indra's posts with tag: bencana
Wednesday, 14 May 2008 11:04 Syabab.Com - Gempa bumi yang mengguncang China Senin (12/05) telah menelah lebih dari 13 ribu orang tewas. Angka tersebut masih akan terus meroket setelah media melaporkan bahwa lebih dari 19 ribu orang terkubur di satu wilayah. Peringatan dari Allah Pencipta Alam Raya terutama kepada manusia yang selalu ingkar kepada-Nya. Gempa berkekuatan 7,9 skala richter pada Senin itu melanda provinsi Sichuan dan menjadi gempa bumi terburuk di negara tersebut dalam tiga dasawarsa terakhir.
Media pemerintah China melaporkan kehancuran total di desa-desa dekat episenter di Wenchuan, wilayah terpencil yang terputus dari dunia luar akibat longsor. Kawasan itu terletak sekitar 100 km dari Chengdu, ibukota Sichuan.
Kantor berita Xinhua melaporkan pihak berwenang pada Selasa malam mengumumkan 500 warga Wenchuan tewas, namun jumlah tersebut kemungkinan masih akan bertambah.
Militer yang tiba di Yingxiu, Wenchuan, menemukan hanya 2 ribu orang yang selamat di kota kecamatan berpenduduk 12 ribu jiwa itu.
"Mereka mendengar orang-orang di bawah reruntuhan berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang bisa berbuat banyak sebab tidak ada tim penolong yang profesional," kata stasiun televisi pemerintah mengutip seorang pejabat bernama He Biao.
Di seluruh Wenchuan terdapat sekitar 60 ribu orang yang belum diketahui nasibnya.
Satu sekolah dengan 850 siswa di Qingchuan, Sichuan, kehilangan 90 siswanya yang tewas ditambah 191 lainnya yang belum ditemukan, ungkap seorang pejabat setempat kepada Xinhua.
Kantor berita tersebut juga melaporkan sejumlah besar korban tertimbun reruntuhan di kota Mianyang.
Di Mianzhu, Sichuan, tim penolong menyebutkan jumlah korban telah bertambah menjadi 3 ribu jiwa. Sekitar 500 orang diselamatkan dari reruntuhan bangunan.
"Siatuasi bencana ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan, dan tempat-tempat yang harus ditolong cukup kompleks," kata Perdana Menteri Wen Jiabao sebagaimana diberitakan Xinhua.
"Tolong percepat pengiriman makanan (ke Wenchuan). Anak-anak tidak punya apapun untuk dimakan," katanya.
Di Dujiangyan, pertengahan antara Chengdu dan episenter gempa, mayat-mayat dijejerkan di jalanan sedangkan penduduk mengumpulkan harta miliknya di depan rumah yang sudah hancur.
Sebelas turis yang terjebak selama 24 jam di kereta gantung di kawasan wisata alam Jiuzhaigou, Sichuan, akhirnya bisa diselamatkan.
Pemerintah China mengemukakan hingga Selasa siang tidak terdapat laporan tentang warga asing yang menjadi korban gempa tersebut. Sedangkan Birma hari Selasa mengumumkan angka kematian korban badai topan telah melampaui 34-ribu. PBB memperkirakan angka kematian bisa setinggi 100-ribu.
Demikianlah kekuasaan Allah yang Maha Perkasa. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS. An-Nahl 16:15)
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS. An-Naml 27:88)
Gempa bumi di China ini semestinya menjadi pelajaran bagi rakyat China ataupun manusia lainnya untuk segera kembali kepada Allah Taála. Sebelumnya korban badai topan menerjang Birma. Ribuan orang tewas. Terlalu banyak manusia di dunia saat ini mencampakkan aturan-aturan-Nya. Bila ajal sudah datang, lalu apa yang akan kita siapkan untuk berhadapan dengan-Nya. [z/ant/syabab.com]
Tuesday, 01 January 2008
Syabab.Com - Akhir Tahun 2007 tidak lepas dari banyaknya bencana yang menimpa negeri ini. Di tengah-tengah berbagai musibah yang menyedihkan ini, ironisnya sebagian kaum Muslim malah menunjukkannya dengan perayaan pesta tahun baru yang penuh dengan kemewahan dan hura-hura. Demikianlah salah satu pernyataan sikap yang disampaikan Ketua Lajnah I'lamiyah
Dalam pernyataan tertulisnya tentang bencana alam di berbagai tempat di Indonesia HTI menyampaikan keprihatinan yang amat mendalam atas terjadinya musibah di negeri ini.
"Bagi yang meninggal dunia kami mendoakan agar diampuni dosanya oleh Allah SWT dan diberikan tempat yang layak. Bagi yang masih hidup agar menghadapi segala musibah ini dengan kesabaran dan tawakal," jelas Farid Wadji.
Namun, menurut HTI seharusnya kaum Muslim mengambil pelajaran dari berbagai musibah tersebut, disamping merupakan gejala alam biasa, bencana alam ini tidak bisa dilepaskan dari keserakahan manusia yang merusak alam hanya untuk kepentingan materi tanpa memikirkan dampaknya bagi alam dan manusia. Seperti yang dinyatakan oleh Otto Soemarwoto, pakar lingkungan dari Universitas Padjadjaran, banjir dan longsor seperti terjadi saat ini sebagai risiko dari musim hujan yang diperparah dengan kerusakan lingkungan.
Musibah ini juga memberi pelajaran tentang betapa lemahnya kita sebagai manusia dihadapan Allah SWT. Karena itu, kita harus bertanya pada diri kita apakah pantas kita mempertahankan sikap durhaka kepada Allah SWT dengan tidak taat kepada hukum-hukumNya. Bencana demi bencana ini seharusnya membuat kita lebih taat lagi kepada Allah SWT dengan mencampakkan sistem sekuler-kapitalisme selama ini yang telah membuat kita jauh dari Syariah Islam.
Melihat lambannya tindakan pemerintah untuk menangani korban bencana, HTI sangat menyesalkan pemerintah juga sepertinya tidak mengambil pelajaran dari berbagai bencana yang terjadi sebelumnya.
"Seharusnya, pemerintah jauh hari sebelumnya melakukan upaya pencegahan (preventif) untuk menghindari terjadinya bencana ini, paling tidak bisa meminimalisasi dampak kerusakannya. Karena itu, pemerintah harus melakukan penanganan secepatnya, menolong korban dan memberikan bantuan logistik yang diperlukan."
Farid juga sangat menyesalkan sikap yang tidak mencerminkan rasa keprihatinan terhadap bencana ini, yang ditunjukkan dengan perayaan pesta tahun baru yang penuh dengan kemewahan dan hura-hura di tengah jerit tangis para korban banjir.
"Seharusnya, dana yang besar untuk pesta tahun baru bisa diberikan kepada korban bencana yang jelas akan meringankan beban hidup mereka," tegas ketua Lajnah I'lamiyyah HTI ini.
Di akhir pernyataan sikapnya, Hizbut Tahrir Indonesia menyerukan kepada umat Islam untuk mengulurkan bantuan apa saja yang bisa diberikan, sebagai manifestasi dari pelaksanaan fardhu kifayah guna membantu penderitaan korban bencana. Untuk itu, Hizbut Tahrir Indonesia juga telah membuka Posko HTI Peduli Banjir sejak 26 Desember 2007, melakukan evakuasi, membuka dapur umum, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Uluran dana dapat disalurkan melalui Posko HTI Peduli Banjir cabang Jawa Tengah: rekening BCA atas nama Ahmad Fadholi: 015-222-7947, dan Jawa Timur: rekening BCA atas nama Rizka Miladiah: 258-051-9949.
Catatan Musibah di Akhir Tahun 2007
Berbagai musibah telah menimpa negeri ini. Tanah longsor terjadi di Tawang mangu Karanganyar Jawa Tengah, korban diperkirakan mencapai 65 orang. Banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo terjadi di Solo hingga Bojonegoro. Setelah sebelumnya surut, banjir kembali melanda sejumlah tempat di Solo. Banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo di kota Bojonegoro Jatim meluas. Setelah tiga hari merendam sebagian besar wilayah Bojonegoro, banjir juga meluas ke Lamongan, Jatim. Sementara di Kabupaten Ngawi Jawa Timur dari jumlah pengungsi banjir yang diperkirakan mencapai 120.000 orang tersebut, sedikitnya ada 6.350 warga hingga kini masih bertahan di sejumlah tempat-tempat pengungsian.
Bencana juga terjadi di Sumatera. Para pengungsi korban banjir di Kota Jambi, terutama di tenda-tenda yang disiapkan pemerintah dilaporkan kekurangan selimut. jumlah warga yang mengungsi ke tenda yang disiapkan pemerintah bertambah menjadi 51 kepala keluarga atau menjadi 175 jiwa yang sebelumnya hanya 36 KK (159 jiwa). Jumlah warga yang mengungsi di rumah tetangga dan keluarganya yang tidak terkena banjir jumlahnya mencapai ratusan kk atau ribuan jiwa. Ribuan rumah penduduk, sebagian besar milik para nelayan tradisional dan petani tambak yang tinggal secara turun temurun di sepanjuang pesisir pantai Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaporkan kini terancam abrasi laut.
Akibat bencana ini puluhan ribu rumah rusak akibat terendam banjir dan longsor. Puluhan ribu orang mengungsi, dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Kota-kota dan desa lumpuh. Luapan air juga menggenangi ratusan hektar persawahan serta sarana transportasi. Wabah penyakit diare dan leptospirosis yang biasa muncul pascabanjir mengancam warga. Disamping itu, akibat masih belum lancarnya bantuan kepada pengungsi, ancaman kelaparan pun sangat mungkin terjadi. Yang jelas, bencana alam ini akan menambah penderitaan rakyat miskin yang sudah menderita selama ini.
Korban banjirpun banyak mengeluhkan lambannya pemerintah untuk menolong mereka. Di beberapa tempat tidak sedikit korban banjir harus menahan lapar, haus dan kedinginan akibat lambannya evakuasi. Pengungsipun tidak dengan cepat mendapat bantuan makanan dan selimut. Ironisnya, disaat banyak berbagai daerah ditempa bencana, pesta tahun baru pun tetap digelar dengan gegap gempita dengan dana yang besar. Pusat-pusat perbelanjaan penuh, puluhan ribu orang berduyun-duyun datang ke pusat-pusat kota untuk merayakan pesta ini semalam suntuk. Makanan mewahpun dihidangkan di restoran-restoran untuk menyambut Tahun Baru. [f/hti/syabab.com]
 بسم الله الرحمن الرحيم وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ LAJNAH I’LAMIYAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA Jakarta, 1 Januari 2008 PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA Nomor: 02/PU/E/01/2008 TENTANG BENCANA ALAM DI BERBAGAI TEMPAT DI INDONESIA Akhir tahun 2007, ditandai dengan bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Tanah longsor terjadi di Tawang mangu Karanganyar Jawa Tengah, korban diperkirakan mencapai 65 orang. Banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo terjadi di Solo hingga Bojonegoro. Setelah sebelumnya surut, banjir kembali melanda sejumlah tempat di Solo. Banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo di kota Bojonegoro Jatim meluas. Setelah tiga hari merendam sebagian besar wilayah Bojonegoro, banjir juga meluas ke Lamongan, Jatim. Sementara di Kabupaten Ngawi Jawa Timur dari jumlah pengungsi banjir yang diperkirakan mencapai 120.000 orang tersebut, sedikitnya ada 6.350 warga hingga kini masih bertahan di sejumlah tempat-tempat pengungsian. Bencana juga terjadi di Sumatera. Para pengungsi korban banjir di Kota Jambi, terutama di tenda-tenda yang disiapkan pemerintah dilaporkan kekurangan selimut. jumlah warga yang mengungsi ke tenda yang disiapkan pemerintah bertambah menjadi 51 kepala keluarga atau menjadi 175 jiwa yang sebelumnya hanya 36 KK (159 jiwa). Jumlah warga yang mengungsi di rumah tetangga dan keluarganya yang tidak terkena banjir jumlahnya mencapai ratusan kk atau ribuan jiwa. Ribuan rumah penduduk, sebagian besar milik para nelayan tradisional dan petani tambak yang tinggal secara turun temurun di sepanjuang pesisir pantai Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaporkan kini terancam abrasi laut. Akibat bencana ini puluhan ribu rumah rusak akibat terendam banjir dan longsor. Puluhan ribu orang mengungsi, dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Kota-kota dan desa lumpuh. Luapan air juga menggenangi ratusan hektar persawahan serta sarana transportasi. Wabah penyakit diare dan leptospirosis yang biasa muncul pascabanjir mengancam warga. Disamping itu, akibat masih belum lancarnya bantuan kepada pengungsi, ancaman kelaparan pun sangat mungkin terjadi. Yang jelas, bencana alam ini akan menambah penderitaan rakyat miskin yang sudah menderita selama ini. Korban banjirpun banyak mengeluhkan lambannya pemerintah untuk menolong mereka. Di beberapa tempat tidak sedikit korban banjir harus menahan lapar, haus dan kedinginan akibat lambannya evakuasi. Pengungsipun tidak dengan cepat mendapat bantuan makanan dan selimut. Ironisnya, disaat banyak berbagai daerah ditempa bencana, pesta tahun baru pun tetap digelar dengan gegap gempita dengan dana yang besar. Pusat-pusat perbelanjaan penuh, puluhan ribu orang berduyun-duyun datang ke pusat-pusat kota untuk merayakan pesta ini semalam suntuk. Makanan mewahpun dihidangkan di restoran-restoran untuk menyambut Tahun Baru. Berkenaan dengan itu Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan : - Keprihatinan yang amat mendalam atas terjadinya musibah ini. Bagi yang meninggal dunia kami mendoakan agar diampuni dosanya oleh Allah SWT dan diberikan tempat yang layak. Bagi yang masih hidup agar menghadapi segala musibah ini dengan kesabaran dan tawakal.
- Dari musibah ini seharusnya kita mengambil pelajaran, disamping merupakan gejala alam biasa, bencana alam ini tidak bisa dilepaskan dari keserakahan manusia yang merusak alam hanya untuk kepentingan materi tanpa memikirkan dampaknya bagi alam dan manusia. Seperti yang dinyatakan oleh Otto Soemarwoto, pakar lingkungan dari Universitas Padjadjaran, banjir dan longsor seperti terjadi saat ini sebagai risiko dari musim hujan yang diperparah dengan kerusakan lingkungan.
- Musibah ini juga memberi pelajaran tentang betapa lemahnya kita sebagai manusia dihadapan Allah SWT. Karena itu, kita harus bertanya pada diri kita apakah pantas kita mempertahankan sikap durhaka kepada Allah SWT dengan tidak taat kepada hukum-hukumNya. Bencana demi bencana ini seharusnya membuat kita lebih taat lagi kepada Allah SWT dengan mencampakkan sistem sekuler-kapitalisme selama ini yang telah membuat kita jauh dari Syariah Islam.
- Menyesalkan lambannya tindakan pemerintah untuk menangani korban bencana, pemerintah juga sepertinya tidak mengambil pelajaran dari berbagai bencana yang terjadi sebelumnya. Seharusnya, pemerintah jauh hari sebelumnya melakukan upaya pencegahan (preventif) untuk menghindari terjadinya bencana ini, paling tidak bisa meminimalisasi dampak kerusakannya. Karena itu, pemerintah harus melakukan penanganan secepatnya, menolong korban dan memberikan bantuan logistik yang diperlukan.
- Menyesalkan sikap yang tidak mencerminkan rasa keprihatinan terhadap bencana ini, yang ditunjukkan dengan perayaan pesta tahun baru yang penuh dengan kemewahan dan hura-hura di tengah jerit tangis para korban banjir. Seharusnya, dana yang besar untuk pesta tahun baru bisa diberikan kepada korban bencana yang jelas akan meringankan beban hidup mereka.
- Menyerukan kepada umat Islam untuk mengulurkan bantuan apa saja yang bisa diberikan, sebagai manifestasi dari pelaksanaan fardhu kifayah guna membantu penderitaan korban bencana. Untuk itu, Hizbut Tahrir Indonesia juga telah membuka Posko HTI Peduli Banjir sejak 26 Desember 2007, melakukan evakuasi, membuka dapur umum, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Uluran dana dapat disalurkan melalui Posko HTI Peduli Banjir cabang Jawa Tengah: rekening BCA atas nama Ahmad Fadholi: 015-222-7947, dan Jawa Timur: rekening BCA atas nama Rizka Miladiah: 258-051-9949.
Semoga Allah memberikan kesabaran dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi musibah ini serta kelapangan dada dan pikiran untuk memetik hikmahnya. Amien. Ketua Lajnah I’lamiyah Hizbut Tahrir Indonesia M. Farid Wajdi Hp: 08179002283 Contact Person: - Ustadz Sudadi (08129438719) - Ketua HTI Peduli Banjir Nasional
- Ustadz Abu Khair (085850824404) -Ketua HTI Peduli Banjir Jawa Timur
- Ustadz Aslam (081938038250) - Koordinator Posko Jawa Timur
- Ustadz Lutfi (08564805155) - Koordinator Posko Bojonegoro
- Ustadz Baidlowi (08155616811) - Koordinator Posko Ngawi
hizbut-tahrir.or.id
| Tuesday, 01 January 2008 | | Ulurkan dana Anda melalui Posko HTI Peduli Banjir cabang Jawa Tengah: Rekening BCA 015-222-7947 a.n. Ahmad Fadholi: , dan Jawa Timur: Rekening BCA 258-051-9949 a.n. Rizka Miladiah.
Syabab.Com - Sampai pada hari ke-3 bencana banjir di Bojonegoro belum tampak pemda turun tangan dengan maksimal. Banyak elemen masyarakat yang bersusah payah melakukan evakuasi, menyalurkan logistik dll, tetapi satkorlak pemda justru tidak segera turun tangan. Banyak warga yang mengeluh karena satkorlak tidak segera mengevakuasi keluarganya. Lebih menyakitkan lagi sebagaimana dimuat di Radar Bojonegoro, ketika belum dievakuasinya beberapa warga dengan entengnya Bupati bilang, mereka sebaiknya segera mendatangi satkorlak.
Padahal banyak warga yang mengeluhkan ketika datang meminta bantuan ke satkorlak justru terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Itupun pulangnya hanya membawa 4 bungkus mie instant. Beberapa warga setempat mendatangi kantor pemda sambil teriak lapar,lapar,lapar. Kepala Basarnas Laksda Bambang Karnoyudho, juga mengeluhkan koordinasi dengan pemda setempat. Ketika diajak rapat koordinasi yang datang malah Satpol PP begitu katanya. Apakah hal ini ada kaitanya dengan kekalahan Bupati sekarang dalam pilkada beberapa waktu yang lalu??? Wallahu alam.
Bojonegoro Kota Mati
Surutnya permukaan air Bengawan Solo, pada Senin (31/12), yang menjadi sumber banjir di Bojonegoro tidak otomatis menyurutkan genangan dipermukiman warga. Seluruh akses menuju Bojonegoro terputus. Ketinggian air diberbagai tempat terus meningkat dari semula hanya selutut terus naik hingga seleher orang dewasa. Seluruh kendaraan tidak bisa memasuki kota. Jalur ke selatan menuju Nganjuk putus.
Koordinasi semakin sulit dengan terganggunya sinyal ponsel dari Telkomsel. Harga BBM dipasaran naik dari Rp 5000 per liter menjadi Rp 7000 – Rp 10.000. Harga beras yang semula Rp 5000 perkilo naik menjadi Rp 11.000. Tempe ukuran 20 cm naik dari Rp 1.500 menjadi Rp. 4000. Ikan pindang Rp. 1000 menjadi Rp. 3000. Banjir menenggelamkan 117 desa dan 14 Kecamatan. Kota Bojonegoro ibarat kota mati karena listrik PLN juga di padamkan.
Kota Bojonegoro Terendam
Luapan air bengawan solo terus merendam seluruh kawasan kota Bojonegoro pada Minggu, 30 Desember 2007. Korlap memutuskan memindahkan lokasi posko. Hal ini mengingat posko utama di Jl Basuki Rahmat 17 terendam banjir sampai sepinggang manusia dewasa. Posko 2 segera dievakuasi keluar kota. Akhirnya kita memutuskan pusat Posko dindahkan ke trotoar pintu masuk kota Bojonegoro dari arah timur. Wilayah kota berada 3 meter dibawah permukaan air Bengawan Solo, demikian dikatakan Moelyono Koordinator penanggulangan dampak bencana. Distribusi bantuan macet, karena sarana khusunya perahu sangat terbatas. Itupun hanya mengevakuasi tempat-tempat yang mudah jangkaunya. Mayoritas bantuan terkonsentrasi dititik-titik tertentu.
Namun pos banjir yang dibuat HTI Bojonegoro tetap berusaha menyalurkan logistik ketempat-tempat yang jauh dari jangkauan. Dibuat dengan dua kelompok menuju kawasan Ledok Kulon yang terisolir. Namun karena terjadi terjangan air yang dasyat dari arah barat tim kesilitan menuju ke lokasi. Alhamdulillah, banyak orang yang menitipkan makanan, mie instant, minyak goreng pakaian bekas, roti dll untuk disalurkan.
Banjir Akhirnya Datang Juga
Sabtu, 30 Desember 2007, Jam 3.30 Abdul Syam menghubungi korlap kalau banjir mulai memasuki kota. Pagi jam 5.30 korlap berusaha memantau keadaan kota. Air mengalir dengan deras dari arah selatan kota. Hal ini terjadi karena warga yang ada dibalik tanggul berusaha menjebolnya karena kawatir rumahnya tenggelam. Jir Jie Jir Beh (Banjir siji, Banjir Kabeh ) begitulah pikir mereka. Tapi apa yang terjadi kemudian? Air terus memasuki kota dengan cepat. Dari arah selatan banjir melewati Jalan Patimura, Panglima Polim, Jalan Untung Surapati, Jalan Gajah Mada terus ketimur. Dari arah utara banjir datang dari pasar besar, jalan Imam Bonjol, Kartini, Teuku Umar, Pemuda, Basuki Rahmat terus ketimur.
Melihat kondisi yang semakin parah, Syabab HTI Bojonegoro pada jam 08.00 wib menggelar rapat mendadak untuk membahas agenda yang bias dilakukan hari ini karena kondisi tidak sesuai yang diperkirakan tadi malam. Setelah rapat, syabab sepakat hari untuk melakukan evakuasi.
Sementara itu warga bojonegoro tepatnya di kota mulai panik melihat air yang dengan cepatnya memasuki rumah-rumah mereka tidak sedikit warga yang sudah berancang-ancang untuk mengungsi di tempat yang lebih tinggi atau keluar kota Bojonegoro.
Menjelang maghrib air sudah menggenangi sebagian besar jalan-jalan protocol ini berarti rumah-rumah sudah merata kemasukan air. Tepat jam 24.00 seluruh kota Bojonegoro tergenang banjir.
Jumat Yang Kelabu
Jumat 29 Desember 2007 air di Bengawan Solo tiba–tiba naik mendekati tanggul. Orang-orang menjadi panik. Abdul Syams, syabab HTI yang kebetulan rumahnya dekat dengan tanggul berinisiatif bersama warga melakukan evakuasi warga yang ada diseberang tanggul. Namun karena keterbatasan perahu, evakuasi tidak dapat maksimal. Disamping itu banyak warga yang belum bersedia dievakuasi karena berbagai hal; antara lain mereka mengira banjir cepat selesai, dan ada juga yang khawatir meninggalkan barang atau ternak yang dimilikinya. Sore harinya Abdul Syam menghubungi PJ Bojonegoro, kalau ada akhwat dan keluarganya yang belum berhasil dievakuasi.
Namun karena hari sudah menjelang senja evakuasi terpaksa dihentikan, disamping itu juga baling-baling kapal patah. Kita beruapaya menggunakanan kapal yang lain. Upaya pencarian terus dilakukan tetapi karena sulitnya medan dan komunikasi juga putus sampai maghrib kita belum berhasil menemukan. Jam 21.30 WIB kita dapat mengontak akhwat tersebut dan alhamdulillah sudah berhasil menyeberang sungai. Malam harinya rapat memutuskan membuat 3 posko banjir. Posko I di Jl Basuki rakhmat 17 Bojonegoro, Posko II di pelataran dealer Mitsubishi perempatan Jl Diponegoro samping pos Polisi. Posko III di Ledok Kulon yang ada disamping tanggul.
Sementara itu daerah di wilayah barat dari kota Bojonegoro yaitu kecamatan kalitidu, purwosari, padangan tepatnya di desa-desa yang dekat bengawan solo sudah banyak rumah-rumah yang sudah kemasukan air. Sejumlah warga sudah mulai memindahkan barang atau hewan ternaknya ke tempat-tempat yang aman. Kebanyakan warga melihat pemandangan seperti ini biasa-biasa saja karena kejadian seperti ini sudah biasa terjadi setiap tahunnya. Tetapi ada juga yang khawatir bagi warga yang yang mendapat informasi bahwa waduk gajah mungkur dibuka dan air kemungkinan akan semakin tinggi di Bojonegoro. [m/reportase: tmb-bojonegoro/syabab.com] |
KR 15 November 2007 Dr. Fahmi Amhar Peneliti Utama Bakosurtanal Hampir dua bulan Gunung Kelud dalam status awas. Masyarakat di sekitarnya, yakni di wilayah Blitar dan Kediri sudah dievakuasi. Karena Gunung Kelud tidak juga meletus, mereka sampai bosan. Karena evakuasi tidak mencakup hewan piaraan, beberapa pengungsi akhirnya nekad tiap siang pulang ke rumahnya untuk memberi makan ternaknya. Namun ada juga yang terpaksa menjual ternaknya dengan harga yang sangat murah ... mungkin dari pada repot. Pemantauan Gunung Kelud Pemantauan Kelud lebih banyak menggunakan metode visual, kimia, termik dan seismik. Menurut Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sistem pemantauan sehari-hari Gunung Kelud dipusatkan di Pos Pengamatan Margomulyo, meliputi pemantauan visual dari warna, ketebalan dan tinggi asap solfatara dan cuaca di sekitar puncak. Ada kamera CCTV yang dipasang khusus untuk itu. Di samping itu dilakukan pengamatan langsung ke kawah meliputi pengukuran suhu air dan pengamatan perubahan warna air danau kawah serta pengamatan pergeseran gelembung-gelembung gas yang muncul yang dapat diamati pada permukaan air kawah. Selain itu juga dilakukan dengan metoda seismisitas atau kegempaan. Sebenarnya teknis pengamatan gunung api dapat juga menggunakan metode geometris, akustis dan biologis. Metode geometris biasa dilakukan di Gunung Merapi, yang kubah lavanya selalu membengkak. Di atas kubah lava itu dipasang beberapa target signal atau reflektor yang diukur dengan pengukur jarak elektronik (electronic-disto-meter). Dengan cara ini bisa dihitung perkembangan volume kubah lava dari waktu ke waktu. Kelemahan cara ini adalah jika signal atau reflektor itu terkena material vulkanik. Namun cara geometrik dapat pula menggunakan metode fotogrametrik dengan menggunakan kamera fotogrametri dari banyak pos pengamat di seputar gunung tersebut atau bahkan dari pesawat udara atau satelit. Cara ini tidak seakurat cara dengan pengukur jarak elektronik, namun dapat berfungsi kapan saja. Metode akustis menggunakan semacam microphone yang dipasang di tanah (disebut geophon) untuk mendeteksi suara gemuruh yang terjadi akibat aktivitas magma atau runtuhnya kubah lava. Sedang metode biologis memanfaatkan pengetahuan atas sifat-sifat binatang yang pada umumnya menjadi sangat gelisah (tidak seperti biasanya) sesaat sebelum gunung meletus. Hewan piaraan – misalnya burung dalam sangkar pun akan terbang gelisah dan nabrak-nabrak sarang. Ini diduga terjadi karena sifat material yang akan pecah mengeluarkan gelombang ultrasonik atau elektromagnetik dalam gelombang yang bisa dirasakan binatang. Pada sebagian orang, efek biologis ini juga dirasakan dalam bentuk rasa ”merinding” secara tiba-tiba sebelum gunung meletus. Gunung Kelud memang memiliki karakter yang berbeda dengan Gunung Merapi. Setidaknya ada dua hal yang khas gunung Kelud yakni: (1) Kelud memiliki kawah yang terisi air menjadi danau kawah. Volume air dalam danau kawah saat ini ditaksir mencapai 2,5 juta meter kubik. Air inilah yang menekan magma sehingga sampai bisa keluar magma harus ”menabung” energi yang cukup besar dulu. Namun beberapa hari terakhir ini, terjadi fenomena menarik di danau kawah, yakni lahirnya ”Anak Kelud”. Ini terjadi karena kubah magma yang muncul dari tengah danau kawah menonjol cukup cepat, dan ditaksir suatu saat dapat menghilangkan danah kawah tersebut. (2) Karena faktor di atas, maka energi letusan Kelud jauh lebih besar, sehingga biasanya sekaligus berupa sebuah letusan vertikal. Material vulkanik akan terhempas ke atas dan menyebar ke segala arah. Ini berbeda dengan Merapi yang materail vulkanik keluar berupa awan panas melalui jalur-jalur tertentu dan tidak sekaligus dalam suatu letusan besar. Dalam ilmu vulkanologi, dapat dikatakan tidak ada gunung api yang persis sama. Setiap gunung punya karakternya masing-masing, walaupun ada yang mirip-mirip. Adalah tugas besar bagi PVMBG bersama Bakosurtanal untuk menyiapkan peta gunung api di setiap gunung api yang ada. Menangkal Bahaya Hingga kini belum ada teknologi yang dapat menghentikan letusan gunung berapi. Yang dapat dilakukan hanyalah membuat prediksi untuk peringatan dini serta mitigasi sehingga bila terjadi letusan, korban dan kerugian dapat ditekan serendah-rendahnya. Dengan pengamatan yang baik, letusan gunung berapi termasuk dapat diprediksi dan peringatan dini dapat diberikan untuk waktu yang cukup. Hanya saja, fenomena Kelud menunjukkan bahwa status awas berjalan terlalu lama. Pada tahun 1990, letusan terjadi setelah suhu kawah mencapai 40° C. Namun kini meski suhu kawah sudah di atas 70° C Kelud belum juga meletus. Rupanya energi magma itu ”dipakai” dulu untuk melahirkan Anak Kelud. Prediksi mencakup juga pola sebaran material vulkanik pasca letusan. Pola sebaran ini akan menentukan tempat dan route evakuasi. Tempat dan route evakuasi ini dapat digambarkan di atas peta yang disebarkan ke masyarakat, dan di lapangan diberi tanda-tanda petunjuk yang memberi informasi ke mana orang harus menyelamatkan diri saat terjadi bencana. Untuk membuat prediksi yang baik dapat dilakukan berbagai simulasi. Namun penangkalan tidak berhenti hanya pada informasi untuk menyelamatkan diri. Penangkalan juga dapat berupa mekanisme fisik. Yang paling lazim adalah pembangunan tanggul dan cekdam (Sabo) yang akan memaksa lava atau lahar mengalir ke tempat yang tidak membahayakan siapapun. Khusus untuk Kelud dengan danau kawahnya, mekanisme fisik yang perlu dan sebagian telah dilakukan adalah dengan terowongan yang dapat mengurangi volume air danau kawah secara signifikan setiap mencapai level tertentu. Yang harus optimal juga adalah bagaimana bentuk tempat evakuasi dan mekanisme evakuasi berjalan. Tempat evakuasi haruslah sedemikian rupa sehingga selain benar-benar aman juga manusiawi. Ada tempat untuk mengganti popok bayi, untuk menampung ternak, untuk bermain anak, untuk terapi mental-spiritual, bahkan perlu ada kamar khusus bagi suami istri untuk melakukan hubungan biologis. Tentu saja pemerintah sebagai yang berkewajiban melayani masyarakat sudah saatnya segera mengadopsi teknologi terbaik yang dapat menangkal letusan gunung berapi, baik teknologi pengamatannya maupun menangkal letusannya. Lampiran: Gambar: peta gunung api di Indonesia.  Gambar Peta vulkanik dengan erupsi sejak tahun 1900
| |