SaaTnYa kHiLaFaH MEmimPiN DuNiA...!!!


Down-Down USA...Rise-Rise Khilafah!!!

indra's posts with tag: akkbb

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag akkbb
Wednesday, 25 June 2008 15:21

Syabab.Com - Tidak berapa lama setelah FBR mengumumkan sayembara provokator dari AKKBB yang memegang senjata. Akhirnya terungkap, provokator itu benar dari AKKBB yang merupakan anggota kepolisian. Dia bernama Bripka Iskandar Soleh dari anggota kepolisian Tanggerang.


Kadiv Humas Polda Metro Jaya Irjen Abubakar Nataprawira mengatakan bahwa Bripka Iskandar berada di Monas untuk mendampingi ibu mertua, istri dan anaknya yang mendapat undangan dari Ahmadiyah kota Tanggerang. Hal ini diamini oleh Ketua RT di mana ia tinggal bahwa disinyalement Bripka Iskandar adalah anggota Ahmadiyah.

 Sedangkan terkait senjata yang dibawanya, menurut Irjen Abubakar Nataprawira bahwa senjata itu merupakan senjata mainan.

Namun, Kuasa Hukum FPI Ari Yusuf Amir tetap pada pendiriannya, bahwa senjata yang dibawa dan dikeluarkan oleh Bripka Iskandar pada saat insiden Monas 1 Juni lalu adalah asli.

"Itu tidak benar, kita punya saksi mata kalau senjata itu asli dan ada bunyi letusan," ujar Yusuf, Rabu (25/6/2008).

Dia juga menyangkal, bahwa Bripka Iskandar melindungi anaknya yang berada di dekatnya. Menurutnya anak kecil yang terlihat dalam gambar berdiri disamping Bripka Iskandar adalah putra dari salah seorang Laskar Pembela Islam.

Yusuf menyangsikan, tindakan kepolisian yang lamban dalam menangkap Bripka Iskandar yang merupakan anggota kepolisian.

"Ini semacam ada yang disembunyikan. Dia kan anggota polisi di Jabotabek, tapi malah baru terungkap sekarang," tambahnya. [m/oz/syabab.com]


Blog Entry Inilah Bukti Kekerasan AKKBB Terhadap Massa FPIJun 15, '08 7:55 AM
for everyone
Saturday, 14 June 2008 08:25

Syabab.Com - Komando Laskar Islam pasca insiden Monas mengeluarkan pernyataan sikap bahwa kekerasan Monas diprovokasi oleh Massa AKKBB, diantaranya menggunakan senjata api. Namun media masih belum berimbang dan selalu menyudutkan kekerasan itu pada FPI hingga Munarman dan Habib Rizieq ditahan. Baru-baru ini tersebar foto pelaku provokator kekerasan dari AKKBB yang memegang senjata api higga menyulut insiden Monas 1 Juni lalu.

Menurut Lukman Hakim, SH. salah seorang dari tim kuasa Munarman menyebutkan adanya upaya dari orang-orang yang mendeskreditkan terhadap aktifitas pembenahan akidah yang dilakukan oleh Munarman dan kawan-kawan. Munarman menurutnya sangat anti kekerasan. Adanya provokasi dari AKKBB memancing emosi sehingga terjadilah insiden.

Ia menyebutkan bila dibandingkan dengan insiden UNAS maka insiden UNAS lebih parah daripada Monas.

"Artinya itukan ruang akademisi banyak yang hancur karna insiden yang terjadi di UNAS. Nah itukan lebih besar dan dampaknya juga kalau kita mau lihat lebih jauh jelas lebih parah. Karena itukan wilayah akademisi," ungkap Lukman.

Perihal insiden Monas Lukman menjelaskan bahwa Tim kuasa menemukan beberapa bukti di lapangan bahwa yang memancing peristiwa di Monas justru AKKBB.

"Jadi pada saat sebelum terjadi insiden disitukan banyak fotografer dan hasilnya dapat dilihat bahwa masa yang banyak sekali muncul adalah masa AKKBB. yang pegang Pistol dan segala macam adalah AKKBB, Itu saja disampaikan ke publik bahwa kekerasan justru bersumber dari AKKBB," katanya.

Menurut Lukman Hakim, bukti-bukti provokasi AKKBB ini sudah ada di kuasa hukum Munarman. Menurutnya tim kuasa ini tergabung ada 86 tim anggota dan sangat mungkin sekali ada beberapa orang yang ingin ikut solidaritas.

"Sehingga kalau diinventarisir ada 120 orang lebih, tim kuasa bukan pengacara," ujarnya.

Selain panitia dari AKKBB membawa senjata aksi AKKBB juga ilegal. Hal ini dibenarkan oleh Kapolri Jenderal Sutanto bahwa AKKBB sendiri yang mencari masalah. Menurutnya, jika saja pada 1 Juni lalu, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) mengikuti rute yang sudah disepakati, maka insiden tersebut tidak akan terjadi. Rute yang seharusnya dilalui AKKBB, jelas dia, Gambir-Kedubes AS-Air Mancur-BI-Thamrin-HI.

"Rute-rute tersebut sudah diamankan, tapi AKKBB tidak menepati janji. Kalau menepati rute mereka, pasti tidak akan terjadi (bentrokan). Kalau polisi dibilang tidak siap, tidak tepat. Mereka (AKKBB) sendiri yang cari masalah, " ujar Kapolri pada saat menjawab pertanyaan anggota Dewan beberapa waktu lalu.

"Kata siapa tidak diingatkan, sudah berkali-kali kita ingat untuk tidak melakukan kegiatan di hari Minggu, jadi tolong jangan di bolak-balik, " tegas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Adang Firman memberi penjelasan. [m/derap/em/syabab.com]


Blog EntryPelajaran “Berharga” Peristiwa Monas [2]Jun 11, '08 8:14 AM
for everyone
“Tidak ada asap, jika tidak ada api, “ujar KH. Cholil Ridwan melihat kasus Monas.  Ada hegemogi media dan dukungan LSM pada AKKBB. Peristiwa ini harus menjadi pelajaran umat Islam.  “Sisi lain” di balik kasus Monas

Oleh: Fahmi Amhar *

Prolog:

Ketidadilan media massa, provokasi kalangan liberal yang diback-up TV dan “adu-domba” antar ormas Islam membuat umat Islam “tak berdaya” dalam kasus Monas. Untugnya, kalangan Muslim cepat sadar. Sebuah pelajaran yang sangat berharga!

Ahmadiyah Akar Persoalan

Untungnya, umat Islam segera cepat sadar. Ketika provokasi “adu-domba” umat ini berlangsung massif dengan difasilitasi media massa dan TV, ormas-ormas Islam mengembalikan persoalan yang sesungguhnya.

Ketua MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, insiden Monas Ahad, (1/6), lalu cuma “asap”. Untuk menghilangkan asap tersebut, maka apinya harus dipadamkan.  Yang dimaksud “api”, kata KH. Cholil adalah, segala tindak kekerasan terhadap akidah umat Islam serta penodaan terhadap Al-Quran.

Setelah di beberapa tempat kelompok-kelompok organisasi “onderbow” NU melakukan pembalasan, tiba-tiba ormas Islam, seperti; Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Garda Bangsa, Pemuda Anshor, Pergerakan Mahasiswa (PMII), Forum Umat Islam (FUI), Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Tim Pengacara Muslim TPM), Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Keluarga Muslim se-kota Bogor melakukan “Ikrar”.  Di Balaikota Bogor, Jabar,  mereka membuat "Ikrar Ukhuwah", guna menjaga situasi Kota Bogor tetap kondusif. Di beberapa tempat juga dilakukan hal sama. Termasuk di Jabar dan di Kalimantan.

Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi menyatakan, “Sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.” Beliau juga menyesalkan sikap Pemerintah yang tidak tegas terhadap persoalan Ahmadiyah. (Republika.co.id, 3/6/2008).

Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga menyatakan insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah mendesak dikeluarkan (RCTI, 3/6/2008).

Islam sebagai Sasaran

Melihat pola arus informasi atas insiden ini, sepertinya mirip dengan pola yang digunakan di masa lalu. Dimana bisa diprediksi akan melahirkan beberapa hal;

Pertama: Adanya pengalihan isu. Semula isu yang dominan adalah tuntutan kenaikan harga BBM dan pembubaran Ahmadiyah yang telah dinyatakan menyimpang oleh Bakorpakem, juga kekerasan polisi di kampus UNAS. Kini, isu seakan bergeser menjadi isu pembubaran ormas Islam tertentu. Ketua Lembaga Penyuluh Bantuan Hukum PBNU, M Sholeh Amin mengingatkan jangan sampai pengalihan isu demikian dibiarkan. (Republika.co.id, 3/6/2008).

Kedua: Adanya Stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan opini media massa digambarkan betapa buruknya wajah kaum Muslim yang sebenarnya justru membela kemurnian akidahnya.

Ketiga: Menghancurkan organisasi Islam yang memperjuangkan syariah Islam dan secara terbuka menentang pornografi-pornoaksi, dan kemungkaran. Lihatlah, pasca Insiden Monas, Opini yang semua hanya mengecam “kekerasan” FPI, tiba-tiba bergeser pembubaran FPI lalu lebih meluas ke pembubaran MUI dan ormas-ormas Islam “garis keras”, istilah yang sering digunakan kaum liberal.  Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut pembubaran beberapa ormas Islam yang sesungguhnya tidak terkait sama sekali dengan insiden tersebut. Bahkan mereka mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan permohonan ke pengadilan lalu meminta hakim untuk membubarkan Majelis Ulama Indonesia (Hidayatullah.com, 2/6/2008).

Keempat: Ada pengendalian arus informasi. Di mana, aparat lebih cenderung bergerak atas “tekanan” media massa dan sekelompok kecil pakar yang tak merepresentasikan mayoritas orang. Inilah rupanya hal yang disadari kaum liberal yang tergabung dalam AKKBB. Pemanfaatan media sebatas ingin menunjukkan, bahwa publik setuju dengan pendapatnya. Sementara, pihak media massa –yang selama ini dianggap sebagai lembaga independent dalam teori-teori yang dipelajari di buku-buku—nyatanya juga berlaku subyektif dan tidak fair.  Liputan TV One dan beberapa stasiun TV lebih cenderung “mengarahkan” orang membela Ahmadiyah dan menyudutkan kelompok penentangnya.

Syukur, peristiwa ini disadari umat Islam. Ketua Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADA-API) KH Noer Muhammad Iskandar, beserta ulama dan tokoh Islam langsung melakukan aksi “perlawanan” dengan membalas aksi lebih besar, sekitar 9000 orang “mengepung” Istana. (Hidayatullah.com, 9/6/2008).

Tetapi, sekali lagi, media seperti Metro TV, TV One, TransTV, Trans-7, SCTV dan RCTI tak terlalu tertarik menjadikan liputan “LIVE”, sebagaimana saat menggerebek FPI. Sebab bagi media, besar atau kecil jumlah orang, itu hanyalah image (citra). Gerakan ribuan orang berpakaian putih-putih “mengepung” Istana tak terlalu menarik dibanding segelintir aktivis AKKBB.  Sekali lagi, ini soal image (cintra)!.

Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya “membungkam” orang dan organisasi yang secara tegas menyuarakan Islam.

Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, mereka yang tidak menginginkan Islam kuat dan mereka yang tidak menginginkan Indonesia kuat. Mereka yang diuntungkan adalah kaum imperialis dan para kompradornya.

Menarik dicatat, sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah para tokoh penting di balik Reformasi 1998 yang mendapat bantuan dana 26 juta dolar AS dari USAID untuk menjalankan agenda AS. Bantuan dana ini dapat dilihat dalam The New York Times (20 Mei 1998). Kedekatan AS dengan para tokoh AKKBB ini juga ditunjukkan dengan kedatangan Kuasa Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn menjenguk anggota AKK-BB yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni.  Bahkan, salah satu rekomendasi The Rand Corporation (http://www.rand.org) dalam menundukkan Islam adalah mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. Caranya adalah dengan "mengadu-domba". 

Karena itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujarnya. Oleh karena itu, KH Hasyim mengingatkan pihak-pihak yang ingin menggiring NU, terutama badan otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, Lakpesdam NU agar menghentikan provokasinya. (Detik.com, 3/6/2008).

Penutup

Meski SKB tiga Menteri –yang berupa surat peringatan dan perintah-- telah keluar, setidaknya, ke depan, umat Islam harus mulai belajar dari pengalaman buruk ini. Ke depan, umat Islam tak harus selalu diam. Apalagi menghadapi sikap otoritarianisme media massa yang sering tidak berlaku fair.

Bandingkan dengan cara kerja kalangan liberal seperti AKBB. Beberapa menit peristiwa, mereka sudah menggelar jumpa pers. Koran, radio dan TV mendukungnya. Tokoh-tokoh yang senantiasa dianggap pembela HAM langsung serempak berteriak dan semua menekan pemerintah.

Harus diakui, cara kerja kalangan liberal melalui AKKBB meski hanya segelintir orang –sebab mereka tak mewakili umat Islam mainstream— patut diacungi jempol. Hubungan antara AKKBB, LSM dan media massa adalah hubungan simbiosis saling menguntungkan yang melahirkan “kepentingan politik dan bahan berita.”

Alhamdulillah, sikap para ulama, tokoh masyarakat hingga para artis yang menjenguk Ketua FPI, Habib Rizieq, setidaknya “membalik” opini tidak fair yang telah dibangun media massa. Umat Islam sudah mulai cerdas. Ormas-ormas Islam juga cepat paham dan tak mau berlama-lama terkena umpan “provokasi” murahan.

Wahai kaum Muslim, hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba oleh kafir penjajah yang memang sangat ingin memecah-belah kesatuan umat Islam. Kita pun jangan sampai terdorong untuk memprovokasi dan mengadu-domba sesama Muslim karena Rasulullah saw. bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba.” (Mutaffaq ‘alaih).

Rasulullah saw pernah mengingatkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh kekuatan luar yang berasal atau musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita sudah saling menghancurkan satu sama lain:

«وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي ِلأُمَّتِي أَنْ لاَ يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ َلا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ ِلأُمَّتِكَ أَنْ لاَ أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ َلاَ أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا»

Sungguh, aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku agar mereka tidak binasa karena wabah kelaparan dan agar musuh dari kalangan selain mereka sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga. Sungguh, Tuhanku kemudian berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak dapat ditolak. Sungguh, Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka tidak dapat menguasai mereka sehingga masyarakat mereka terjaga sekalipun dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama lain.” (HR Muslim).

Mudah-mudahan, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk semakin matang, dewasa dan semakin cerdas di masa depan. [habis/www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah alumnus Vienna University of Technology


Blog EntryPelajaran Berharga Peristiwa Monas [1]Jun 11, '08 8:12 AM
for everyone

“Tidak ada asap, jika tidak ada api, “ujar KH. Cholil Ridwan melihat kasus Monas. Ada hegemogi media dan dukungan LSM pada AKKBB. Peristiwa ini harus menjadi pelajaran umat Islam. “Sisi lain” di balik kasus Monas

 

Oleh: Fahmi Amhar *

PRIHATIN! itulah perasaan bisa kita saksikan melihat kondisi umat Islam seminggu, sebelum ini. Belum lama rakyat disuguhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Penolakan terus terjadi dimana-mana. Di susul penyerbuan aparat polisi di kampus Universitas Nasional (UNAS) dan tindakan anarkhisme yang melahirkan pengecaman di mana-mana. Belum lagi kasus “memalukan” pemerintah Indonesia, Blue Energy (energi biru) yang tiba-tiba cepat hilang berganti dengan kecaman terhadap Front Pembela Islam (FPI).

Mengapa isu-isu besar di Negeri kita begitu cepat berlalu dalam sekejab? Dan mengapa pula orang hanya sibuk melihat aksi “kekerasan” FPI? Mengapa tidak melihat mengapa FPI melakukan itu? tak banyak orang mempertanyakan secara jeli. Meminjam istilahnya Ketua MUI, Cholil Ridwan, “Bukankah tidak ada asap kalau tidak ada api?”. Tulisan ini, hanya mengungkap “sisi lain” di balik peristiwa itu.

“Provokasi” dan “Kekerasan Simbolik”

PADA saat ’Insiden Monas’, yaitu bentrokan antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan massa yang beratribut Front Pembela Islam (FPI) di Lapangan Silang Monas ke arah Jalan Medan Merdeka Selatan. (Belakangan dibantah bahwa yang bentrok itu bukanlah FPI melainkan Komando Laskar Islam (KLI).

Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan, mengatakan, bentrokan antara FPI dan AKKBB adalah efek dari “kekerasan simbolik” yang selama ini terjadi. Aksi-aksi sporadis kalangan liberal–seperti melecehkan MUI dan merendahkan wibawa ulama (ingat pelecehan dan penghinaan Adnan Buyung kepada KH Ma’ruf Amien, tokoh NU dan Ketua MUI di Radio BBC beberapa waktu lalu)–selalu mendapat tempat terhormat di media massa dan TV. “Jadi, sesungguhnya ‘kekerasan simbolik’ itu sudah lama dilakukan kalangan liberal terhadap kalangan Islam yang lain,” ujar Aswar (Hidayatullah.com, 2/6/2008).

AKKBB merupakan kelompok yang giat membela Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah telah dinyatakan sesat oleh berbagai organisasi seperti keputusan Majma’ al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1985, Fatwa MUI  tentang Ahmadiyah tahun 2005, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan Badan Koordinasi Pengawas Kepercayaan dan Keyakinan Masyarakat (Bakorpakem) pada 16 April 2008 menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran yang menyimpang dari Islam. Di saat seluruh ormas Islam colling down menunggu sikap pemerintah melalui surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pelarangan, tiba-tiba, AKKBB secara sporadis berusaha “menjegal” keluarnya SKB dengan cara memasang iklan.

Di tengah situasi psikologis seperti itu, setidaknya sejak 15 Mei 2008, terpampang iklan petisi di situs resmi AKKBB, yang disebar ke berbagai milis, dan akhirnya dirilis di 9 media massa nasional mulai tanggal 26 Mei 2008. Petisi bertajuk “Mari Pertahankan Indonesia Kita!” itu dikoordinasikan oleh ICRP dan Aliansi Bhineka Tunggal Ika dan disebar di beberapa milis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang pernah menggerakkan kalangan lesbian, homo, para pelacur dan penyanyi dangdut untuk menyampaikan sikap penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Dilihat dari pendukungnya pun terdiri dari ideolog sosialis, aktivis Ahmadiyah, sebagian warga non-Muslim dan kaum liberal.

“Dan Alhamdulillah setelah negosiasi dan melobi pihak sana sini akhirnya iklan petisi ini berhasil dimuat di 9 media dengan ukuran yang cukup lumayan. Satu halaman di Koran Tempo (26/5), Majalah Tempo dan Majalah Madina (01/6), setengah halaman di Koran Rakyat Merdeka, Jawa Pos, Media Indonesia (26/5), Sinar Harapan & The Jakarta Post (27/5) serta seperempat halaman di Kompas (30/5),” ujar Nong Darol Mahmada dalam situs pribadinya (http://nongmahmada.blogspot.com).

Iklan petisi tersebut berisi pembelaan terhadap Ahmadiyah. Bukan hanya itu, petisi itu juga berusaha mengadu-domba umat Islam dengan Pemerintah dengan menyatakan, “Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum untuk tidak takut terhadap tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.”

Provokasi terus terjadi. Majalah Tempo pada edisi 5-11 Mei 2008 menuduh para ulama dalam MUI lah yang menjadi biang “kekerasan”. “Kecemasan di mana-mana. Ketakutan merajalela. Majelis Ulama Indonesia harus bertanggung jawab atas semua ini.” Di bagian lain Tempo menulis, “Majelis Ulama sudah selayaknya meminta maaf kepada warga Ahmadiyah. Menjatuhkan fatwa sesat pada aliran itu berarti memberikan lampu hijau kepada gerombolan penyerang Ahmadiyah untuk bertindak anarkistis.“ Ingat, pemilik majalah Tempo adalah Goenawan Mohamad yang juga penggiat AKKBB dan Apel Akbar. Kalau bukan provokasi terhadap umat Islam, lantas untuk apa tulisan menghina ulama itu?

Black campaign juga dilakukan beberapa media massa saat memunculkan foto dan berita “Munarman Mencekik” anggota AKK-BB. Foto “Munarman mencekik” juga disebar anggota AKK-BB dan disalurkan ke beberapa media massa melalui jumpa pers yang difasilitasi the Wahid Institute Senin, (2/6)/. Untuk memberi kesan dramatis, detik.com mengutip seorang perempuan (entah siapa dan apa maksudnya pemuatan ini) dengan kutipan kalimat, “Mata Munarman terlihat jahat sekali. Mata mendelik,” kata seorang wanita, sebagaimana dikutip detik.com. Tak hanya detik, Koran Tempo menurunkan foto itu menjadi halaman utama.

Sayangnya, media dan AKK-BB kecele. Foto yang sudah terlanjur dimuat dan dirilis berbagai pers tiba-tiba keliru. Orang yang seolah-olah “dicekik” itu ternyata adalah anggota FPI bernama Ponco alias Ucok Nasrullah. Dalam jumpa pers di Markas FPI Petamburan Jakarta Barat, Munarman melakukan itu justru untuk mencegah Ponco agar tidak melakukan aksi anarkis. Hebatnya, media-media yang mengaku nasional seperti; Harian Indopos, detikcom, dan Koran Tempo, yang telah keliru memuat berita Munarman ini tak melakukan permintaan maaf dan meralat apapun atas kesalahannya.

Berdasarkan catatan-catatan tersebut, benar apa yang dikatakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan bahwa insiden di Silang Monas tersebut tidak serta-merta kesalahan massa beratribut FPI saja. Amidhan menilai apa yang selama ini dilakukan AKKBB juga amat provokatif alias memancing-mancing kemarahan umat Islam. Salah satunya adalah tindakan AKKBB yang menyertakan wakil-wakil agama lain selain agama Islam untuk ikut-ikutan membela kelompok sesat Ahmadiyah (Eramuslim, 2/6/08).

Keganjilan

Selain provokasi dan “kekerasan” simbolik, ada beberapa keganjilan dalam aksi di Monas. Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol. Heru Winarko mengatakan kepada media massa pada 1 Juni 2008 bahwa AKKBB menurut rencana hanya berdemo di Cempaka Barat, lalu ke depan Kedubes AS, dan berikutnya menuju Bundaran Hotel Indonesia. Di ketiga tempat tersebut polisi sudah menyiapkan pengamanan. Di Monas, mereka tidak meminta pengamanan. ”Tapi, mengapa mereka malah masuk Monas?” ujarnya. Ada keanehan di sini. Selain itu, Juru Bicara Ahmadiyah Mubarik mengatakan, mengaku sudah memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Namun, dia mengaku enggan untuk membatalkan rencana aksinya (Hidayatullah, 2/6/2008).

Bukankah ini berarti pembiaran terjadinya insiden tersebut? Lebih dari itu, seorang anggota AKKBB tertangkap kamera membawa pistol dalam Insiden Monas. Dalam konferensi KLI diputar sebuah video yang memperlihatkan seorang peserta aksi berkaos putih, dengan sebuah pita merah putih di lengan kirinya, sempat mengeluarkan sebuah senjata api. (Hidayatullah, 2/6/2008). Lebih dari itu, menurut pengakuan peserta dari FPI, juga ada provokasi dari panitia (Detik.com, 3/6/2008).

Pertanyaannya adalah mengapa pemerintah dan DPR begitu sigap bersikap dalam insiden tersebut? Mengapa tiba-tiba fokus perhatian menjadi hanya sekedar “kekerasan” oleh FPI? Bagaimana dan kemana para aktivis AKK-BB? Aktivis AKK-BB tentu yang paling gembira.

“Lil (maksudnya Ulil Abshar, red), penggerebekan itu cuma tahap awal. Perjuangan harus jalan terus. Preman-preman berjubah dan para simpatisannya masih terus bergentayangan, termasuk di milis ini. Jadi, tahanlah dulu alhamdulillah- mu,” tulis Luthfi Assyaukanie, [Hidayatullah.com, 5 Juni 2008].

Semua ini menunjukkan ada kerjasama yang halus dan saling terkait. (bersambung/www.detikislam.com)

* Penulis adalah alumnus Vienna University of Technology

Sumber : www.hidayatullah.com


Blog EntryProvokasi, Sekali Lagi Provokasi!Jun 11, '08 8:03 AM
for everyone

Presiden menanggapi peristiwa Monas seakan kudeta. Kedubes AS pun melibatkan diri. Padahal itu tawuran biasa yang selalu terjadi di Indonesia. Ada apa? SKB sudah terbit. Tapi peristiwa ini adalah “pelajaran!”

Oleh: Amran Nasution *

Syariah Publications.com –Kiranjit Ahluwalia memang membunuh Deepak. Suatu malam di bulan Mei 1989, ketika sang suami tidur lelap ia siram kedua kakinya dengan bensin, ia sulut dengan korek api. Lima hari kemudian, Deepak menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Wanita beranak dua itu pun ditangkap polisi.

Pada mulanya peristiwa di Southall, pinggiran barat London ini, dianggap pembunuhan biasa. Pengadilan memvonis wanita asal Punjab, India, yang berimigrasi ke Inggris itu, dengan hukuman seumur hidup. Tapi guru bahasa Inggrisnya di penjara melaporkan kasusnya kepada seorang pengacara berpengaruh.

Dari sini cerita menjadi seru. Terutama setelah kelompok pembela hak perempuan Asia dan kulit hitam, Southall Black Sisters, aktif berdemonstrasi membela Kiranjit agar dibebaskan dari penjara. Pers berebut meliputnya, para ahli hukum memperdebatkannya, para kolumnis menganalisanya.

Ternyata Kiranjit adalah kisah wanita Timur yang tabah, mengabdi kepada suami, menjaga martabat keluarga, tapi provokasi demi provokasi dari Deepak berujung pembunuhan.

Deepak pecandu alkohol berat, punya hobi menyiksa istri. Kalau sudah marah apa yang ada di tangannya ia pukulkan, dan itu sering terjadi di depan mata dua anak mereka yang masih kecil. Ke mana pun Kiranjit lari, ia kejar sampai dapat dan babak-belur.

Itulah yang terjadi di malam nahas. Setelah puas menyiksa istrinya Deepak tertidur dalam mabuk beratnya. Ketika itu Kiranjit berpikir, baik kalau kaki Deepak ia bakar agar tak mampu lagi mengejarnya. Dengan demikian ia bisa lepas dari siksaan. Maka wanita yang sehari-hari bekerja menyortir surat di sebuah kantor pos, membakar kaki suaminya.

Pengadilan banding pada 1992, memvonis bebas Kiranjit yang telah tiga tahun mendekam di penjara. Hakim berpendapat ia memang tak berniat membunuh. Kata Kiranjit di depan sidang, ‘’Saya tak pernah berencana membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.’’

Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis The Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di Inggris. Tahun lalu, sutradara asal India di London, Jag Mundhra, mengangkat tragedi ini ke dalam film berjudul: Provoked: A True Story (Provokasi: Sebuah Kisah Nyata).

Bila diamati peristiwa Monas (Monumen Nasional), Minggu, 1 Juni 2008, kelompok Front Pembela Islam (FPI) adalah Kiranjit: pihak yang melakukan tindakan melawan hukum akibat tak tahan menghadapi provokasi demi provokasi para tokoh liberal yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Kelompok-kelompok Islam ini – termasuk MUI – sudah lama menjadi bulan-bulanan pemberitaan media massa yang lebih berpihak kepada kelompok liberal dan isu-isu yang mereka bawa. Mulai kasus RUU Pornografi dan Pornoaksi, berbagai aliran sesat, dan terakhir Ahmadiah.

ImageAdnan Buyung Nasution, misalnya, seenaknya bilang MUI supaya dibubarkan karena mengeluarkan fatwa Ahmadiah. Penasehat Presiden itu mengejek-ejek salah seorang tokoh MUI yang tak lain koleganya sesama penasehat Presiden. Padahal dalam pandangan kelompok Islam ini, MUI harus dihormati karena merupakan kumpulan para ulama. Buyung beberapa kali menantang-nantang mereka dengan sangat emosional.

Tulisan para aktivis liberal di koran, majalah, atau wawancara di televisi, selalu menyerang atau mengejek-ejek mereka atau sesuatu yang mereka yakini dan muliakan. Di dalam selebaran untuk mengerahkan pendukungnya ke Monas, 1 Juni 2008, AKKBB menuduh kelompok anti –Ahmadiah adalah anti– UUD dan Pancasila serta persatuan nasional. Mereka akan memaksakan rencana mendirikan negara Islam, mengganti dasar negara.

Di bawah pernyataan tercantum 289 nama, sejumlah di antaranya tokoh terkenal. Mulai Gus Dur, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution, Marsilam Simanjuntak, Asmara Nababan, Rahman Tolong, Ulil Abshar Abdala, sampai Syafii Maarif dan Amien Rais. Selebaran dimuat di koran sebagai iklan, selain tersebar ke mana-mana. Itu amat meresahkan FPI, FUI, dan lainnya yang sejak lama berpendapat Ahmadiah harus dilarang karena mencederai Islam. Sebagaimana Kiranjit mereka tampaknya terus diprovokasi.

Amat wajar polisi berusaha agar massa kelompok FPI dan AKKBB tak bertemu ketika 1 Juni 2008, keduanya melakukan demonstrasi. Kenyataannya kelompok AKKBB tak peduli. Mereka seakan ingin berhadapan dengan kelompok FPI.

Kedutaan Besar Amerika

ImageSiang itu di depan Istana Merdeka, massa Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), FPI, MMI, dan FUI, melakukan demo anti-kenaikan harga BBM. Dari arah Hotel Indonesia muncul massa AKKBB yang berdemo menentang pelarangan Ahmadiyah. Dari pengeras suara di atas mobil terdengar suara mengejek FPI sebagai ‘’laskar kapir’’, ‘’laskar setan’’.

Provokasi itu menyebabkan kelompok massa FPI yang dipimpin Munarman kehilangan kesabaran. Meski salah seorang dari massa AKKBB mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas sampai empat kali, tak ada gunanya. Saat itu pistol lebih berfungsi sebagai alat provokasi daripada pencegahan. Terjadilah insiden. Sejumlah massa AKKBB terluka, beberapa sempat dirawat di rumah sakit.

Bentrokan sesungguhnya kecil saja. Setidaknya lebih kecil dibanding banyak kerusuhan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Di Ternate, Maluku Utara, misalnya, sejumlah rumah dibakar. Sebelumnya, dalam pemilihan Bupati Tuban, Jawa Timur, bukan cuma rumah, pendopo bupati, kantor KPU, kantor partai, mobil dan beberapa properti lain dibakar. Apalagi kalau dibandingkan dengan kerusuhan Ambon, Poso, atau pembantaian orang Madura di Kalimantan.

Tapi kali ini hiruk-pikuknya bukan kepalang. Koran, radio, dan televisi menjadikannya berita utama dengan tema menyerang kelompok FPI. Ormas itu harus dibubarkan karena merupakan organisasi kekerasan.

Saking bersemangat, koran TEMPO memuat mencolok foto Munarman mencekik seseorang yang disebutnya anggota AKKBB, tanpa pengecekan. Ternyata Munarman sedang berusaha mencegah anggotanya sendiri berbuat anarkis. Berita foto itu sangat menjatuhkan Munarman dan tampaknya akan menjadi kasus hukum.

Demonstrasi menuntut pembubaran FPI pecah di pelbagai daerah terutama di Jawa Timur, basis Gus Dur. Berbagai tindak kekerasan diterima FPI daerah. Malah di Banyuwangi, mucikari dan pelacur turut berpartisipasi mendemo FPI.

Seakan negara dalam keadaan darurat, Presiden SBY tampil menyampaikan pernyataan resmi dari Istana. ‘’Negara tak boleh kalah oleh kekerasan,’’ katanya. Gaya penampilan Presiden, mimiknya, tekanan kalimatnya, menggambarkan seakan FPI dan kelompoknya telah melakukan kudeta. Gaya Presiden yang berlebihan itu tambah memojokkan FPI.

ImagePadahal kalau bentrok begitu saja harus ditanggapi Presiden langsung, setiap hari ia harus tampil. Ikutilah radio atau televisi, hampir setiap hari ada bentrok massa. Penyebabnya macam-macam, mulai Pilkada, demonstrasi BBM, tawuran antar-kampus atau antar-sekolah, tawuran antar-geng motor, rebutan lahan parkir, sampai sengketa tapal batas desa. Penyerbuan polisi ke Universitas Nasional, sebelumnya jauh lebih keras dari peristiwa Monas. Tapi Presiden diam saja.

Yang jelas bentrokan Monas menguntungkan pemerintah. Soalnya, FPI, Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), dan ormas Islam lainnya, merencanakan demonstrasi besar-besaran anti-kenaikan harga BBM mulai 6 Juni 2007. Demonstrasi itu akan diteruskan dengan gerakan mogok massal nasional. Berbagai persiapan sudah dilakukan.

Ketika polisi menggerebek kantor FPI ditemukan segepok selebaran berjudul, ‘’Lumat SBY-YK’’. Lumat singkatan lima tuntutan ummat: batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga sembako, nasionalisasi aset negara yang dikuasai asing, bubarkan dan nyatakan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang, dan usir NAMRU-2 dari Indonesia serta bersihkan kabinet dari antek Amerika Serikat.

Melihat tema yang mereka usung, gerakan itu akan merepotkan pemerintah sekalian menyulut gerakan anti-Amerika di Indonesia. Aksi itu rupanya harus dicegat jangan sampai terjadi maka meletuslah peristiwa Monas.

Lihatlah aktivitas Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Jakarta. John Heffern, Kuasa Usahanya, sibuk mengunjungi korban dari AKKBB di Rumah Sakit Gatot Subroto. Keesokan hari, Kedubes mengirimkan pernyataan resmi ke media massa mengutuk aksi kekerasan Monas. Belum cukup. Pernyataan itu mengajari Pemerintah Indonesia agar menjunjung kebebasan beragama bagi warganya sesuai UUD. Itu jelas intervensi urusan dalam negeri Indonesia.

Bagaimana mungkin orang-orang Kedubes itu masih punya keberanian moral mengutuk kekerasan Monas, sementara negaranya adalah imperium kekerasan yang sudah membunuh 1 juta manusia di Iraq. Menangkap, menahan, dan menyiksa ratusan orang di Guantanamo, tanpa mengadilinya lalu diam-diam melepaskannya.

Pantas Naomi Wolf, aktivis dan kolumnis dari New York, penulis buku laris The Beauty Myth, menuduh negeri itu sedang menuju pemerintahan fasis (fascist shiff). Riset yang dilakukan wanita ini menemukan seluruh ciri-ciri pemerintahan Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, dan Augusto Pinochet di Chili, ada pada pemerintahan Bush.

Bagaimana mereka mengajari kebebasan beragama di Indonesia, padahal banyak pendeta dan pengikut Mormon mendekam di penjara Amerika karena melakukan poligami sesuai ajaran agama yang mereka yakini. Apa beda mereka dengan Ahmadiah? Pendeta David Koresh dan puluhan pengikutnya diledakkan polisi federal FBI sampai terbakar berkeping-keping karena mendirikan sekte Kristen sendiri. Masih ada cerita lain yang mengerikan seperti itu.

Di Guantanamo, Al-Quran mereka cemplungkan ke dalam WC – seakan hal lumrah – agar orang yang mereka periksa marah dan bicara terbuka. Dari pengakuan eks tahanan Guantanamo yang telah bebas, penghinaan Al-Quran jadi metode pemeriksaan tersendiri, selain berbagai model penyiksaan lainnya seperti waterboarding, menyiramkan air ke wajah sehingga korban sesak bernapas seakan tenggelam.

Di Iraq, tentaranya latihan menembak dengan Al-Quran sebagai target. Apakah mereka masih berhak bicara kebebasan beragama? berlanjut/www.syariahpublications.com)

* Penulis Direktur Institute For Policy Studies

Sumber : www.hidayatullah.com


Blog EntryMembongkar Jaringan AKKBB (Bag. 2)Jun 11, '08 7:13 AM
for everyone
Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita. Pertama soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Yang kedua, soal kelompok sesat Ahmadiyah yang hendak dibubarkan namun mendapat dukungan dari koalisi liberal dan kelompok non-Muslim.

Di saat itulah, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya. Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.

Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut ( www.wiesenthal.com ).

Dalam acara dinner yang dihadiri tokoh-tokoh Zionis Amerika dan Israel, di antaranya C. Holland Taylor (CEO LibForAll), Rabbi Marvin Hier (Pendiri SWC, dinobatkan oleh Newsweek Magazines sebagai Rabbi paling berpengaruh nomor satu di AS tahun 2007-2008), Rabbi Abraham Cooper (menempati urutan ke-25 Rabbi paling berpengaruh di AS tahun 2008), CEO Sony Corporation, dan lainnya, antara penerima penghargaan dengan tuan rumah—para Zionis Amerika dan Israel tersebut—berlangsung obrolan santai namun serius.

Selain isu Ahmadiyah, topik kontroversi kenaikan harga BBM yang tengah hangat di dalam negeri (Indonesia) diduga kuat menjadi salah satu bahan pembicaraan mereka mengingat kebijakan pemerintahan SBY tersebut sesungguhnya mengikuti Grandesign Washington agar harga minyak di Indonesia bisa sama dengan harga minyak di New York, sesuai Letter of Intent (LOI) dengan IMF pada tahun 1999. DI tahun 2000, USAID pun telah mengucurkan dollar dalam jumlah besar kepada pemerintah RI untuk memuluskan liberalisasi sektor Migas (silakan baca wawancara eramuslim dengan Revrisond Baswir dalam rubrik bincang-bincang).

imageTarget IMF untuk menyamakan harga BBM di New York dengan di Indonesia sebenarnya sudah harus tercapai pada tahun 2005, namun tersendat-sendat karena penolakan dari rakyat Indonesia sangat kuat. Sebab itu, di tahun 2008 ini Amerika agaknya tidak mau hal tersebut tersendat lagi. “Penyesuaian” harga BBM harus terus jalan. Zionis-Amerika sangat berkepentingan dengan hal ini, sebab itu mereka mendesak pemerintahan SBY yang memang sangat takut dan tunduk tanpa reserve pada AS agar segera menaikkan harga BBM. Bagaimana takutnya SBY terhadap AS bisa kita lihat sendiri saat Presiden Bush datang ke Bogor, 20 November 2006, di mana persiapan yang dilakukan pemerintah ini sangat keterlaluan berlebihan dan cenderung paranoid.

Pada tanggal 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM. Abdurrahman Wahid sudah tiba di tanah air. Untuk menekan penolakan, pemerintah SBY (lagi-lagi) memberi ‘permen’ kepada sebagian rakyat miskin bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun Social bumper ini malah menjadi bulan-bulanan kecaman ke pemerintah. Gelombang unjuk rasa dilakukan mahasiswa dan elemen-elemen rakyat. Tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais dan Wiranto pun sudah terbuka menyatakan ‘perang’ terhadap sikap pemerintah menaikkan harga BBM. Banyak kalangan berfikir, demo-demo ini akan meningkat eskalasinya hingga jadi besar, bahkan bukan mustahil rusuh Mei 1998 terulang kembali. Teriakkan “Turunkan SBY-JK!” sudah terdengar di mana-mana. Pihak kepolisian menerapkan status Siaga Satu saat itu.

Sejak itu tiada hari tanpa demo. Istana merupakan tempat paling favorit para pendemo. Hari ahad, 1 Juni 2008, sejumlah elemen masyarakat termasuk massa dan anggota PDIP dan elemen umat Islam seperti FUI, HTI, dan FPI, sudah mengantungi izin untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas, Jakarta. Sedangkan AKKBB menurut laporan ke pihak kepolisian hanya melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI, sekitar tiga kilometer dari kawasan Silang Monas.

Jalur Demo dan Polisi Yang Aneh
Dari Bundaran HI, tiba-tiba massa AKKBB bergerak long-march ke kawasan silang Monas yang sudah dipenuhi massa umat Islam yang tengah berdemo. Padahal pemberitahuannya hanya ke Bundaran HI. Aparat kepolisian berusaha mencegah massa AKKBB yang sebagiannya merupakan pendemo bayaran yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa menuju silang Monas di mana massa elemen umat Islam tengah melakukan demo, agar tidak terjadi bentrok.

Namun massa AKKBB membandel dan polisi (anehnya) tidak mampu menghalangi massa AKKBB mendekati massa umat Islam. Setelah berdekatan, orator dari massa AKKBB memprovokasi massa umat Islam yang banyak terdiri dari para laskar meneriakkan, “Laskar setan!” dan sebagainya. Terang, mendapat provokasi seperti ini anak-anak muda dari massa Islam marah. Apalagi di antara massa AKKBB yang berada di dekat massa Islam ada yang membawa-bawa spanduk besar berisi penolakan SKB Ahmadiyah. Ini jelas provokasi. Anak-anak Laskar Islam pun menyerbu massa AKKBB. Dan terjadilah rusuh Monas.

Dalam tulisan ketiga, akan dipaparkan keanehan lainnya ba’da peristiwa Monas yaitu sikap SBY yang tiba-tiba cepat tanggap (biasanya peragu dan lamban), respon Kedubes AS dan pejabat Kedubes AS yang menjenguk korban, plintiran media massa baik itu cetak maupun teve, dan sebagainya.

Apa pun itu, semua ini telah berhasil membelokkan isu utama negeri ini dari yang tadinya menyoroti kenaikan BBM dan penolakan Ahmadiyah, menjadi isu sentral pembubaran FPI. Baik SBY maupun para liberalis dan non-Muslim yang tergabung dalam AKKBB (termasuk kelompok sesat Ahamdiyah) diuntungkan. (bersambung/rizki/eramuslim)


Blog EntryMembongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)Jun 11, '08 7:03 AM
for everyone

Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.

Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad ini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

  • Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

  • National Integration Movement (IIM)

  • The Wahid Institute

  • Kontras

  • LBH Jakarta

  • Jaingan Islam Kampus (JIK)

  • Jaringan Islam Liberal (JIL)

  • Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

  • Generasi Muda Antar Iman (GMAI)

  • Institut Dian/Interfidei

  • Masyarakat Dialog Antar Agama

  • Komunitas Jatimulya

  • eLSAM

  • Lakpesdam NU

  • YLBHI

  • Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika

  • Lembaga Kajian Agama dan Jender

  • Pusaka Padang

  • Yayasan Tunas Muda Indonesia

  • Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

  • Crisis Center GKI

  • Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)

  • Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)

  • Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)

  • Gerakan Ahmadiyah Indonesia

  • Tim Pembela Kebebasan Beragama

  • El Ai Em Ambon

  • Fatayat NU

  • Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta

  • Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali

  • Koalisi Perempuan Indonesia

  • Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya

  • Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta

  • Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo

  • SHEEP Yogyakarta Indonesia

  • Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya

  • Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya

  • LSM Adriani Poso

  • PRKP Poso

  • Komunitas Gereja Damai

  • Komunitas Gereja Sukapura

  • GAKTANA

  • Wahana Kebangsaan

  • Yayasan Tifa

  • Komunitas Penghayat

  • Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB

  • Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok

  • Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo

  • Crisis Center SAG Manado

  • LK3 Banjarmasin

  • Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar

  • Jaringan Antar Iman se-Sulawesi

  • Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin

  • PERCIK Salatiga

  • Sumatera Cultural Institut Medan

  • Muslim Institut Medan

  • PUSHAM UII Yogyakarta

  • Swabine Yasmine Flores-Ende

  • Komunitas Peradaban Aceh

  • Yayasan Jurnal Perempuan

  • AJI Damai Yogyakarta

  • Ashram Gandhi Puri Bali

  • Gerakan Nurani Ibu

  • Rumah Indonesia



kunjungannya Gus Dur awal Mei 2008 lalu ke ISrael menerima penghargaan dari Simon Wiesenthal Center. Simon Wiesentel Center adalah sebuah LSM terkenal di Amerika Serikat yang melindungi kaum Yahudi internasional.


Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘
curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni:
Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah
Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka,
Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com , Islamlib.com dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari '
The Hidden Agenda' di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz/eramuslim)

Blog EntryFUI Tuding AS Otaki Insiden MonasJun 10, '08 7:09 AM
for everyone

Jakarta - Forum Umat Islam (FUI) mencurigai insiden monas didalangi pihak asing. Bahkan AKK-BB dituding telah menerima duit US$ 26 juta dolar sejak 1995 hingga 1997. Kecurigaan FUI ini didasari kedatangan Kuasa Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn menjenguk anggota AKK-BB yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni.

“John Heffrn datang membesuk para korban dari AKK-BB. Ini menimbulkan tanda tanya publik. Ada hubungan apa antara orang-orang yg dijenguk tadi dengan kedubes AS,” ujar Ketua Gerakan Persaudaran Muslim Indonesia (GPMI) Ahmad Sumargono.

Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers yang digelar FUI di Hotel Sofyan Cikini, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat. Sekadar diketahui, GPMI adalah salah satu organisasi yang tergabung dalam FUI.

Selain itu, Sumargono mengungkapkan, AS telah menerbitkan rilis yang meminta pemerintah Indonesia untuk segera menyelesaikan insiden Monas. Penerbitan rilis ini dinilai sebagai bentuk campur tangan AS.

Sumargono juga membeberkan, Adnan Buyung Nasution, yang juga salah satu tokoh AKK-BB, telah menerima duit US$ 26 juta dari AS sejak tahun 1995 hingga 1997. “Melalui YLBHI, Adnan Buyung telah menerima dana dari USAID. Dana ini yang menyebabkan terjadinya gelombang reformasi yang membuat Indonesia amburadul di bawah eksploitasi kaum kapitalis liberal,” tuturnya.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.