indra's posts with tag: buletin buka mata
Andai dunia ini masih dianggap berharga, bukankah akhirat itu jauh lebih berharga dan mulia? Andai jasad ini memang diciptakan untuk mati, bukankah mati di jalan Allah lebih mulia? (Husain bin Ali bin Abi Thalib) Selain Ayat-ayat Cinta (A2C), film Fitna juga lumayan banyak menyita perhatian publik bulan maret kemaren. Bedanya, kalo A2C banyak yang nyari versi bajakannya di lapak kaki lima, sementara Fitna banyak yang hunting di dunia maya. Kalo A2C mencoba mengenalkan ajaran Islam yang damai dan sejuk, Fitna malah menyudutkan Islam sebagai agama kekerasan. Kalo A2C berhasil memancing banjir air mata sebagian besar penontonnya, film Fitna justru sukses menuai protes dari umat Islam sedunia. Betul? Film Fitna yang menebar fitnah itu dibuat oleh seorang anggota parlemen Belanda, Greet Wilders. Nih orang emang benci banget ama Islam. Dia pikir ajaran Islam itu jadi biang aksi terorisme yang menyerang non muslim. Meski menuai banyak kecaman, Wilder tetep ngeyel untuk menayangkan film berdurasi 17 menit itu di dunia maya. Walhasil, film Fitna sempet mejeng dalam websites liveleak.com. Tapi nggak lama, pengelola situs berbagi video di Inggris ini mindahin file film Fitna dari servernya. Soalnya mereka ngeri kalo efek penayangan itu bakal mengancam keselamatan staf-stafnya. Makanya jangan cari perkara! Terjadi Berulang Kali Tingkah polah Wilders yang islamophobia menambah daftar panjang kasus-kasus penghinaan terhadap Islam. Tahun 1989 dulu, seorang Salman Rusydi bikin buku berjudul the Satanic Verses alias ayat-ayat setan. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan ayat-ayat cinta lho. Isinya menggambarkan al-Qur’an sebagai ayat-ayat Setan. Nggak cuman itu, dia juga melecehkan isteri-isteri Nabi yang mulia. Malah ka’bah yang disucikan oleh umat Islam sepanjang hidup dilukiskan sebagai tempat mesum. Na’udzubillah! Sialnya, hingga kini Salman Rusydi enak-enakan hidup dalam perlindungan pemerintah dan dinas keamanan Inggeris. Kemudian pada Juli 1997, seorang wanita Yahudi Israel, Tatyana Suskin (26) membuat dan menyebarkan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad. Di antaranya ada poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala Palestina. Di kafiyeh itu tertulis dalam bahasa Inggris dan Arab kata: Muhammad. Dengan pensil di kukunya, babi itu tampak tengah menulis di atas sebuah buku bernama “al-Quran”. Tahun 2002, penghinaan kepada Nabi Muhammad dan Islam kembali terjadi seiring dengan munculnya sebuah tulisan jurnalis Nigeria, Isioma Daniel tentang Rasul dan Miss World. Tahun 2004, Warga Belanda, Theo Van Gogh, mengeluarkan film dokumenter berjudul ”Submission”. Film ini digarap bareng Ayan Hirsi Ali, Muslimah kelahiran Somalia yang pernah menjadi anggota parlemen Belanda. Di situ digambarkan ajaran Islam telah menindas perempuan. Dalam film itu diperlihatkan sejumlah perempuan tanpa busana dan di tubuhnya dituliskan ayat-ayat Al-Quran. Film ini jugalah yang memicu kemarahan hampir satu juta warga Muslim Belanda, dan mengakibatkan pembunuhan terhadap Theo Van Gogh, sutradara film tersebut. Tahun 2005, koran Jyllands Posten Denmark memuat beberapa kartun Nabi Muhammad saw. Dalam kartun itu, Rasul saw digambarkan lagi bawa pedang dan menenteng bom. Terus dalam kartun lain, digambarkan Rasul sebagai orang bersorban yang di atasnya terselip bom. Januari 2006, kartun-kartun itu nongol lagi di koran Norwegia dan Prancis. Seolah nggak puas, Februari 2008 lalu kartun yang melecehkan Rasul saw itu dimuat lagi oleh sebelas media massa Denmark dan beberapa harian di Swedia, Belanda, dan Spanyol. Nantangin nih?! Dan kini, setelah film Fitna, di mesir juga terjadi penghinaan terhadap islam dan nabi muhammad melalui terbitan majalah Jerman, Der Spiegel edisi khusus berjudul ‘Allah di dunia Barat’. Dengan berlindung dibalik kebebasan berpendapat, Der Spiegel menganggap sebagai hal yang bisa diterima dengan menggambarkan Islam sebagai cabang dari agama Kristen dan mempublikasikan gambar-gambar dan komentar yang menghina Nabi Muhammad SAW. Atas perintah Menteri Penerangan Mesir Anas Al-Fiqi, majalah Der Spiegel edisi 25 Maret disita dan dilarang dijual di Mesir. (hidayatullah.com, 06/04/08). Standar Ganda Kapitalisme Barat Pren, wajar kalo umat Islam sewot ngeliat penghinaan dalam film Fitna. Apalagi yang bikinnya, Geert Wildert terang-terangan nunjukkin kebenciannya terhadap Islam sebagai misi politiknya. Anggota parlemen dan pimpinan Partai Kebebasan Belanda ini juga menyerukan agar Al Qur’an dilarang, sebagaimana dilarangnya Mein Kampf, buku Hitler. “Muslim yang tinggal di Belanda harus menyobek setengah dari Al Qur’an, Jika Muhammad tinggal di sini (Belanda) sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda dengan belenggu”, hina Wilder. Wah kebangetan nih! Pernyataan Wilders itu dimuat di surat kabar De Pers, Selasa (13/2/08).”Orang-orang Muslim yang ingin hidup di Belanda, mereka harus melempar setengah Al-Qur’an dan menjauhi para imam (masjid), ” ujar Wilders. Lebih lanjut Wilders mengatakan bahwa Islam itu berbahaya dan membawa misi kekerasan terhadap masyarakat. Ia juga menegaskan, kalau saja Nabi Muhammad saw masih hidup, niscaya ia akan dicap sebagai ekstrimis dan harus diusir dari Belanda karena akan dianggap sebagai sumber tindak terorisme. Asal bunyi aja nih orang! Makanya, Wilders diadukan ke pengadilan oleh Federasi Islam Belanda (DIF), karena membandingkan Al-Quran dengan Mein Kampf, buku yang dibuat Adolf Hitler dan dianggap sebagai kitab suci kaum Nazi. Udah gitu, Wilders juga telah menghasut dan menimbulkan rasa kebencian terhadap Muslims melalui film amatir buatannya. Sialnya, hakim pengadilan Belanda mengatakan, anggota parlemen dari kubu konservatif itu tak bersalah dan memiliki hak untuk berbicara dan mengekspresikan opininya. (Hidayatullah.com, 09/04/08). Kok bisa ya?! Sikap pemerintah Belanda yang membiarkan penghinaan terhadap Islam secara tidak langsung ‘menyetujui’ kejahatan berupa penghinaan terhadap agama. Padahal di Eropa, kalo ada yang meragukan atau mengkritik kebenaran Hollocaust (pembantaian massal) yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa bakal diseret ke pengadilan sebagai tindakan kriminal. Bukankah mengkritik Hollocaust (yang berbau agama) juga adalah bagian dari kebebasan berpendapat? Mengkritik Hollocaust dilarang, tapi menghina Islam dibiarkan atas nama kebebasaan. Nggak konsisten tuh! Inkonsistensi alias standar ganda dalam kapitalisme sering sekali terjadi. Terutama kalo udah nyangkut Islam dan umat Islam. Kondisi ini semakin menunjukkan karakter musuh-musuh Islam seperti diingatkan Allah swt dalam firman-Nya: Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. (QS. Ali’Imran [3]: 118). Makanya, percuma kalo kita ngarepin ’kepedulian’ pemerintah negara-negara Eropa untuk menindak tegas mereka yang udah melecehkan Islam. Yang ada cuman makan ati. Cape deh! Khilafah Menjaga Kemuliaan Islam Sebagai bentuk protes terhadap film Fitna, ajakan boikot terhadap produk Belanda menggema di negeri-negeri Muslim. Hasilnya, emang lumayan bikin ngeper pemerintah Belanda yang takut ekonomi negaranya terancam akibat aksi boikot. Seperti yang pernah dialami negeri Viking, Denmark pasca kasus kartun Nabi saw. Sayangnya, aksi boikot produk nggak bikin mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya kapok. Apalagi dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi bisa melindungi mereka dari jeratan hukum. Makanya, mereka malah makin jor-joran. Kalo udah gini, kerasa banget deh pentingnya menghadirkan institusi yang bisa menyatukan muslim sedunia. Institusi itu adalah kekhilafahan Islam seperti yang ditunjukkan para shahabat pasca Rasul wafat. Ini ditegaskan Rasul dalam sabdanya: «اْلإِمَامُ ـ الْخَلِيْفَةُ ـ جُنَّةٌ يُتَّقَى بِهِ وَيُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ» Sesungguhnya seorang imam—Khalifah—adalah perisai orang-orang akan menjadikannya pelindung dan berperang di belakangnya (HR al-Bukhari dan Muslim) Dengan adanya khilafah, mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya bakal dapet ganjaran setimpal. Penghinaan terhadap Islam atau kaum Muslimin sama dengan menabuh genderang perang. Seperti yang terjadi pada masa Khilafah Abbasiyah, yaitu ketika Nuruddin Zanki menjabat sebagai wali (gubernur) Syam pada tahun 557 H. Ada pihak yang berupaya menyerang makam Rasulullah saw. Atas sepengetahuan Khalifah, Nuruddin pun bertolak ke Madinah untuk menangkap dan membunuh mereka yang menyerang makam Nabi saw. Rasain tuh! Ketegasan Khilafah dalam menjaga kemuliaan Islam cukup bikin ngeper mereka yang hendak melecehkan Islam. Seperti diakui oleh Bernard Shaw dalam memoarnya. Bahwa pada masa Khilafah Utsmaniyah tahun 1913 M, dia dilarang mengeluarkan kisah yang berisi penghinaan kepada Rasulullah saw. Lord Chamberlin melarangnya karena takut terhadap reaksi duta besar Daulah Khilafah Utsmaniyah di London. Begitu juga yang pernah terjadi pada masa Khalifah Abdul Hamid. Saat itu, Prancis hendak mengadakan pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertemakan “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab. Ketika Khalifah Abdul Hamid mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Prancis, beliau segera memberikan ancaman kepada Pemerintah Prancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut. Kalo tetep ngeyel, bakal ribut gede urusannya. Prancis pun ngeper lalu membatalkannya. Ngerasa nggak dapet angin di Prancis, perkumpulan teater itu malah jalan ke Inggris untuk menyelenggarakan pementasan serupa. Sekali lagi, Khalifah Abdul Hamid memberikan ancaman kepada Inggris. Tapi Inggris menolak ancaman tersebut dengan alasan tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Khalifah pun ngasih ultimatum, ”Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!”. Akhirnya, nyali Pemerintah Inggris jadi ciut lalu menelan ludahnya sendiri tentang kebebasan dan pementasan drama itu pun dibatalkan. Makanya jangan cari gara-gara! Nah pren, terbukti hanya Khilafah yang bisa membungkam mulut Wilders dkk yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya. Makanya, selain aksi boikot produk dan aksi demo mengecam penghinaan terhadap Islam, jangan lupakan juga aktifitas dakwah. Membongkar rencana jahat musuh-musuh Islam dan menyeru masyarakat agar bersama-sama berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Agar kemuliaan Islam dan kaum Muslimin tetep terjaga dan terlindungi. Go khilafah go! [hafidz341@gmail.com]
http://hafidz341.wordpress.com/2008/04/14/022-tak-rela-islam-dihina/
“Menjauhkan diri dari perbuaatn hina adalah perhiasan orang miskin, dan bersyukur itu adalah hiasan orang kaya.” (Ali bin Abi Thalib) Bagi anak TK, hari Kartini berarti hari dimana mereka mesti dandan kemayu pake pakaian adat dan saling berpasangan (emangnya sendal jepit hehehe…. ). Terus dipajang di atas panggung dan berjalan layaknya model di atas catwalk untuk dapet tepuk tangan meriah dari ortu dan guru. Bagi siswa/i SMP dan SMA, pastinya hari Kartini jadi ajang apresiasi seni dan hiburan. Kaya lomba mirip tumpeng dan bikin Kartini, eh ketuker. Maksudnya bikin tumpeng dan mirip R.A. Kartini. Lengkap dengan konde dan kebaya yang jarang dilirik remaja putri. Cuma setaun sekali ini. Bagi mahasiswa, hari Kartini berarti momen yang pas untuk ngadain seminar yang mengupas perjuangan kartini dan pemberdayaan perempuan saat ini. Sementara aktifis perempuan ngeliat hari Kartini sebagai saat yang tepat untuk mengkampanyekan emansipasi dan tuntutan perbaikan nasib perempuan. Bagaimana dengan kamu? Kalo buat kita,…kayanya hari Kartini tahun ini berarti waktunya baca Bukamata yang ngupas emansipasi. Hehehe.. maksa deh! Mengenal Perjuangan Ibu Kartini Lahir dari keluarga ningrat, membuat Kartini mesti kehilangan sedikit kebebasannya dalam menuntut ilmu. Pendidikan gadis jawa kelahiran Jepara 21 April 1879 ini mentok di ELS (Eropese Lagere School) pada usia 12 tahun. Jadi cuman tamatan SD. Soalnya di adat jawa, usia segitu udah harus menjadi perumtel alias penunggu rumah teladan. Istilah jawanya, dipingit. Padahal kakaknya yang laki-laki, bisa lanjutin sekolahnya ke tingkat lebih tinggi. Kartini jadi ngiri dong. Untungnya Kartini sempet belajar bahasanya Van Nistelrooy ketika di ELS. Jadi bisa tetep dapet banyak ilmu dengan baca surat kabar Semarang De Locomotief, majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, atau majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie yang pernah memuat beberapa tulisan yang beliau kirim. Dari media-media massa yang berbahasa Belanda itu, Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa saat itu yang punya hak sama dalam soal pendidikan. Selain baca, Kartini juga hobi korespondensi alias surat-menyurat dengan teman-temannya dari negeri Belanda. Lewat surat-suratnya, beliau curhat tentang kegundahannya hidup dalam kungkungan adat ningrat jawa yang sopan santun antar anggora keluarganya ribet banget. Juga kekecewaannya akan nasib perempuan pribumi yang tak berpendidikan. Makanya beliau bertekad untuk memperjuangkan hak perempuan pribumi dalam menuntut ilmu dan belajar. Beliau tulis, “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya” (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901) Menginjak usia 24, Kartini harus menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat sesuai keinginan orangtuanya. Untungnya, suami yang dinikahi kartini pada 12 November 1903 itu ngerti bener keinginannya untuk ngasih peluang pada perempuan pribumi biar dapet pendidikan layak. Makanya sang Suami ngedukung Kartini mendirikan sekolah wanita. Setelah satu tahun menikah, Kartini dikaruniai seorang anak petama sekaligus terakhirnya, RM Soesalit yang lahir pada 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Demi mengenang perjuangan hak pendidikan perempuan, kemudian didirikan Sekolah Wanita bernama “Sekolah Kartini” oleh Yayasan Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer di Semarang pada tahun 1912. Terus dibuka cabangnya di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Dan akhirnya, Presiden Soekarno mengeluarkan KepPres RI No.108 tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan tanggal 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Gitu asal-usulnya pren. Kartini = Pejuang Emansipasi? Meski perjuangan Kartini awalnya terinspirasi dari kemajuan wanita Barat pada jamannya, tapi kayanya bukan untuk ikut ambil bagian dalam perjuangan emansipasi deh. Beliau cuman meminta agar perempuan pribumi diperlakukan sama dalam pendidikan. Sementara gerakan emansipasi wanita Barat menuntut persamaan hak wanita-pria dalam segala hal. Nggak cuman pendidikan. Ini yang bikin repot. Sekilas, perjuangan emansipasi wanita yang merupakan ide feminisme itu keliatannya emang mulia. Berusaha mengangkat derajat kaum hawa yang katanya sering dapet perlakuan nggak adil. Baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Padahal dibalik ‘perjuangan mulia’ itu ada sisi lain yang kudu diwaspadai. Iih.. kesannya kaya wabah flu burung aja. Soalnya, gaung emansipasi nggak cuman ngomongin persamaan hak pria dan wanita, tapi udah ngotak-ngatik peran wanita sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Kehidupan keluarga dianggap merantai kebebasan perempuan yang hidup cuman untuk urusan sumur (nyuci baju atau piring), dapur (masak), dan kasur (ngelonin suaminya). Apalagi banyak wanita yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Lengkap deh alasan wanita untuk keluar dari ‘dunia fitrahnya’. Biar nggak ditindas, dijajah, dan tergantung pada laki-laki, wanita dikomporin untuk nyari penghasilan sendiri dan berani menyuarakan pendapatnya. Kalo laki-laki bisa sukses di dunia kerja, wanita karir juga dong. Kalo laki-laki banyak yang jadi politisi, perempuan pun harus ada wakilnya. Ujung-ujungnya, para wanita rame-rame turun ke ruang publik untuk bersaing dengan laki-laki. Baik di tempat kerja, di atas panggung politik, atau dunia hiburan. Lantas siapa yang ngurus rumah tangga atau ngasuh anak? Kan ada pembantu. Gubrakz! Selain keluarga, emansipasi juga menganggap banyak aturan Islam yang nggak adil sama perempuan. Laki-laki boleh poligami dan perempuan kudu rela dimadu. Dalam pembagian hak waris, perempuan cuman dapet setengahnya dari bagian laki-laki. Dalam pemerintahan, perempuan gak boleh jadi pemimpin strategis seperti presiden, gubernur, atau walikota/bupati. Dalam berpakaian, aurat wanita yang harus ditutup lebih banyak dibanding laki-laki. Walhasil, menjadi peserta pilpres atau pilkada, pake baju yang mengumbar aurat, atau gaul bebas dengan lawan jenis, dianggap wajar dan udah jadi tuntutan emansipasi wanita. Padahal, aturan agama Islam itu Allah swt yang buat, bukan manusia. Masa iya seorang muslimah meragukan kebaikan yang Allah swt tawarkan dalam syariah Islam? Kasian banget ya Ibu Kartini kalo perjuangannya dipake untuk membenarkan tuntutan emansipasi yang menjauhkan wanita dari fitrahnya. Padahal Ibu Kartini pengen perempuan juga berpendidikan agar bisa jadi ibu dan pengurus rumah tangga yang baik sesuai perannya. Seperti dituliskan dalam suratnya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]. Bukan Dengan Emansipasi Perlakuan nggak adil yang menimpa kaum hawa, sejatinya lahir dari pola hidup dan cara berpikir masyarakat yang sekuler bin hedonis. Meski gaung emansipasi kedengaran di sana-sini, gaya hidup hedonis tetep memaku derajat wanita di level bawah. Dengan balutan tren fashion dan kebebasan berekspresi yang trendi, wanita nggak nyadar kalo sedang dikondisikan sebagai pemuas syahwat laki-laki. Dan sialnya, wanita dibuat bangga dengan pelecehan ini melalui penghargaan perempuan tercantik, terseksi, dan berprestasi. Waduh! Sehingga cara paling pas untuk melanjutkan perjuangan Kartini adalah dengan mengubur gaya hidup sekulerisme-hedonis dan menyuarakan kebenaran Islam. Kenapa mesti Islam? Lantaran hanya aturan Islam yang menghargai, menjaga, melindungi, dan memuliakan wanita. Seperti pengakuan seorang Anna Rued, penulis buku—Eastern Mail. ia menyebutkan “Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak—yang tidak saja menyalahi kodrat—tetapi bisa menghancurkan kehormatannya.” Tuh kan? Meski wanita banyak berkutat di dalam rumah, nggak berarti kedudukan mereka lebih rendah dibanding laki-laki. Karena di hadapan Allah swt, bukan prestasi atau jumlah materi yang dinilai. Tapi ketaatannya terhadap perintah dan larangan Allah swt. Makanya nggak pantes deh laki-perempuan saling iri hati. Allah swt ngingetin kita dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa`[4]: 32) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Apakah dalam perkara amalan kami juga demikian? Jika ada seorang wanita berbuat kebaikan hanyalah dicatat untuknya separuh dari kebaikan tersebut?” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat: “Janganlah kamu iri terhadap karunia yang telah Allah berikan berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain.” Sesungguhnya ini adalah keadilan dari-Ku dan Aku yang membuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/462) Nah Pren, cara pandang masyarakat yang merendahkan wanita emang mesti diubah. Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga emang kudu dilawan. Sikap diskriminasi yang dialami wanita di luar rumah juga wajib dihilangkan. Tapi apa semuanya mesti ditempuh dengan kampanye emansipasi? Hmm.. kayanya nggak deh. Bukan apa-apa, kenyataannya, ide emansipasi malah bikin persoalan wanita tambah runyam. Yang bener, perjuangkan hak wanita dengan getol mengkampanyekan penerapan syariah Islam oleh negara yang akan menjaga, melindungi, dan memuliakan wanita dan kehidupannya. Islam akan membawa wanita dari kegelapan menuju cahaya. Sementara emansipasi membawa wanita dari kegelapan menuju bahaya. Jauhi emansipasi dan perjuangkan Islam ideologi. Yuk! [hafidz341@gmail.com].
http://hafidz341.wordpress.com/2008/04/19/023-mis-persepsi-perjuangan-kartini/
Tidaklah seseorang memiliki panjang angan-angan, melainkan amalnya menjadi buruk. (Imam Hasan al-Bashri) Ramalan, emang dari dulu jadi kepercayaan banyak orang di seluruh dunia. Di Perancis, Michel de Notredame yang lebih populer sebagai Nostradamus dikenal sebagai tukang ramal legendaris. Di Korea, Jepang, dan Cina, shio sering jadi acuan dalam menetapkan hari baik dan buruk. Di Jawa, pernah muncul nama Ranggawarsito sebagai peramal masa depan. Bahkan dalam dunia properti, posisi rumah sampe tata letak ruangan pun banyak yang dipengaruhi feng shui. Ramalan emang nggak ada matinya! Tren ramalan juga membidik dunia remaja lewat rasi bintang zodiak. Pokoknya, heboh banget deh kalo udah ngobrolin zodiak. Soalnya, zodiak ngasih tahu remaja tentang masa depan asmara, keuangan, sampe pertemanan. Udah gitu, infonya diupdate tiap minggu. Gimana nggak seru kalo bisa ’tahu’ apa yang bakal terjadi dalam satu minggu. Banyak yang bilang, ngikutin info zodiak sekedar iseng aja alias numpang nyari sugesti positif. Tapi lucunya, nggak sedikit yang bener-bener percaya dan dimasukkin ke hardisk, eh hati. Pas dapet ramalan baik, wajahnya sumringah kaya baru menang undian. Giliran dapet ramalan buruk, tampangnya mendadak lecek dan uring-uringan nggak jelas. Padahal mah, itu kan cuman ramalan yang penuh ketidakpastian. Kalo bener, ya kebeneran dan kalo salah, ya kesalahan. Gitu aja kok repot! Banyak Jalan Menuju Ramalan Hari gini, makin banyak metode ramalan baru yang nongol di media dan jadi tren. Ada astrologi, Palmistry, atau ramalan kartu. Tapi bukan pake kartu bayaran sekolah lho. Biasanya pake kartu tarot. Istilah “Astrologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu: astron yang berarti bintang, dan logos yang artinya ilmu. Jadi sebenernya, Astrologi adalah ilmu tentang perbintangan dan benda-benda luar angkasa. Dan sesalahnya, ada yang meyakini kalo benda-benda angkasa itu ada kaitannya dengan nasib peruntungan manusia. Kemudian muncullah ramalan-ramalan astrologi yang biasanya berupa diagram benda-benda langit yang dikenal sebagai horoskop. Dari horoskop ini kemudian mempopulerkan tiga belas simbol rasi bintang yang lazimnya disebut dengan istilah “zodiak” yang terdiri dari Capricornus, Aquarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpius, Ophiuchus (ini pendatang baru lho!), dan Sagitarius. Sementara di China, zodiaknya dikenal dengan sebutan shio yang diambil dari nama hewan, yaitu: tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Tiap zodiak mewakili waktu lahir seseorang yang mempengaruhi peruntungan seumur hidupnya. Kalo Palmistry, di India dikenal dengan istilah Hast Samudrika atau Lautan Pengetahuan. Ilmu ini percaya kalo beberapa garis yang ada dalam telapak tangan adalah cerminan dari pikiran bawah sadar yang membentuk garis-garis tersebut. Karena garis tersebut mewakili pikiran kita, sikap positif yang kita miliki akan berdampak pada garis lurus yang memiliki arti baik, sedangkan pikiran negatif membuat efek sebaliknya. Sementara kartu tarot tersusun oleh 78 kartu yang terdiri dari 22 kartu Arcana Mayor sering disebut sebagai kartu trump, yang berarti mereka memiliki keunggulan dibandingkan dengan 56 kartu Arcana Minor. Tarot yang paling populer saat ini adalah Tarot versi Rider-Waite-Smith. Dalam budaya Barat, kartu yang berasal dari Itali ini dipercaya memiliki kemampuan untuk meramal masa depan, peruntungan nasib, bahkan dipakai sebagai alat untuk mencapai alam bawah sadar. Nggak cukup dengan rasi bintang, garis tangan atau kartu tarot, ramalan juga merambah dunia maya. Tinggal kunjungi situsnya, masukkin tanggal lahir, lalu keluar deh ramalannya. Malah ada juga yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ponsel. “Cukup kamu ketik ramal spasi nama lengkap dan kirimkan ke 1234. Inget ya, TULISKAN NAMA LENGKAP KAMU, biar ramalannya nggak nyasar ke orang lain. Yang pasti, sms yang kamu terima, langsung dari hape peramalnya. Bukan hape saya. Soalnya saya mah cuman mak comblang aja, sekedar ngasih obyekan ke tukang ramal.” Hehehe…. Irasional Namun Tetep Fenomenal Bukan rahasia lagi kalo ramalan nasib itu irasional alias nggak masuk akal (kecuali ramalan cuaca lho). Faktanya, penerawangan masa depan seseorang hanya dipenuhi dugaan dan kemungkinan. Maybe yes maybe no. Karena emang belon terjadi. Masalahnya sekarang, meski irasional, masih banyak orang yang betah diramal. Dan tukang ramal juga nggak pernah sepi order. Kalo menurut hasil penerawangan penulis, eh pengamatan penulis, ada tiga faktor yang bikin ramal-meramal nggak ada matinya. Pertama, rasa penasaran tentang masa depan. Setiap orang pastinya selalu pengen tahu apa yang akan terjadi pada dirinya besok, lusa, atau suatu saat nanti. Rasa penasaran ini yang memancing orang untuk minta diramal atau melototin info zodiak terbaru. Siapa tahu setelah diramal, ternyata someday bakal jadi idola remaja, bisa menikmati hidup serba ada, setiap sisi kehidupannya disorot kamera, tapi karena terlalu hedonis akhirnya terjerat narkoba, lalu mendekam di penjara, semua harta bendanya habis tanpa sisa, setelah keluar dari penjara keadaannya kembali seperti semula sebelum jadi idola. Huehehe…masih penasaran dengan masa depan? Kedua, second opinion. Udah jadi kebiasaan kalo lagi ada masalah, kita sering cerita ke teman, keluarga, atau orang dekat untuk dapetin pemecahannya. Tapi terkadang, banyaknya masukan malah bikin kita khawatir keliru ngambil solusi. Biar pede, ada yang ngerasa perlu bantuan second opinion alias pendapat kedua. Pastinya, second opinion ini bukan dari orang biasa. Tapi dari orang pinter (bukan pinter ngibul lho) yang ngasih pemecahan sekaligus ’bocoran’ tentang masa depan kehidupannya. Seperti pengakuan seorang peramal, Mama Lauren. Orang-orang yang jadi pasiennya membutuhkan second opinion untuk mengatasi problem mereka. Gitchu! Ketiga, media massa. Dunia ramal emang komoditi bisnis yang laris manis. Nggak heran kalo media massa dengan senang hati menayangkan lika-liku tren dunia ramal dan supranatural. Sehingga orang jadi kenal dengan tukang ramal kaya Mama Lauren, Putri Wong Kam Fu, atau Ki Joko Bodo. Orang juga nggak keberatan ’buang pulsa’ demi sms sugesti dari Romy Rafael atau ramalan Dedy Cobuzier yang iklannya sering nongol di layar kaca. Malah media cetak remaja nggak mau ketinggalan ngasih tempat untuk rubrik ramalan bintang. Nah pren, dunia ramal jadi fenomenal lantaran lingkungan sekitar kita ikut mensukseskan kehadirannya. Seolah nggak tersentuh oleh hukum negara apalagi norma agama. Emang kaya gitu kalo hidup di alam kapitalis sekuler. Selama praktik ramal dan supranatural nggak bikin rugi banyak orang, negara ogah turut campur. Padahal jelas-jelas ramalan nasib itu sesat dan menyesatkan. Terutama bagi umat Islam. Bisa merusak akidah. Makanya jangan mau hidup di alam kapitalis sekuler seumur hidup. Bakal tekor dunia akherat tau! Islam Tak Kenal Dunia Ramal Pren, dari asal muasalnya aja udah keliatan kalo dunia ramal dan supranatural datang dari budaya orang-orang kafir. Mereka yakin kalo perkara ghaib yang tidak terjangkau oleh akal dan indera manusia bisa diketahui dengan perantaraan rasi bintang, garis tangan, atau kartu tarot. Persis kaya zaman jahiliyah dulu. Padahal dalam Islam, keyakinan model gitu udah lama dikubur. Karena yang tahu perkara ghaib hanya Allah swt dan Rasul yang diridhoi-Nya. Seperti dipastiin dalam firman-Nya: (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. al-Jin [72]: 26-27) Imam al-Qurthubi menyebutkan ketika menafsirkan ayat di atas “bahwa ramalan bintang tak ada faedahnya sama sekali, dan tidak menunjukkan celaka atau bahagia (seseorang). Ramalan tersebut tiada lain adalah penentangan terhadap al-Quran yang agung. Sikap penentangan terhadap al-Quran ini berarti telah menghalalkan darah orang yang melakukan ramalan perbintangan itu.” Terus, kalo ada hasil ramalan yang kebeneran terjadi, bukan berarti peramal tahu perkara ghaib. Aisyah r.a. berkata, beberapa orang bertanya kepada Nabi saw tentang dukun. Jawab Nabi: ’Mereka bukan apa-apa.’ Berkata mereka: ’Adakalanya mereka itu menceritakan dan terjadi benar.’ Nabi bersabda: ’Itu kalimat yang hak dicuri oleh Jin, maka disampaikan kepada dukun dan ditambah dengan seratus kalimat dusta.” (HR. Bukhari-Muslim) Nggak cuman tak berfaedah, percaya ramalan atau zodiak juga bisa bikin ibadah shalat kita hangus dan akidah kita kendor lho. Nabi saw bersabda: “Siapa yang datang kepada tukang tebak dan menanyakan sesuatu lalu dipercayainya, maka tidak diterima sembahyangnya empat puluh hari.” (HR. Muslim). Kalo kamu diramal, bersikaplah seperti Ali bin Abi Thalib yang pernah dilarang oleh seseorang untuk tidak bepergian dengan alasan bahwa bulan sedang pada posisi Scorpio. Dan itu akan mengakibatkan bencana bagi Ali r.a. dan para sahabatnya. Tapi sahabat Nabi ini tidak mempedulikan saran orang tersebut, kemudian beliau berkata: Kami mendustakan dan menyalahi perkataanmu. Kami akan berangkat pada waktu yang kamu larang untuk berangkat. Ali kemudian menghadapkan dirinya pada orang banyak dan berkata: Wahai manusia, hindarkanlah diri kalian dari belajar ilmu perbintangan, kecuali apa yang dapat menunjuki kalian di kegelapan darat dan laut. Seorang peramal bintang (ahli nujum) tak lain adalah seperti tukang sihir, sedangkan tukang sihir adalah seperti orang kafir, dan orang kafir tempatnya di neraka…. (kitab Nahjul Balaghah juz I, hlm. 128). Dalam Islam, kehadiran paranormal, tukang ramal, atau tukang sihir akan membahayakan akidah umat. Makanya, negara bakal ngasih sanksi yang tegas bagi mereka. Seperti sabda Rasul saw: “Hukuman terhadap tukang sihir itu dipenggal lehernya dengan pedang.” (HR. Tirmidzi dan Daruqutni). Nah pren, udah jelas banget dong kalo kebencian Islam terhadap dunia ramal-meramal bukan main-main dan nggak pilih-pilih. Yang meramal atau yang diramal, sama tekornya. Daripada buang-buang waktu untuk nyari ramalan nasib yang gratisan, mendingan diisi dengan kegiatan positif seperti ikut ngaji yang bisa mencerahkan masa depan kita dunia akherat. Dan pastinya, hidup akan lebih seru dan produktif kalo masa depan kita tetep jadi misteri. Hari gini masih percaya ramalan nasib? Jangan gila dong! [hafidz341@gmail.com]
Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran. (Corrie Ten Boom) “Turunkan harga sembako..!” “Turunkan harga BBM..!” “Hukum Mati Pelaku Korupsi..”! bukamata1107.wordpress.com - Itulah sebagian tuntutan yang sering disuarakan mahasiswa terhadap pemerintah. Nggak cuman di ibukota, di daerah-daerah juga suara protes mahasiswa lumayan lantang terdengar. Aturan pemerintah yang tak berpihak pada rakyat kecil, jadi sasaran empuk kaum intelektual muda untuk dikritik. Mulai dari konversi minyak tanah ke gas hingga respon pemerintah terhadap korban bencana. Nggak ketinggalan kebijakan rektor yang dianggap merugikan mayoritas mahasiswa juga ikut diangkat sebagai tema aksi. Asal jangan anarkis ya.. Bukan cuman mahasiswa, sikap kritis juga sering kedapetan ngecengin segelintir pelajar. Meski nggak selalu turun ke jalan dan teriak-teriak, sikap kritis tetep mereka tunjukkan. Ada yang dituangkan dalam coretan dinding, majalah tembok, buletin sekolah, atau tulisan dalam blog. Sasaran kritiknya juga lebih banyak situasi kondisi yang dekat dengan kesehariannya. Mulai dari perilaku temen yang nge-bete-in, guru killer, masalah di rumah, atau aturan sekolah yang bikin gerah. Kalo yang nyerempet-nyerempet politik gitu? Hmm.. belon kayanya. Jangan Bungkam Suara Remaja Sikap kritis berarti keberanian ngasih masukan berupa opini pribadi, kritikan, saran, atau pembelaan. Sayangnya, sikap kritis remaja nggak selalu direspon positif. Usia yang masih bau kencur sering kali dianggap belum layak ngasih masukan. Apalagi kalo sikap kritis remaja ditujukan ke orang yang usianya di atas mereka atau ’ngompol’ alias ngomong politik. Malah dibilangin sok tahu, sok pinter, dan dipandang sebelah mata. Kaya gini nih yang bikin remaja jadi males berikap kritis. Masih untung ketika suara mereka dicuekkin, mereka tuangkan dalam tulisan. Lha kalo lebih memilih kabur dari rumah, bolos sekolah, atau bikin masalah yang pastinya dapet perhatian, kan repot tuh! Tragis banget ya, ketika sikap kritis remaja ’dibunuh’ justeru oleh orang-orang yang seharusnya jadi teladan remaja. Padahal sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. aja pernah bilang, “…lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan..”. Tuh kan? Nggak ada salahnya kan dengerin suara remaja. Ngasih kesempatan mereka untuk mengeluarkan dan mendiskusikan pendapatnya. Sama-sama nyari kebenaran, bukan pembenaran. Kalo gitu kan enak. Remaja jadi berani bersikap, punya prinsip, mandiri, dan tentunya lebih siap jadi pemimpin di masa depan. Bukannya ini yang kita sama-sama harepin? Dan untuk kita selaku remaja, mending selalu positif thinking dengan respon buruk atas sikap kritis kita. Anggap saja sebagai pelecut semangat. Mungkin bukan sikap kritis kita yang salah, tapi cara penyampaiannya yang kurang etis. Jadinya ada yang salah tangkep. Niatnya cuman ngingetin, tapi dinilainya ngerecokin. Berabe kan? Walau Kritis Tetep Etis Biar orang laen enak dengan sikap kritis kita, boleh juga pake aturan maen sikap kritis yang etis. Ini beberapa tips dari kita: Pertama, bukan untuk menjatuhkan apalagi melecehkan. Kita nggak maen vonis bersalah ama orang lain. Soalnya, boleh jadi kesalahan orang lain dimata kita, ternyata itulah hal terbaik yang bisa dia perbuat seperti yang dia pahami. Cari tahu dulu alasan dia berbuat itu sebelum ngasih masukan. Ajukan pertanyaan ’ada apa?’, bukan ’kenapa?’. Biar orang nggak merasa disudutkan. Ok? Kedua, kritisi cara berpikirnya bukan orangnya. Sikap kritis udah sepantasnya jadi ajang persahabatan, bukan permusuhan. Kalo beda pendapat, teteplah berdiskusi dan beradu argumen dalam ruang adu pendapat. Jangan bawa-bawa kekurangan fisik lawan bicara atau masalah pribadi dia ke arena diskusi. Nggak fair tuh! Ketiga, siap terima umpan balik. Niatkan dari awal, kita bersikap kritis untuk meraih ridho Allah dan merekatkan ukhuwah. Sehingga kita lebih siap ngadepin apapun resiko dari kebenaran Islam yang kita sampaikan. Kalo responnya positif, alhamdulillah itu yang sangat diharapkan. Tapi kalo responnya ternyata buruk, menuai protes, bahkan mengancam jiwa, tetep cool, calm, and confident. Jangan terpancing bertindak anarkis. Karena anarkis, hanya akan mengubur akal sehat dan menodai sikap kritis kita. So, jadi remaja kritis nggak pake anarkis! Keempat, punya prinsip. Bakal banyak pendapat dan argumen saat kita bersikap kritis. Saat itu, kita dituntut untuk berani bersikap. Pilihan yang disodorkan, setuju atau tidak setuju. Nggak ada pilihan ragu-ragu. Lumayan dilematis juga ngadepin situasi kaya gini. Kalo tidak setuju dan tetep pegang pendapat sendiri tapi nggak bisa ngejelasinnya, entar dibilang ngeyel. Kalo setuju terus pindah ke lain hati, malah dianggap plin-plan. Disinilah pentingnya punya prinsip. Biar nggak gampang dihantui dilema dan rasa ragu. Untuk itu, pilih prinsip yang pasti-pasti aja deh. Dan sebagai muslim, cuman prinsip Islam yang udah pasti. Pasti anti ragu bin dilema, pasti diridhoi Allah swt, dan pastinya selamat dunia akherat. Asyik kan? Kelima, kritik ‘cantik’. Biar kendengerannya sopan, terkadang sikap kritis kita tunjukkan dengan terlebih dahulu ngasih pujian yang disisipi kata sambung ’tapi’. Misal, “saya seneng deh denger kamu nyanyi. Tapi saya jauh lebih seneng kalo kamu nyanyinya dalam hati saja”. Waduh! itu mah sama saja melambungkan lawan bicara ke angkasa lalu menghempaskannya ke atas bumi. Sakit banget pren. Pujiannya jadi kaya gak ikhlas gitu. Jauh lebih etis kalo kita ganti kata sambung ’tapi’ yang artinya bertolak belakang dengan ’dan’ yang artinya sejajar. Jadi, “saya seneng deh denger kamu nyanyi dan saya yakin suara kamu pasti akan lebih merdu lagi dengan terus berlatih. Tetaplah bernyanyi…”. So sweet…! Keenam, sodorkan bukti. Jangan sampai sikap kritis kita mencoreng nama baik atau dianggap provokator. Entar kena somasi repot deh. Kalo mengkritisi kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara dunia akherat misalnya, sertai bukti yang kuat dan akurat. Jangan cuman bermodalkan megaphone, poster, atau spanduk aja saat demonstrasi. Kalo ada bukti, cukup sedikit bicara tapi mengena. Cocok! Ketujuh, kritisi dengan solusi. Terutama kalo menyangkut kepentingan umum, siapkan solusi yang ngasih kebaikan untuk semua. Bukan solusi yang malah nambah masalah baru. Seperti dalam masalah HIV/AIDS. Kondomisasi atau pembagian jarum suntik steril sering jadi andalan pemerintah dah LSM untuk mengerem penyebaran wabah HIV. Padahal solusi itu malah kian melestarikan budaya seks bebas dan penggunaan narkoba. Bagusnya, negara pake aturan Islam yang sempurna untuk ngatur rakyatnya. Karena hanya ketegasan aturan Islam yang bisa mengeliminasi budaya seks bebas dan peredaran narkoba dari masyarakat. Itu baru solusi mak nyus! Tanda Peduli dan Cinta Punya sikap kritis emang perlu. Sayang banget kalo kita mengkarantina sikap kritis dalam hati saja. Soalnya, sikap kritis bagus untuk kesehatan jiwa. Bisa memupuk jiwa sosial karena kepekaan kita dengan lingkungan sekitar. Bisa juga melatih kita untuk berani ngomongin pendapat. Jarang-jarang lho ada remaja berani bersuara. Kebanyakan adem ayem aja sibuk dengan dunianya sendiri. Punya sikap kritis, bukan berarti kita ngerecokin urusan orang lain lho. Lebih pas kalo sikap kritis dimaknai sebagai wujud kepedulian dan ekspresi cinta. Bayangkan kalo selama hidup nggak ada yang mengkritik kita. Nggak ada yang ngingetin kita. Nggak ada yang ngasih advice alias saran untuk perbaikan diri kita. Itu artinya, nggak ada yang peduli dan merhatiin kita. Idih, sedih banget deh pastinya. Karena itu, sikap kritis juga berfungsi sebagai kontrol. Baik kontrol sosial maupun kontrol secara personal. Adanya sikap kritis, membantu kita menjaga masyarakat agar tetep beradab. Kalo nggak ada yang kritis terhadap gaya hidup remaja yang hedonis, alamat remaja makin terancam masa depannya. Kalo nggak ada yang kritis saat ngeliat retsleting celana kita yang terbuka, kita bisa tengsin berat. Itu berarti, sepedas apapun kritikan yang disampaikan, akan ngasih kebaikan untuk kita semua. Pastinya! Sebagai muslim, sikap kritis akan menjauhkan kita dari kerugian dunia akherat. Allah swt juga menegaskan dalam firman-Nya: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(QS. Al-Ashar [103]: 2-3). Kalo nggak kritis, apalagi ditengah kerusakan sistem kapitalis sekuler yang tengah mengatur hidup masyarakat kaya sekarang, kita bakal kebagian getahnya euy. Rasul mengingatkan dalam sabdanya: “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya adalah bagaikan suatu kaum yang mengadakan undian untuk naik sebuah kapal, maka jadilah sebagian mereka ada di atas dan sebagian lagi di bawah. Lalu orang-orang yang ada di bawah jika mereka hendak mengambil air maka harus melewati orang yang di atas mereka. Maka mereka berkata: “Seandainya kami melubangi kapal ini maka kami tidak mengganggu orang yang di atas kami.” Jika para penumpang kapal itu membiarkan apa yang mereka kehendaki itu maka semuanya akan binasa. Tetapi jika mereka mencegahnya maka selamatlah dan selamat semuanya.” (HR. Al-Bukhari) Untuk ngasih nilai lebih pada sikap kritis kita, ekspresikan bukan hanya untuk kepentingan sendiri. Tapi untuk kepentingan bersama. Bukan hanya kritis ama temen sekolah atau sikap anggota keluarga dirumah, Kritisi juga situasi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, atau budaya yang mengancam kehidupan umat. Nggak berat kok. Hanya perlu sedikit kepedulan kita aja. Biar nggak asal kritis, pake kacamata Islam untuk ngeliat kondisi yang layak dikritisi. Dan jangan lupa, selalu sertakan Islam ideologi sebagai solusi dari setiap masalah yang dikritisi. Tak hanya akhlak dan moral aja yang jadi penawar. Biar pemecahannya bisa tuntas..tas..tas. Disini pentingnya kita mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji gitu lho. Dengan ikut ngaji, bisa menumbuhkan sikap kritis, penyampaiannya lebih etis, nggak pake anarkis, dan solusi yang ditawarkan juga ideologis. Inilah karakter remaja kritis yang ideologis. Mantap! [hafidz341@gmail.com]
| |