SaaTnYa kHiLaFaH MEmimPiN DuNiA...!!!


Down-Down USA...Rise-Rise Khilafah!!!

indra's posts with tag: buletin gaul islam

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buletin gaul islam
Blog Entry“Cuma Islam di Hati Gue”Jun 11, '08 8:22 AM
for everyone
Add to Technorati Favorites

edisi 033/tahun I (5 Jumadits Tsaaniy 1429 H/9 Juni 2008)

Kamu yang doyan ngelahap berita pasti tahu dong kasus “Insiden Monas” pada tanggal 1 Juni 2008 lalu? Yup, kasus itu berupa main “timpuk-timpukan” antara ormas Islam dengan para pendukung ormas yang menentang Islam. Sebut aja deh namanya, massa FPI (Front Pembela Islam) yang merupakan salah satu elemen dari Laskar Islam versus massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan).

Peristiwa itu disebarluaskan oleh media massa. Emang sih, ada media massa yang terlalu berat sebelah alias memihak salah satu, terutama kepada AKKBB yang katanya berada pada pihak yang menjadi korban ?kekerasan’ FPI. Maka, media sekelas Koran Tempo aja bisa salah nulis berita (kesalahan atau kesengajaan?). Meski demikian, nggak sedikit juga media massa yang menampilkan komentar berbagai kalangan yang menilai bahwa “tak ada asap jika tak ada api”. Artinya, ?penyerangan’ FPI kepada massa AKKBB bukan asal pentung aja, tapi ada sebabnya.

Apa sebabnya? Menurut penelusuran gaulislam di berbagai media massa (televisi, koran, dan internet), ternyata massa AKKBB inilah yang pertama kali bikin provokasi, bahkan menggalang dukungan dari berbagai pihak dan mengiiklankan kegiatannya di beberapa media massa nasional dengan nada “menantang”. Mereka bahkan merasa berada paling depan dalam menyerukan pembelaan dan dukungannya kepada jamaah Ahmadiyah yang udah dinilai sesat oleh Islam. Jelas, ini kan aneh bin ajaib dan tentu nantangin banget. Maka, mendukung jamaah atau organisasi yang sudah jelas dilarang dan dinyatakan sesat dalam pandangan Islam, adalah sebuah keberpihakan dan tentu kita nilai AKKBB berpihak kepada kesalahan.

Bro en Sis, sebagai remaja tentu kamu-kamu jangan cuek bebek aja atau pura-pura menutup mata atas kejadian ini. Benar. Jangan benamkan dirimu dalam urusan pribadimu atau menjauh dari urusan agamamu dan lebih memilih dugem, hura-hura atau suka-suka demi memuaskan nafsu hedonis dan permisif kamu. Nggak lha yauw. Kalo kamu ngaku remaja muslim, maka jangan biarkan dirimu nggak peduli dengan urusan Islam dan kaum muslimin. Sebaliknya, kamu harus berada di barisan terdepan dalam membela dan memperjuangkan Islam. Harus itu! Sebab, hidup-mati kita hanyalah untuk Islam. Bukan untuk yang lain.

Bela siapa? Tentu belain Islam, dong!

Kalo kamu ditanya: “Kamu ngebela siapa?” Jawab aja: “Ngebela Islam dan kaum muslimin!” Itu jawaban tepat. Gimana pun juga kita nggak usah terpancing oleh segala bentuk provokasi. Tapi juga jangan cuek bin nggak peduli dengan kondisi yang ada. Bahkan seharusnya ketika diminta memilih mana yang akan kamu dukung dan kamu bela berkaitan dengan kasus FPI vs AKKBB, kamu wajib bilang: “Aku bela Islam!”. Betul banget. Membela dan berjuang hanya untuk Islam. Bukan untuk seseorang atau bukan untuk golongan tertentu, tapi membela dan berjuang untuk Islam dan kaum muslimin.

Sekarang, kamu wajib ngeh dengan kondisi yang berkembang dari kasus tersebut. Kamu wajib mengenali siapa yang benar dan siapa yang salah menurut ajaran Islam. Emang sih, sekarang opini yang berkembang adalah memojokkan dan menuduh FPI sebagai biang kerusuhan dan sebagai ormas Islam yang tukang bikin ribut, sehingga berbagai kalangan, tentu saja yang berseberangan idenya dengan FPI meminta kepada pemerintah agar ormas Islam tersebut dibubarkan.

Sebaliknya, FPI dan banyak ormas Islam, meminta polisi mengusut para provokator dan aktor intelektual dalam “Insiden Monas” tersebut, yakni para pentolan dan pendukung petisi yang disebar AKKBB yang jika dicermati, nama-nama mereka sih udah nggak asing lagi sebagai pihak yang setuju dengan pluralisme, sekularisme, HAM, dan liberalisme. Tentu aja semua ide itu bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Maka, wajar bila terjadi bentrokan karena sejak awal visi dan misi mereka bertentangan dan bahkan menentang Islam.

Nah, kamu jangan ketar-ketir, apalagi ngeper dan nggak mau terlibat dalam pilihan ini. Ini kenyataan hidup. Bahkan sejak kita memilih Islam sebagai agama dan keyakinan hidup kita, berarti kita udah memilih untuk: diatur sepenuhnya oleh Islam; taat kepada syarat dan ketentuan sebagai muslim; punya keberanian untuk menjaga kebenaran Islam; semangat menyebarkan ajaran Islam kepada siapa pun; dan tentu saja rela berkorban demi Islam. Itu sebabnya, Islam itu pilihan kita. Pikiran dan perasaan kita wajib selaras dengan Islam. Bukan dengan yang lain. Maka, pembelaan kita pun tentu saja hanya kepada Islam. Bukan kepada yang lain.

Mengingkari kemungkaran

Sobat muda muslim, banyak sudah kemungkaran di tengah kehidupan kita. Saat ini bisa kita saksikan dan rasakan bahwa kemaksiatan kian merajalela; kriminalitas meningkat; budaya jahiliyah ditumbuh-suburkan; pornografi jadi menu sehari-hari; merebaknya pemikiran sesat seperti paham liberalisme, pluralisme, sekularisme, kapitalisme dan sejenisnya; aliran sesat pun ikut-ikutan memperkeruh suasana. Jika sudah begini kenyataannya, jelas kita dihadapkan pada kenyataan bahwa semua itu adalah problem yang kudu diselesaikan.

Sebagai muslim, tentu aja kita wajib mengingkari segala bentuk kemungkaran yang ada di tengah-tengah kita. Bahkan sejatinya kita diminta untuk mengubah kemungkaran tersebut supaya kehidupan ini berjalan dengan benar dan baik. Rasulullah saw. Bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaknya dengan hatinya. Dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim; an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, juz I, hlm. 356)

Jadi, kita bukan hanya dituntut untuk mengingkari kemungkaran, tapi juga sekaligus diminta untuk mengubah kemungkaran yang kita saksikan. Kalo dalam kasus “FPI vs AKKBB” ini, yang terjadi akhirnya adalah menyeret opini bahwa yang harus dibubarkan adalah FPI, bukan pangkal persoalannya, yakni Ahmadiyah yang wajib dibubarkan. Meski mungkin saja nggak semua orang setuju dengan cara “main pukul” seperti yang dilakukan saudara-sudara dari FPI dan Laskar Islam, tapi adakalanya memang perlu dibikin ?kejutan’ terhadap pihak-pihak yang memang udah terang-terangan menghina Islam dan para pejuangnya. Sori ye, tulisan ini bukan maksud “manas-manasin” atau memperkeruh suasana. Nggak. Kita cuma ingin nunjukkin aja keberpihakan kita kepada Islam. Bukan kepada selain Islam. Setuju kan?

Terlepas dari cara mengingkari dan mengubah kemungkaran yang dilakukan saudara-saudara kita dari FPI dan Laskar Islam, yang wajib kita bela adalah Islam. Bukan yang lain. Maka, nggak perlulah kaum muslimin yang lain ikut-ikutan menghujat FPI dan bahkan meminta pemerintah untuk membubarkan FPI. Justru yang harus ditunjukkan adalah kemuliaan kita sebagai muslim melalui sikap penentangan yang keras terhadap segala bentuk kemungkaran, dalam hal ini justru rasa marah dan benci kita harus dialamatkan kepada musuh-musuh Islam wa man tabi’ahum (dan siapa saja yang mengikuti mereka). Itu sebabnya, ketika menyaksikan adanya kemungkaran, sementara kita sebenarnya mampu mengubahnya namun hanya diam aja, Rasulullah saw. ngasih warning melalui sabdanya: “Tidak satu kaum pun yang di antara mereka ada orang yang berbuat maksiat, sementara mereka lebih kuat dan perkasa ketimbang orang tersebut (yang melakukan maksiat), namun mereka tidak mengubahnya, maka pasti Allah ?Azza wa Jalla akan menimpakan kepada mereka hukuman dari sisiNya.” (HR Ahmad; dalam Musnad Imam Ahmad, juz IV, hlm. 363)

Nah lho, ati-ati deh jangan sampe kita kena marah Allah Swt. hanya gara-gara kita nggak berani mengubah kemungkaran padahal kita mampu untuk melakukannya, bahkan dengan kekuatan “tangan”, yakni fisik. Bukan sekadar lisan (termasuk tulisan) dan nolak dalam hati.

Islam, the way of life

Singkirkan pemahaman, ide, atau ideologi selain Islam (example: pluralisme, sekularisme, liberalisme, HAM, demokrasi, kapitalisme, hedonisme, permisivisme dan sejenisnya). Cuma Islam yang kita jadikan pegangan hidup. Hanya Islam sebagai cara hidup kita. Yes, Islam the way of life. Remaja muslim kudu mulai mengasah kepekaan hati dengan nilai-nilai Islam. Cinta dan benci atas dasar ajaran Islam. Marah dan kecewa pun disesuaikan dengan landasan Islam. Jangan asal cinta, jangan asal benci, jangan asal marah dan jangan asal kecewa. Maka, pembelaan kita bukanlah kepada seseorang dan golongan atau kelompok, tapi tunjukkan pembelaan yang kuat kepada kebenaran Islam dan tentu saja dukungan kepada siapapun yang berjuang membela Islam.

Bro en Sis, banyaknya fitnah dan kerusakan di negeri ini, dan di banyak negeri Muslim di seluruh dunia adalah karena tidak diterapkannya aturan Islam. Islam sebagai cara hidup nggak ditampakkan oleh sebuah kekuatan negara. Hanya ada pada segelintir individu atau kelompok aja. Padahal, kalo Islam diterapkan oleh sebuah kekuatan negara, maka insya Allah segala kemungkaran akan dilibas habis tanpa ampun. Tentu, jika para pelakunya nggak mau tobat padahal sudah dinasihati sebelumnya.

Sekarang ini, banyak kaum muslimin yang ?geregetan’ gara-gara SKB (Surat Keputusan Bersama) tentang pembubaran Ahmadiyah nggak keluar-keluar, ditambah para pendukung kebebasan beragama dan berkeyakinan juga makin nantangin. Daripada makin terprovokasi dan makin gemes bin kesal, kita kampanyekan saja sekalian tentang wajibnya menegakkan Khilafah Islamiyah sebagai institusi yang bakalan ?menghabisi’ seluruh kemungkaran. Sulit ngarepin penyelesaian melalui sistem demokrasi seperti saat ini. Dijamin deh, demokrasi nggak bakalan bisa menyelesaikan masalah. Bahkan yang terjadi adalah menambah masalah baru. Liat aja sekarang. Parah, Bro!

So, seluruh elemen Islam sewajibnya bersatu untuk menegakkan Khilafah Islamiyah. Syariat Islam yang ditegakkan dalam bingkai negara Islam bernama Khilafah Islamiyah, insya Allah akan mampu menjamin keamanan dan memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya. Kok bisa? Ya iya lah. Sebab, Islam adalah agama sempurna yang tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, namun juga mengatur aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara seperti aspek politik, ekonomi, pendidikan, militer, dan budaya. Karenanya wajar bila Islam mewajibkan eksistensi negara untuk merealisasikan semua aturan tersebut, sebab tanpa negara mustahil segala aturan bernegara dan bermasyarakat itu dapat terwujud (Imam al-Mawardi, al-Ahk?m as-Sulth?niyyah, hlm. 5)

Oke deh, mulai sekarang, kita tekadkan untuk terus mengkampanyekan dan mendakwahkan Islam sebagai “cara hidup” bagi individu, masyarakat, dan negara. Perbaiki diri kita mulai dari sekarang dengan wawasan berpikir Islam dan perasaan yang islami, agar kita bisa katakan dengan lantang: “Cuma Islam di hati gue!” [solihin: www.osolihin.wordpress.com]


Blog EntryNgintip Pelacuran ABGMay 14, '08 10:49 AM
for everyone

logo-gi-3.jpg edisi 029/tahun I (6 Jumadil Awwal 1429 H/12 Mei 2008)

ABG (Anak Baru Gede) adalah sebutan bagi remaja usia belasan tahun. Istilah kerennya sih teenager. Usia yang menurut para pakar psikologi berada di saat rawan karena penuh pemberontakan dan pencarian jati diri. Usia yang ibarat kembang yaitu sedang mekar-mekarnya, indah. Nah, keindahan inilah yang seringkali disalahgunakan untuk hal-hal yang nggak bener. Melacurkan diri adalah salah satunya.

Ketika browsing internet untuk mencari data tentang pelacuran ABG ini, saya langsung terhenyak. Mulai blog pribadi yang dikelola amatiran hingga media selevel Tempo, semuanya menyediakan data dan laporan lengkap tentang seluk beluk dunia esek-esek ala ABG ini. Seragam putih-biru alias SMP dan putih abu-abu atau SMA, lengkap ada semua. Mulai layanan tingkat amatir dengan harga cuma dibelikan makan siang hingga yang profesional sejumlah ratusan ribu bahkan jutaan, lengkap tersaji.

Saya pun memandang monitor komputer dengan nanar, bagaimanakah masa depan bangsa ini dengan polah ABG seperti ini? Tapi, tak ada masalah hadir tanpa solusi. So, kita telusuri yuk fenomena keberadaan pelacuran ABG ini untuk ditemukan akar masalahnya sehingga bisa dilakukan treatment untuk pengobatannya. Yuuuk!

ABG sayang, ABG malang

Melalui sejumlah wawancara dan investigasi, banyak di antara para ABG yang memutuskan dirinya melacur itu karena alasan ekonomi. Biaya sekolah yang mahal, harga buku yang tak murah serta kebutuhan hidup lainnya yang mendesak menjadi salah satu alasan yang dipilih untuk diberikan. Apalagi bila menjelang ujian yang jelas-jelas ada tagihan ini-itu dari pihak sekolah, walhasil jalanan jadi rame dipenuhi para ABG yang menjajakan diri.

Di antara mereka ada yang melakukannya tanpa sepengetahuan keluarga, tapi tidak sedikit yang mendapat restu orangtua. Bahkan ada seorang ibu yang sengaja menyelipkan kondom ke tas sekolah anaknya bila mereka akan keluar rumah. Nadzhubillah.

Kesulitan ekonomi bukan menjadi satu-satunya alasan para ABG jual diri. Tidak sedikit juga yang berasal dari kalangan atas bahkan ada anak pejabat terkenal yang sering muncul di TV nasional. Ketika diwawancarai, ia berkilah bahwa yang dilakukannya itu sebagai protes terhadap ayahnya yang jarang berada di rumah.

Tergiur gaya hidup yang konsumtif biar nggak dianggap kuno sama teman-teman sebaya juga bisa menjadi faktor yang lain. Punya HP keluaran model terbaru, MP4 Player, tas dan baju keluaran butik terkenal, jalan-jalan ke mal, bisa membuat para ABG lupa daratan. Persaingan antar teman juga bisa dijadikan alasan. Wih..si A kemarin habis jalan bareng sama om-om keren, si B nggak mau kalah hari ini menggandeng eksekutif papan atas ibu kota. Habis dikecewakan dan dinodai mantan pacar juga disebut-sebut sebagai alasan favorit para ABG ini. Ya, seabreg alasan bisa diberikan kalau sekadar sebagai pembenaran untuk perbuatan yang nggak bener. Ckckck…

Yuk berbenah!

Bro en Sis, kebebasan berekspresi dan bertingkah laku adalah sandaran yang tak dapat diganggu-gugat selama masyarakat masih menganut paham demokrasi ini. Para ABG ini pun sedang menyalurkan kebebasan sehingga payung hukum mana pun tak dapat menjeratnya. Paling pol yang bisa dilakukan pemerintah setempat adalah alasan usia yang masih di bawah umur. Lha kalo umur sudah cukup untuk melacur, pemerintah mau apa? Bahkan hukum pun telah ada dan sengaja dibuat untuk melindungi mereka yang menyebut dirinya sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial).

Kebebasan lain yang diusung oleh demokrasi adalah bebas dalam kepemilikan. Harta bisa dimiliki dengan cara apapun juga, termasuk jalan haram sekalipun. Tak heran, bila lokalisasi prostitusi menjadi legal bin sah dalam kondisi seperti ini selama negara diuntungkan dari tarikan pajaknya. Apalagi bila dalih favorit yang sering dipakai alasan mulai dikeluarkan ?keberadaan lokalisasi memberi nafkah pada banyak lapisan masyarakat’. Ciloko tenan kalo sudah begini.

Kita nggak mungkin tinggal diam dengan maraknya fenomena pelacuran ABG. Karena sungguh adzab Allah tidak saja akan menimpa mereka yang berbuat kerusakan di muka bumi, tapi semua bakal kena termasuk mereka yang alim. Allah Swt. berfirman:

??????????? ???????? ???? ?????????? ????????? ????????? ??????? ???????? ???????????? ????? ?????? ??????? ??????????

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya.” (QS al-Anfaal [8]: 25)

Apalagi dalam keadaan ini, para ABG hanyalah korban dari sistem rusak yang sedang berlangsung di tengah-tengah kita. Jadi sayang sekali bila generasi muda tidak diselamatkan sejak dini mulai detik ini.

Peran serta orangtua yang bekerjasama dengan para guru harus digalang. Orangtua tak bisa menimpakan pendidikan anak-anaknya melulu kepada pihak sekolah saja. Begitu juga sebaliknya. Kedua elemen ini harus bahu-membahu meningkatkan kepedulian terhadap para ABG ini. Kepedulian ini pun harus ada ujud nyatanya dengan melakukan pendekatan kepada individu-individu ABG.

Akan lebih baik bila kedua elemen ini mengajak institusi keislaman yang jelas-jelas visi dan misinya mengerti masalah remaja. Tidak bisa dipungkiri usia orangtua dan guru yang termasuk ?angkatan lama’ mengalami kendala dalam memahami gejolak jiwa remaja. Para ABG ini butuh sosok yang memahami dunia mereka dan berjalan mengiringi proses kedewasaan mereka. Sehingga tak perlu ada sikap ketakutan tanpa dasar pada pihak orangtua atau guru bila ada sosok yang peduli dengan dunia remaja. Waspada memang perlu tapi hendaklah disertai dengan sikap bijak. Berkomunikasi dan ?sharing’ visi misi adalah langkah bijaksana daripada melarang tanpa alasan munculnya mereka yang berusaha peduli untuk menyelamatkan generasi ini.

Selalu ada ?Second Chance’

Selama nafas masih ada dalam diri kita, tak pernah ada kata terlambat untuk bertaubat. Begitu juga bila kamu menemui atau mempunyai teman yang pernah menempuh keadaan di atas, maka janganlah dicibir atau dijauhi. Dekatilah mereka dengan kasih sayang dan tanpa ada prasangka. Karena selalu ada kesempatan lain dalam kehidupan bila kita memang benar-benar berniat untuk berubah. Ulurkan persahabatan tulus pada mereka yang telah sadar dan mau berubah. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, dalam artian para ABG ini tak berniat kembali ke jalan yang benar, maka sungguh, Allah telah melihat upayamu dan bukan hasilmu.

Permasalahan ini memang tak bisa diselesaikan secara individual saja. Tak akan cukup hanya melibatkan pihak orangtua, para guru dan pihak sekolah, serta orang-orang yang peduli dengan masa depan remaja, namun dibutuhkan lebih daripada itu. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengurus urusan rakyatnya harus juga peduli terhadap keselamatan moral dan akhlak generasi muda. Fakta di lapangan banyak berbicara bahwa maraknya pelacuran ABG melibatkan para oknum yang seharusnya melindungi tapi malah menarik untung dari transaksi haram ini.

Sindikat perdagangan ABG untuk dilacurkan juga harus ditindak dengan setegas-tegasnya. Bukan seperti yang terjadi sekarang ini, oknum yang seharusnya bertugas melindungi warga masyarakat, malah terlibat memperdagangkan ABG demi gepokan rupiah. Dan yang parah adalah pejabat-pejabat bermental rusak yang malah minta ?disediakan’ ABG bila mereka melakukan kunjungan ke daerah-daerah.

Pemerintah harus serius menangani masalah pelacuran ABG ini, bukan sekadar ngurusi kursi apalagi menjelang pemilu begini. Pelacuran ABG merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih mendasar. Selebihnya masih banyak hal yang harus dibenahi mulai dari tingkat perekonomian masyarakat, moralnya, sistem pergaulan yang diadopsi, dll. Semua hal yang disebutkan di atas itu cuma cabang saja dari sebuah akar masalah yaitu ideologi suatu bangsa. Selama kita masih bangga dengan ideologi nano-nano alias kapitalis, sosialis dan agama dicampur aduk kayak sekarang ini, maka jangan pernah berharap bahwa masalah akan selesai.

Karena sungguh, kebenaran selamanya tak akan pernah bisa diaduk-aduk dengan kebatilan. Yang muncul akhirnya adalah kompromi-kompromi yang tidak masuk akal. Pelacuran ABG diperangi dengan alasan mereka masih di bawah umur. Lha kalo sudah dewasa, itu artinya mereka boleh melacurkan dirinya lagi? Malah sudah disediakan tuh lokalisasinya dengan stempel pelacuran sah dan resmi atas ijin negara. Benar-benar kacau balau kalo sudah begini urusannya. Maka tak heran, bila negeri ini tak putus dirundung malang. Seperti kata Om Ebiet G Ade dalam sebuah lagunya: “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…” Silakan renungkan ya.

Namun, selalu ada kesempatan kedua alias second chance bila kita mau bertaubat. Taubat dengan sebenar-benarnya taubat. Bukan tobat jenis tomat alias sekarang tobat besok kumat lagi, halah. Ini sama saja dengan mempermainkan Allah, tul kan? Taubat nasuha ini bukan saja dilakukan oleh individu ABG yang sudah terlanjur menempuh jalan haram, tapi juga harus dilakukan oleh segenap masyarakat dan negara. Barengan, gitu lho.

Yakinlah, selalu ada peluang untuk meniti jalan lurus demi meraih ridho ilahi. Jangan cuma bangga sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, bila ternyata pelacuran terbesar pun ada di negara ini. Naudzhubillah.

Tak ada jalan lain untuk keluar dari kemelut ini kecuali menjalankan resep dari Yang Mahamempunyai Solusi yaitu Allah Rabbul Izzati. Resep itu harus dijalankan dengan keseluruhan, bukan separuh-separuh diambil yang enak-enak dan membawa manfaat saja. Karena resep yang cuma diminum separuh bukannya menyembuhkan, malah menimbulkan munculnya penyakit-penyakit baru.

Islam harus diterapkan secara keseluruhan atau kaaffah. Sangat tidak adil bila Islam hanya diambil ibadah ritualnya dan dibuang aspek sosial kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, pidana, pemerintahan, politik, dan lain sebagainya. Karena sungguh, tak ada satu sisi pun dalam kehidupan ini yang tak ada aturannya dalam Islam. Apalagi hanya untuk menuntaskan masalah pelacuran ABG, Islam sangat punya jawabannya. Benar itu. Ditanggung!

Pertanyaannya, apakah kita mau mengambil Islam saja sebagai solusi kehidupan? Ataukah kita masih bangga dan silau dengan sekularisme dan hukum pidana yang bersumber darinya? Hanya orang bebal dan tidak mempunyai akal saja yang masih percaya pada kapitalisme-sekularisme yang jelas-jelas kerusakannya itu. So, bagi kamu-kamu yang merasa dirimu orang pintar, cukup Islam saja sebagai solusi dan the way of life sekarang dan selamanya. Dijamin pasti tokcer. Dengan Islam, ABG pun bisa tumbuh berkembang menempuh jalan kedewasaan di jalan yang benar. Bila sudah begini, cerahlah masa depan suatu bangsa dan negara. Jadi, ambil Islam sebagai cara hidup. Campakkan demokrasi, sekularisme dan kapitalisme sebagai biang kerok pelacuran ABG. Yuuukkk! [ria: riafariana@yahoo.com]


Blog EntryPentas Seni? Udah Basi!Apr 19, '08 7:25 AM
for everyone

logo-gi-3.jpg edisi 022/tahun I (16 Rabiul Awal 1429 H/24 Maret 2008)

Emang nggak seru kali ye kalo hidup diisi dengan serius mulu. Nggak ada bunga-bunganya, nggak ada hiburan, hanya fokus pada kerjaan atau belajar mulu. Katanya sih gitu. Apalagi kalo yang ditanya adalah remaja. Simak nih pendapat teman kamu yang berhasil dijerat dan ditodong via Yahoo! Messenger, “Hidup gue bakalan garing Mas, kalo cuma belajar, belajar dan belajar. Sekali-kali boleh dong hiburan!” tulis Andre asal Bandung. BTW, kalo kamu mo pada nyapa en ikutan ngobrol sama gaulislam bisa langsung add nih Yahoo! ID kita di YM (gaul.islam). Ditunggu ye! Eh, kok ini malah jadi kayak request lagu-lagu di radio: AMKM alias Anda Meminta Kami Manyun! (backsound: manyun karena lagu yang diminta kagak ada hehehe…)

Teman lain, namanya Lessya, doi nulis begini, “Hidup harus seimbang dong. Serius kudu, belajar harus, tapi otak kita kan perlu refreshing, misalnya sesekali diisi dengan menikmati hiburan, gitu.”

Hmm… ternyata emang butuh hiburan. Meskipun tentu aja kalo kebanyakan hiburan juga malah jadi malas. Nggak ngerasa harus serius. Nggak ngerasa harus fokus belajar dan berdakwah. Memang harus ada keseimbangan. Namanya juga seimbang, berarti nggak berat sebelah. Nah, ngomong-ngomong soal berat sebelah, ada juga lho teman kita yang berpendapat agak lain, “Hiburan boleh. Belajar harus. Tapi menurutku, hiburan harusnya seperlunya aja. Belajar yang harus dibanyakkin. Jadi kalo mo berat sebelah, sebaiknya berat ke ibadahnya, berat ke belajar dan dakwah. Jangan berat lebih banyak dipake hiburan. Hiburan seperlunya aja.” Rully panjang lebar ngasih jawaban saat ditodong gaulislam di YM.

Nah, ngomong-ngomong soal hiburan, biasanya di sekolah suka ada tuh pentas seni dengan beragam aksi. Biasanya diisi band lokal sekolahan atau penyanyi dadakan yang penting ada hiburan. Tapi, di sekolah tertentu yang punya modal gede mah bisa aja datengin band terkenal (minimal terkenal di kota tersebut) untuk manggung di sekolahnya.

Sobat, sebenarnya setuju nggak sih ada pensi alias pentas seni di sekolahmu? “Gue sih setuju aja. Sebagai hiburan. Tapi jangan sampe ada kerusuhan,” tulis Andre.

“Perlu banget, tapi harus band lokal sekolahan. Soalnya kalo ngundang dari band terkenal, aku khawatir terjadi kerusuhan karena membludaknya penonton dari sekolah lain,” Lessya berpendapat.

Lain lagi dengan Rully, yang aktivis rohis katanya sih, “Aku nggak setuju. Sebab, pensi yang diadain sekarang ini lebih banyak mudharatnya. Kalo nasyid juga sebenarnya khawatir karena yang nonton tetep histeris juga. Jadi lebih baik nggak ada deh. Kalo mau ada pentas kreasi, mending lomba nulis atau lomba pidato deh,” Rully ngasih alasan.

Rima, yang ngakunya asal Medan saat ditodong sama gaulislam di YM pas chatting, komen begini: “Boleh aja pentas seni diadain di sekolah. Tapi harus steril dari maksiat, miras, campur baur cowok-cewek. Konser nasyid aja harus dipisah duduk cowok-ceweknya. Kalo nggak bisa dikondisikan begitu jangan diadain aja. Daripada dosa kan?” Rima dengan penuh semangat menulis. Hati-hati tuh jari tangan jadi keriting karena kecepatan ngetik di keyboard hehehe…

Pentas Seni, ajang unjuk kreasi?

Bro, setiap manusia tuh pengen tampil dan menampilkan keterampilannya. Itu wajar. Maklumlah, karena manusia nggak mau dirinya cuma dianggap sebagai bilangan aja, tapi juga ingin diperhitungkan. Iya dong, sebab manusia memang memiliki naluri mempertahankan diri (gharizah al-Baqa’) yang penampakkan or perwujudannya adalah dengan kecintaan kepada dirinya sendiri. Buktinya, kalo mo nyebrang jalan aja reflek tengok kanan-kiri. Takut juga kan kalo ketabrak mobil or sepeda motor? Begitu pula secara naluri kita pengen diakui dan dihargai oleh orang lain. Buktinya kalo dihina marah, dilecehkan ngambek, disindir kesinggung, dipuji bangga. Iya nggak?

Itu sebabnya, wajar pula kalo kita ingin dianggap lebih sama orang lain. Maka untuk unjuk gigi-meskipun tuh gigi udah gondrong bin surplus, rela melakukan aksi agar dilihat dan dianggap keberadaannya sama orang lain. Bikin pensi konon kabarnya bisa mendongkrak gengsi sekolah lho. Ada anggapan kalo sekolah udah bisa ngadain pensi dan berani ngundang band terkenal, minimal band lokal di kotanya tuh sekolah jadi naik derajat dan pangkat.

Apa benar seperti itu? Mungkin iya, mungkin juga nggak. Tergantung yang ngeliat sih. Kalo yang ngeliatnya adalah mereka yang setuju dengan pensi bisa jadi iya jawabannya. Kalo yang nggak setuju bisa jadi mengingkari anggapan tersebut.

Kalo dikatakan pensi adalah ajang untuk unjuk kreasi bisa dimaklumi. Memang begitu adanya. Cuma masalahnya, apa benar unjuk kreasi hanya dengan pentas seni? Apa benar menaikkan gengsi dan derajat nama sekolah bisa diangkat dari pensi? Nggak selalu kan? Apalagi sebagai muslim, kita nggak bisa dan nggak boleh melakukan perbuatan sebelum tahu hukumnya. Apalagi perbuatan yang sudah tahu hukumnya, harus hati-hati. Sebab, nggak bisa kita asal lakuin aja dengan pertimbangan asas manfaat. Sebagai muslim, bukan asas manfaat yang didahulukan, tapi apakah perbuatan tersebut diperbolehkan atau dilarang dalam ajaran Islam. Itu aja. Setuju?

Meski niatnya unjuk kreasi dan kreativitas diri tapi bukan berarti menghalalkan segala cara dong. Niat aja belum cukup kalo caranya nggak benar. Niat dan cara harus klop. Niat ibadah, maka caranya pun harus benar sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. Nah, yang kacau banget adalah niatnya salah, caranya juga salah. Yo wis, itu mah wassalam.

Seni harus ngikutin syariat

Mohon diingat ya Bro, bukan syariat yang ngikutin seni, tapi seni yang wajib ngikutin syariat. Kalo syariat ngikutin seni, itu keliru. Nanti seni akan memaksakan supaya syariat ngasih legitimasi terhadap kebebasan seni. Syariat cuma pelengkap doang, atau stempel legalisasi adanya seni dan syariat nggak bisa ngatur lebih jauh soal seni. Sehingga akhirnya rancu en bias. Contoh, kalo band kepret alias qasidahan manggung, nggak terlalu dilarang meskipun penyanyinya tabarruj alias berlebihan dalam berhias, terus joget-joget dan pake kerudungnya juga roll-on alias bisa ditutup buka secara kilat. Waduh, itu udah salah kaprah deh, Sis. Nggak banget alias jangan sampe hal itu dilakukan sama seorang muslim sejati.

Nah, seharusnya seni yang mengikuti syariat. Jadi apa kata syariat. Harus taat sama aturan main syariat. Jangankan seni, seluruh aspek persoalan kehidupan wajib ngikutin apa kata syariat. BTW, apakah syariat Islam ngatur masalah seni?

Waduh, jangan sampe kamu ketinggalan informasi gara-gara malas mengkaji Islam. Banyak lho ulama yang ngebahas tentang seni. Islam memandang seni musik, seni suara, seni tari, seni lukis dan jenis lainnya harus diatur dan disesuaikan dengan ketentuan ajaran Islam. So, kudu ngikutin apa kata Islam, gitu.

Tentang nyanyian dan musik ini, Islam menilai empat pokok persoalan: 1) melantunkan nyanyian, 2) mendengarkan nyanyian, 3) memainkan alat musik, dan 4) mendengarkan musik. Selain itu, dalam Islam diatur pula kondisi ketika menyanyi, mendengarkan nyanyian, bermain musik dan mendengarkan musik supaya nggak kecampur dengan perbuatan maksiat.

Oya, soal musik ini, sebenarnya ada pendapat yang mengharamkan, dan ada pula yang menghalalkan. Nah, lho kok bisa? Nggak kompak banget. Hehe..gini nih penjelasannya. Pendapat yang mengharamkan nyanyian misalnya berdasarkan firman Allah dalam QS. Luqman ayat 6, artinya? “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”(QS Luqman [31]: 6)

Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah QS an-Najm : 59-61, dan QS al-Isra? : 64 (al-Jazairi, 1992 : 20-22).

Kemudian pendapat yang menghalalkan nyanyian adalah berdasarkan Firman Allah Swt. dalam QS al-Maidah [5] ayat 87; artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.”

Juga dalam riwayat Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra yang berkata; “Nabi saw. mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata; “Di antara kita ada Nabi saw. yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi saw. bersabda : “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” (HR al-Bukhari, dalam Fathul Bari III:113 dari Aisyah ra.)

Ehm, mungkin kamu bengong karena ada beda pendapat. Nah, kalo terjadi ta’arud alias perbedaan yang bertolak belakang, antara halal dan haram padahal keduanya punya dalil yang kuat dari sumber yang sama, gimana?

Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi saw. ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu (asy-Syaukani, t.t. : 275)

Kesimpulan singkatnya, biar kamu nggak pusing-pusing dan mual-mual baca artikel ini, mengenai kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut: bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (al-Baghdadi, 1991 : 63-64; asy-Syuwaiki, t.t. : 102-103)

Jadi gimana? Boleh nyanyi asal: nyanyian yang mengajak ibadah, semangat perjuangan dan dakwah Islam. Tempat acaranya: nggak campur baur cowok-cewek, nggak ada miras, nggak ada maksiat lainnya. So, kalo ngadain pentas seni tapi masih jauh dari nilai-nilai ajaran Islam, itu namanya nabung dosa en udah basi. Sementara ini dulu ye. Terus semangat belajar Islam! [solihin: sholihin@gmx.net]


Blog EntryFilm “Ayat-Ayat Cinta” Itu…Apr 19, '08 7:24 AM
for everyone

Pengantar RedaksiAssalaamu’alaikum wr. wb.

Film “Ayat-Ayat Cinta” jadi fenomena baru euy di jagat industri film nasional. Gimana nggak, film tersebut ditonton sekitar 3 juta orang hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Kalo diukur dari prestasi minat penonton, mungkin saja itu angka statistik yang bisa dibanggakan. Meski demikian, pro-kontra terhadap film tersebut juga marak. Terutama dalam diskusi-diskusi di internet.

Ada yang protes karena isinya beda ama di novel, ada pula yang ngamuk-ngamuk di blog pribadinya gara-gara ada bagian yang tampaknya dihilangkan agar tak memicu polemik agama, ada juga yang melihatnya dari sisi fikih. Meski begitu, ada juga bagian film itu yang benar. Misalnya menolak pacaran, menyampaikan syariat poligami, menyampaikan kasih-sayang sesama manusia, membudayakan sabar dan ikhlas. Bagus juga sih. Meski demikian, kita tetap harus jeli, karena ajaran Islam tentu nggak sesederhana itu. Jika tujuannya menyampaikan dakwah dan mencerdaskan kaum muslimin, seharusnya bisa berani menyampaikan Islam apa adanya semuanya tanpa ditutup-tutupi demi menjaga toleransi. Tul nggak?

Boys and gals, sekadar ikut meramaikan diskusi yang sudah marak sebelumnya di internet, gaulislam sengaja angkat tema ini untuk membahas dari sisi lain yang jarang dibahas oleh mereka yang pro maupun kontra (ciee pede banget!). Semoga semangat cinta Islam bisa dilanjutkan dengan belajar Islam, bukan sebatas? nonton film islami aja. Setuju kan? ?So, baca aja edisi 023 ini.

Salam,

Redaksi

=====

logo-gi-3.jpg edisi 023/tahun I (23 Rabiul Awal 1429 H/31 Maret 2008)
Kayaknya bagi kamu yang stay tune mantengin berita seputar fenomena film Ayat-Ayat Cinta bakalan ngeh dengan kehebohan film tersebut. Maklum, banyak media nasional seperti kompakan menurunkan berita seputar kesuksesan film tersebut bagi industri film nasional. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla aja sampe bela-belain nonton film Ayat-Ayat Cinta di bioskop membaur dengan penonton umum lainnya. Waduh, jarang-jarang nih ada film nasional yang sampe ditonton sama petinggi negara di bioskop.

Sekadar informasi aja, setelah dirilis resmi pada 28 Februari 2008 lalu, film garapan rumah produksi MD Pictures ini berhasil menorehkan sejarah sebagai film paling laris sepanjang masa. Baru empat hari diputar, Ayat-Ayat Cinta sudah membukukan jumlah 700.000 penonton. Jumlah penonton terus bertambah hingga tembus angka 2,9 juta hanya tiga minggu setelah beredar. Kini dapat dipastikan jumlah penonton sudah lebih dari tiga juta orang (SINDO, 23 Maret 2008)

Oya, angka itu hanya dihitung dari penonton yang nonton di bioskop, belum lagi yang nonton via VCD/DVD bajakan yang beredar luas. Kayaknya bisa lebih banyak lagi tuh. Wis, pokoke pol banget dah. Film yang diangkat dari novel karya Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman el-Shirazy ini memang diprediksi bakalan sukses. Maklum, bukunya aja udah tercetak sekitar 400.000 eksemplar. Belum lagi kalo dihitung dengan buku bajakannya bisa-bisa lebih dari itu. Maklum, para pembajak tahu betul buku (termasuk film) apa saja yang lagi laris di pasaran. Hehehe…

Meski demikian, sukses film Ayat-Ayat Cinta ini rupanya diiringi juga dengan pro-kontra. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit pula yang protes keras. Mulai dari isi cerita di film beda jauh dengan isi di novelnya, bahkan ada perbedaan yang sangat fatal seperti tidak ditampilkannya di film padahal itu termasuk bagian penting dari isi novel.

Sebagian blogger yang memprotes film tersebut bahkan mempertanyakan masalah fikih (syariat) dalam film itu. Misalnya, boleh nggak sih adegan Fedi Nuril ama Rianti Cartwright di film itu? Gimana pun juga kan mereka bukan mahram. Belum lagi ada kesalahan penyebutan definisi ahlu dzimah yang keliru dan tidak pada tempatnya. Saya nggak tahu apa kutipan itu ada di bukunya juga apa nggak, jadi nggak bisa bedain. Tapi yang jelas dialog di film tersebut yang menyampaikan suatu istilah dengan keliru harus segera diluruskan.

Oya, film tersebut emang nggak semuanya memuat kesalahan, ada juga yang benarnya kok. Seperti syariat poligami, aturan ta’aruf, tentang sabar dan ikhlas, tapi semua itu jadi hambar gara-gara ada beberapa bagian yang terpenting malah dihilangan dalam film.

Memang sih, Hanung Bramantyo sebagai sutradara ngasih komen dengan maraknya protes terhadap karyanya tersebut, khususnya yang membandingkan dengan isi novelnya, “Harus dipisahkan antara novel dengan film, keduanya merupakan medium yang berbeda.” (SINDO, 23 Maret 2008)

Oke deh, terlepas dari pro dan kontra terhadap film Ayat-Ayat Cinta dari perbedaan antara isi cerita di novel dan film, tapi Ayat-Ayat Cinta juga perlu dikritisi. Terutama dari sisi penyampaian pesan Islam dan media penyampaian pesannya. Sebab, orang udah kadung ikutan heboh dengan tema “cinta” yang diusung dan “konflik emosi” yang bertaburan di film tersebut, jadi kurang kritis. So, tanpa maksud bikin suasana tambah ?runyam’, akhirnya gaulislam ikut ngebahas dari sisi lain agar menjadi perhatian kaum muslimin untuk bisa menempatkan persoalan dengan benar.

Tak berani suarakan Islam

Boys and gals, ada satu adegan yang dipotong di film tersebut yang beda jauh alias bertolak-belakang dengan cerita di novelnya. Demi mengedepankan sisi toleransi, Hanung memang mencoba menghilangkan beberapa adegan yang sekiranya memicu polemik. “Adegan seperti wartawan Amerika bernama Alice dan Maria seorang Kristen Koptik yang akhirnya masuk Islam, itu saya hilangkan, karena saya tidak ingin film ini men-judge orang untuk masuk Islam,” katanya (SINDO, 23 Maret 2008)

Lha. Piye iki? Untuk kasus ini, selain mengecewakan bin mengkhianati para pembaca novel tersebut, juga film ini menjadi kendaraan untuk membohongi publik. Bukan hanya karena beda dengan cerita di novelnya, tapi makna toleransi pun udah salah kaprah. Seharusnya kita berpikir, bahwa saat ini orang nggak mudah (meski ada juga yang gampang terpengaruh) untuk percaya begitu saja dengan isi film, jadi kekhawatiran akan menimbulkan polemik jutsru berlebihan. Sebab, sejatinya polemik itu bisa saja terjadi. Bandingkan dengan buku dan film The Da Vinci Code yang konon kabarnya bisa mengguncang iman kaum kristiani karena isinya yang bisa menggoyahkan keyakinan akidah mereka. Tapi, show must be go on. Pembaca dan penonton yang akan menilainya langsung. Bisa pro bisa juga kontra. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?

Tapi kalo belum apa-apa sudah tidak berani menyuarakan kebenaran Islam, apa yang mau dibanggakan? Prestasi penonton yang mencapai 3 juta orang lebih tak berarti apa-apa-kecuali keuntungan secara materi dan ketenaran-jika isinya meracuni keyakinan dan akidah kaum muslimin itu sendiri. Itulah kenapa kita sangat menyayangkan isi film ini. Saya juga nggak tahu kenapa penulis novelnya mau saja ceritanya diubah ketika difilmkan. Apa pun alasannya, menurut saya, dalam pandangan ajaran Islam, hal itu adalah sebuah kelalaian yang bisa berakibat fatal bagi pemahaman kaum muslimin. Allahu’alam.

Bandingkan dengan film-film Hollywood yang seringkali menyisipkan dialog yang menyudutkan Islam seperti di film Die Hard 4.0, Shooter, Eraser dan lainnya yang secara terang-terangan berani menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Pertanyaannya, mengapa kita nggak berani menyampaikan kebenaran itu? Mengapa adegan penting seperti masuk Islamnya dua tokoh dalam film tersebut dihilangkan dengan alasan toleransi?

Sekadar mengingatkan bahwa toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat. Trus, toleransi juga bukan berarti kompromi atau bersifat sinkretisme dalam keyakinan dan ibadah. Oya, sinkretisme adalah menyamakan bahwa semua agama tuh benar. Padahal, kita tak boleh sama sekali ngikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, hlm 210)

Lagian sikap kita udah jelas kok seperti yang udah diajarin Allah Swt. dalam firmanNya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS al-Kaafiruun [109]: 6)

So, menurut saya, justru dengan menghilangkan adegan penting masuk Islamnya Maria dan Alice di film itu sudah tidak menghargai karya penulis novelnya, juga seluruh kaum muslimin karena hak mereka untuk mendapatkan informasi yang benar dan pemahaman yang shahih ?dirampok’ oleh pembuat film tersebut.

Belum lagi adegan di sebuah kendaraan umum yang menggambarkan dialog antara Fahri dengan seorang penumpang yang ngotot tidak membolehkan orang kafir Amerika untuk diberikan tempat duduk. Fahri digambarkan menyampaikan pernyataan tentang ahlu dzimah tetapi keliru dan bukan pada tempatnya. Pada dialog itu disebutkan:”Orang asing yang masuk ke dalam sebuah negara secara sah berarti ia seorang ahlu dzimah yang harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”

Padahal yang dimaksud ahlu dzimah (kafir dzimmy) adalah orang non-Muslim yang menjadi warga negara, yang hidup bersama mereka (kaum Muslim) di Negara Islam (Daulah Khilafah, pen.), membayar jizyah dan taat kepada hukum-hukum Islam, kecuali yang menyangkut praktik hukum yang diakui untuk mereka, seperti hukum-hukum tentang akidah, ibadah, nikah, talak, makanan (minum) dan pakaian. (Imam asy-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hlm. 213-dikutip pada buku Jihad dan Perang, jilid I, karya Dr. Muhammad Khair Haekal, hlm. 218)

Sabda Rasulullah saw.:“Barangsiapa yang membunuh seorang (kafir) yang sedang terikat perjanjian (mu’ahadah) yang telah mendapat perlindungan dari Allah dan RasulNya (dzimmiy), maka ia telah melanggar perlindungan Allah-yakni mengkhianati perjanjian-dan dia tidak akan mencium baunya surga, meskipun bau surga itu tercium dari jarak sejauh perjalanan yang lamanya 40 musim gugur.”

Selain itu Ali bin Abi Thalib ra pernah mengatakan, “Sesungguhnya, hanya dengan membayar jizyah, maka harta mereka berstatus sama seperti harta kita dan darah mereka sama seperti darah kita.” (Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 211)

Persoalannya, Mesir–yang menjadi setting tempat dalam novel dan film itu–bukan negara Islam. Mesir tuh negara sekular, sama dengan Indonesia dan negeri Islam lainnya karena udah menerapkan sistem Kapitalisme-Demokrasi dari Barat. Lagian, sampai saat ini, sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924 belum berdiri lagi Khilafah Islamiyah (Negara Islam), jadi penyebutan istilah ahlu dzimmah di film tersebut jelas keliru banget dan nggak pada tempatnya.

Oya, ini bukan kritikan, tapi masukan tanda peduli dan cinta kepada kaum muslimin. Jangan sampe isi film ini kemudian mempengaruhi dengan mudah–meski saya akui tak mudah orang untuk terpengaruh begitu saja. Apalagi jika isinya ternyata mengaburkan pemahaman Islam itu sendiri. Jangan sampe kemudian film ini dijadikan senjata untuk melemahkan pemahaman kaum muslimin secara perlahan-lahan. Masih mending dituduh teroris sehingga masih bisa berontak dan menolak. Lha, kalo ?dibodohi’, sulit orang bisa berontak kecuali mereka yang sadar dan mengedepankan pemahaman, bukan perasaan belaka.

Saatnya kampanyekan Islam apa adanya

Jangan menutupi kebenaran Islam, apalagi sampe menyimpangkan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah demi mendapat respon positif dan atas nama dakwah yang katanya secara damai itu. Padahal sejatinya bukan tak mungkin malah menikam Islam itu sendiri karena penyampaiannya yang keliru.

So, meski mungkin tulisan ini tak akan banyak terbaca karena disapu gelombang informasi ?sepihak’ tentang fenomena film ini, tapi paling nggak kamu yang baca harus mulai berlatih menjadi cerdas dengan menjadikan Islam sebagai pandangan dan pedoman hidup. Tentu, agar tetap mampu menyampaikan Islam apa adanya. Jangan beralasan atas nama dakwah, tapi tindakannya malah menghilangkan bagian yang semestinya disampaikan sebagai dakwah seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta ini. Apalagi kalo harus ngomongin aktivitas pemainnya, gimanapun Fedi Nuril ama Rianti Cartwright bukan mahram dalam kehidupan nyata, kok bisa mesraan gitu di film? Apa karena atas nama dakwah? Halah, dakwah kok jadi hiburan dan tambang uang para kapitalis. Musibah… [osolihin: sholihin@gmx.net]


Blog Entry‘Bisik-bisik’ Soal CewekApr 19, '08 7:23 AM
for everyone
Add to Technorati Favorites

logo-gi-3.jpg edisi 021/tahun I (9 Rabiul Awal 1429 H/17 Maret 2008)

Biasanya kamu-kamu pada familiar dengan istilah cewek daripada perempuan. Tul apa betul? Tapi kali ini kita akan membahas sesuatu agak lebih serius, ehem…tapi tetap dengan gaya bahasa yang kamu paham. Kita akan membahas soal perempuan bukan tentang cewek. Lha, apa bedanya? Kalo menurut saya sih, yang namanya cewek, wanita, putri, perempuan, women, itu sama saja. Tapi kalo menurut orang-orang tertentu, pemilihan kata ini bisa jadi masalah.

Kalau ?cewek’ adalah pilihan kata yang cenderung dipakai oleh remaja-remaja seusia kamu. Kalau putri, itu adalah penghalusan aja supaya terdengar lebih sopan. Kalo woman, jelas-jelas ini bahasa Inggris. Tapi kalo wanita, beberapa pihak terutama kaum feminis ogah memakainya. Why? Karena kosakata wanita itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya wani ditata (mau atau berani ditata). Hal ini dianggap oleh mereka yang menyatakan dirinya pejuang perempuan, adalah menghinakan karena menganggap perempuan sebagai objek saja yang bisa ?dikerjai’.

Itulah alasan mengapa mereka lebih memilih istilah perempuan karena mengandung makna ?empu’ yaitu artinya bijak atau berilmu pengetahuan. Halah, sampe segitunya ya? Emang sih, bila udah berkaitan dengan perempuan, kaum feminis ini bisa sangat segitunya. Bahkan isi kitab suci-dalam hal ini al-Quran-juga sangat segitunya untuk digugat dan dipertanyakan bila berkaitan dengan kepentingan perempuan. Ciloko!

Oya, kali ini kita mo ngobrolin tentang Hari Perempuan yang lumayan menyita perhatian baik di TV ataupun di surat kabar. Meski udah berlalu, nggak ada salahnya dong kita membahasnya. Sebagai bekal kamu agar bijak menyikapinya bila hari perempuan ini datang lagi tahun depan, oke?

Hari Perempuan, asal-muasalnya?

Pasti kamu semua pada bertanya-tanya tentang Hari Perempuan sedunia ini. Sebelumnya, yuk kita tengok asal-muasal Hari Perempuan sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret lalu itu.

Menurut Wikipedia, hari perempuan yang diperingati setiap tanggal 8 Maret itu adalah sebuah perayaan yang memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.

Gagasan tentang perayaan ini pertama kali dikemukakan pada saat memasuki abad ke-20 di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja. Kaum perempuan dari pabrik pakaian dan tekstil mengadakan protes pada 8 Maret 1857 di New York City. Para buruh garmen memprotes apa yang mereka rasakan sebagai kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah. Para pengunjuk rasa diserang dan dibubarkan oleh polisi. Kaum perempuan ini membentuk serikat buruh mereka pada bulan yang sama dua tahun kemudian.

Di Barat, Hari Perempuan Internasional dirayakan sekitar tahun 1910-an dan 1920-an, tetapi kemudian menghilang. Perayaan ini dihidupkan kembali dengan bangkitnya feminisme pada tahun 1960-an. Pada tahun 1975, PBB mulai mensponsori Hari Perempuan Internasional. (www.wikipedia.org)

Hari Perempuan ini juga merupakan penanda perjuangan kaum perempuan agar haknya diakui baik dalam peran sertanya berkiprah di masyarakat maupun dalam pemilu. Soalnya kan, di zaman-zaman sebelumnya, kondisi dan nasib perempuan memang sangat memprihatinkan. Wajar aja kalo mereka ini butuh hari perempuan untuk memperingati perjuangannya. Nah, di era kekinian, gimana sih bentuk nyata perjuangan kaum perempuan ini?

Perempuan di masa kini, menjadi komoditi yang sedang laris-manis untuk dibicarakan. Ibarat orang jualan produk tertentu, tema tentang perempuan selalu laku untuk dijual. Orang akan segera menoleh dan menanggapi dengan antusias kalo udah ngomongin soal perempuan.

Fakta bahwa perempuan banyak menderita di sekitar kita, emang nggak bisa dihindari. Mulai dari kebodohan, kemiskinan, kekerasan rumah tangga hingga pelecehan seksual dan pembunuhan, perempuan selalu jadi korban. Atas dasar inilah muncul sekelompok orang yang berdalih ingin memperjuangkan kaum perempuan. Mereka inilah yang menyebut dirinya sebagai kaum feminis yang memegang erat paham feminisme.

Eh, asal-muasal feminisme nggak jauh-jauh banget dari munculnya hari perempuan sedunia. Insya Allah next time, kita akan ngobrolin hal ini juga. Sekarang kita lebih fokus ke hari perempuan aja ya.

Perempuan dan harapan

Kebalikan dari kenyataan di atas yang menimpa perempuan, ada sebuah harapan terukir ketika kita membicarakan sosok lembut yang satu ini. Perempuan cerdas itu harus. Bila ia cerdas, maka ia nggak akan menjadi miskin. Bila ia tak miskin, maka ia tak mudah dipancing untuk melakukan pekerjaan yang haram semisal jadi penari, penyanyi atau bahkan jual diri, hiii…naudzhubillah. Bila perempuan pintar, maka ia nggak akan menjadi objek kekerasan dalam rumah tangga. Ia nggak akan mudah dilecehkan karena perempuan cerdas akan tahu membawa dirinya dengan berwibawa dan elegan. Betulkah seperti itu?

Kenyataannya banyak perempuan yang menganggap dirinya pintar malah rumah tangganya kacau. Karena pintarnya, ia berkiprah sangat aktif di luar rumah. Ia hadir dari satu seminar ke seminar lain. Ia memberi ceramah dan penyuluhan dimana-mana. Ia mendirikan lembaga perlindungan perempuan. Ia bergaji besar dan tak pernah mengalami kemiskinan dan kekerasan. Namun, pernahkah kita tengok kondisi keluarga dan anak-anaknya? Si anak belum bangun, si ibu sudah pergi. Si anak sudah tidur, si ibu baru pulang. Begitu terus. Berulang-ulang.

Apakah salah menjadi perempuan aktif di luar rumah? Bukan itu masalahnya. Kecerdasan dan kepandaian saja ternyata tak mampu memberi kenyataan sesuai dengan harapan. Perempuan cerdas tanpa mempunyai pemahaman Islam yang benar, hanya menjadi mangsa perusahaan-perusahaan kapitalis. Mereka duduk manis sebagai customer service, marketing, bendahara dan sebagainya. Perempuan adalah salah satu mesin uang dengan memanfaatkan kecantikan dan kelembutannya untuk menggaet konsumen.

Perempuan pintar yang masih mengalami pelecehan seksual di jalan atau di tempat kerja juga sangat banyak. Meski tak sampai sentuhan fisik, kata-kata yang merendahkan juga termasuk ke dalam pelecehan ini. Lalu apa yang salah dengan semua ini?

Bukan hanya tentang perempuan

Bila perempuan mau cerdas, permasalahan yang ada saat ini tidak melulu tentang perempuan aja. Harga sembako yang mahal, minyak goreng semakin melambung harganya, minyak tanah menghilang di pasaran, pendidikan tak terjangkau, ekonomi amburadul, pengangguran meningkat, kriminalitas merajalela, apakah cuma perempuan yang susah?

Bapak-bapak kita susah, adik dan abang kita juga susah. Tetangga, Pak RT, Pak RW, Pak ustadz, dan kaum laki-laki pasti juga susah dengan kondisi ini. Pelecehan seksual bukan melulu ?milik’ perempuan tapi laki-laki juga bisa terkena kondisi ini. Jadi sebagai perempuan jangan GR dulu dengan merasa bahwa dunia sangat tidak adil terhadapnya. Coba kita lepas kacamata kuda akibat pengaruh feminisme ini, untuk mulai terbuka melihat bahwa ini semua terjadi akibat syariah Islam dicampakkan.

Ketika kita mengabaikan hukum Allah, yakinlah bahwa janji Allah untuk memberi kesempitan pada kehidupan pasti akan terbukti. Sekarang ini faktanya. Semua pada mentok untuk mencari jalan keluar dari rumitnya masalah kehidupan. Ingat, ini masalah semua orang, masalah kemanusiaan secara umum, bukan melulu tentang perempuan. Bila demikian kondisinya, maka marilah bertanya resepnya kepada Yang Mahamenciptakan manusia dan kemanusiaan itu sendiri, yaitu Allah Swt., gitu gals! Paham kan?

Back to Islam, Non!

Bila ada sebuah rumah yang udah sangat parah kondisinya dan hampir roboh, akankah kita betulkan satu per satu batu-batanya? Mungkin bisa, tapi hal itu sangat-sangat nggak efektif dan nggak efisien. Bila ada rumah mudah goyah dan rapuh, lihatlah pondasinya. Ternyata pondasi ini dulu yang harus dibenarkan dan dikuatkan.

Begitu juga dengan masalah perempuan. Nasib perempuan tak akan pernah berubah bila pondasi yang dipakai masih sekularisme. Solusi yang ditawarkan juga masih berbau feminisme bawaan kapitalisme. Perjuangan yang dilakukan perempuan ibarat jalan di tempat aja. Sudah capek, tapi tak ada hasilnya sama sekali. Boro-boro pahala, malah laknat Allah yang bakal menimpa bila kaum perempuan menganggap bahwa syariat Islam itu hanya untuk jaman kuno atau malah menolak sama sekali. Ati-ati!

Bila perempuan nonmuslim berjuang atas nama feminisme, kita masih bisa maklum. Mereka tak punya mabda (ideologi) yang mumpuni untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Tapi bila ada seorang muslimah yang mengambil solusi selain dari Islam, kita patut bertanya-tanya. Apakah memang tidak paham, ataukah memang sengaja ingin menghancurkan Islam dari dalam? Betul nggak sih?

Saat ini yang menjadi tren adalah mengajak para muslimah untuk berjuang atas nama perempuan dengan dasar ide feminisme. Langkah inilah yang paling jitu untuk membuat muslimah semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar. Pertanyaannya, apa iya kita masih juga terlena dengan solusi yang jelas-jelas makin menjauhkan kita dari Islam?

Islam dengan seluruh aturan hidup yang lengkap, memberi rambu-rambu bagi perempuan dan manusia seluruhnya untuk berbuat, bersikap dan beramal. Bila perempuan nonmuslim berjuang hanya sekadar untuk bisa ikut dalam pemilu di abad 19, Islam udah memberi hak itu sejak awal turunnya yaitu sekitar abad 6. Bila mereka protes untuk banyaknya pelecehan seksual pada diri perempuan, muslimah sudah dilindungi mulai dari cara berpakaiannya hingga harga dirinya. Masih ingat kan sejarah indah tentang bagaimana Khalifah al-Mu’tashim mengerahkan beribu-ribu pasukan ?hanya’ untuk membela kehormatan satu orang muslimah saja?

Nggak ada kemuliaan kecuali dengan Islam. Namun, Islam nggak ada artinya bila dijauhkan dari kehidupan. Maka ayo kita serukan Back to Islam, buang semua yang merusak Islam termasuk ide feminisme, kapitalisme, sosialisme dan semua isme yang batil itu. Hal ini hanya bisa terwujud bila Islam diterapkan dengan sempurna bukan hanya dalam akidah saja tapi juga syariahnya oleh institusi negara.

Gimana caranya? Langkah praktis, ayo ngaji, biar kamu jadi muslimah yang nggak kupeng (kurang pengetahuan). Biar kamu nggak jadi muslimah yang gampang tergiur ide feminisme yang seolah-olah memihak perempuan, padahal mencelakakan. Biar kamu nggak mudah dibodohi dan dikadalin. Karena sesungguhnya hanya Islam yang peduli dengan nasib perempuan dan umat manusia seluruhnya. Kita nggak butuh dengan semua isme (paham) selain Islam. Ayo perempuan (termasuk cewek ya), kita berjuang dengan dasar Islam saja, bukan yang lain. Jangan mau dijajah dan disiksa oleh gaya hidup selain Islam. Kamu, para cewek–para perempuan, hanya bisa mulia bersama Islam. Akur? So pasti dong! [ria: riafariana@yahoo.com]


Blog EntryJangan Jadi “Negara Porno”Apr 19, '08 7:03 AM
for everyone
Add to Technorati Favorites

logo-gi-3.jpgedisi 024/tahun I (30 Rabiul Awal 1429 H/7 April 2008)
Ehm, jangan marah atau gondok duluan ya baca judul artikel gaulislam kali ini. Bukan maksud mo menjelek-jelekkan (backsound: karena udah jelek), tapi ini sebagai warning dan renungan aja buat kita semua. Gimana nggak, dari tahun jebot ampe sekarang, masalah pornografi dan perbuatan porno selalu hadir di tengah masyarakat kita. Di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani.

Bro, konten bernuansa pornografi sebenarnya udah tersebar banyak di media. Baik di media cetak maupun media elektronik. Oya, termasuk dalam hal ini adalah di internet yang kini lagi marak dibahas. Setelah lima tahun digodok, Rancangan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (RUU ITE) resmi disahkan dalam rapat paripurna DPR di Jakarta, Selasa (25/3/2008). Dengan adanya UU ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi penerapan hukum di dunia maya di Indonesia. Situs porno atau pornografi di internet akan diblokir atau paling tidak kini diatur UU. Salah satu pasal yang dianggap krusial dalam UU ITE adalah diblokirnya situs-situs porno baik dari dalam maupun luar negeri.

Oya, kalo mo dijembrengin semuanya sih banyak banget, termasuk dalam kehidupan nyata kita, pornografi dan aktivitas yang dibalut porno sangat mudah dijumpai dan bahkan pelakunya sangat banyak. Nah, karena saking banyaknya dan dilakukan oleh hampir seluruh penduduk negeri, maka nggak heran dong kalo negeri ini dapetin sebutan negara porno. Gitu deh alasan kenapa nulis artikel ini dengan judul seperti di atas. Betul nggak sih?

Bagi yang nggak setuju jangan marah, dan yang setuju juga jangan seneng dulu. Karena sebenarnya ini adalah prestasi yang buruk. Sama buruknya dengan gelar “negeri terkorup se-Asia”, misalnya. So, tulisan ini sekadar buat ngingetin aja, buat ngajak merenung, sekaligus nyari solusi tuntas dari masalah yang dihadapi sekarang, khususnya tentang pornografi.

Mental porno!

Hehehe.. jangan ngambek dan cemberut kalo baca subjudul ini. Bukan maksud nuduh atau menghakimi. Tapi emang kenyataannya demikian. Mereka yang nggak punya mental porno, ketika mengembangkan kreativitas dia akan melakukan apa pun yang bernilai manfaat dan useful alias berguna bagi siapa pun.

Sebaliknya, bagi mereka yang punya mental porno–piktor gitu deh, maka kreativitasnya nggak jauh dari mentalnya itu. Bikin majalah, eh majalah bertabur pornografi. Bikin blog di internet, isinya pornografi. Ketika mengelola website, ya isinya nggak jauh dari situ. Kalo dia ngomong? Ya, pembicaraannya menjurus ke wilayah porno dan pornografi.

So, kalo udah jadi cara pandang dan kaidah berpikir, maka pelakunya akan melakukan apa yang memang menjadi pemahamannya. Gimana pun juga, tingkah laku orang itu bergantung kepada pemahamannya. Kalo memahami bahwa pornografi itu adalah seni, dan seni adalah ekspresi yang tidak boleh dikekang dan dibatasi, maka ia akan mewujudkannya dalam perbuatannya. Begitu pula kalo memahami bahwa bertaburannya konten pornografi di internet adalah bagian dari freedom of speech dan kebebasan berkreasi, maka dia akan mati-matian melakukannya en merasa nggak boleh ada pihak manapun-termasuk negara- yang melarang kreativitasnya tersebut.

Bayangin aja deh, kalo yang model begini jumlahnya banyak dan menguasai media informasi. Bisa bikin berabe. Mereka bukan saja melek teknologi, tapi juga melek terhadap peluang yang memungkinkan untuk melakukan kemaksiatan termasuk kejahatan. Padahal nih, gaul dengan teknologi nggak mesti error. Justru sebaliknya, gaul soal teknologi untuk memberantas kemungkaran dan menegakkan kebenaran dengan memanfaatkan teknologi.

Definisi pornografi

Yup, definisi emang penting banget, itu sebabnya Ibnu Sina pernah berkomentar: “Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep.” Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (baca: logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat.

Oya, definisi yang jelas bakalan menolong kita untuk menentukan keputusan dan penilaian. Nggak ragu en nggak bingung. Nggak kayak sekarang nih, menentukan definisinya aja sesuai persepsi masing-masing orang. Karuan aja hasilnya beragam. Ada yang bilang kalo berpose telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya baru dibilang pornografi, ada juga yang bilang kalo masih mengenakan busana, meski kayak kekurangan bahan (terlihat auratnya) belum masuk definisi pornografi. Malah nih, kalo sesuai budaya ketimuran, belum dianggap porno. Misalnya kalo di Jawa pake kemben atau di Papua dengan kotekanya. Waduh, makin bingung aja tuh definisi pornografi.

Itu sebabnya, paling nggak kudu buka kamus nih. Biar bisa dapetin gambaran. Seperti disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.

Dalam Microsoft Encarta Dictionary Tools, pornografi didefinisikan sebagai sexually explicit material: films, magazines, writings, photographs, or other materials that are sexually explicit and intended to cause sexual arousal. Tuh jelas banget kan, bahwa pornografi tuh adalah penggambaran secara tegas tentang seksual; bisa dalam film, majalah, tulisan, foto dan bahan lainnya yang bermaksud menimbulkan rangsangan seksual.

Oya, pornografi tuh nggak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi dan seni. Karena sejatinya, estetika (seni) tetap harus berdampingan dengan etika.

Bagaimana dengan Islam? Sebagai Muslim, tentu kita wajib menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Terus, nggak boleh juga kita setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Nggak boleh juga ada pilihan lain untuk ngatur urusan kehidupan kita dengan aturan selain Islam. Jadi intinya, apa kata Islam deh. Kita wajib taat kepada ketentuan Allah dan RasulNya dan harus secara menyeluruh (kaaffah). Allah Swt. Befirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Dalam? menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (?akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.”

Guys, Islam juga udah mengatur tentang aurat. Itu sudah cukup untuk memberikan definisi tentang pornografi atau pornoaksi. Batasan aurat ini memungkinkan kita untuk bisa menentukan apakah suatu perilaku, gambar, atau gaya berpakaian seseorang termasuk memamerkan aurat atau nggak ke khalayak umum.Oya, aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya (Ahkaamul Quran al-Jashash III/318).

Kalo anak laki, yang termasuk wilayah auratnya adalah dari pusar ampe lutut. Itu batasan auratnya. Jadi nih, kalo ada anak cowok pake koteka dan dipamerin di depan orang banyak, jelas termasuk membuka auratnya. Itu sudah terkategori bentuk pornoaksi. Begitu pun kalo ada anak cewek pake kemben (salah satu pakaian adat Jawa), dan dipake di depan umum, maka sudah terkategori pamer aurat (itu masuk pornoaksi). Membuka aurat di depan umum dalam pandangan Islam terkategori dosa. Nah, ini jelas kan definisinya.

Itu sebabnya, kayaknya ampir semua media massa yang ada saat ini bakalan dicap sebagai media massa penyebar pornografi kalo pake definisi Islam. Dan, seharusnya memang standar itulah yang dipake oleh setiap Muslim ketika menilai suatu fakta berupa perbuatan maupun pemikiran. Catet yo!

?Mengeksekusi’ pornografi

Kalo dibiarin aja nggak bakalan selesai-selesai. Lihat aja penanganan yang selama ini dilakukan oleh negeri ini, yang menganut ideologi Kapitalisme-Sekularisme, malah menjadikan kebebasan sebagai the way of life. Ideologi macam apa itu? Kok malah bikin rusak kepribadian umat manusia?

Sobat, sebagai sebuah ideologi, Islam punya cara penyelesaian terhadap masalah ini. Tentu, jika Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Menurut Abdurrahman al-Maliki, “Barangsiapa yang mencetak atau menjual, atau menyimpan dengan maksud untuk dijual atau disebarluaskan, atau menawarkan benda-benda perhiasan yang dicetak atau ditulis dengan tangan, atau foto-foto serta gambar-gambar porno, atau benda-benda lain yang dapat menyebabkan kerusakan akhlak, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara sampai 6 bulan.” (Sistem Sanksi dalam Islam, hlm. 288-289)

Oya, hukuman tersebut termasuk dalam perkara ta’zir alias jenis dan bentuk hukumannya diserahkan kepada qadhi (hakim). Kalo emang tingkat bahayanya besar banget, bisa aja qadhi menghukum lebih lama atau bentuk hukuman lain, misalnya dicambuk.

Bro, untuk memelihara diri dan membebaskan diri dari jeratan pornografi secara teknis, coba deh lakukan mulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat kita: temen, keluarga. Tentu kita nggak mau kan diri dan lingkungan kita rusak karena racun pornografi. Percaya deh, pornografi nggak ada gunanya. Nggak perlu tuh ngintip-ngintip penasaran sama yang namanya pornografi. Jangan sampe kita berkoar-koar tentang pornografi tapi kalo nemu di depan mata diembat juga. Naudzubillah!

Kapan dan di mana pun kita menemukan media yang berbau pornografi, jangan ragu-ragu untuk menghancurkannya. Jaga diri, jaga keluarga, dan teman-teman. Saling mengawasi dan mengingatkan bukan berarti ikut campur urusan orang lho, tapi kita menjaga diri dan lingkungan untuk menghindari kerusakan dan maksiat. Ok, guys?

BTW, kalo nanti Islam udah diterapkan sebagai ideologi negara, mereka yang ada di pedalaman seperti di Papua dan suku dayak lainnya, nggak bakalan dijadikan sebagai obyek wisata. Nggak kayak sekarang, mereka dianggap sebagai warisan budaya bangsa. Itu dzalim, karena seharusnya pemerintah memberikan pembinaan dan mendakwahi mereka agar mau hidup lebih mulia. Tapi nyatanya, malah dipelihara agar tetap jahiliyah seperti itu. Kasihan banget kan?

Terus nih, nggak kayak sekarang, pemerintah hendak menerapkan pemblokiran situs-situs porno aja masih banyak yang menolak dengan alasan melanggar prinsip demokrasi itu sendiri yang memang memberikan kebebasan tanpa batas kepada siapa pun. Halah, hari gene masih memuja dan membela demokrasi? Padahal, sistem ini udah ketahuan lemot, bobrok, dan membahayakan manusia.

Oke deh, kalo nggak mau negeri ini jadi negara porno, maka mulai sekarang jauhkan demokrasi-sekulerisme-kapitalisme dan antek-anteknya dari pikiran kita. Sebaliknya, kita wajib cinta Islam, pelajari Islam, dan kampanyekan agar Islam diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Insya Allah akan berkah dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Bukan hanya kaum muslimin. Percayalah! [osolihin: sholihin@gmx.net]


Blog EntryMencari “Idola Cilik” SejatiApr 19, '08 6:59 AM
for everyone
logo-gi-3.jpg edisi 025/tahun I (7 Rabiul Akhir 1429 H/14 April 2008)

Setelah kontes idol-idol remaja yang pamornya semakin tergusur karena satu dan lain hal, Idola Cilik muncul memberi warna baru pada tayangan TV Indonesia. Dengan peserta anak-anak usia 7 - 12 tahun, pihak stasiun TV, dalam hal ini RCTI, berusaha menjaring potensi olah vokal adik-adik kita. Tak terhitung banyaknya calon peserta yang mendaftar untuk audisi, berharap terpilih agar bisa tampil di panggung pertunjukkan di Jakarta.

Boys and Gals, menjadi terkenal dan banyak uang adalah jawaban seragam yang diberikan oleh adik-adik kita yang begitu bernafsu mengikuti audisi (mungkin juga atas desakan dan dukungan ortunya). Jika ini yang dituju, maka rusaklah generasi mendatang.

Adik-adik lugu, tapi…

Usia yang dibidik pihak produser adalah usia dini yang masih sangat labil. Usia yang masih hijau untuk mengerti sebuah makna idola dan diidolakan. Pada usia ini anak-anak cenderung pasrah akan dibentuk menjadi apa dan siapa oleh orangtua dan lingkungannya.

Anak-anak adalah kertas putih yang polos dan bersih. Ia akan mudah sekali ?ditulisi’ oleh sesuatu: bisa baik dan buruk. Ia akan menerima apa saja yang diberikan oleh orang lain terhadap dirinya. Daya tolak mereka lemah sekali.

Anak-anak ini mudah sekali menjadi korban hasrat orangtua yang terpendam. Bila orangtuanya tidak bisa menjadi terkenal, maka anaknya saja yang dipersiapkan menjadi selebritis. Bila orangtuanya tidak bisa bernyanyi, maka anaknya saja yang diikutkan les menyanyi dan ikut lomba ini dan itu agar menang dan terkenal. Syukur-syukur ada produser yang tertarik untuk mengajak rekaman. Lebih hoki lagi bila ada pencari bakat yang mengajak anaknya main sinetron. Wuih…pundi-pundi uang orangtuanya bisa dipastikan akan penuh sesak tuh.

Lucunya, saat ada orang yang peduli dan prihatin dengan kondisi ini, malah dengan entengnya orangtua si anak yang sudah silau dengan uang menjawab, “Ah, itu kan pendapat orang-orang yang iri dengan popularitas anak saya. Itu karena anaknya tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi kaya dan terkenal.”

Orangtua seperti ini tak lagi memikirkan kebutuhan anak. Kebutuhan asasi yang dipunyai seorang anak adalah kebutuhan bermain dan berkembang dengan maksimal dalam koridor yang positif. Bagaimana mungkin seorang anak bisa berkembang dengan alami dan maksimal bila sejak kecil ia sudah berkenalan dengan sejumlah make-up, dandanan meniru orang dewasa, aktivitas bejibun seputar konser sana-sini, pemotretan dan syuting sana-sini, dll.

Anak-anak ini kehilangan ruang pribadinya, waktu bermain dan mudah stres atau tertekan karena berada di area dewasa secara mendadak. Apalagi bila umur popularitas itu tak bertahan lama, maka hal ini akan menyebabkan si anak merasa kehilangan perhatian dari khalayak. Peran orangtua dalam hal ini sangat besar dalam membentuk kepribadian anak, apakah akan menjadi sosok rapuh dan semu ataukah menjadi pribadi yang tangguh dan kokoh.

Adik kecil sebagai korban

Idola Cilik menciptakan sebuah dunia lain yang penuh imitasi, semu, dan palsu. Anak-anak pun menjadi besar dalam balutan tubuh yang kecil. Mereka dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka menjadi ?orang dewasa mini’. Menurut seorang psikolog perkembangan anak dari UI, anak-anak seperti ini mengalami loncatan kehidupan dari bermain menjadi bekerja. Gimana nggak, bila sebagian besar waktu mereka habis di lokasi syuting mulai dari persiapan konser, latihan-latihan, permintaan iklan, rekaman untuk nada sambung, atau bahkan main sinetron. Nggak jarang mereka harus bekerja hingga larut malam bila jadwal sudah sedemikian padat. Tak peduli badan yang sudah sangat lelah hingga suara serak dan habis, jadwal syuting harus tetap dijalankan.

Mereka menjadi produk karbitan demi nafsu serakah oknum-oknum budak kapitalis. Gimana nggak, lagu-lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu yang sangat tidak sesuai dengan usia dan perkembangan jiwa anak-anak. Di bawah ini saya kutip dari sebuah mailing list yang prihatin terhadap fenomena idola cilik ini. Berikut tingkah mereka:

“Tak pelnah kulagu dan slalu kuingat kelingan matamu dan sentuhan hangat. Saat itu aku telbawa cinta. Menghilup lindu yang sesakkan dada.. [dinyanyiin sama keponakannya Mona Ratuliu, Kisha]

Yang lebih mengenaskan adalah lirik lagu di bawah ini yang dinyanyikan dengan cadel pula: “Otakmu seksi, itu telbukti dali calamu memikilkan aku. Bibilmu seksi, itu telbukti dali calamu mencium pipiku. Kamulah mahluk Tuhan yang telcipta yang paling seksi. Cuma kamu yang bisa membuatku telus menjelit. Aw aw aw ah ah ah…aw aw aw ih ih ih …” Ancur deh!

Jangankan dinyanyikan oleh anak kecil, sedangkan judul lagunya aja sudah cukup untuk bikin kita merinding. Belum lagi aksi penyanyi aslinya di video klip yang udah terkategori pornografi itu. Bisa dipastikan adik-adik kecil itu telah menontonnya berulang-ulang sebelum akhirnya bisa menghapal lirik lagunya. Sedih rasanya memikirkan sosok generasi mendatang bila fenomena seperti ini yang dijadikan idola.

Sungguh menggiriskan hati. Adik-adik kita menjadi korban dari sebuah gaya hidup fana dan semu. Masih belum puas merusak remaja, perempuan dan ibu atau mama kita dieksploitasi sedemikian rupa, eh adik-adik pun dimangsanya pula. Bukan tak mungkin esok atau lusa, nenek-nenek kita atau bahkan bayi-bayi yang imut diembat juga selama itu bisa mendatangkan materi. Dasar kapitalis!

Materi ini pula yang menjadi penyangga gaya hidup semu ini. Karena sesungguhnya ideologi yang diemban juga nggak jauh-jauh dari sini, Kapitalisme. Kapital atau modal adalah hal yang dikejar dan dipuja melebihi apapun juga. Ditunjang dengan akidah berupa sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), klop sudah ideologi ini merajalela melahap generasi muda untuk menuju jurang kebinasaan. Duhh… akankah semua ini dibiarkan saja?

Idola cilik sejati

Dunia anak adalah dunia bermain, berteman dan belajar memahami sesuatu dari sudut pandang yang baik saja. Nggak boleh mengganggu teman, patuh pada orangtua, rajin belajar demi cita-cita, dan yang utama adalah mengenal Allah dan RasulNya. Inilah seharusnya dunia anak-anak. Dunia yang dibangun penuh keceriaan di atas fitrah kanak-kanak mereka, tanpa polesan yang akan merusak jiwa mereka.

Peradaban yang dibangun di atas pondasi yang rusak pastilah menghasilkan generasi semu seperti halnya adik-adik kita di atas. Peradaban yang dibangun di atas pondasi kuat dan kokoh, pastilah menghasilkan generasi tangguh dan kuat pula. Peradaban mulia ini adalah Islam dengan segenap kisah anak-anak teladan yang seharusnya menjadi idola sejati adik-adik kita.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat Rasulullah yang paling muda. Beliau ini masuk Islam di saat usianya masih 8 tahun. Saat itu ia datang ke hadapan Rasulullah untuk menyatakan dirinya beriman pada Allah dan RasulNya. Tapi Rasulullah sempat menyuruhnya pulang untuk meminta ijin kepada kedua orangtuanya lebih dulu karena usianya yang masih sangat belia. Namun apa jawab Ali ra?

“Ya Rasulullah, bila dulu Allah menciptakanku tidak perlu izin dari kedua orangtuaku, mengapa pula ketika aku ingin beriman padaNya harus meminta ijin pula?” Keren jawabannya!

Tidak berhenti di situ aja, setiap Rasulullah saw. berceramah dan menyampaikan wahyu serta mengadakan majelis ilmu, Ali bin Abi Thalib yang masih sangat imut itu selalu berada di barisan terdepan untuk mendengarkan. Ali pun menjadi tempat rujukan para sahabat lain yang usianya jauh lebih tua bila mereka menginginkan pendapat dan nasihat.

Bila di kalangan cowok ada anak-anak sekaliber Ali bin Abi Thalib, di kalangan cewek ada sebuah nama indah yaitu Asma binti Abu Bakar. Beliau ini dijuluki sebagai Dzatun Nithaqain atau wanita yang memiliki dua ikat pinggang. Itu karena ikat pinggang yang biasa dipakainya, ia belah menjadi dua supaya beban yang ada di atasnya menjadi ringan dan bisa digunakan untuk menyembunyikan makanan dan minuman yang akan dibawa ke gua Hira untuk Rasulullah saw. dan ayahnya ketika hijrah.

Tidak itu saja, ketika Asma masih kanak-kanak pun, jiwa keberanian itu telah nampak pada dirinya. Satu hari, Abu Jahal mendatanginya untuk membujuknya agar mau membuka rahasia di mana posisi ayahnya berada. Tetapi meskipun ia masih kecil, rasa tanggung jawab telah kokoh pada dirinya. Ia tahu apa pun yang keluar dari bibirnya, hal itu akan membahayakan posisi ayahnya dan Rasulullah saw., maka ia memilih diam ketika ditanya dan dibujuk oleh Abu Jahal. “Saya tidak tahu”, adalah jawaban yang diberikannya. Karena keteguhannya memegang tanggung jawab, Abu Jahal pun menampar Asma dengan keras hingga anting-antingnya jatuh. Subhanallah banget tuh!

Bandingkan dua kisah ini dengan ?perjuangan’ adik-adik kita di Pentas Idola Cilik. Bila sudah, sekarang bayangkan masa 20 tahun ke depan ketika mereka ini sudah menjadi besar dan dewasa. Jangan heran bila kondisi bangsa ini tak akan pernah bangkit bila bibit yang ditanam adalah selevel Idola Cilik yang di benaknya cuma popularitas semu dan uang. Jangan heran pula bila nantinya mereka memegang tampuk jabatan sebagai pimpinan negara, maka popularitas dan uang pula yang menjadi tujuan, bukan kesejahteraan rakyat.

Apa peran kita?

Kita nggak akan pernah rela membiarkan perusakan generasi ini berjalan mulus-mulus saja. Kita nggak mau dong adik-adik kecil kita menjadi mangsa kaum kapitalis yang cuma uang dan materi saja tujuannya. Harus ada langkah nyata dilakukan untuk perubahan.

How? Mulai dari diri sendiri dulu dengan sadar bahwa ini semua adalah perangkap dan bagian dari penjajahan bentuk halus. Terus, sadarkan adik-adik kita, keponakan-keponakan kita, anak-anak tetangga plus ortunya tentu saja. Karena yang namanya anak kecil, pembinaan utama masih di tangan orangtua dan guru bagi yang sudah sekolah. Bisakah dikerjakan sendiri-sendiri? Kayaknya nggak mungkin deh. Kita butuh berjamaah, kita butuh bekerjasama, kita butuh saling percaya, dan kita butuh persatuan. Semua itu hanya ada dalam ikatan akidah dan ukhuwah Islamiyah yang kuat nan kokoh.

Yuk, kita sama-sama bahu-membahu untuk menyadarkan umat. Kita campakkan kapitalisme dan sekularisme, terus ambil Islam saja sebagai solusi pembentukan generasi cerdas dan berkualitas. Idola cilik sejati kita persiapkan sejak dini supaya kelak, mental dan karakternya kuat dan tangguh dalam balutan akidah Islam dan tuntunan syariatnya.

Sobat, kita punya Islam yang akan menjadikan pemeluknya berwibawa dan punya harga diri. Bukan Islam sebatas ritual aja, tapi Islam sebagai sistem hidup dan ideologi. Bila ini yang diterapkan, ditanggung pasti populer di dunia-akhirat, insya Allah. Ditanggung pasti oke dah. So, idola cilik? Boleh, tapi dengan standar Islam saja ya sebagai ukurannya. Seeepppp ah! [ria: riafariana@yahoo.com]


Blog EntryPintar Pilih Teman GaulMar 10, '08 9:55 AM
for everyone

logo-gi-3.jpg


edisi 019/tahun I (25 Shafar 1429 H/3 Maret 2008)

Berteman memang asyik. Bisa curhat, bisa mengenal karakter, bisa dapet pengalaman dan wawasan, juga bisa tukar pikiran. Namun jangan salah lho, nggak semua orang bisa kita jadikan teman. Apalagi teman baik. Kenapa? Karena nggak semua orang bisa ngajak kepada kebaikan. Jadi, kudu selektif dan juga hati-hati memilih teman. Jangan korbankan dirimu demi sebuah pertemanan, jika akhirnya kamu kudu membayar mahal dengan hancurnya masa depan kamu. Kagak pake dah!

Kamu masih ingat kan kasus tewasnya 10 remaja pada konser musik underground di Bandung Februari 2008 lalu? Nah, yang kita soroti itu adalah komunitas gaulnya. Tentu aja, sebab manusia itu biasanya akan nyari teman yang konsep dirinya sama. Idealismenya sama. Supaya apa? Supaya komunikasinya nyambung. Emang sih, nggak bisa dipukul rata bahwa komunitas gaul kayak gitu bikin rese. Tapi umumnya kan emang gitu. Tul nggak? Jadi di sini yang terpenting dan yang utama untuk diperhatikan adalah selektif memilih teman gaul, supaya nggak salah gaul. Setuju kan?

Boys and gals, meski kita selektif memilih teman, bukan berarti kita pengen eksklusif. Nggak. Berbeda boleh aja. Tapi jangan sampe membedakan diri dengan yang lain. Sekadar “say-hello” dengan teman sekelas yang kebetulan rada-rada amburadul sah-sah aja. Apalagi bila kita mampu ngajakin mereka ngaji. Tentunya lebih oke tuh. Cuma, emang nggak semua dari kita juga bisa dengan sukses ngajak ngaji teman model begitu. Minimal banget, jaga hubungan baik aja deh. Tul nggak seh?

Waktu saya sekolah dulu, ada juga teman model begitu. Tapi alhamdulillah saya masih bisa berteman, tapi nggak kebawa ancur. Lagian, tergantung kitanya sih. Kalo kita keukeuh dalam mempertahankan prinsip kita, teman kita yang model begitu juga menghargai kok. Jangan khawatir. Malah kalo kitanya tipe plin-plan suka diledekin dan mereka nggak percaya lagi. Rugi kan? Jadi, berteman boleh dengan siapa aja, asal kita pegang prinsip dan bila perlu jelasin deh sejelas-jelasnya ama mereka tentang siapa kita dan prinsip hidup kita. Jangan takut dan jangan ragu. Yakin itu.

Sobat muda muslim, teori komunikasi menunjukkan bahwa kita akan cenderung berkumpul dan berkelompok dengan mereka yang seragam dengan kita dalam beberapa hal, atau mungkin dalam semua hal. Anak-anak komplek dekat rumah saya, mereka nge-geng dengan kelompoknya dari anak-anak yang tinggal di komplek pula. Mereka bagai air dengan minyak kalo ama anak-anak kampung di seberang komplek. Nggak bisa nyatu. Begitu pula anak kampung dekat komplek, ya mainnya sama geng mereka yang dari kampung itu lagi. Geng ini, sangat boleh jadi udah terpola dengan pertimbangan status. Seperti mereka udah sadar diri dan akhirnya menjaga jarak dan membatasi teman gaul.

Waktu saya sekolah dulu, ada juga anak-anak yang dari kalangan kelas atas, lebih banyak main sama anak-anak kelas atas juga. Waktu di SMP banyak juga teman yang begitu. Anak borju gaulnya ama yang borju lagi. Kalo ada anak kere yang kebetulan pengen gabung, paling nggak doi kudu bisa nyetel dengan aturan tak tertulis geng tersebut. Apalagi kalo kudu tampil ala kaum borjuis pula.

Dalam bahasa psikologi, dikenal istilah peer group. Kelompok teman sebaya. Ini pengaruhnya kuat juga lho. Nggak percaya? Rasanya di antara kita udah pernah ngalami deh. Buktinya, kita lebih suka dan ridho ‘terpengaruh’ teman ketimbang terpoles didikan orangtua di rumah. Alasannya, teman sebaya lebih mudah diajak ngobrol ketimbang ortu yang selalu dalam posisi ‘memerintah’ dan sok kuasa. Walah, ini akibat kita nggak deket sama ortu. Kalo deket nggak kejadian deh model gini. Tul nggak? Sabda Rasulullah: “Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat”. (HR Tirmidzi)

Sebetulnya banyak yang bisa kita jadikan teman. Karena manusia di dunia ini juga begitu bejibunnya. Persoalannya cuma satu; sulit. Yup, mencari teman yang baik itu relatif lebih sulit. Tapi, bukan berarti kita nggak bisa mendapatkan. Insya Allah bisa kok, asal kita mau berusaha untuk mencarinya.

Ibu saya sering wanti-wanti kepada saya waktu kecil dulu, bahwa kalo bermain jangan nakal, jangan suka masuk rumah orang tanpa ijin, dan yang terpenting, jangan bergaul dekat dengan teman yang nakal, teman yang perangainya buruk. Sampe saya SD, SMP, dan sampe sekarang, saya masih ingat kata-kata itu. Melekat erat di benak saya.

Saya sadar dengan nasihat ibu, bahwa kita harus hati-hati dan selektif memilih teman. Saya nurut dan alhamdulillah, teman saya banyak yang baiknya. Ada juga waktu sekolah dulu teman yang rada-rada error, tapi itu nggak membuat saja juga ikutan error, karena kebetulan nggak saya jadikan sebagai teman dekat. Kadang-kadang saya ngajak mereka yang error untuk lebih baik. Ada yang nerima dan banyak pula yang menolak. Tapi hubungan baik tetap jalan kok. Sebatas pertemanan biasa aja. Bukan sebagai sahabat atau teman dekat.

Sobat muda muslim, gimana pun juga, berteman dengan orang yang baik dan juga berilmu bisa memberikan kenikmatan, kebahagiaan dan juga keuntungan buat kita. Saya pernah mengalaminya kok.

Jamannya masih sekolah SMA, ada teman yang selalu ngajakin saya ngaji. Dalam hati saya berpikir, buat apa ngaji lagi, saya udah pernah khatam al-Quran kok. Sholat juga udah bisa. Tapi rupanya teman saya ini ‘nyundutin’ saya terus, hingga akhirnya saya meleleh juga dengan sikap gigihnya. Untuk menghibur doi, saya mau diajak ke tempat pengajiannya.

Hasilnya? Alhamdulillah, sejak saat itu saya mulai mencintai Islam. Karena dalam kajiannya banyak yang ternyata belum saya tahu dan pahami. Saya malu waktu itu, ternyata masih banyak ajaran Islam yang belum saya kuasai benar sementara saya merasa sombong bahwa saya udah bisa ngaji Quran dan sholat, serta nggak lepas puasa ramadhan.

Ah, seandainya nggak ketemu teman yang baik, dan tentunya nggak berteman dekat dengan yang baik perilaku dan keimanannya, rasanya sulit banget bagi saya untuk menemukan jalan hidayah Allah itu. Terima kasih sahabatku.

Jadi teman dekat sebaiknya yang…

Pertama, pilih teman yang baik perangai dan perilakunya untuk dijadikan sebagai teman dekat atau sahabat. Ini bukan persoalan membedakan diri. Tapi ini untuk kebaikan kamu juga. Pilihlah teman yang baik perangainya; tidak arogan, tidak cepat marah, dan tidak suka melecehkan. Pilih juga teman yang nggak suka hura-hura dan suka nongkrong nggak karuan dan carilah teman yang tidak dekat dengan miras dan narkoba. Sebabnya pasti, kalo ada teman main yang akrab dengan Singa Jengke dan Topi Nyengled (hehehe.. ini istilah para preman untuk menyebut merek minuman keras), bukan tak mungkin kita kebawa nenggak miras juga. So, ati-ati ye!

Kedua, yang punya prinsip kuat. Kenapa harus yang kuat memegang prinsip hidup? Karena biasanya merekalah orang-orang yang nggak mudah dikalahkan dan nggak mudah menyerah. Ia akan bersikukuh dengan kebenaran yang diyakininya dan kita bisa belajar darinya. Bukan tak mungkin pula kalo akhirnya kita juga bisa menyebarkan kepada teman yang lain yang menjadi teman dekat kita nantinya.

Tapi tentu saja, prinsip kuat yang dipegangnya adalah dalam hal kebenaran Islam, bukan kemaksiatan. Sebaliknya, kamu juga kudu punya prinsip kuat supaya nggak salah gaul, sekaligus jadi inceran teman lain untuk menjadikanmu sebagai teman dekatnya. Adil kan?

Ketiga, pilih yang menghargai dirinya sendiri. Yang ini kudu dicari. Sebab, orang yang pandai menghargai dirinya sendiri biasanya pandai juga menghargai orang lain, termasuk kamu, yang akan menjadi teman dekatnya nanti. Untuk ngecek, silakan lihat bagaimana dia berpakaian, bagaimana cara dia berbicara dengan orang lain, dan bagaimana menghormati orangtuanya.

Sebabnya kenapa? Karena orang yang menghargai dirinya, akan senantiasa menjaga imej diri. Berpakaian pun ia pandai memilih busana apa yang bisa menjaga dirinya. Sebagai muslim, maka ia akan menyesuaikan selera busananya tunduk pada aturan syariat Islam. Juga, kalo teman kamu ini tutur katanya sopan, santun, dan menghargai orang lain, maka insya Allah ia sudah menjaga imej dirinya di hadapan orang lain dan ia akan berusaha menghargai orang lain yang berhubungan dengannya.

Intinya sih, orang yang bisa menghargai dirinya sendiri insya Allah adalah pilihan tepat untuk dijadikan teman dekat. Nah, biar adil sih, kamu juga musti menjadi pribadi yang bakal dicari orang lain untuk dijadikan teman dekatnya. Setuju kan?

Keempat, pastikan ia seseorang yang bisa dipercaya. Tentunya ini dambaan banyak orang termasuk kamu ya? Karena bisa menjaga rahasia hidup kita. Cara menilainya, kamu bisa cek atau ngetes dengan cara “ngomongin” kejelekan orang lain. Kalo dia nggak suka ngegosip, insya Allah rasanya pas deh kalo jadi temanmu. Insya Allah bisa dipercaya.

Sebaliknya, kamu juga harus memposisikan diri agar menjadi inceran orang lain untuk menjadikan kamu teman dekat yang bisa dipercaya. Jadi, kalo sama-sama berkualitas kan hubungan pertemanannya jadi lebih oke. Klop, karena sama-sama ngerti dan ngertiin.

Kelima, cari yang penuh semangat juang. Wah, ini bisa menjadi teman dekat di saat kita lagi bete. Ia bisa menjelma jadi penyemangat ulung untuk membangkitkan gairah kita. Lihat deh dari aktivitasnya yang nggak kenal lelah. Kalo di depan teman-teman ia tak pernah mengeluh, insya Allah ia adalah seseorang yang penuh semangat juang. Go! Go! Cari sampe dapet! Oya, jangan lupa bahwa diri kita juga harus memiliki potensi dan semangat yang sama agar jadi idaman teman lain untuk menjadikan kita teman dekat mereka.

Oke deh, itulah pentingnya mencari teman dalam hidup ini. Lagian, kita hidup di dunia ini sementara. Apa yang bisa kita bawa kepada Allah Swt di hari penghisaban selain amal baik kita. Jadi, mulailah memupuk amal baik, salah satunya bisa dicoba mencari partner hidup yang bisa mengajak kita lebih baik dalam hidup ini. Dialah teman kita, sahabat kita.

Itu sebabnya, meski agak susah nyari teman yang ideal seperti yang kita inginkan untuk kebaikan kita, tapi bukan berarti kita diam aja. Kita juga bisa melakukan yang terbaik untuk ‘memancing’ orang agar menjadikan kita sebagai teman dekat sekaligus teman baiknya.

Oke deh, selamat memilih teman sejati. Jangan pilih teman tapi setan yang bisanya cuma ngomporin untuk berbuat maksiat. Salam perjuangan.[osolihin: sholihin@gmx.net]


Blog EntryCinta Bukanlah CoklatFeb 18, '08 8:27 AM
for everyone
Add to Technorati Favorites

logo-gi-3.jpg edisi 017/tahun I (11 Shafar 1429 H/18 Februari 2008)

Hari-hari gene nggak sedikit remaja ngerubung mal en toko-toko suvenir. Nggak sekadar window shopping atau cuci mata, mereka udah megang duit untuk beli kartu cinta, setangkai kembang, en sebatang coklat. Tiga barang itu emang udah lengket banget dengan V-Day dan tanda kasih sayang. Ya iyalah!

Anak-anak umat Islam udah banyak yang nggak mikir lagi gimana sejarahnya V-Day apalagi soal boleh nggaknya kita-kita yang muslim ikut terjun ngerayainnya. Pokoknya seru, bisa berkasih sayang, bisa ekspresikan rasa cinta, dan pastinya dapat something special dari someone yang dicintai. Huhuy!

Nggak ragu lagi

Udah deh, kita udah sering banget ngebahas soal sejarah V-Day itu. Banyak banget hal-hal yang dateng dari luar Islam. Ada campuran mitologi bangsa Yunani dan agama Kristen. Ada si Cupid, dewa asmara, yang bersayap en terbang ke mana-mana bawa panah amor (cinta). Si Cupid ini konon ngebidik pria en wanita biar jatuh cinta.

And so on dalam sejarahnya, V-Day juga identik dengan budaya Nasrani. Yang katanya ada pendeta bernama St. Valentine yang menikahkan secara diam-diam para pemuda dan pemudi padahal dibawah ancaman kekaisaran Romawi.

Belum lagi aneka budaya ekspresi cinta yang macam-macam di hari Valentine. Termasuk yang nekatz ngelakuin seks pranikah on Valentine. Aduh, biyung!

Jadi, mau apalagi? Dilihat dari sana en sini V-Day itu nggak bisa dihalalkan. Kelewat banyak yang haramnya, lho! Mulai dari menyerupai orang kafir, merayakan hari raya mereka, sampai ekspresi cinta dan kasih sayang yang nggak syar’i. Allah Swt. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengem-balikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 100)

Malah, denger-denger banyak rohaniawan Nasrani yang juga melarang umat Kristiani merayakan V-Day. Nah, kalo yang non-muslim aja ngelarang, masak iya remaja muslim justru merayakannya. Iya nggak sih?

Bukan sebatang coklat

Guyz, lagian kalo dipikir, sempit banget kalo cinta itu kudu diekspresikan hanya pada hari tertentu, katakanlah pas V-Day. Berarti selama 364 hari dalam setahun kemana aja tuh cinta berlari? Bukannya cinta itu kudu tumbuh dan berkembang setiap hari? Kapan pun, seorang remaja muslim kan kudu menebar cinta dan kasih sayang pada sesama.

Yup, Islam itu agama yang ngajak umatnya untuk love and care pada sesama. Sabda Nabi saw.: “Orang yang berbelas kasih akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih, maka kasihilah penduduk bumi niscaya engkau akan dikasihi oleh penduduk langit.” (HR Abu Daud)

Jangan lupa, Allah Swt. itu kan zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukan dewa yang haus darah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang indah: “Allah menciptakan kasih sayang dalam seratus bagian, kemudian menetapkan 99 bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi, dari satu bagian inilah semua makhluk saling mengasihi hingga seekor kuda mengangkat kaki dari anaknya karena khawatir menginjaknya.”

Tuh, berkat cinta dan kasih sayang sampai-sampai induk hewan pun nggak meng-injak anaknya. So, pendek banget kalo cinta cuma diekspresikan dalam sebatang coklat, atau kartu cinta, apalagi boneka Teddy Bear.

Malah seringkali terjadi kasih sayang yang nggak pas. Contohnya begini, ada remaja yang bisa menyatakan cinta pada kekasihnya, tapi nggak pernah bilang sayang sama ortu. Bisa ngasih coklat pada doinya, tapi nggak pernah ngasih sesuatu yang istimewa untuk bundanya. Siap anter-jemput kekasih setiap saat (persis tukang ojek), tapi pasang muka bete kalo disuruh nemenin ibu ke pasar. Dan ada yang mau aja nyium or dicium pacarnya, tapi males nyium tangan ibu en bapaknya, juga males nyium sajadah (baca: sholat).

Bro en sis, jangan berani bilang cinta en kasih sayang sebelum kamu-kamu bener-bener cinta pada Allah, RasulNya dan ortu. Pasalnya, tiga perkara itu yang kudu dicintai bener-bener sebelum orang lain. Tentang cinta pada ortu pernah ditanyakan oleh seseorang pada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang lebih berhak aku layani dengan baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Ibumu” (Rasulullah saw. mengulangnya tiga kali) lalu menjawab “kemudian ayahmu.” (HR Bukhari)

Nah, kagak pantes ngaku cinta pada doi tapi ibu sendiri di-bete-in dan dibikin juthek. Kuwalat, lho!

Juga bukan true love kalo cinta itu kudu ngelabrak yang diharamkan Allah. Yoi, kagak pantes kita menomorsekiankan cinta pada Allah Swt., dan menomorsatukan cinta pada gebetan (pacar). Pasalnya, Allah udah ngasih apa aja buat kita. Dan cinta Allah pada kita semua adalah sejati, tapi kalo cinta sesama manusia nggak ada jaminan bakal setia di dunia apalagi di akhirat. Kalimat hikmah mengungkapkan: “Cintailah kekasihmu sewajarnya karena bisa jadi kelak ia menjadi musuhmu, dan bencilah musuhmu sewajarnya, karena bisa jadi kelak ia menjadi kekasihmu.”

En buat kamu-kamu yang nerima coklat yang katanya tanda kasih sayang, jangan kegeeran. Berarti dirimu dan cintamu hanya terukur dengan sebatang coklat, atau selembar kartu cinta, atau mungkin kamu dianggap serupa dengan boneka Teddy Bear (keciaan…!).

Guyz, cinta itu lebih luas dari sebatang coklat, lebih indah dari selembar kartu Valentine, apalagi disamakan dengan boneka. Cinta itu kudu dibarengi dengan pengorbanan, dan pengorbanan yang paling utama adalah tunduk pada perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Orang yang berani tunduk pada Allah Ta’ala berarti dia bakal siap berkasih sayang dengan sepenuh hati dan pastinya bertanggung jawab.

Tapi orang yang nggak mau cinta pada Allah Swt., nggak ada jaminan tuh orang bakal bertanggung jawab. Lha, Allah aja udah dia khianati apalagi kekasihnya? Tul, nggak? Apalagi sewaktu pacaran udah minta macem-macem; peluk, cium, eh minta hubungan layaknya suami-istri lagi. Wah, tendang aja kalo ada cowok or cewek yang kayak begitu.

So, jangan blinded by love deh. Buta karena cinta. Ati-ati en waspada, Bro!

Penjajahan Barat dan Kapitalisme

Disadari atau tidak, aneka selebrasi V-Day yang marak pada tanggal 14 Febuari lalu, sebenarnya adalah produk penjajahan Barat dan Kapitalisme. Barat bukan aja berhasil ngejajah umat muslim secara politik dan ekonomi, tapi juga secara budaya. Buktinya, apa yang lagi tren di Barat selalu di-copy en di-paste sama anak-anak muslim. Termasuk V-Day ini, padahal banyak yang tidak tahu akar sejarahnya dan juga hukumnya dalam pandangan Islam. Malah, di beberapa kota di tanah air, mulai disemarakkan juga pesta Halloween oleh kalangan muda.

Efek yang lebih parah dari penjajahan budaya ini adalah rusaknya moral bahkan akidah umat Islam. Di kalangan muda, pacaran udah dianggap ?rukun’-nya jadi anak muda. Bukan sekadar pacaran, tapi aktivitas dalam pacaran yang mendekati zina juga udah dianggap lumrah. “Namanya juga anak muda,” geto kata mereka.

Kapitalisme Barat juga menyusupkan penjajahan ekonominya lewat budaya. Para pengusaha diuntungkan berat lho dengan adanya V-Day. Aneka produk yang terkait dengan V-Day laris manis; coklat, kartu ucapan, boneka-boneka, sampai hotel-hotel. Jadi sebetulnya siapa yang diuntungkan? Pastinya para pengusaha.

Hal yang sama juga terjadi dalam perayaan Natal, di mana banyak rohaniawan Nasrani yang menyayangkan pudarnya semangat Natal karena dikalahkan dengan komersialisme. Gimana nggak, berfoto bareng Sinterklas aja kudu bayar! Ternyata dalam V-Day pun terjadi hal yang sama. Para pengusaha yang berotak kapitalis mengeruk keuntungan dari perayaan V-Day, termasuk para pengusaha hiburan yang menebarkan acara-acara “berkasih sayang”, juga para sineas yang bikin aneka film romantis di hari Valentine. Jadi intinya adalah duit bukan cinta, Bro!

Bro en sis, udah waktunya deh buka perasaan en pikiran, bahwa ada agenda terselubung yang berbahaya di balik selebrasi V-Day. Bahwa hari berkasih sayang udah dimanipulasi sedemikian canggihnya oleh kaum imperialis untuk memperdaya anak-anak muslim nan lugu (tapi bukan lutung gunung, ya?). Para remaja en pemuda muslim yang awam dari agamanya, terus dimanjakan dengan perayaan-perayaan seperti ini.

Bukan sekadar keyakinan, tapi moralnya juga ikut dibombardir oleh budaya liberal Barat, yakni pergaulan bebas. Kasih sayang yang sebenarnya karunia Allah dinodai dengan aktivitas pacaran sampai hubungan bebas yang kebablasan. Di negara-negara Barat, selebrasi V-Day emang nggak lepas dari seks pranikah. Maka di Inggris, pekan Valentine dijadikan bagian dari kampanye penggunaan alat kontrasepsi; kondom. Karena begitu tingginya aktivitas seks pranikah (baca: zina) pada saat itu. Tapi supaya tetep terkesan romantis, di’bungkus’lah oleh coklat dan setangkai mawar. Benarlah firman Allah Ta’ala yang