
yang udah jelas haramnya malah didiamkan atau bahkan didukung, seperti
pasal-pasal yang membolehkan perjanjian perkawinan dalam jangka waktu
tertentu dan perkawaninan beda agama. Kacau euy, padahal Allah telah
menghalalkan poligami sebagai solusi atas suatu permasalahan, bukan untuk
membuat permasalahan baru. Allah Swt. berfirman: “Jika kalian takut
tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana
kalian mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kalian
senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat
berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (QS an-Nisa’ [4]:
3)

Tujuan ayat tersebut adalah membatasi jumlah isteri maksimal empat, karena
sebelum turunnya ayat ini, jumlah wanita yang boleh diperisteri tidak ada
batasannya. Dalilnya antara lain hadis Ghaylan bin Salamah ra, yang telah
masuk Islam dan dia mempunyai sepuluh isteri, lalu mereka masuk Islam
bersama Ghaylan. Maka Nabi saw. memerintahkan Ghaylan untuk memilih empat
orang di antara mereka. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Jadi, poligami jelas adalah sesuatu yang halal. Bukan sesuatu yang haram.
Lalu, atas dasar apa mereka berani melarang sesuatu yang telah dihalalkan
Allah?

Sobat muda muslim, belum lagi soal perkawinan beda agama, “Perkawinan
beda agama boleh” (pasal 54). Idih, nekatz banget bilang boleh,
padahal Allah menjelaskan dalam firmanNya: “Janganlah kalian menikahi
wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang
Mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hati kalian.
Janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita
Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik
daripada orang-orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian.” (QS
al-Baqarah [2]: 221)

Ini dua contoh pasal ganjil di draft KHI tersebut, kalo dirunut semua, nggak
cukup di buletin ini. Tapi intinya, draft itu dibuat memang untuk melawan
Islam.


Islam for All

Tolong, jangan ragukan Islam. Jangan coba-coba ngobrolin Islam dan membahas
aturannya dari kacamata ajaran lain. Apalagi sampe memasukkan ajaran dari
ideologi dan agama lain. Itu namanya nyari perkara. Bukan beresin masalah,
tapi bikin masalah tuh.

Justru sebaliknya kita pegang erat-erat ajaran Islam, pahami, dan amalkan.
Biar siapa pun tahu bahwa Islam memang rahmat bagi seluruh alam. Nggak cuma
untuk kaum muslimin aja. Kehadirannya bisa dirasakan dan menyelamatkan
kehidupan manusia. Tapi, kalo sekarang ada segolongan aja dari kaum muslimin
yang memasukkan ‘virus’ pemikiran asing ke dalam ajaran Islam,
mana mungkin Islam bisa disebut rahmat bagi seluruh alam. Tul nggak? Entar
malah orang-orang yang nggak suka dengan Islam makin sebel aja ngelihat
“kekacauan” yang kini terjadi di antara kita.

Beginilah kalo Islam nggak diterapkan sebagai ideologi negara. Banyak
masalah muncul (termasuk soal KHI ini), dan jelas itu membuat imej bahwa
Islam bukan lagi menjadi rahmat bagi seluruh alam, tapi menjadi bahaya bagi
seluruh alam. Gawat banget kan? Padahal, jika Islam diterapkan sebagai
ideologi negara, paling nggak ada delapan aspek dalam kehidupan luhur
masyarakat manusia yang akan dipelihara, yaitu (lihat Muhammad Husain
Abdullah, Dirasat fil Fikri al Islami, 1990, hlm. 61):

Memelihara keturunan, yakni dengan mensyariatkan nikah dan mengharamkan
perzinaan, serta menetapkan berbagai sanksi hukum terhadap para pelaku
perzinaan itu, baik hukum jilid maupun rajam.

Memelihara akal, yakni dengan mencegah dan melarang dengan tegas segala
perkara yang merusak akal seperti minuman keras (muskir) dan narkoba
(muftir) serta menetapkan sanksi hukum terhadap para pelakunya.

Memelihara kehormatan, yakni dengan melarang orang menuduh zina, mengolok,
menggibah, melakukan tindakan mata-mata, dan menetapkan sanksi-saksi hukum
bagi para pelakunya.

Memelihara jiwa manusia, yakni dengan menetapkan sanksi hukuman mati bagi
orang yang telah membunuh tanpa hak, dan menjadikan hikmah dari hukuman itu
(qishash) adalah untuk memelihara kehidupan (coba deh lihat QS al-Baqarah
[2]: 179). Kalaupun tidak dikenai hukum Qishash, yang berlaku adalah hukum
diat. Yakni, keluarga korban berhak atas ganti rugi yang wajib diberikan
pihak keluarga pembunuh sebesar 1000 dinar (4250 gram emas) atau 100 ekor
onta atau 200 ekor sapi.

Memelihara harta, yakni dengan menetapkan sanksi hukum terhadap tindakan
pencurian dengan hukuman potong tangan yang akan mencegah manusia dari
tindakan menjarah harta orang lain. Demikian pula peraturan pengampunan
(hijr), yakni pencabutan hak mengelola harta bagi orang-orang bodoh dengan
menetapkan wali yang akan memelihara harta yang bersangkutan Islam juga
melarang tindakan belanja berlebihan, yakni belanja pada perkara haram.
Memelihara agama, yakni dengan melarang murtad serta menetapkan sanksi
hukuman mati bagi pelakunya jika tidak mau bertobat kembali kepangkuan
Islam. Sekalipun demikian, Islam tidak memaksa orang untuk masuk Islam
(lihat deh QS al-Baqarah [2]: 256).

Memelihara keamanan, yakni dengan menetapkan hukuman berat sekali bagi
mereka yang mengganggu keamanan masyarakat, misalnya dengan memberikan
sanksi hukum potong tangan plus kaki secara silang serta hukuman mati dan
disalib bagi para pembegal jalanan (lihat: QS al-Maidah [5]: 33). Hukum
syariat demikian diberikan kepada semua warga negara, baik muslim atau
nonmuslim tanpa diskriminatif.

Memelihara negara, yakni dengan menjaga kesatuannya dan melarang orang atau
kelompok orang melakukan pemberontakan (bughat) dengan mengangkat senjata
melawan negara.

Oke deh, setiap hukum Islam bila diterapkan akan menghasilkan ketenangan
seperti itu. Kesemuanya itu akan dirasakan dan menjadi hak setiap orang yang
tunduk kepada aturan syariat Islam tersebut, baik muslim ataupun bukan.
Dengan demikian, melalui penerapan syariat Islam secara total kemaslahatan
akan dirasakan oleh semua umat manusia. Islam emang for all.
So, kurang apalagi? Selain kitanya yang emang kurang berjuang. Yuk, berjuang
untuk Islam. Jangan menghancurkannya! [solihin]

Blog EntryApa Warisan Rasulullah saw.?Dec 7, '07 5:24 AM
for everyone

STUDIA Edisi 354/Tahun ke-8 (13 Agustus 2007)

 

 

Selamat! Kamu mendapat warisan Rp 1 miliar!” Waaaah, pasti kamu nggak percaya kalo dapat kabar seperti ini. Menganggap lagi mimpi dan buru-buru pengen cepat bangun. Kenapa nggak percaya? Karena duit segitu tuh banyak banget. Nggak nyangka aja bakalan dapetin warisan, gitu lho. Tapi kalo emang itu adalah kenyataan, ya terima saja. Kali aja dirimu jadi ahli waris dari ortumu yang ngedadak kaya karena dapet undian, terus saking kagetnya meninggal. Jadi deh kamu ahli warisnya. Siapa tahu kan? Ih, tapi amit-amit deh dapetin duit banyak juga kalo harus kehilangan ortu mah. Tul nggak?

Tapi intinya, mendapatkan warisan tuh senang. Apalagi sebanyak itu pasti senangnya berlipat-lipat banget kan? Pasti gembira sekali. Hmm..