SaaTnYa kHiLaFaH MEmimPiN DuNiA...!!!


Down-Down USA...Rise-Rise Khilafah!!!

indra's posts with tag: bbm

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bbm

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku tidak akan pernah menyesal mengeluarkan keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak, akhir Mei lalu.

Sebab, kata Presiden, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan yang paling berisiko.

Pernyataan Presiden Yudhoyono itu disampaikan Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng menjawab pers seusai menghadiri pelantikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut di Istana Negara, Jakarta, Selasa (1/7).

”Tidak, tidak menyesal meskipun berat. Presiden, kan, memang harus mengambil keputusan meskipun harus berkorban. Tetapi, itu untuk selamatkan bangsa serta ekonomi rakyat,” kata Andi.

Hasil riset Indo Barometer, akhir pekan lalu, menyebutkan popularitas Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla merosot dan kalah dari popularitas Megawati Soekarnoputri pascakenaikan harga BBM.

Menurut Andi, naik atau turunnya popularitas Presiden, pascakebijakan yang diambil, merupakan hal yang biasa.

”Pada tahun 2005, ketika Presiden Yudhoyono memutuskan kenaikan harga BBM, popularitas Presiden memang menurun. Tetapi, beberapa bulan kemudian, hasil polling menentukan popularitas Presiden naik lagi,” ujar Andi.

Andi juga mengatakan, untuk melihat popularitas jangan hanya berpatokan pada satu lembaga riset karena banyak lembaga riset yang melakukan riset sejenis.

Secara terpisah, saat ditanya pers di sela-sela pengambilan gambar untuk kampanye Pemilu 2009 di sebuah studio di Pondok Indah, Jakarta, Wapres Jusuf Kalla menegaskan, ”Survei itu dinamis sifatnya dan sangat bergantung pada kondisi yang ada. Jadi, tak apa-apa karena memang sangat dinamis.” (HAR)

Sumber : www.kompas.com


VideoAksi BBM HTIJun 26, '08 3:37 PM
for everyone
Aksi Penolakan Kenaikan Harga BBM oleh Hizbut Tahrir Indonesia di depan Istana Negara


Import.flv (11.1 MB)

VideoINFOKOMHTI"FKSK ke38"BBM Naik SBY-JK TurunMay 27, '08 8:47 AM
for everyone
Fksk ke 38 dengan tema BBM naik,SBY-JK turun


Import.flv (10.0 MB)

VideoINFOKOMHTI"Pernyataan HTI tentang BBM"May 27, '08 8:40 AM
for everyone
kenaikan BBM merugikan rakyat


Import.flv (9.7 MB)

Blog EntryMenolak Kenaikan BBM 2008May 27, '08 8:31 AM
for everyone

htilogo.jpg

بسم الله الرحمن الرحيم

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Nomor : 133/PU/E/05/08                       Jakarta, 24 Mei 2008 M

PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MENOLAK KENAIKAN BBM 2008

Akhirnya pemerintah resmi mengumumkan kenaikan BBM, Jum’at (23/05/2008), jam 22:15 WIB, yang disampaikan oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, dengan didampingi sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Karena itu, Hizbut Tahrir Indonesia dengan tegas menyatakan:

  1. Menolak keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Karena ini kebijakan yang dzalim dan akan semakin menyengsarakan rakyat. Sebab kenaikan itu terbukti telah memicu naiknya harga barang dan jasa, yang artinya menambah kesengsaraan rakyat yang selama krisis memang sudah semakin menderita. Dana kompensasi berupa BLT plus yang akan diberikan tidaklah bakal mencukupi untuk mengganti penderitaan rakyat banyak akibat kenaikan BBM itu.
  2. Cara yang ditempuh pemerintah bukanlah cara yang tepat. Banyak langkah yang disarankan para pakar tetapi tidak didengar. Keputusan pemerintah lebih pada upaya liberalisasi minyak dimana asing hendak menguasai sektor hilir setelah selama ini menguasai 90% sektor hulu.
  3. Menyerukan nasionalisasi sektor energi, termasuk Migas.
  4. Kenaikan BBM, kelangkaan sembako dan kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat saat ini adalah dampak diterapkannya Kapitalisme Sekular, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Maka, sudah saatnya, sistem Kapitalisme Sekular yang selama ini mencengkeram Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus segera ditinggalkan. Gantinya adalah Islam.
  5. Menyerukan kepada rakyat untuk tidak mempercayai penguasa yang zhalim.
  6. Akhirnya, Hizbut Tahrir Indonesia mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, bahwa sesungguhnya negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang membelenggu dan tidak akan mampu membebaskan diri dari segala kelemahan kecuali bila di negeri ini diterapkan syariat Islam secara kaffah. Jika tidak, selamanya negeri ini akan terus didera kesulitan demi kesulitan serta tetap dikuasai oleh penguasa yang zhalim.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796
Email: ismaily@telkom.net

Gedung Anakida Lt. 7
Jl. Prof. Soepomo No. 27, Jakarta Selatan - 12790
Telp / Fax : (62-21) 8312111
Website : http//:www.hizbut-tahrir.or.id


Wednesday, 14 May 2008 11:32

Syabab.Com - Ribuan orang dari gerakan Islam Hizbut Tahrir Indonesia menggelar aksi masirah menolak kenaikan harga BBM di depan Istana Merdeka Jakarta, Selasa (13/05). Mereka menolak kenaikan harga BBM dan menuntut diterapkannya sistem syariah dan khilafah ditegakkan di Indonesia. HTI juga mengingatkan pemerintah dengan ayat al-Quran dan doa Rasulullah terkait kemurkaan Allah Ta'ala pada hamba yang selalu berpaling dari-Nya.

Aksi diawali dengan long march dariu Masjid Istiqlal. Mereka membawa bendera-bendera Rasulullah Saw, al-liwa dan raya. Bendera berwarna hitam dan putih bertuliskan kalimah tauhid itu berkibar di tengah-tengah teriakan penolakkan mereka atas kezhaliman pemerintah yang akan menaikkan BBM. Para peserta aksi juga membawa spanduk-spanduk dan poster yang bertuliskan, "Harga BBM naik, kemiskinan meningkat" serta "Dengan Syariah dan Khilafah, rakyat sejahtera".

Juru Bicara HTI, Muhammad Ismail Yusanto menyatakan, jika harga BBM jadi dinaikkan maka hal tersebut akan memicu naiknya harga barang dan jasa, yang artinya akan menambah kesengsaraan rakyat yang selama krisis memang sudah semakin menderita.

Selain itu, dana kompensasi berupa Bantuan Lagsung Tunai (BLT) plus yang akan diberikan kepada rakyat dinilai tidak akan mencukupi untuk mengganti penderitaan rakyat akibat kenaikan BBM.

Ismail juga menilai, kenaikan BBM, kelangkaan sembako, dan kesulitan hidup yang dialami rakyat saat ini adalah dampak diterapkannya sistem kapitalisme sekuler baik dalam bidang ekonomi maupun politik.

HTI mempertanyakan penjelasan pemerintah bahwa dengan kenaikan harga minyak mentah dunia, subsidi makin meningkat. “Ini patut dipertanyakan karena tidak semua minyak yang kita pakai itu impor. Karenanya aneh bila itu kemudian disetarakan dengan harga internasional. Kita itu masih memproduksi 910 ribu barel setiap hari. Mustinya kalau kita mau bicara tentang subsidi, itu adalah minyak yang diimpor, bukan seluruh minyak yang kita pakai, ” tandasnya.

Dalam pernyataan sikapnya, HTI memandang Kenaikan BBM, kelangkaan sembako dan kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat saat ini adalah dampak diterapkannya Kapitalisme Sekular, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Maka, sudah saatnya, sistem Kapitalisme Sekular yang selama ini mencengkeram Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus segera ditinggalkan.

Sebagai gantinya, HTI mendesak di Indonesia segera diterapkan sistem ekonomi yang adil, yakni sistem ekonomi Islam yang berlandaskan pada syariah dan dikelola secara mandiri. Sistem seperti inilah yang dijamin akan membawa kerahmatan bagi negeri ini. Bila Sosialisme telah gagal, Kapitalisme demikian juga, kemana lagi kita akan menuju bila tidak kepada Islam?

Di akhir pernyataan sikap HTI mengingatkan pemerintah dengan ayat Allah

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (syariah), maka dia berhak mendapatkan kehidupan yang sempit. Dan, kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (QS. Thaha: 124).

Serata mengingatkan pemerintah akan sabda Nabi saw.:

“Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia” (HR. Muslim). [m/z/all/syabab.com]

Blog EntryMenaikkan Harga BBM di Tengah Penderitaan RakyatMay 11, '08 1:47 PM
for everyone

[Edisi 404]

Akhirnya harga BBM dipastikan naik lagi. Kepastian naiknya harga BBM diumumkan Pemerintah melalui Menko Ekonomi Boediono setelah rapat terbatas di Kantor Presiden Senin (5/5) lalu. Menurut Presiden SBY sendiri, tahapan sekarang bukan lagi membahas harga BBM naik atau tidak, tetapi bagaimana imbas kenaikan BBM 20-30 persen terhadap berbagai komoditas, termasuk instrumen untuk melindungi rakyat miskin dan berpenghasilan rendah (Republika, 6/5/). Padahal sehari sebelumnya Presiden SBY sepakat untuk tidak terlalu cepat menaikkan harga BBM. Kebijakan menaikkan BBM adalah langkah terakhir (Kompas, 5/5).

Faktanya, “langkah terakhir” inilah yang justru dengan cepat ditempuh oleh Pemerintah. Alasan utamanya, sebagaimana berkali-kali diungkap Pemerintah, adalah tekanan yang semakin berat terhadap APBN 2008 akibat terus membengkaknya anggaran subsidi BBM sebagai dampak langsung dari terus meroketnya harga BBM di pasaran internasional hingga nyaris menembus US$ 120 perbarel.

Yang amat disesalkan, kebijakan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM akan diberlakukan justru di tengah-tengah jeritan masyarakat dari berbagai lapisan yang tengah menderita akibat himpitan ekonomi dan beban hidup yang semakin berat. Tidak jarang, bagi yang tipis iman, frustasi hingga bahkan diakhiri dengan aksi bunuh diri menjadi pilihan. Ini sudah banyak terjadi dan diekspos oleh banyak media akhir-akhir ini.

Karena itu, apapun alasannya, kebijakan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM rata-rata 30% adalah kebijakan yang zalim karena akan semakin menyengsarakan rakyat.

Betulkah Tidak Ada Langkah Lain?

Sebagaimana yang sudah-sudah, ketika krisis ekonomi terjadi, kebijakan menaikkan tarif kebutuhan pokok seperti BBM pada akhirnya selalu menjadi “langkah terakhir” yang menjadi favorit Pemerintah. Dengan menyebut kebijakan menaikkan BBM sebagai “langkah terakhir” Pemerintah seperti berupaya meyakinkan masyarakat, bahwa Pemerintah telah sungguh-sungguh menempuh cara-cara lain di luar “langkah terakhir” tersebut. Padahal jelas masih ada cara atau langkah lain yang bisa ditempuh untuk mengatasi krisis ekonomi ini.

Jika kita memperhatikan struktur pengeluaran APBN, ada tiga kelompok besar yang secara seksama peranannya masing-masing dalam menjaga kesinambungan fiskal, yaitu: (1) pengeluaran Pemerintah pusat (investasi sektoral dan belanja rutin); (2) transfer ke pemerintah daerah dalam rangka desentralisasi fiskal; (3) pembayaran bunga dan cicilan pokok utang (luar negeri dan dalam negeri).

Karena itu, secara teknis pun, setidaknya ada tiga cara/langkah lain sebelum Pemerintah menempuh langkah menaikkan harga BBM:

Penghematan belanja rutin. Ini sudah dilakukan Pemerintah, yang memotong anggaran untuk kementerian dan lembaga sebagai kompensasi kenaikan subsidi yang berkaitan dengan BBM, termasuk subsidi listrik. Hendaknya penghematan ini juga dilakukan di seluruh daerah.

Memanfaatkan dana APBD yang mengendap di BI dalam bentuk SBI yang bunganya jelas menambah beban Pemerintah. Sepanjang tahun 2007 saja, menurut catatan Pemerintah, dana APBD yang mengendap di BI dalam bentuk SBI mencapai sedikitnya Rp 146 triliun (Waspada Online, 27/8/07). Lebih dari itu, sepanjang tahun 2007, ternyata APBD kita rata-rata surplus cukup besar (Okezone.com, 6/5/08). Ini jelas bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi beban Pemerintah dan masyarakat.

Penangguhan pembayaran utang luar negeri. Tahun 2008 ini cicilan pembayaran utang plus bunganya mencapai Rp 151,2 triliun (Beritasore.com, 25/11/2007). Penangguhan ini jelas akan membantu mengurangi beban berat APBN.

Selain itu, menurut Ekonom Dr. Hendri Saparini, Pemerintah bisa mengurangi anggaran subsidi bank rekap yang mencapai puluhan triliun rupiah. Langkah lainnya adalah memotong rantai broker (baik dalam ekspor maupun impor minyak oleh Pertamina) yang sangat merugikan. (al-Wa’ie, No. 92/April/2008).

Akar Persoalan

Jika kita cermati, kebijakan untuk menaikkan harga BBM sesungguhnya terkait dengan rencana lama Pemerintah untuk mengurangi secara bertahap—bahkan menghapus sama sekali—subsidi di bidang energi. Artinya, bisa dikatakan, kenaikan harga BBM di pasar internasional hanyalah “faktor kebetulan” saja, yang kemudian dijadikan momentum oleh Pemerintah. Pasalnya, penghapusan subsidi adalah konsekuensi logis dari penerapan sistem Kapitalisme. Dalam Kapitalisme, negara sama sekali tidak berkewajiban untuk menjamin kebutuhan publik seperti BBM, listrik, pendidikan atau kesehatan masyarakat. Seluruhnya diserahkan pada mekanisme hukum pasar. Hal ini diperparah sejak krisis yang menimpa Indonesia tahun 1997. Pemerintah Indonesia secara resmi meminta bantuan dan campur tangan IMF dan Bank Dunia dalam mengatasi krisis ekonomi dan moneter. Salah satu tuntutan IMF adalah agar Pemerintah menghapuskan subsidi yang sebelumnya digunakan untuk membantu masyarakat membeli BBM dan mengurangi tarif dasar listrik. IMF berdalih bahwa untuk mengurangi defisit anggaran belanja negara, salah satu cara yang harus dilakukan adalah mengurangi dan menghapuskan subsidi Pemerintah terhadap BBM dan TDL.

Selain itu, yang tak kalah besar dampak buruknya bagi masyarakat, adalah kebijakan Pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi, khususnya di sektor energi. Liberalisasi sektor energi tidak hanya di sektor hulu (eksplorasi), tetapi juga di sektor hilir (distribusi dan pemasaran). Pemerintah lewat UU Migas berjanji untuk mengikis habis monopoli di Pertamina. Yang ditawarkan kemudian adalah membuka kesempatan bagi perusahaan swasta lain untuk ikut berkompetisi dalam distribusi dan pemasaran migas. Dengan alasan supaya kompetisi dalam distribusi dan pemasaran bisa ’adil’, lagi-lagi subsidi minyak harus dicabut. Sebab, jika masih ada minyak bersubsidi di pasaran, pemain asing enggan masuk. Ini setidaknya pernah ditegaskan oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, ”Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi Pemerintah. Sebab, kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.” (Kompas, 14/5/03).

Sepintas ide ini cukup menarik. Namun, ancaman di balik itu sungguh sangat mengerikan. Saat ini yang paling siap untuk berkompetisi adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Karena mereka yang paling siap, maka merekalah yang akan merebut pangsa pasar distribusi dan pemasaran migas di Indonesia.

Menurut Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, saat ini terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU) (Trust, edisi 11/2004). Di antaranya adalah perusahaan migas raksasa seperti British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).

Dikeluarkannya Undang-Undang Minyak dan Gas Nomor 22 Tahun 2001 bisa mengancam keamanan pasokan BBM di dalam negeri karena memperbolehkan perusahaan minyak yang menjadi kontraktor bagi hasil (KPS) di Indonesia untuk menjual sendiri minyaknya. Pasalnya, jika terjadi penurunan produksi di dalam negeri, bisa saja mereka tetap menjual minyak mereka ke luar negeri. Kilang-kilang Indonesia juga terancam tidak mendapatkan minyak mentah saat liberalisasi Migas dimulai tahun 2005. Alasannya, biaya produksi minyak di dalam negeri yang rata-rata 3 dolar AS dinilai terlalu mahal, sementara di luar negeri lebih rendah.

Adapun di sektor hulu, di Indonesia saat ini ada 60 perusahaan kontraktor; 5 (lima) di antaranya masuk kategori super majors yaitu, Exxon Mobil, Chevron, Shell, Total Fina Elf, Bp Amoco Arco, dan Texaco; selebihnya masuk kategori majors yaitu, Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, dan perusahaan kontraktor independen. Dari 160 area kerja (working area) yang ada, super majors menguasai cadangan masing-masing minyak 70% dan gas 80%. Adapun yang termasuk kategori majors menguasai cadangan masing-masing, minyak sebesar 18% dan gas sebesar 15%. Perusahaan-perusahaan yang masuk kategori independen, menguasai minyak sebesar 12% dan gas 5%.

Solusi Mendasar

Bagaimanapun, krisis BBM dan krisis ekonomi secara keseluruhan tidak bisa dilepaskan dari Kapitalisme global yang semakin mencengkeramkan kakinya di Indonesia. Cengkeraman tersebut antara lain melalui lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia yang terus memaksakan kehendaknya terhadap Indonesia, khususnya melalui beragam UU dan berbagai macam kebijakan ekonomi Pemerintah maupun melalui perusahaan-perusahaan asing yang terus menghisap habis kekayaan alam Indonesia.

Karena itu, jelas diperlukan keberanian Pemerintah dan rakyat Indonesia untuk keluar dari jeratan Kapitalisme global ini, untuk kemudian segera memberlakukan sistem yang baik, yang tidak lain bersumber dari sang Pencipta, Allah Yang Mahatahu. Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah sistem hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik (sistem hukumnya) daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Sistem yang baik tentu harus dijalankan oleh pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik tidak lain adalah pemimpin yang amanah, yang mau tunduk pada sistem yang baik tersebut. Pemimpin yang baik antara lain yang tidak akan pernah tega membebani rakyatnya dengan berbagai kebijakan yang menyengsarakan mereka, karena ia takut dengan doa Rasulullah saw.:

«اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»

Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia membebani mereka, maka bebanilah dia! (HR Muslim dan Ahmad). []

KOMENTAR:

Kenaikan BBM Beri Kepastian Kepada Investor (Mediaindonesia.com, 6/5/2008).

Memang, kenaikan BBM lebih berpihak kepada pemilik modal, ketimbang kepada rakyat.

Blog EntryMR Kurnia : Kenaikan BBM Sebuah KezhalimanMay 11, '08 1:45 PM
for everyone

bbm-naik.jpgIntisari wawancara dengan Radio Republik Indonesia (3/5/2008) dengan MR Kurnia (DPP HTI dan Ketua Lajnah Siyasiyah)

Kenaikan harga BBM selalu saja menjadi momok.  Ketika harga minyak dunia melonjak, kondisi perekonomian dalam negeri langsung terganggu.  Sayangnya, setiap terjadi kenaikan harga BBM dunia selalu diikuti oleh pengurangan ’subsidi’ hingga harga minyak naik.  Alasannya, untuk menyelamatkan APBN.  Padahal, banyak sekali komponen yang mempengaruhi APBN.  Diantaranya memang belanja subsidi.  Kontribusi belanja subsidi hanyalah berpengaruh sebesar 15%-18% terhadap kue ekonomi.  Namun, yang lebih besar adalah belanja utang yang untuk tahun ini mencapai 200 triliun rupiah.  Mengapa yang selalu diotak-atik adalah belanja subsidi?  Mengapa belanja hutang tidak mau pernah diotak-atik?  Mengapa hutang tidak ditangguhkan saja?  Ini menggambarkan bahwa pemerintah memang tidak mempedulikan kepentingan rakyat banyak.  Padahal, kondisi rakyat semakin berat.

Daya beli masyarakat telah menurun sejak tahun 2007.  Realitas menunjukkan inflasi umum sekitar 6,6%, dan inflasi pangan dua kalinya 11,3%.  Kondisi 2008 lebih parah daripada tahun 2007.  Sejak Januari 2008 inflasi pangan melonjak, daya beli masyarakat makin tertekan.  Menurut BPS, inflasi yang akan dirasakan oleh masyarakat miskin sebesar dua kali lipat inflasi pangan, yakni sebesar 20%.  Sungguh kondisi ini sangat menekan rakyat. 

Industri pun demikian.  Harga minyak di Indonesia sebenarnya langsung berpengaruh pada harga minyak industri dalam negeri.  Bila BBM dalam negeri pun naik maka industri pun akan tertekan dari dua sisi.  Pertama, tekanan dari ongkos produksi dan harga bahan baku akibat naiknya harga pangan, kedua, tekanan dari pasar berupa penurunan permintaan akibat kenaikan harga.  Jadi, kondisi rakyat bawah maupun industri benar-benar akan terpuruk apabila harga BBM naik.  Ekonomi pun tidak siap menopang.  Pertanyaan pun muncul, bila kondisi demikian, mengapa tetap juga direncanakan akan ada kenaikan harga BBM padahal kontribusinya terhadap APBN hanya 15% - 18%?  Jawabannya hanya satu: hanya menyelamatkan pemerintah bukan demi seluruh rakyat.  Hal ini dipertegas dengan permintaan Kadin kepada pemerintah untuk menaikkan harga BBM.  Bila dilihat dengan jeli, pengusaha yang meminta kenaikan harga BBM itu adalah grup Bakrie, yang mana Abu Rizal Bakrie ini adalah menteri.  Lalu, pemerintah menjawab: ”Kami belum akan menaikkan harga minyak terlebih dahulu”.  Seakan-akan pengusaha yang meminta kenaikan, tapi pemerintah tidak menerima usulannya demi citra di mata rakyat.  Padahal, pengusaha-pengusaha yang lain tidak menghendaki adanya kenaikan harga BBM.  Sebab, mereka pun akan turut menanggung akibatnya.  Andai saja harga BBM naik, yang berarti menyelamatkan ’subsidi’, pertanyaannya adalah kemana uang tersebut larinya?  Untuk bayar hutang!  Mengapa bukan hutang ini saja yang dipotong?  Justru, malahan harga BBM yang dinaikkan!  Artinya, pemerintah tidak memiliki political will untuk membela rakyat.

Oke, bila pemerintah mengatakan kenaikan BBM adalah langkah terakhir.  Tapi, sudahkah langkah-langkah yang mungkin telah dilakukan.  Bila belum dilakukan, mestinya tidak dulu dilakukan kenaikan BBM.  Beberapa jalan yang dapat ditempuh adalah:

Penghasilan dari minyak itu ada bagi hasil antara pusat dengan daerah.  Bagusnya, daerah-daerah berbicara dengan pusat bahwa dana bagian untuk daerah ditahan dulu dan digunakan untuk menutupi harga BBM.  Andaikan dana tidak ditahan juga, sementara harga BBM naik, tetap saja pemerintahan daerah harus mengeluarkan dana resiko sosial. 

Hutang Indonesia yang harus dibayar tahun ini Rp 200 triliun.  Mestinya, pembayaran hutang ini ditahan.  Dahulukan kepentingan rakyat, tangguhkan dahulu bayar hutang.  Bahkan, ribanya tidak perlu dibayar.

Keuntungan Pertamina dipotong, untuk dialokasikan ke BBM.

Realitas menunjukkan bahwa pemerintah membeli minyak impor lebih mahal daripada harga semestinya.  Sebab, ada rantai broker yang cukup panjang.  Mestinya rantai broker ini diputus.  Dengan cara seperti itu, kalau dapat menghemat 2 dollar per barrel saja akan dapat dikumpulkan banyak dana.

Jelaslah, bila harga BBM dinaikkan berarti kezhaliman tengah diberikan oleh pemerintah kepada rakyat![]


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.