indra's posts with tag: aids
Friday, 07 December 2007 Syabab.Com - Tanggal 1 Desember lalu baru saja Hari AIDS se-Dunia diperingati. Tahun ini, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ditunjuk sebagai koordinator pelaksanaan peringatan Hari AIDS se-Dunia. Di Tanah Air, untuk pertama kalinya, sebuah kampanye berskala nasional bertajuk “Pekan Kondom Nasional” (PKN) 2007 diselenggarakan, yaitu pada 1-8 Desember 2007. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan penggunaan kondom sebagai salah satu cara untuk mengatasi Infeksi Menular Seksual (IMS), khususnya HIV. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus, suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah terserang (terinfeksi) penyakit. Adapun AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun akibat adanya virus HIV di dalam darah.
Selama sepekan, agenda PKN 2007 terdiri dari serangkaian kegiatan antara lain pembagian kondom gratis. ”Pekan Kondom Nasional ini diharapkan akan meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi penggunaan kondom,” ungkap Christopher Purdy, Country Director DKT Indonesia. (Aidsindonesia.or.id, 6/11/2007).
Karena itu, di Semarang, misalnya, KPA Kota Semarang mengisi Peringatan Hari AIDS se-Dunia antara lain dengan membagikan 5.000 kondom secara gratis kepada sopir dan kernet truk di Terminal Mangkang, Semarang. “Pembagian ini adalah bagian dari upaya antisipasi merebaknya HIV/AIDS di Kota Semarang,” kata Ketua KPA Kota Semarang Soemarmo hari ini. Dia juga mengatakan, salah satu penyebab penyebaran epidemi HIV/AIDS sangat cepat karena belum optimalnya penggunaan kondom pada pelanggan wanita pekerja seks (WPS). (Tempo.co.id, 1/12/07).
Terkait dengan HIV/ADIS ini, data dari aktivis kesehatan menunjukkan bahwa hingga Maret 2007 ada 8.988 kasus AIDS dan 5.640 kasus HIV di Indonesia. Yang mengejutkan, 57 persen kasus terjadi di usia remaja, yakni 15 tahun hingga 29 tahun. Sebagian besar, yakni 62 persen, terinfeksi narkotika yang menggunakan jarum suntik dan 37 persen dari seks tidak aman. (Liputan6.com, 01/12/07).
Sebuah Kebohongan
Banyak orang di dunia yang yakin betul bahwa penularan virus HIV bisa ditangkal dengan penggunaan kondom. Berbagai kampanye dan argumentasi dikemukakan kepada khalayak agar mau menggunakan kondom sebagai ’senjata pamungkas’ melawan virus ganas itu.
Keyakinan tersebut ternyata tidak beralasan. Prof. Dr. Dadang Hawari pernah menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari sejumlah pakar tentang kondom sebagai pencegah penyebaran HIV/AIDS. Berikut sebagian pernyataan tersebut:
- Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993), “Efektivitas kondom diragukan.”
- Penelitian Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA: Virus HIV dapat menembus kondom.
- Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995): Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom.
- V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, “Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.”
- Hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi (2000): Tingkat kegagalan kondom dalam KB mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk KB dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan, besarnya sperma seperti ukuran jeruk garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Artinya, kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS; tentu akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.
Prof. Dadang Hawari meyakini, dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan. (Republika, 13/12/02).
Kondomisasi Mengkampanyekan Seks Bebas
Jika sudah jelas penggunaan kondom tetap mengundang bahaya, lalu mengapa orang masih terus mengkampanyekan kondom? Tidak lain karena di balik kampanye kondom ada semacam pesan tersembunyi: “Bolehlah Anda melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja, asal memakai kondom.” Kira-kira begitulah pesan dari kampanye penggunaan kondom.
Akibatnya, kampanye kondom bakal semakin meningkatkan pergaulan seks bebas. Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998).
Itulah sebabnya, pakar AIDS, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun meneliti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya ia merekomendasikan agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12/11/1995).
Namun demikian, orang-orang sekular, khususnya para pemuja HAM dan demokrasi, tentu lebih merekomendasikan untuk menebar kondom gratis ketimbang memberantas pergaulan bebas dan pelacuran. Mungkin pikir mereka, itu lebih manusiawi karena tidak melanggar HAM.
Berbagai konferensi tentang HIV/AIDS diselenggarakan di seluruh dunia. Namun, tak satu pun konferensi itu—yang bahkan di antaranya diprakarasai PBB—mengeluarkan rekomendasi untuk mencegah perilaku dan kehidupan seks bebas. Bulan Agustus lalu (19-23 Agustus 2007), misalnya, lebih dari 2500 orang dari 60 negara di kawasan Asia dan Pasifik berkumpul dalam Konferensi Internasional AIDS Asia dan Pasifik (International Conference on AIDS in Asia and the Pacific, atau ICAAP) ke-8 di Colombo, Sri Lanka. Pertemuan selama empat hari ini mendatangkan berbagai pembuat kebijakan, pejabat pemerintah, pakar medis, akademisi, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pekerja komunitas dan media. Mereka membicarakan isu-isu seputar stigma dan diskriminasi, akses layanan bagi ODHA, pentingnya meyakinkan kembali para pimpinan politik untuk menepati janji mereka, serta memperluas layanan kesehatan bagi mereka yang terinfeksi HIV. Mereka juga saling bertukar pengalaman dan tantangan yang dihadapi, termasuk masalah hak asasi manusia, keamanan, gender dan seksualitas, serta keterlibatan ODHA yang lebih besar dalam program HIV/AIDS. Namun, tidak ada satu pun pembicaraan mereka itu mengarah pada akar penyebab penyebaran HIV/AIDS, yakni seks bebas (baca: zina). Padahal seks bebaslah penyebab utama merebaknya HIV/AIDS, di samping penyalahgunaan narkoba.
Akar Masalah dan Solusinya
Mengapa perilaku dan kehidupan seks bebas sebagai penyebab utama penyebarluasan virus HIV/AIDS tidak mereka persoalkan? Alasan utamanya tentu karena perilaku seks bebas alias zina adalah salah satu perilaku yang dijamin dalam sistem demokrasi, sebagaimana yang diberlakukan di Indonesia saat ini. Di Indonesia, misalnya, salah satu buktinya adalah tidak adanya UU yang bisa menjerat pelaku perzinaan. Yang ada adalah pasal dalam KUHP yang terkait dengan delik pemerkosaan. Artinya, selama hubungan seks di luar nikah alias zina dilakukan suka sama suka maka hal itu tidak masalah. Wajar saja jika di Tanah Air lokalisasi pelacuran di berbagai tempat kerap dilegalkan, karena di sana transaksi seksual antara pelacur dan lelaki hidung belang memang dilakukan atas dasar suka sama suka.
Karena itu, satu-satunya solusi untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS adalah dengan membuang demokrasi yang memang memberikan jaminan atas kebebasan berperilaku, termasuk seks bebas, sekaligus memberlakukan hukum Islam secara tegas, antara lain hukuman cambuk atau rajam atas para pelaku seks bebas (perzinaan). Allah SWT berfirman:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah jika kalian memang mengimani Allah, dan Hari Akhir. (QS an-Nur [24]: 2).
Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna narkoba. Sebab, di samping barang haram, narkoba terbukti menjadi alat efektif (mencapai 62%) dalam penyebarluasan HIV/AIDS.
Lebih dari itu, sudah saatnya Pemerintah dan seluruh komponen bangsa ini segera menerapkan seluruh aturan-aturan Allah (syariah Islam) secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan itulah keberkahan dan kebaikan hidup—tanpa AIDS dan berbagai bencana kemanusiaan lainnya—akan dapat direngkuh dan ridha Allah pun dapat diraih. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []
KOMENTAR AL-ISLAM: Dien Syamsuddin: Pemerintah Harus Lepas dari Cengkeraman Kapitalisme Global (Eramuslim.com, 4/12/07). Benar. Selanjutnya Indonesia harus menerapkan syariah Islam secara total dan menyeluruh.
Sumber: Buletin Dakwah AL-ISLAM Edisi 382
Saturday, 01 December 2007 Oleh: M. Jamal Karim Syabab.Com - Hari ini, Sabtu (1/12) digelar hari AIDS sedunia. Sedihnya, moment ini sudah dimanfaatkan oleh para kapitalis perusak negeri dengan melegalkan perzinahan lewat Kampanye Pekan Kondom Nasional. seolah mereka benar-benar tengah menanggulangi penyakit AIDS tanpa melihat penyebab utama AIDS itu sendiri, seks bebas. Padahal mereka sedang menyebarkan kemungkaran dengan melegalkan perzinahan. Ada kepentingan para kapitalis dalam program ini.
Solusi yang Salah Kaprah
Data statistik penderita AIDS di negeri ini menurut Departemen Kesehatan, jumlah kumulatif kasus HIV di Indonesia sejak 1987 sebanyak 5.904 sedangkan jumlah pasien AIDS dilaporkan sebanyak 10.384 dan 2.287 diantaranya meninggal dunia. Diperkirakan jumlah kasus sebenarnya mencapai lebih dari 200 ribu kasus.
Di Semarang dilaporkan sekitar lima ribu kondom akan dibagikan kepada para sopir dan kernet. Sungguh sangat ironis, katanya penanggulangan AIDS malah membuka jalan kepada perzinahan.
Apa benar mereka melakukan hal itu untuk menanggulangi AIDS? Lalu mengapa mereka tidak menghentikan maraknya seks bebas sebagai biang pengundang murka Pencipta Alam Raya ini? Padahal pengakuan jujur seorang penderita AIDS berkata “Sebab narkoba dan seks bebas merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling gampang,” katanya di Pekanbaru. Lelaki berusia 31 tahun yang mengaku bernama Boy ini telah tiga tahun menderita HIV/AIDS akibat dari pergaulan bebas dan kecanduan narkoba jenis putau.
Di zaman rusak yang beridelogi kapitalisme ini, aturan Allah diabaikan. Akibatnya generasi muslim dicekoki dengan kampanye semu para kapitalis. Siapa yang membiayai LSM untuk mengkampanyekan Pekan Kondom Nasional? Jelas ada kepentingan para produsen Kondom. Awalnya gratis, selanjutnya beli.
Kondomisasi: Pelegalan Zina
Pekan Kondom Nasional (National Condom Week) yang digelar oleh para pegiat kapitalis itu penuh dengan racun yang membahayakan. Salah satu tujuannya tiada lain mempopulerkan kondom. Mereka tidak menyentuh sama sekali kapada akar masalah munculnya AIDS. Sehingga, hari AIDS hanya dijadikan sebagai promosi produk kondom. Lebih parah lagi, mengkampanyekan perzinahan.
Hubungan seks di luar nikah dalam Islam disebut zina. Perzinahan dalam Islam dilarang. Dosanya termasuk dosa besar. Hukuman bagi para pezina juga sangat berat, yaitu dicambuk atau dirajam hingga meninggal bagi pelaku yang sudah berpasangan.
Solusi penaggulangan AIDS hanya satu kembali kepada Islam. Apalagi bagi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini sudah selayaknya menjadikan aturan dari Tuhannya sebagai rel kehidupan. Bukan aturan manusia yang lemah dan terbatas.
Hanya kemurkaan Allah yang akan segera datang bila maraknya free sex ini dibiarkan bahkan dikampanyekan secara terselubung oleh mereka para pegiat kapitalisme. Mereka tentu harus dihentikan bila tidak tunggu saatnya azab Allah yang sagat pedih akan menimpa. Para pemimpin negeri ini paling bertanggung jawab atas maraknya kemungkaran di masyarakat ini. Apalagi memberikan pelegalan. Mereka suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Dan balasannya adalah siksaan neraka yang menyala. Naudzubillah.
Walhasil, untuk menanggulangi AIDS, tolak kondomisasi dan hentikan perzinahan dan tegakkan Islam. [opini/syabab.com]
edisi 006/tahun I (3 Desember 2007) Tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari AIDS sedunia. Mengapa selalu diperingati? Hmm.. ini tak ubahnya dengan ulang tahun kelahiran seseorang atau lembaga, tanggal penetapan itu konon kabarnya untuk ngukur sejauh mana perkembangan dari perjuangan yang selama ini dilakukan untuk melawan dan memerangi AIDS. Tema tiap tahun juga berubah-ubah seperti ingin memotivasi para pejuangnya dalam memerangi AIDS untuk tetap bekerja keras. Tahun 2007 dan 2008, dua tahun sekaligus, tema Hari AIDS sedunia ini kayaknya lebih keren deh, yakni “Kepemimpinan”. Mengapa tema kepemimpinan yang diusung? “Sejak awal epidemi AIDS, pengalaman telah jelas memperlihatkan bahwa kemajuan terpenting dalam upaya penanggulangan HIV terjadi ketika ada kepemimpinan yang kuat dan berkomitmen. Para pemimpin dapat dibedakan oleh aksi, inovasi, dan visi yang mereka miliki; contoh yang mereka berikan dan bagaimana mereka melibatkan orang lain; selain juga kegigihan mereka dalam menghadapi tantangan dan hambatan.” Pernyataan ini yang tertulis di situs aidsindonesia.or.id. Cukup banyak slogan yang pernah menjadi tema untuk peringatan hari AIDS sedunia ini, tiap tahun berganti-ganti. Misalnya, Join the Worldwide Effort (Ikuti Usaha Kami Bersama) yang dijadikan tema hari AIDS tahun 1988. Tahun 1993 tema yang diambil, “Time to Act” (Saatnya Beraksi). “Stop AIDS, Keep the Promise” (Hentikan AIDS, Jaga Janjinya) menjadi tema hari AIDS sedunia pada 2005. Perang setengah hati Boys and gals, meski upaya perang melawan AIDS udah digelar sejak lebih dari seperempat abad lalu, tepatnya sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1981, ketika seorang gay (homoseksual) didiagnosis terkena HIV yang menyebabkan daya tahan tubuhnya merosot secara drastis, namun sampai sekarang hasil yang signifikan untuk menghempas AIDS tak jua datang. Boro-boro hilang, jumlah penderitanya malah kian berkembang biak dengan cepat. Penyakit mematikan ini tetap menjadi ancaman dunia. Entah sampai kapan. Tapi yang jelas, dilihat dari perkembangan perang dalam upaya melawan AIDS yang dilakukan UNAIDS atau banyak negara dan kalangan pegiat LSM, rasa-rasanya seperti tak akan membuahkan hasil maksimal. Tanya kenapa? Ini bukan soal mendahului takdir atau su’udzan alias berburuk sangka, Bro. Tapi ini soal fakta dan akibat yang bisa kita jangkau dengan pikiran dan perasaan kita secara nyata. Gimana nggak, upaya pencegahan terhadap penyakit mematikan ini terkesan cuma ngabisin dana doang. Sementara yang dilakukan itu sudah jelas tak akan membuahkan hasil maksimal. Malah terkesan tetap memberi ruang bagi berkembangnya AIDS. Bener, lho! Bro, selama ini perang melawan AIDS itu dilakukan dengan cara “penyembuhan” dan “peredaman”, bukan pemusnahan. Ibarat kalo dakwah tuh cuma amar ma’ruf doang, sementara nahyi munkar-nya diabaikan. Ya, insya Allah nggak bakalan berhasil maksimal. Ada sih keberhasilan, meski sejatinya hanya tampak di permukaan saja. Sayang banget kan? Iya, masa’ sih kita masih percaya banget untuk meredam AIDS malah memberikan kondom kepada mereka yang berisiko tinggi tertular AIDS macam pelacur dan aktivis free sex? Benar-benar bikin heran deh, karena yang dilakukan tuh cuma “pengobatan”, itu pun salah prosedur. Lha iya Bang, gimana nggak disebut salah prosedur wong seharusnya jalur utama penyebaran virus itu dihempaskan, eh malah diobati sembari pelaku yang berisiko dibiarkan tetap bermain di arena berbahaya. AIDS, sejauh ini penularannya berkembang pesat melalui hubungan seksual. Maka, korbannya saat ini bukan hanya mereka yang aktif free sex, tapi juga yang pasif tapi berhubungan dengan pasangannya yang doyan free sex dan terinfeksi HIV. Duh, kasihan banget kan? Bahkan banyak bayi yang begitu lahir darahnya udah terkontaminasi HIV. Naudzubillahi mindzalik. Ini gara-gara salah prosedur sejak awal. Untuk masalah kebakaran saja misalnya, kita sebenarnya udah tahu yang namanya kebakaran adalah kejadian yang merugikan banyak orang. Untuk pencegahannya selain sistem pengamanan yang bagus dari sumber-sumber yang bisa memicu terjadinya kebakaran, juga dari orangnya yang tentunya berhubungan dengan sumber pemicu kebakaran. Itu sebabnya, upaya yang dilakukan harus mengarah kepada faktor manusia dan juga sistem pengamanan. Untuk faktor manusia, seharusnya diajarin tuh gimana memperlakukan api dan sumber-sumber api, serta penggunaannya untuk berbagai keperluan yang bermanfaat. Hanya saja, karena faktor keteledoran manusia bisa menjadi pemicu kebakaran, maka sistem pengamanan yang tinggi bisa dibuat dan tentunya ada kebijakan khusus dari pemerintah sebagai penanggung jawab berbagai persoalan kehidupan warga negaranya. So, jangan berikan korek api kepada orang-orang yang berpotensi membuat kebakaran atau jangan berikan pisau kepada orang yang berpotensi membuat kerusakan. Maka, jika kondom diibaratkan sebagai pisau, di tangan orang yang baik-baik bisa saja digunakan untuk alat kontrasepsi dalam rangka mengatur jarak kehamilan, misalnya. Tapi gimana jadinya kondom di tangan pelacur atau pelaku seks bebas? Hmm.. udah kebayang kan mau digunakan untuk apa tuh kondom? Apalagi digembar-gemborkan kalo kondom bisa cegah HIV/AIDS. O..oo.. makin tancap gas aja tuh kayaknya untuk menggeber syahwat di tempat salah. Persis kayak dulu waktu mewabahnya penyakit sipilis, tempat pelacuran sepi. Tapi begitu Sir Alexander Fleming menemukan penisilin, dan terbukti bisa nyembuhin penyakit kelamin tersebut, tempat pelacuran kembali semarak. Halah, tuh otak udah di taro di dengkul kali ye? Lagian apa nggak ada kerjaan lain selain mikirin seks melulu? Udah gitu salah pula tempat penyalurannya. Musibah besar deh. Itu sebabnya, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah. (Republika, 12 Nopember 1995) Termasuk yang aneh bin ajaib adalah pembagian jarum suntik steril bagi para pengguna narkoba yang udah jelas diakui sebagai pihak yang berisiko kena HIV/AIDS. Bukannya disembuhin total malah dikasih kesempatan untuk menikmati kecanduan. Duh, gimana sih? Serius apa nggak cegah AIDS? Terus nih, dalam hal penanganan pasien AIDS aja, ternyata berbanding terbalik dengan penanganan terhadap pasien flu burung. Kalo ada orang yang terkena virus H5N1 langsung disediakan tempat khusus yang steril biar virus nggak nyebar ke mana-mana. Padahal, belum terbukti kalo tuh virus bisa menular antarmanusia. Yang udah terbukti, H5N1 hanya menular dari unggas yang terinfeksi virus tersebut ke manusia. Tapi, apa yang dilakukan untuk melawan AIDS? Meski udah tahu bahwa migrasi virus HIV justru bisa terjadi antarmanusia, tapi kini ada upaya bahwa pasien AIDS disarankan untuk tidak diisolasi di ruang khusus. Boleh dicampur dengan pasien lain. Dengan alasan kemanusiaan, yakni supaya tidak terjadi diskriminasi karena cap ODHA itu umumnya pelaku maksiat meski saat ini nggak mesti, karena banyak istri yang tertular HIV dari suaminya yang pelaku maksiat urusan syahwat. Nah, seharusnya diobati dengan cara dikarantina. Dipisahin dari orang lain atau pasien penyakit lain. Tentu tetap diperlakukan sebagai manusia dan hak-haknya dipenuhi. Babat penyebab utamanya! Sobat muda muslim, perang melawan AIDS saat ini cuma ngabisin duit sementara hasilnya nggak maksimal. Mission Impossible jika ngelihat praktik di lapangan saat ini. Nah, sebenarnya apa penyebab utama berkembangnya penularan dan penyebaran AIDS? Saya pernah satu forum dalam sebuah acara dengan seorang dokter ketika membahas tentang AIDS. Beliau bahkan menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa virus HIV sangat efektif menular melalui hubungan seksual. Virus HIV terkumpul dalam jumlah banyak di darah dan juga di cairan sperma dari orang yang udah terinfeksi virus ini. Jadi, kalo pelacuran dan seks bebas tidak dihentikan, sang virus akan mencapai koloni dalam jumlah banyak di tubuh-tubuh manusia. Naudzubillahi mindzalik! Oya, ada baiknya kamu simak nih pengakuan jujur seorang penderita AIDS, “Sebab narkoba dan seks bebas merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling gampang,” katanya di Pekanbaru, Kamis. Lelaki berusia 31 tahun yang mengaku bernama Boy ini telah tiga tahun menderita HIV/AIDS akibat dari pergaulan bebas dan kecanduan narkoba jenis putau. (republika.co.id, 17 Mei 2007) Bro, kalo udah tahu penyebab utama, maka seharusnya itu yang kita kejar untuk dibereskan, bukan akibat sekundernya. Betul? Logika yang gampang gini deh. Kalo genteng rumah kita bocor, terus kalo musim hujan itu pasti nggak bisa nahan guyuran air hujan, maka prosedur cerdas yang harus dilakukan adalah mengganti genteng yang bocor kan? Bukan mengantisipasi dengan nyiapin ember buat mewadahi air hujan di tempat yang bocor. Apalagi kalo kemudian prosedur itu mengakibatkan efek samping lain, dan bikin banjir seisi rumah. Apa nggak repot? Ribet banget tuh. Lagian apa nggak malu diledek sama Gus Dur: “Gitu aja kok repot?” Nah, biar nggak repot, ganti saja gentengnya. Beres kan? Yup, karena AIDS ini bukan semata masalah kesehatan, tapi juga lebih disebabkan perilaku budaya dan gaya hidup yang diakibatkan oleh sistem sekularisme yang membolehkan manusia untuk menjadi liberal sesuai kehendak hati dan pikirannya dengan mengabaikan norma masyarakat dan termasuk norma agama, maka yang harus diganti dan dikampanyekan adalah penggantian sistem kehidupan. Mumpung tema hari AIDS sedunia 2007 dan 2008 ini adalah “Kepemimpinan”, gitu lho. Terus, diganti dengan apa? Jawaban mantapnya: dengan Islam. Ya, Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Seks bebas dan peredaran narkoba yang menjadi tempat penyebaran AIDS paling gampang justru tumbuh subur karena dibiarkan bebas dalam sistem sekularisme-kapitalisme dengan instrumen politiknya bernama demokrasi. Ciee.. nih nulisnya berat gini nih. Hehe..nggak apa-apa, kan tema hari AIDS-nya Kepemimpinan. Setuju kan? Jadi, yuk kita perangi AIDS dengan memerangi sumbernya, yakni sekularisme-kapitalisme. Ganti dengan Islam. Ayo, bersama kita bisa! [solihin: sholihin@gmx.net]
STUDIA Edisi 271/Tahun ke-6 (12 Desember 2005) ‘Say No to Free Sex and Drugs’. Tulisan poster itu mendominasi perayaan Hari AIDS di seluruh dunia tanggal 1 Desember kemaren. Perayaan tahunan ini ngingetin kita akan bahaya Human Immunodeficiency Virus (HIV). Suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit. Kalo udah parah, tubuh penderita bakal menjadi sarang berbagai penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang disebut AIDS alias Acquired Immunodeficiency Syndrome. Sejak pertama kali dikenali tahun 1981, HIV udah ngabisin kontrak hidup lebih dari 25 juta orang pengidapnya. Kini, pengidapnya sudah melebihi 40 juta orang. Hal tersebut terungkap dalam laporan terakhir epidemi HIV/AIDS PBB yang disiarkan di New Delhi, India, Senin (21/11). (Metrotvnews.com, 21/11/05). Sementara di Indonesia, Jumlah pengidap HIV/AIDS mencapai angka 8.251 orang. Data itu berdasarkan hasil laporan Departemen Kesehatan per tanggal 31 September 2005. Dengan angka ini Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara pengidap HIV/AIDS terbesar di Asia setelah Cina dan Vietnam. (Indosiar.com, 08/11/05). Ini yang terdata lho. Yang belon terdata, mungkin lebih banyak lagi. Gawat! HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, atau air susu ibu. Ini artinya, perilaku seks bebas, penggunaan jarum suntik yang nggak steril di kalangan pecandu narkoba (IDU), transfusi darah, atau wanita hamil yang terjangkit HIV berisiko memberikan tongkat estafet mewabahnya HIV. Di antara perilaku yang memancing kehadiran HIV ini, Injection Drug Use (IDU) memimpin klasemen. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), per 30 September 2005 dari 32 provinsi ada sekitar 600 ribu orang Indonesia terjangkit HIV/AIDS. Di Papua, penyebaran HIV melalui narkoba, jumlahnya mencapai 14 ribu atau 30 % dari total kasus. Di Pontianak, 70 % dari total kasus, dimana 3/4 dari mereka adalah pengguna narkoba. Di Bali 53 % dari pengguna narkoba suntik positif HIV. Dan di DKI Jakarta 48 persen pengguna narkoba suntik positif HIV. HIV/AIDS itu belum ada obatnya Sobat, meski para ilmuwan udah banyak ngabisin waktu untuk nyari penangkal HIV, ternyata hasilnya masih nihil. Berbagai tes klinis menunjukkan mayoritas pasien yang telah menerima vaksin pun, tetap menunjukkan gejala AIDS. Para ilmuwan menduga bahwa HIV mempunyai kemampuan untuk terus-menerus memutasikan dirinya sehingga antibodi yang sudah terbentuk tidak dapat mengenalinya lagi dan infeksi berlangsung terus tanpa bisa dihentikan (Chemistry.org). ‘cerdas’ juga ya? Kalo kita pikir, boleh jadi kemunculan virus HIV yang ‘cerdas’ dan mematikan ini sebagai peringatan dari Allah Swt. kepada para pelaku seks bebas, penyimpangan seks, atau pemakaian narkoba. Juga kepada masyarakat dan negara yang cuek dengan kemaksiatan ini. Catet tuh! Perilaku seks bebas yang lahir dari gaya hidup permisif alias serba boleh ini kian menjamur seiring masuknya budaya sekular-Barat ke negeri-negeri Muslim. Melalui jalan masuk kecanggihan teknologi dalam tv kabel dan internet, setiap orang dengan mudah mengakses segala info tentang seks. Nggak cuma teori, tapi merambah sampe tontonan yang dijadikan tuntunan. Walah! Parahnya, kondisi yang memancing hasrat seksual ini seperti kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kemampuan negara untuk menyensor tayangan pornografi dan porno aksi yang beredar di televisi seolah tumpul di hadapan kebebasan pers yang diusung media massa. Penjualan atau penyewaan vcd/dvd porno tak pernah tuntas diberantas. Bahkan prostitusi yang udah jelas-jelas jadi penyakit masyarakat, dilegalkan dengan pemberian tempat lokalisasi. Kalo udah gini, sama aja ngasih dukungan bagi HIV untuk berkembang biak dari satu raga ke raga lainnya. Menyedihkan? Lebih menyedihkan lagi jika penularan virus mematikan ini menghampiri korban yang tidak berisiko menjadi pengidap seperti bayi dan pasien transfusi darah. Lantaran sang ibu atau kantung darahnya telah terinfeksi HIV. Juga kemunculan anak-anak yatim-piatu yang ditinggal mati orangtuanya akibat AIDS. Masa’ sih kondisi ini akan terus dibiarkan? Wajib dihentikan Pasti. Penyebaran HIV emang kudu kita stop. Banyak cara dilakukan orang-orang yang peduli untuk menghentikan laju wabah HIV. Seperti kampanye safe sex yang pernah dipopulerkan mendiang Harry Roesli melalui iklan layanan masyarakat. “Kenakan kondom atau kena!”. Ketika budaya seks bebas sulit dikendalikan, penggunaan kondom dijadikan andalan. Sehingga karet pengaman ini dengan mudah diperoleh di warung-warung. Malah ada penemuan yang menghadirkan mesin penyedia karet KB ini layaknya sebuah ATM yang ditempatkan di mal atau pusat perbelanjaan. Tapi benarkah alat pengaman ini bener-bener aman? Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom. Masa’ saringan pasir dipake buat nyaring beras? Hehehe... Makanya kampanye safe sex with condom nggak akan pernah bisa menahan laju penyebaran HIV. Malah mungkin makin mempercepat. Soalnya para pelaku seks bebas ngerasa aman sehingga berani gonta-ganti pasangan (padahal mah boro-boro aman. Udahk kena HIV, dosa lagi. double tekor tuh!). Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995). Tuh kan? Jadi jangan termasuk mitos ye. Cara lain yang modelnya kurang lebih sama adalah penerapan metode harm reduction di berbagai kantong pengguna narkoba. Metode harm reduction dalam jangka pendek berupaya mengurangi dampak buruk penularan HIV lewat penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Caranya dengan menyuruh pengguna narkoba untuk tidak bergantian menggunakan jarum suntik yang sama, menyediakan jarum suntik steril, atau mengajari pengguna narkoba mensterilkan jarum suntik. Dalam jangka panjang, harm reduction memberikan penyuluhan dan berbagai upaya peningkatan life skill agar pemakaian narkoba berhenti. (Kompas, 19/05/05). Ah, yang benar aja neh? Sobat, dua model kampanye di atas merupakan ciri khas masyarakat kapitalis yang kian frustasi ngadepin wabah HIV. Demi mengurangi risiko terinfeksi HIV, mereka tega ngebiarin orang tetep terjerumus. Padahal seks bebas juga berisiko menyebarkan Penyakit Menular Seksual (PMS). Dan pengguna narkoba bisa OD dan madesu alias masa depan suram. Kalo kita mau berpikir lebih jernih, tentu bukan toleransi terhadap seks bebas atau penggunaan narkoba yang dikampanyekan sebagai wujud kepedulian terhadap HIV/AIDS. Melainkan mendesak pemerintah agar melarang dengan tegas segala bentuk seks bebas, penyimpangan seks, dan narkoba serta mengkondisikan masyarakat agar dapat menjauhi perilaku maksiat itu. Dan satu lagi yang nggak boleh lupa, terapkan hukum Islam oleh negara. Akur dong? Pasti! Kiat Islam menggasak HIV/AIDS Sobat muda muslim, masyarakat mungkin frustasi ngadepin HIV yang tetep mewabah. Tapi kita selaku muslim, justru kudu optimis kalo Islam pasti punya jalan keluarnya. Pada masa Rasulullah saw., pernah ada satu daerah yang terjangkiti wabah penyakit tha’un (sejenis kolera.). Penyakit ini dengan mudah dan cepat menular kepada yang lainnya. Mendengar berita ini Rasulullah saw bersabda: “Jika kamu mendengar waba’ (tha’un) sedang berjangkit di suatu tempat, maka jangan kamu masuk ke tempat itu. Dan jika berjangkit dalam negeri yang kamu sedang berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan pada kita upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular ke orang lain. Sepertinya upaya ini juga bisa dipake untuk kasus HIV/AIDS. Ada baiknya jika pengidap HIV/AIDS dikumpulkan pada satu daerah dengan kelengkapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup yang memadai. Meski terkesan agak ‘kejam’ dengan mengisolasi para ODHA bukan berarti mereka dikucilkan lho. Karena penyebaran virus HIV ini tidak melalui udara, jabatan tangan, atau sekeaar ngobrol, boleh jadi mereka tetep bisa sosialisasi dengan yang lain di luar komunitasnya. Negara tetep memenuhi kebutuhan hidup mereka seperti yang lain. Hanya saja, dengan dikumpulkan di satu daerah, tentu penyebaran HIV akan lebih mudah terawasi oleh pemerintah. Sehingga diharapkan wabah HIV bisa lebih cepat ditangani oleh negara. Bagi yang belum terinfeksi, tentu negara bakal gencar mensosialisasikan informasi seputar HIV/AIDS, bahayanya, dan cara menghindarinya. Selain itu, negara juga kudu turun tangan untuk ngebenahin kondisi yang bisa memancing orang ngeseks bebas dan make narkoba. Dengan menutup semua lokalisasi/pub/diskotik, mencekal tayangan erotis di televisi dan bioskop, dan pemberantasan narkoba tanpa kecuali. Ditambah pemberlakukan hukuman jilid (cambuk) atau rajam bagi pelaku seks bebas. Juga jilid plus penjara bagi bandar, penjual, pengedar, peracik, atau pengguna narkoba. Semua langkah-langkah di atas akan terlaksana sesuai harapan kita kalo negara mau nerapin hukum Islam secara menyeluruh. Seperti diperintahkan Allah swt dan dicontohkan Rasulullah saw. Tapi kan negara kita sekarang bukan negara Islam? Itulah masalahnya. Ketika hukum Islam dicuekin oleh negara, nggak sedikit rakyatnya yang ikut-ikutan cuek. Akibatnya, kesengsaraan hidup seperti penyebaran HIV/AIDS bakal diperoleh. Padahal Allah udah ngingetin dalam firmanNya: “Siapa saja yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thaahaa [20]: 123-124) Untuk itu, mari kita sama-sama suarakan kebenaran Islam di tengah masyarakat. Kita desak negara agak mau pake sistem Islam untuk ngatur rakyatnya. Kita bongkar kebusukan sistem kapitalisme yang selama ini mengatur hidup kita. Kita lawan produk-produk sistem ini yang mengajak masyarakat untuk hidup sekuler, serba boleh (permissif) dalam berbuat demi meraih keuntungan, gaya hidup hedonis, atau memuja materi dan kesenangan dunia. Dan kita perdalam Islam dengan ikut ngaji. So, tunggu apalagi. Safe Our Live With Islam! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]
Edisi 205/Tahun ke-5 (26 Juli 2004)
Banyak pihak masih percaya hampir seratus persen, bahkan mungkin sampe tujuh turunan yakin kalo AIDS bisa dicegah dengan penggunaan karet kondom. Lihat aja sebuah iklan layanan masyarakat yang kerap muncul di layar kaca. Bang Harry Rusli sebagai model utama dalam iklan itu dengan jelas dan terang mengkampanyekan kondom sebagai solusi menghentikan laju penyebaran AIDS, “Kenakan kondom atau kena!” Duilee pede banget ya?
Penyakit yang belum ada obatnya ini memang udah merajalela. Nyaris nggak ada tempat untuk bersembunyi dari kejaran wabah maut HIV/AIDS yang penyebarannya emang secepat kilat (hiperbolik banget neh!)
Berdasarkan catatan UNAIDS, badan dunia yang khusus menangani masalah AIDS ini, tercatat pada tahun 2002 saja, jumlah penderita AIDS di dunia mencapai 42 juta jiwa. Kita yakin, ini yang tercatat, sementara yang nggak tercatat (termasuk penderita yang nggak mau dicatat) bisa jadi merupakan angka “gelap” laksana bom waktu.
Sekadar tahu, tahun lalu saja (2003), jumlah penderita AIDS bertambah 5 juta jiwa. Angka ini termasuk 700 ribu bocah di bawah usia 15 tahun. Asia Timur dan Tengah termasuk paling cepat dijarah penyakit ini (Koran Tempo, 13 Juli 2004) .
Masih menurut catatan Koran Tempo edisi tersebut, sebagai gambaran aja pada tahun 2003, di Afrika (Sub-Sahara) sekitar 3,2 juta orang terinfeksi virus ini, dan 2,3 juta di antaranya koit. Tragedi banget neh! Saat ini, di Afrika sudah mengoleksi sebanyak 26,6 juta jiwa yang berhasil terkena HIV.
Sementara di Asia Timur dan Tenggara, pada tahun yang sama mencatat angka 210 ribu orang terinfeksi virus mematikan ini, 45 ribu di antaranya tewas. Di Asia Selatan, dari 855 ribu orang yang terinfeksi, 460 ribu di antaranya meninggalkan dunia fana ini. Wis, pokoknya ini udah merupakan gejala menyeluruh di sekujur belahan dunia. Mengenaskan.
Ketika obat mujarab untuk membereskan HIV/AIDS belum ditemukan, orang kemudian searching berbagai kemungkinan untuk sekadar menahan laju wabah ini. Mereka berusaha mencegahnya. Namun sayangnya, kenapa musti kondom yang jadi pilihan? Bahkan di negeri ini juga sampe diatur dalam undang-undang segala.
Dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS (Keppres No. 36/1994 yang diatur dalam Keputusan Menko Kesra No. 9/Kep/Menko/Kesra/IV/1994) antara lain disebutkan “... penyediaan dan pemanfaatan kondom dan lain-lain, merupakan unsur-unsur penting dalam pelaksanaan yang efektif dari kebijaksanaan ini (maksudnya strategi penanggulangan AIDS secara nasional— pen .).” Ciloko!
Well ini bukan tanpa sebab sobat. Maklumlah, masyarakat kita saat ini kadang belaga pilon atau emang pilon beneran (kayaknya pilon beneran deh, soalnya ada sinetron berjudul Culunnya Pacarku .. hihi... apa hubungannya?)
Kenapa pilon? Karena sebenarnya mereka menyadari bahkan sadar betul kalo penyebaran virus maut ini paling efektif melalui hubungan seks yang nggak aman. Maksudnya, seks bebas dan doyan berganti-ganti pasangan, gitu. Nah, ketika kondom ditemukan, meski pada awalnya adalah ditujukan untuk kontrasepsi, para maniak seks bebas mengira bahwa kondom cukup aman untuk menangkal sang virus agar tak masuk dan bersarang di tubuhnya. Tapi nyatanya, sejak dulu dikampayekan penggunaan karet KB ini, eh, angka penderita HIV/AIDS malah semakin meningkat tajam. Hal ini bahkan memicu turunnya harga diri manusia yang menistakan dirinya di komplek-komplek pelacuran dan dalam ajang baku syahwat yang bebas nian. Apa nggak tulalit tuh?
Kondom KO lawan virus HIV
Sebelum ngomongin kelemahan kondom, biar nyambung, kamu yang belum tahu istilah HIV/AIDS perlu juga baca info ini. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus , suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit.
Sementara AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome , yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena adanya virus HIV di dalam darah.
Nah, kondom yang sebenarnya dibuat dengan tujuan sebagai alat kontrasepsi ini nggak tahan melawan virus HIV yang tentu ukurannya jauh kecil ketimbang sperma. Virus dilawan? Wong untuk melihatnya aja butuh pembesaran ribuan kali pake mikroskop elektron. Jadinya, KO deh.
Prof. Dr. Dadang Hawari menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari berbagai kalangan tentang kontroversi kondom sebagai pencegah penyebaran AIDS yang kemudian beliau kirim ke Harian Republika dan dimuat dalam rubrik SuaraPublika , 13 Sepetmber 2002. Berikut sebagian data-data tersebut:
--> Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.
--> Pernyataan J Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya 70 persen.
--> Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences , Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar di pasaran) ternyata 29 dari padanya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai 30 persen.
--> Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom.
--> M Potts (1995), Presiden Family Health International , salah seorang pencipta kondom, mengakui, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.
--> V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.
--> Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam me-reka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995) .
--> Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan bahwa besarnya sperma seperti ukuran jeruk Garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.
Mengakhiri pernyataan ini Prof. Dadang Hawari meyakini bahwa dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan. Tuh, catet!
Contoh yang ‘kualat' dalam kasus ini adalah dua bintang film porno Amrik terinfeksi HIV/AIDS, padahal setiap akan beradegan panas dihimbau untuk pake kondom (meski beberapa perusahaan film porno AS akan membayar mahal aktor yang berani beradegan hot tanpa mengenakan kondom). Kontan aja ini membuat sejumlah perusahaan film porno di AS puasa produksi (padahal Sekadar tahu aja, di Amrik sono, tercatat, 4000 film porno diproduksi setiap tahun, dan uang yang dihasilkan lebih dari 12 milyar dolar AS. Wacks!) setelah bintang andalan mereka, Darren James dan artis Lara Roxx, yang pernah bermain bersama setidaknya dalam satu film dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. (kompas.com, 21 April 2004) .
Berantas seks bebas!
Sobat muda muslim, kalo kamu bisa berpikir jernih dan menggunakan akal sehat, melawan AIDS dengan kondom sama aja dengan bodoran alias lawakan. Kabayan atau tokoh pandir lainnya pasti merasa tersaingi. Gimana nggak, sudah jelas kelemahannya, masih aja dianggap dewa penyelamat. Tulalit!
Jadi, wahai remaja muslim, janganlah kalian menertawakan kekonyolan kampanye itu, karena memang sudah konyol. Hihihihi…
Nah, karena penyakit ini lebih disebabkan akibat liarnya perilaku manusia dalam menyalurkan naluri seksualnya, maka stop perilaku seks bebas yang jelas nggak beradab itu. Kalo hewan sih mending kali yee.. gaul bebas karena nggak ada syariatnya dan mereka jelas nggak mikir. Karena tentu saja, adanya aturan itu adalah untuk makhluk yang berakal, yang bisa memahami sebuah perintah dan larangan serta hakikat dari kebenaran.
Oke deh, pertama kali yang kudu dilakukan adalah membenahi keyakinan manusia tentang adanya siksa dan pahala, adanya hisab dan azab. Tanamkan akidah Islam yang kuat menghunjam ke benak. Kalo udah yakin begini, kayaknya nggak bakalan berani deh deket-deket dengan zina, termasuk budaya pacaran yang merupakan pintu gerbangnya. Meski yakin bahwa itu akan dilakukan dengan cara yang aman dan bebas penyakit, tapi karena udah yakin dengan hisab dan azab Allah, mereka takut untuk berbuat nekatz zina, karena inget firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” ( QS al-Isrâ' [17]: 32)
Sobat muda muslim, melawan AIDS dengan kampanye kondom (tanpa melarang seks bebas dan memberantas komplek-komplek pelacuran), sama saja dengan mengundang kematian akibat AIDS dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Di dieu yeuh bahayanya! [solihin]
Sejak heboh kasus AIDS pada tahun 1981, kini AIDS tercatat sebagai penyakit yang ikut menyumbang angka kematian bagi umat manusia. Bahkan dalam laporan UNAIDS (Badan PBB untuk program AIDS yang dibentuk tahun 1996), menyebutkan bahwa pada tahun 2001 saja, diperkirakan 21 juta orang penduduk dunia meninggal karena AIDS, termasuk 17 juta di wilayah sub-Sahara Afrika. Dilaporkan juga bahwa 36 juta orang di seluruh dunia terinfeksi HIV, dan setidaknya 26 juta orang adalah mereka yang hidup di Afrika.Nah lho? Wabah AIDS global terus merebak, dan UNAIDS kembali mengeluarkan perkiraan bahwa sedikitnya 40 juta orang di seluruh dunia tertular HIV atau AIDS. Tiga juta orang meninggal pada 2003 akibat AIDS, sama dengan jumlah penumpang pesawat jumbo jet Boeing 747 yang kecelakaan setiap 90 menit. Lima juta kasus baru HIV/AIDS tercatat hanya pada tahun ini, kebanyakan di sub-Sahara Afrika, meskipun AIDS dengan cepat menjadi masalah besar di China, India dan Rusia (media-indonesia.com, 2 Desember 2003) Lebih dari 260 ribu orang Rusia tertular virus HIV, kata kantor berita Interfax yang mengutip catatan kantor PBB di Moskow. “Sebanyak 70 persen dari seluruh orang Rusia yang positif tertular HIV berusia 15-29 tahun,†tambah pejabat itu (media-indonesia.com, 27 November 2003) Untuk kasus di Rusia ini, disebutkan bahwa “Hanya 20 per 100 ribu warga Rusia positif tertular HIV pada awal tahun 2000 dan rata-rata itu meningkat hampir 10 kali lipat menjadi 180 per 100 ribu pada Nopember 2003,†kata Vadim Pokrovsky, kepala pusat federal untuk pemberantasan HIV/AIDS. Bagaimana dengan kasus di Indonesia? “Pada tahun 2003 diperkirakan ada 90.000-130.000 pengidap HIV/AIDS dari 200 juta penduduk Indonesia,†ujar Menteri Kesehatan Achmad Sujudi dalam jumpa pers penutupan Konferensi Tingkat Menteri Asia Timur dan Pasifik Keenam Mengenai Anak di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, 7 Mei 2003. (detik.com, 8 Mei 2003) Sobat muda muslim, angka-angka ini tentunya nggak semata cuma untuk dibaca biasa aja. Sebab, bilangan itu menunjukkan jumlah penderita penyakit mematikan tersebut. Angkanya dari tahun ke tahun kian meningkat. Itu artinya sinyal tanda bahaya sebenarnya sudah menyala. Dunia kalang-kabut dengan serangan AIDS yang kian menggila. Beragam kampanye dan upaya untuk menanggulangi getol digelar, tapi penyakit ini seperti tak mau tahu. Pokoknya, hajar aja sampe banyak orang yang tewas karenanya. Wuih, gaswat bener ya? Dari mana datangnya AIDS? Ngomong-ngomong soal AIDS, apa sih sebenarnya penyakit itu? Hehehe.. bener juga ya, kali aja ada di antara kamu yang belum ngeh dengan penyakit ini. Oke deh, kita ngasih bocoran neh. AIDS, alias Acquired Immune Deficiency Syndrom (sekumpulan gejala penyakit, yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh). AIDS disebabkan oleh adanya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang masuk ke tubuh kita. Nah, virus HIV ini hidup di dalam 4 cairan tubuh manusia. Hmm.. kudu ati-ati deh. Di antaranya ada di cairan darah, cairan sperma, cairan vagina, dan bisa mengalir via air susu ibu. Gimana menularnya? Gampang aja. Karena virus HIV bisa hidup aman dalam darah, maka penularan melalui transfusi darah bisa terjadi juga. Tentu jika darah yang dipake untuk transfusi itu udah tercemar virus laknat tersebut. Terus, bisa juga lho lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik di kalangan pengguna narkotika suntikan. Hmm… melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya: penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah. Waduh, ati-ati deh. Jangan sampe kita kena HIV lewat jalur ini. Nah, kalo penularan lewat cairan sperma dan cairan vagina hanya bisa terjadi saat berhubungan intim neh. Termasuk yang melakukan seks menyimpang, misalnya lewat anus yang memungkinan cairan sperma bercampur dengan darah. Hiy jijay deh. Udah gitu bisa penyakitan lagi ‘digigit’ virus HIV! HIV juga bisa menumpang lewat via ASI. Jika seorang ibu tubuhnya udah terinfeksi HIV, maka kalo sang ibu punya anak masih menyusui, walah, sudah dipastikan tuh anaknya kena HIV. Kasihan banget ya? Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif. Daam sebuah wawancara di SCTV pada hari AIDS sedunia 1 Desember 2003 lalu menghadirkan seorang ibu yang kena AIDS dan juga ketiga anaknya. Wow, kasihan banget ya? Nah, begitu presenter SCTV nanya dengan pertanyaan yang tajam tak bertepi (cieee..): “Apakah suami ibu suka ‘jajan’?†Si ibu malu-malu dan bilang, “ini terlalu pribadiâ€. Dalam dalam wa-wancara berikutnya akhirnya mengakui bahwa suaminya suka ‘jajan’ dengan pelacur! Jadi sebetulnya kalo dirunut lebih jeli, HIV cuma tumbuh dalam dua kondisi, yakni dalam cairan sperma/vagina, dan darah. Itu artinya, HIV sangat mungkin tertular melalui hu-bungan seksual. Apa-lagi dengan yang banyak pasangan alias ‘jajan’ di mana-mana. Wuih, nggak terjaga tuh kesehatan-nya! Itu sebabnya, pakar AIDS, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja mengundang kematianâ€. Selanjut-nya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberan-tas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 Nopember 1995) AIDS: Akibat Intim Dengan Sekularisme Sobat muda muslim, penyakit ini , selama 22 tahun lebih bikin heboh sekaligus membuat ketar-ketir penduduk bumi. Gimana nggak, sampe sekarang pun belum ada obatnya untuk memusnahkan sang virus. Malah, dengan dibiarkannya penularan lewat hubungan seksual di luar nikah itu, kian menjadikan virus ini berkembang biak dengan cepat. Tragisnya, sang virus menyerang siapa aja yang nggak terlibat langsung dalam kemaksiatan, yakni ibu-ibu yang suaminya tukang ‘jajan’ dengan para pelacur. Celakanya lagi, anak yang lahir dari keluarga seperti ini, juga terinfeksi virus HIV yang mengalir via ASI. Ciloko tenan! Sampe saat ini AIDS memang belum bisa diobati secara medis, mungkin yang bisa dilakukan adalah pencegahan. Sayangnya, masih banyak pihak yang percaya bahwa AIDS bisa dicegah dengan menggunakan kondom manakala berhubungan seks. Wuih, kamu masih inget juga kan kampanye AIDS di televisi yang memajang Bang Harry Rusli sebagai model dalam iklan layanan masyarakat itu? Yup, kampanye penggunaan kondom itu udah menimbulkan pro-kontra. Maklum, kampanye penggunaan kondom sama saja dengan menganjurkan untuk melakukan seks bebas. Apalagi dengan kata-kata terkenal dalam iklan tersebut, “Kenakan kondom atau.. kena!â€, seolah kondom adalah tameng untuk mencegah masuknya virus HIV. Sebetulnya para aktivis peduli AIDS sadar betul bahwa penularan AIDS yang efektif adalah via hubungan seksual yang tidak aman (berganti pasangan dan di luar nikah). Padahal, budaya tersebut adalah budaya yang bagi banyak orang masih menjadi andalan untuk bersenang-senang menikmati kebebasan seksual. Itu sebabnya, mereka ngakalin gimana caranya agar tetep bisa berhubungan seks bebas, tapi aman. Sama seperti halnya dulu orang Inggris takut berhubungan seks dengan banyak pasangan karena adanya PMS (penyakit menular seksual) seperti gonorhoe dan sipilis. Tempat pelacuran sepi pengunjung. Tapi begitu Alexander Flemming berhasil membuat penisilin, para durjana lembah birahi ini aktif kembali dengan kemaksiatannya. Gaswat! Nah, dalam kasus AIDS, banyak pihak meng-anggap bahwa kon-dom bisa men-cegah penularan AIDS. Maka rame-rame dikampanyekan. Dasar kaum hedonis dan per-misif ya. Kampanye sete-ngah hati tuh! Padahal, kondom yang dibuat dengan tujuan sebagai alat kontrasepsi ini nggak tahan ditembus virus HIV yang tentu ukurannya jauh kecil ketimbang sperma. Prof. Dr. Dadang Hawari menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari berbagai kalangan tentang kondom. Salah satu di antaranya disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan lateks) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang. Sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori mencapai 10 kali. Sementara virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Jadi jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa lolos melalui pori-pori kondom. (Permata, 19/VIII Desember 2003) Nah, itu sebabnya kita bisa dengan pede dan berani menyatakan bahwa, AIDS itu lebih disebabkan akibat penyakit perilaku seks bebas, termasuk yang menyimpang. Kalo yang lewat jarum suntik, tranfusi darah dan via ASI, cuma efek samping berikutnya aja. Tul nggak? Jadi, kebebasan tingkah laku yang menjadi budaya dalam masyarakat kapitalis-sekular inilah yang ikut menyumbang lebih banyak kerusakan, termasuk dalam penyebaran AIDS ini. Ya, inilah akibat kita intim dengan sekularisme. Jadi AIDS boleh dibilang: Akibat Intim Dengan Sekularisme! Catet euy! Hindari gaul bebas! Sobat muda muslim, banyak orang percaya kalau penyakit ini lebih diakibatkan faktor human’s behaviour (perilaku manusia) yang kelewat berani melawan aturan sang Pencipta. Baik pergaulan bebas dengan lawan jenis, atau dengan sesama jenis (homo dan lesbian). Karenanya, upaya penanganan penyakit ini akan sia-sia saja selama perilaku manusia sendiri tidak dibenahi. Apalagi bila ternyata ditangani dengan cara yang salah; seperti kampanye pemakaian (sori!) kondom, atau anjuran supaya setia dengan pasangan. Pasangan apa? Istri dan suami atau pasangan zina? Itu semua sama saja dengan melegalkan perzinaan di mana-mana. Sobat, masalah yang pertama kali harus dibenahi adalah soal keyakinan hidup. Seorang remaja muslim yang percaya akan adanya hisab dan azab dari sang Pencipta, pastinya tidak akan berani melakukan perbuatan dosa sekecil apapun. Apalagi berzina. Walaupun itu bisa saja dilakukan atas dasar suka sama suka dan dijamin bebas penyakit. Itu karena dia ingat pada firman Allah; “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.†( QS al-Isrâ’ [17]: 32). Berikutnya, daripada membuang uang jutaan dolar untuk riset pengobatan AIDS atau untuk mengkampanyekan kondom, akan jauh lebih berhasil bila pergaulan bebas dilarang sama sekali. Termasuk pemerintah jangan sungkan-sungkan menutup segala macam praktik-praktik pelacuran. Dan jangan ragu-ragu pula mengganjar para pelaku pergaulan bebas – sesama jenis maupun kaum homo dan lesbi — dengan sanksi yang setimpal. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Nah buat kamu sobat remaja, kalau masih ingin hidup sehat, selamat dunia apalagi akhirat, jangan coba-coba nekat bergaul bebas dengan lawan jenis, apalagi sampai kebablasan berzina. Selain memang dosa besar, kamu berpeluang besar menambah panjang deretan pengidap AIDS. Jadi, kobarkan perang semesta melawan AIDS. Kita kampanyekan penerapan Islam sebagai ideologi. Sekarang juga! [solihin] (Buletin Studia - Edisi 173/Tahun ke-4/15 Desember 2003)
| |